Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 661)

Dia bisa bertemu kembali dengan ayah, ibu dan kakaknya. Meski hanya dalam mimpi, namun mimpi itu seolah demikian nyata.
Dua hari setelah itu, dia melihat dua tentara Vietnam datang dari arah depan kandang babi itu ke tempatnya. Salah seorang di antara mereka nampak menjinjing sebuah ransel dengan tanda palang merah. Kedua tentara itu tak dapat menyimpan rasa kagetnya, ketika melihat lelaki yang biasanya secara rutin mereka beri obat dengan cara injeksi itu sudah duduk dan kelihatan demikian sehatnya. Padahal, hampir tak seorang pun yang meyakini bahwa lelaki ini akan bisa hidup. Kalaupun hidup, dia akan cacat seumur hidup. Beberapa langkah sebelum memasuki kandang mereka berhenti. Bicara sebentar. Kemudian yang seorang kembali ke arah barak. Yang membawa ransel dengan tanda palang merah masuk ke kandang setelah terlebih dahulu menutup hidung dan mulutnya dengan kain seperti yang dipakai para dokter ketika melakukan pembedahan di rumah sakit.
Tentara yang baru datang itu tak masuk ke kurungan penyekapan si Bungsu. Dia hanya tegak menatap dari jarak sekitar dua depa dari kurungan. Beberapa ekor babi yang semula bertemperasan ketika dia masuk ke kandang itu, kini pada mendekat. Berseliweran di sekitar dirinya. Lalu saat itu datang empat orang tentara lainnya. Selain masing-masing membawa bedil, salah seorang dari mereka membawa sebuah tongkat pendek dan seutas tali. Ketika mereka masuk, mereka menendangi dan memukul babi-babi yang mencoba mendekati mereka.
Lalu yang seorang memerintahkan si Bungsu untuk keluar, dengan menghardikkan satu-satu­nya kata dalam bahasa Inggris yang dia kuasai, yaitu kata “out!”. Di bawah tatapan mata empat sampai lima tawanan Amerika, yang berada dalam kurungan bambu dan berjejer dalam kandang babi itu, si Bungsu berdiri perlahan. Dia merasa dirinya amat enteng dan sehat sekali. Sebenarnya, “mimpi dan air mata” ibu yang menyebabkan dia sadar, setelah puluhan hari berada dalam keadaan koma, secara ilmiah bisa ditelusuri.
Selama dia koma, tentara Vietnam tetap memberinya semacam obat agar dia tetap bertahan hidup untuk dikorek keterangannya. Obat-obat itu hari demi hari bekerja menyembuhkan bahagian-bahagian dalam tubuhnya yang cedera. Baik karena luka bekas tembakan peluru maupun bekas hantaman kaki kapten gorilla itu. Hanya saja, semua obat yang diberikan dan diterima oleh tubuhnya, secara psikologis ternyata ditolak oleh jiwanya. Penolakan jiwa bawah sadar inilah yang membuat obat-obat kedokteran tidak berdaya.
Secara kejiwaan, ada beberapa faktor yang menyebabkan tubuh orang-orang sakit parah melakukan penolakan terhadap obat. Ada yang karena hidupnya tertekan berke panjangan. Tergeletak sakit, atau mati sekalipun, merupakan istirahat atau pembebasan dirinya dari rasa tertekan. Kesembuhan fisik baginya tak lain dari kembalinya dia ke dalam hidup yang penuh tekanan. Karenanya, kendati dia tetap diobati, diinjeksi, diinfus, proses kesembuhannya sangat lama. Karena jiwa dan bawah sadarnya memang tak menginginkan kesembuhan.
Ada pula yang alam bawah sadarnya tidak menginginkan kehidupan, karena dia tak tahu untuk apa dia hidup. Orang dari kelompok ini bisa saja dari kalangan orang-orang berada, namun tak punya landasan agama yang kuat. Hari-hari dalam hidupnya berlalu tanpa manfaat untuk siapapun. Begitu dia jatuh sakit, dia merasa mendapat jalan keluar dari perasaan hidup tanpa guna. Makin lama dia tergeletak sakit, makin tenteram perasaannya. Karena sebagai orang sakit, dia merasa memang layak tak bisa mendatangkan manfaat untuk siapapun.
Ada yang alam bawah sadarnya melakukan penolakan terhadap obat, karena dia memang tak mampu lagi menahan rasa sakit berkepanjangan. Daripada menderita menjadi langganan rumah sakit terus, lebih baik mati. Akan meringan kan beban keluarganya dan membebaskannya dari rasa menderita berkepanjangan. Akan halnya si Bungsu entah ke kelompok mana dia masuk. Atau barangkali ada kelompok lain, yang memang beragam alasan, alam bawah sadar seseorang menolak obat-obat.
Hanya saja ketika alam bawah sadarnya berada di titik tertinggi penolakan, saat mana nyawanya berada di ujung tanduk, sebab jika masih terjadi penolakan maka kemung kinan yang terbuka baginya hanya satu, yaitu terhentinya semua sistem dan mekanisme kehidupan pada tubuhnya. Jika itu yang terjadi, manusia menyebutnya sebagai suatu kematian. Pada saat berada di titik kritis tertinggi itulah, mimpi yang hanya Tuhan yang tahu itu terjadi pada dirinya. Air mata sang ibu, merupakan ‘obat’ yang mendorong daya hidupnya kembali menyala.
‘Obat’ yang datang kepadanya dari alam metafisik, dari alam gaib. Pada orang-orang tertentu, mimpi bukan hanya sekedar permainan tidur. Banyak manusia yang mengalami mimpi sebagai isyarat bahkan petunjuk atas sesuatu. Hanya saja, bagi orang-orang yang beriman, isyarat dan petunjuk itu menjadikan dia semakin yakin akan kekuasaan Tuhan. Sementara, sebahagian lagi keyakinannya bukan pada Tuhan yang menciptakan semua denyut kehidupan di muka bumi, termasuk menciptakan mimpi itu. Yang dia yakini justru mimpi tersebut. Bagi orang-orang seperti ini, tidak jarang dia terperosok menjadi musyrik. Mengeramatkan dan minta perlindungan dan rezeki pada makam atau tempat-tempat keramat lainnya.
Akan halnya si Bungsu, begitu keluar dari kerangkeng bambu berlumpur amat busuk itu, kayu sebesar lengan yang panjangnya sedepa yang tadi dibawa seorang tentara, segera diletakkan di bahunya. Kedua tangannya diikat, dengan posisi terbentang ke kiri dan ke kanan, ke kayu tersebut dengan erat. Kedua kakinya diikat pula dengan tali yang terbuat dari kulit kayu.
Tali dari kulit kayu yang mengikat tangan dan kakinya itu dalam keadaan basah. Teknik mengikat dengan kulit kayu khusus, yang liat dan kenyal seperti yang dilakukan pada si Bungsu saat itu, adalah cara yang lazim dilakukan Vietkong. Kulit kayu basah itu semakin kering semakin mengencang cengkeramannya pada bahagian tubuh yang diikat. Ikatan pada kedua kaki tahanan, yang rentang talinya dibuat tak lebih dari sejengkal, membuat si tahanan benar-benar dalam kesulitan. Usahkan untuk melarikan diri, akibat amat pendeknya rentang tali yang mengikat kedua pergelangan kaki, untuk melangkah saja sangatlah sulitnya.
Ketika dia didorong…

2 Comments

  1. sabana padiah penderita an yg dirasoan si bungsu ko….!

  2. Terlalu sayang tuk dilewat kan ……batambah marasai sibungsu…..


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s