Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 665)

“Belasan orang lainnya dipastikan sudah terbunuh, jika saya tidak berobah pendirian dalam belantara itu, saat dijebak oleh Lok Ma…” ujar si Bungsu perlahan.
“Alangkah sombongnya…” desis overste tersebut.
“Selain Lok Ma dan dua anggotanya, barangkali juga ada dua belas sampai lima belas orang lainnya yang terlibat pertempuran di padang lalang itu, yang tak saya cabut nyawanya, kendati saya mampu. Mereka hanya saya tembak bahu atau tangannya, sekedar mereka tidak bisa menembak helikopter yang akan meloloskan diri itu. Termasuk kapten bertubuh seperti gorilla di samping Tuan sekarang…” tutur si Bungsu dengan datar dan tenang, tanpa ada kesombongan sedikit pun di dalam nada suaranya.
Kali ini overste itu benar-benar terdiam. Si Bungsu menoleh pada belasan tentara yang tegak di pinggir dinding. Beberapa di antaranya bahu dan tangan mereka terlihat masih terbalut perban. Kemudian dia menatap kembali pada overste tersebut. Overste itu, bersama tiga atau empat perwira lainnya, juga menatap padanya.
“Jika saya benar-benar haus darah, mereka takkan ada di sini saat ini. Barangkali mayat mereka sudah dirobek-robek binatang buas di tepi danau penuh buaya dimana pertempuran saat helikopter menjemput itu terjadi…” ujar si Bungsu perlahan.
Ketika semua orang masih terdiam, tatkala melihat kapten bertubuh gorilla yang dua kali menghantamnya ketika dia masih tergantung dengan kepala ke bawah tempo hari, mendekatinya. Sebuah rencana separoh gila tiba-tiba melintas di kepala si Bungsu. Dia menatap lurus kepada si kapten bertubuh besar itu dan berkata.
“Seorang prajurit tangguh, tidak ditentukan oleh besarnya badan. Tetapi ditentukan oleh sejauh mana memiliki otak. Apalagi jika sudah menjadi perwira, haruslah memakai otaknya ketimbang otot. Amatlah mudah melumpuhkan orang bertubuh besar. Bahkan dengan tangan terikat sekali pun. Untuk membuktikannya, tentu saja jika ada orang bertubuh besar di ruang ini yang berani bertarung dengan saya dalam keadaan kedua tangan saya terikat seperti sekarang, saya bersedia melayaninya…” ujar si Bungsu dalam nada perlahan, dengan sedikit senyum di bibirnya.
Bukan main hebatnya akibat ucapan si Bungsu terakhir. Kapten bertubuh gorilla itu sampai menggeram dan menggigil menahan amuk. Namun beberapa prajurit Vietnam yang memang membenci kapten pemberang dan amat suka melekatkan tangan bila sedikit saja tersinggung itu, merasa senang si kapten diberi hajaran seperti itu di depan orang ramai. Kapten itu bicara separoh berbisik kepada si overste. Kendati dia bicara dengan suara yang ditekannya serendah mungkin, karena segan pada si overste, namun semua orang mengetahui bahwa kapten itu emosinya nyaris tak bisa dia kendalikan. Sambil bicara matanya berkali-kali menatap penuh amarah kepada si Bungsu.
“Apakah memang engkau mampu mengalahkan orang dalam perkelahian tangan kosong, dengan kedua tanganmu terikat seperi sekarang?” tanya overste itu.
“Mampu! Tapi lawan saya harus yang bertubuh paling besar. Sebab hanya orang-orang bertubuh besar yang dengan mudah bisa dikalahkan. Kecuali jika dia penakut…” ujar si Bungsu menambah bensin, mengompori si kapten bertubuh besar itu.
“Bagaimana jika Anda kalah?” ujar si overste.
“Yang harus dibuat perjanjian adalah bagaimana kalau saya menang…” ujar si Bungsu.
“Engkau tawanan di sini! Kalah atau menang bagimu adalah mati!” sergah kapten gorilla itu dengan penuh emosi.
“Kalau begitu siapa pun lawan saya harus mati. Agar bersama-sama ikut mati dengan saya…” ujar si Bungsu dengan tenang dan menatap tepat-tepat ke mata si kapten, yang juga sedang menatap kepadanya dengan tatapan mata seperti menyemburkan api.
“Kau berani bertarung dengan Kapten Bunh Dhuang dalam keadaan kedua tanganmu terikat seperti sekarang?” tanya overste tersebut.
“Tidak hanya tangan. Dengan kedua kaki saya yang juga diikat dengan jarak langkah hanya sejengkal, saya berani!” jawab si Bungsu.
“Kau berani melawannya dengan tangan dan kakimu terikat seperti sekarang?” ulang overste itu.
“Sebaiknya Tuan tidak bertanya pada saya. Karena tadi saya yang mengajukan tantangan. Sebaiknya tanyakan pada kapten itu, apakah dia benar-benar berani melawan saya…” ujar si Bungsu, lagi-lagi dalam nada yang amat tenang, namun dengan ejekan yang hampir meledakkan paru-paru si kapten saking berangnya.
Kapten itu langsung berdiri. Membuka sabuk pinggangnya yang berpistol dan berpisau. Menghempaskan pistol dan pisaunya itu di meja. Kemudian mendekati si Bungsu yang masih duduk di kursinya. Selangkah dari kursi si Bungsu, kapten itu berdiri dengan tangan terkepal dan muka merah.
“Tegak kau, monyet…!” desisnya sembari menendang kaki kursi.
Si Bungsu masih saja duduk dengan tenang. Barulah saat sepatu lars si kapten sejari lagi dari kaki kursinya dia berdiri. Kaki kursi yang terbuat dari kayu sebesar lengan itu langsung patah, dan kursi itu tercampak ke belakang. Menghantam dinding dan menimbulkan suara berderak, lalu rontok ke lantai dalam keadaan porak poranda. Kini mereka tegak berhadapan dalam jarak tak sampai sedepa. Semua orang menatap tak berkedip. Mereka kenal benar kemahiran Kapten Bunh Dhuang dalam karate, judo dan jujitsu. Dalam seluruh resimen tak ada yang mampu menandinginya.
Dia jawara saat..

1 Comment

  1. thank’s ! terus di tunggu lanjutannya !


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s