Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 666)

Dia jawara saat masih menjadi mahasiswa akademi militer Vietnam Utara. Kalau kini ada orang yang demikian besar mulut sanggup mengalahkan kapten itu, sungguh akan menjadi mimpi buruk yang takkan pernah dilupakan oleh si penantang. Jika dia menyatakan mampu mengalahkan si kap­ten dengan tangan dan kaki terikat, peristiwa ini tak hanya akan menjadi sekedar mimpi buruk, tetapi suatu tindakan bunuh diri. Atau apakah orang ini sengaja ingin bunuh diri karena tak tahan menderita selama di tahanan, dan lebih tak tahan lagi menghadapi siksaan di hari-hari berkutnya?
Jika itu yang dia inginkan, maka keinginannya itu pasti bisa dia dapat dalam waktu takkan kurang dari lima menit. Cara dia membuat si kapten menjadi lahar amarah, memang jalan tersingkat menuju kematian. Kapten Bunh Dhuang yang amarahnya sudah sampai ke ubun-ubun, tak ingin membuang waktu sedikit pun. Sebenarnya, jika dapat dia ingin lelaki yang kini dalam posisi terikat kedua tangannya itu dia telan dengan rambut-rambutnya sekalian. Demikian marah dan bencinya dia pada lelaki tersebut. Usahanya untuk membunuh lelaki tersebut sebenarnya sudah dia lakukan dengan dua tendangan ketika si lelaki terikat dengan kepala ke bawah.
Tendangan pertama menghajar dadanya, yang menyebabkan lelaki itu muntah darah. Dia ingin saat itu lelaki yang sudah mengobrak-abrik markas mereka itu tidak hanya sekedar muntah darah. Dia berharap yang dimuntahkannya adalah jantung, hati dan parunya sekaligus! Mampus sekalian. Karena tendangan pertama ke dada ha­nya menyebabkan muntah darah, dia menendang lagi untuk kali kedua, dengan sepenuh kekuatan dan keahlian menendang yang dia miliki. Dengan tendangan kedua itu dia berharap otak lelaki tersebut berhamburan.
Dia ingat pada suatu hari yang amat kritis, di mana dia berserobok dengan seekor harimau yang akan menerkamnya. Dia tendang kepala harimau besar itu sekuat tenaga dan secepat kemampuannya. Akibatnya harimau itu mati de­ngan mulut, hidung dan telinga bersemburan darah. Itu bukan mengada-ngada. Kapten Bunh Dhuang memang memiliki keahlian beladiri yang nyaris tak ada tandingannya dalam pasukan Vietnam. Kini dia berhadapan kembali de­ngan lelaki yang hanya koma setelah dia tendang dua kali tempo hari.
Mereka tegak berhadapan. Dia lihat lelaki itu tegak menyamping padanya. He… he… dia coba-coba memasang kuda-kuda, pikir si kapten yang merasa geli melihat usaha lelaki kurus itu. Mata­nya menatap kepada para perwira dan prajurit yang berada dalam ruangan berukuran sekitar 7 x 7 meter persegi itu. Tiba-tiba saja timbul niatnya untuk memberikan tontonan yang menarik, sekaligus mendemonstrasikan kemahiran beladirinya. Dia akan malu juga kalau orang ini mati, sementara tangan dan kakinya terikat. Dia pasti akan dicemooh memukuli orang yang dalam keadaan terikat.
“Buka ikatannya…” ujar si kapten kepada Lok Ma.
“Jangan, engkau takkan mampu menyentuh ujung bajuku sedikit pun, kalau ikatan ini dibuka, kapten…” potong si Bungsu sebelum Lok Ma sempat berdiri.
Ucapan si Bungsu itu, yang jelas-jelas mempermalukan dan sekaligus menganggap dirinya remeh, membuat amarah si kapten benar-benar sampai di batas. Tanpa membuang waktu lagi dia me­ngirimkan sebuah pukulan lurus ke telinga lelaki yang sejak tadi menyombong terus itu. Si Bungsu tetap tegak dengan posisi agak menyamping. Pu­kulan yang lurus mengarah ke wajahnya itu dia biarkan mendekat. Dan dalam jarak yang sudah diperhitungkan, dia mengibaskan kayu yang melintang tempat kedua tangannya terikat. Terdengar suara berdetak.
Kapten Bunh Dhuang meringis. Kepalan ta­ngannya yang memukul, persis di buku-buku jari, kena kibasan sudut kayu sebesar lengan yang tersandang di bahu lelaki tersebut. Ketika dia lihat dua buku jarinya, yaitu buku jari tengah dan buku jari telunjuk, kelihatan terkelupas dan darah meleleh dari sana! Orang-orang pada terbelalak diam. Si kapten kembali melancarkan dua pukulan beruntun yang amat cepat. Namun hanya dengan merobah posisi kakinya sedikit, kedua pukulan itu lagi-lagi dikibas dan kena hantam, oleh kayu yang melintang di bahu si Bungsu!
Kini kedua buku tangan si kapten terkelupas dan berdarah. Kapten itu menggeram. Tetapi kekuatannya memang luar biasa. Kendati buku-buku kedua tangannya sudah terkelupas dan berlumuran darah, dengan pekik penuh marah dia kembali melakukan serangan cepat dan berkali-kali. Kaki si Bungsu seperti mencengkam tanah. Bergeser sedikit ke kiri dan ke kanan. Sementara kayu sebesar lengan, yang panjangnya sekitar sedepa, yang melintang di bahunya dengan efektif sekali dia pergunakan untuk menangkis.
Tidak hanya menangkis, bahkan balik menye­rang kedua kepalan si kapten yang datang seperti baling-baling ke arah wajah, kepala dan bahunya. Kayu itu seperti bermata dan bernyawa, yang bisa memapas setiap pukulan si kapten. Belasan kali Kapten Bunh Dhuang menyerang dengan ben­takan-bentakan keras, dan belasan kali pula se­rangannya tidak hanya tak satu pun pukulannya yang berhasil “menyentuh ujung baju” si Bungsu, malahan kedua tangannya yang memukul tetap saja kena sabet kayu di bahu lelaki itu. Sampai suatu ketika, terdengar suaranya demikian keras.
Orang tak tahu apakah suaranya masih bentakan atau pekikan. Jika pekik, orang juga tak tahu persis apakah pekik marah sembari melancarkan serangan dengan jurus maut, atau pekik itu karena kesakitan.
Bentuk pekik keras Bhun Dhuang baru menjadi jelas tatkala dia terlompat mundur beberapa langkah. Orang-orang pada merinding melihat kedua kepalan tangan si kapten, yang besarnya nyaris sebesar buah kelapa kuning, benar-benar berlumur darah. Tidak hanya itu, bulu tengkuk mereka merinding melihat kedua pergelangan tangan kapten tersebut terkulai. Pada masing-masing pergelangannya kelihatan sebuah bengkak merah kebiru-biruan sebesar telur bebek. Yang membuat mereka hampir tak bisa mempercayai penglihatan mereka adalah posisi lelaki dari Indonesia yang kedua tangannya terikat itu.
Diserang demikian…

Advertisements

1 Comment

  1. Tarimo kasee…atas lanjutan tiksam nyo…


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s