Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 667)

Diserang demikian dahsyat dari segala penjuru, tubuhnya ternyata tak pernah bergeser dari tempat berdirinya semula, di dekat kursi yang remuk kena tendang si kapten. Bekas jejak kakinya di lantai tanah memperlihatkan bahwa dia hanya menggeser tegak di radius setengah meter.
Sekeras apapun si kapten berusaha mendesaknya, paling-paling dia hanya menggeser kaki kanan ke samping, kemudian meliukkan atau memiringkan badan sebagai jurus mengelak yang amat tangguh. Begitu pukulan si kapten hampir menerpa wajahnya, kayu sebesar lengan yang di bahunya memapas pukulan itu dengan keras. Se­tiap tangkisan atau papasan ujung kanan atau ujung kiri kayu itu, hampir bisa dipastikan selalu menghantam dua tempat secara persis. Jika tidak buku-buku jari yang terkepal, pastilah pergelangan tangannya.
Pekik keras terakhir ternyata disebabkan rasa sakit yang luar biasa, tatkala si Bungsu menghantam secara keras dan telak kedua pergelangan ta­ngan si kapten. Menyebabkan persendian kedua pergelangan tangan itu retak dan lepas!
Hanya sesaat kapten Bunh Dhuang yang tubuhnya seperti gorilla itu tertegun. Saat berikutnya dia menyerang. Barangkali semula dia merasa tak perlu memakai kaki, dengan kedua kepala ta­ngannya yang seperti martil itu, menurut dia, dia bisa meremukkan wajah dan rusuk lelaki dari Indonesia ini.
Namun ternyata selain memang tidak bisa menyentuh tubuh lelaki tersebut sedikit pun, ke­dua tangannya justru dibuat lumpuh. Kini, kendati terlambat, dia menyerang dengan tendangan yang amat terlatih dan dengan kekuatan penuh. Namun orang yang dia hadapi benar-benar tidaklah ta­kabur ketika mengatakan bahwa kapten itu “takkan pernah mampu menyentuh ujung bajunya sekalipun”. Kini ucapannya yang semula terde­ngar takabur itu dibuktikan orang itu. Ketika kaki ka­nan si kapten baru saja terangkat beberapa jari dari tanah, sebelum digerakkan ke depan dalam bentuk sebuah tendangan yang amat keras, tubuh si Bungsu berputar dua kali.
Tiba-tiba saja ujung kanan kayu tempat ta­ngannya diikat, menempel di tenggorokan si kapten. Kapten itu dengan terkejut membatalkan tendangannya. Dia menelan ludah dengan susah payah. Ujung kayu itu tidak disodokkan, hanya ditempelkan begitu saja persis ke jakunnya. Dia tidak tahu bagaimana orang ini bergerak dengan cepat dan menempelkan ujung kayu itu ke leher­nya tanpa dapat dia ketahui sedikit pun! Ada beberapa saat mereka saling menatap. Kemudian si Bungsu memutar tegak, dan ujung kayu itu lepas dari leher di bawah dagu si kapten.
Dia membelakang bulat kepada si kapten. Dan kapten itu tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Sebuah tendangan menyamping dia arahkan ke tengkuk lelaki yang membelakanginya itu. Semua orang seperti terhenti bernafas. Namun hanya selisih sekian detik si Bungsu memiringkan tegak dan ka­kinya bergeser mendekat si kapten. Tendangan maut itu lewat hanya dalam ukuran sejari dari hidung si Bungsu. Namun karena tubuhnya sudah mendekat ke arah si kapten, ketika tendangannya ditarik kaki kapten itu tersangkut di bahu si Bungsu.
Pada saat yang sama, ketika sebelah kaki si kapten tersangkut di bahu kanan si Bungsu ujung kayunya menohok persis di bawah hidung si kapten. Ujung kayu itu tertempel di bibirnya. Tiap kepalanya mencoba miring ujung kayu itu tak pernah lepas. Lengket seolah-olah ada lem di sana. Si kapten tak bisa menggerakkan kepalanya terlalu jauh, karena sebelah kakinya masih tertahan di bahu si Bungsu. Dia hanya berdiri dengan kaki kiri. Terjingkat-jingkat seperti orang bodoh. Lalu detik berikutnya, si Bungsu melepaskan tekanan ujung kayu itu dari bawah hidung si kapten.
Pada detik yang hampir bersamaan dia membungkuk. Kaki kanan kapten itu terbebas. Namun dalam gerakan yang amat cepat, ujung kiri-kanan kayu di bahu si Bungsu secara bergantian ‘menetak’ dengan cepat beberapa tempat di tubuh si kapten. Mula-mula menusuk persis ke hulu hati di dadanya. Kemudian dia berputar, ujung kayu itu menetak pelipis kanan. Lalu dia berputar lagi, ganti kini ujung yang satu lagi menetak tengkuk. Sekali putar lagi, ujung yang satu menetak pelipis kiri. Lalu si Bungsu menggeser kakinya dengan amat cepat. Kini dia tegak dengan kaki dan tubuh lurus dua depa di hadapan si kapten.
Semua orang, termasuk si kapten dan semua perwira yang menyaksikan peristiwa itu, dibuat tak bergerak sedikit pun. Semua orang tahu, sebuah tusukan ujung kayu ke hulu hati dan tiga tetakan ke pelipis kiri dan kanan serta ke tengkuk si kapten, jika dilakukan dengan kekuatan penuh, tidak ha­nya ditempelkan sedikit seperti yang terjadi, pasti sudah mencabut nyawa si kapten. Semua mereka tahu itu. Orang ini ternyata melakukan demonstrasi beladiri yang luar biasa hebatnya.
Si Bungsu tegak dengan diam, dengan sikap yag amat tenang. Tak ada ekspresi kelelahan mau pun kesommbongan sedikitpun. Gerakannya yang demikian cepat sejak menangkis pukulan si kapten sampai gerakan terakhir, seperti tak meninggalkan bekas lelah sedikit pun pada dirinya. Sementara si kapten tegak dengan nafas memburu. Mereka berdua saling menatap. Akhirnya overste yang menjadi komandan di pasukan itulah yang memecahkan kesunyian dengan bertepuk tangan. Diikuti para perwira, kemudian oleh semua tentara Vietnam yang ada di rumah besar itu.
Mereka benar-benar belum pernah menyaksikan pertarungan dengan ketangguhan individu demikian hebat. Si kapten, untuk pertama kali dalam hidupnya, merasa benar-benar merasa ditaklukkan. Pada tusukan pertama saja, tatkala ujung kayu itu ditusukkan ke hulu jantungnya, lelaki itu sudah bisa membunuhnya. Ujung kayu itu tidak hanya menyentuh sebuah titik kematian di tubuh si kapten, tetapi empat titik dalam jarak waktu yang hanya hitungan detik.
Jika dia…

2 Comments

  1. lanjut,da !

  2. Makin seru carito nyo……….!!!


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s