Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 669)

Sungai cukup besar, airnya amat jernih.
“Apakah penduduk di sini suka ikan sungai?” tanya si Bungsu pada Lok Ma, yang bersama prajurit berbedil itu mengawasinya dari atas tebing.
“Ikan memang makanan utama mereka bersama nasi. Babi biasanya dijual kepada tentara. Atau di bawa ke desa terdekat, biasanya dua sampai tiga hari perjalanan, untuk dijual. Dibawa pakai gerobak dua atau tiga ekor….”
“Dengan apa mereka menangkap ikan?”
“Biasanya dengan kail….”
“Anda keberatan kalau saya memberi beberapa ekor ikan segar kepada mereka?” tanya si Bungsu sambil menunjuk pada beberapa wanita dan anak-anak sekitar dua puluh meter di hilir tempatnya.
Lok Ma menatap ke hilir. Beberapa wanita berada di sana. Sesekali mencuri pandang ke arah si Bungsu maupun ke arah Lok Ma.
“Mereka akan senang sekali. Tapi bagaimana engkau memperoleh ikan segar itu?” ujar sersan tersebut sambil menatap pada si Bungsu yang berendam dalam air setinggi dada.
Si Bungsu menyelam. Hanya beberapa detik, kemudian dia muncul lagi. Dia memperagakan beberapa butir batu sebesar ibu jari kepada Lok Ma.
“Pernah belajar menangkap ikan dengan batu-batu seperti ini…?”
Lok Ma menggeleng.
“Apa bisa?” ujarnya.
“Bisa…!”
Lok Ma menoleh pada prajurit yang menemaninya. Kemudian bicara dalam bahasa Vietnam. Menceritakan bahwa si Bungsu bisa menangkap ikan dengan batu-batu di tangannya itu. Si prajurit menatap ke arah si Bungsu dengan tatapan tak percaya. Si Bungsu berdiri dan menatap tajam ke air jernih di sekitarnya. Batu-batu kecil itu dia pindahkan ke tangan kirinya. Hanya sebuah yang berada di tangan kanannya. Tiba-tiba dia menyambitkan batu tersebut ke air sekitar dua depa di depannya. Si Bungsu menanti, Lok Ma dan prajurit berbedil itu juga menanti.
“Tak ada yang kena…” ujar si Bungsu sambil tetap mengawasi air di sekitarnya.
Beberapa saat kemudian dia kembali menyambitkan batu ke arah hilir.
“Kena! Suruh mereka yang di hilir itu mengambilnya…” ujar si Bungsu ke arah Lok Ma.
Lok Ma menatap dengan diam ke air. Tak ada apapun yang terlihat. Namun hanya beberapa detik kemudian, dia melihat seekor ikan sebesar betisnya mengapung dengan perut ke atas.
“Hei, ambil ikan itu! Itu ada ikan yang baru kena lempar batu. Ikan itu untuk kalian, ambil… ambil…!” seru Lok Ma.
Para wanita di hilir hanya termangu, tak mengerti. Sementara itu si Bungsu kembali menyambitkan beberapa batu lagi ke air. Para wanita itu baru ribut dan berceburan ke air setelah melihat dua tiga ekor ikan mengapung di permukaan sungai. Mereka berebut memunguti ikan yang kepalanya pada pecah itu. Lok Ma ternganga, ketika wanita-wanita itu dengan tertawa mengangkat ikan-ikan yang berhasil mereka kumpulkan. Besarnya tak kurang dari sebesar betis lelaki dewasa.
Beberapa lelaki dan wanita yang berada belasan meter di bahagian hulu segera berenang ke hilir. Mereka sampai ke tempat si Bungsu. Si Bungsu kembali menyelam memunguti beberapa batu. Lalu tangannya menyambit dan menyambit lagi. Enam, sampai tujuh ekor ikan sebesar lengan maupun betis pada mati dan berapungan. Penduduk memunguti ikan tersebut.
“Hei, bisa kupinjam pisaumu?” ujar si Bungsu menge jutkan Lok Ma.
Tanpa pikir panjang..

1 Comment

  1. kok lamo sambungan carito si bungsu ba tulis da nop..?sibuk bana yo,da…?


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s