Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 670)

Tanpa pikir panjang Lok Ma mencabut pisau di ping gangnya. Kemudian melemparkannya kepada si Bungsu. Si Bungsu menyambut pisau itu. Lalu kembali mem perhatikan sungai di sekitarnya. Beberapa saat kemudian dia menyelam. Semua pada terdiam. Namun dari atas tebing, baik Lok Ma maupun prajurit berbedil itu dapat melihat bayang-bayang tubuh si Bungsu di dalam air sungai yang jernih tersebut. Mereka menatap dengan diam dan penuh tanda tanya, apa yang akan dilakukan lelaki tersebut dengan pisau tajam itu.
Cukup lama Lok Ma melihat si Bungsu menyelam hilir mudik di dalam air. Suatu saat tubuhnya nampak berdiam diri dengan berpegangan pada sebuah batu besar di dalam sungai. Kemudian tiba-tiba tubuh lelaki tersebut meluncur ke hilir dengan cepat. Tak lama kemudian kepalanya muncul, ke­dua tangannya terangkat. Lok Ma yang semula duduk mencangkung, sampai tertegak tatkala melihat di kedua tangan lelaki tersebut terpegang seekor ikan yang besarnya tak kurang dari paha lelaki dewasa, pisau komando tentara Amerika milik Lok Ma tertancap di bahagian dada ikan tersebut!
“Wuaw…!” seru Lok Ma.
“Wuaw…..!” seru prajurit yang memegang bedil di sampingnya.
Penduduk menatap lelaki asing itu dengan tercengang. Usahkan melihat, mendengar saja mereka belum pernah. Tentang orang yang mampu menangkap ikan hanya dengan lemparan batu atau menyelam dengan pisau. Apa yang mereka lihat senja ini adalah suatu hal yang amat menak jubkan.
“Apakah komandanmu suka ikan sungai?” tanya si Bungsu tatkala berjalan pulang dari sungai.
“Dia tak begitu suka ikan. Dia suka daging babi. Tapi semua tentara di sini menyukai ikan. Kita bisa pesta ikan bakar malam ini…” ujar Lok Ma.
Beberapa wanita yang tadi berada di hilir, kemudian berpapasan dengan mereka di jalan menuju kampung, pada mengangguk dengan hormat sembari mengucapkan terimakasih pada si Bungsu. Si Bungsu membalas ucapan terimakasih yang sangat dia hafal itu dengan ucapan “terimakasih kembali” sembari membungkukkan badan. Wanita-wanita itu tertawa bergumam senang mendengar balasan terimakasih mereka yang diucapkan lelaki asing tersebut dalam bahasa ibu mereka. Beberapa lelaki kampung pada berbisik, kemudian mengangguk kepada si Bungsu.
Mereka, terutama kanak-kanak, pada berbaris mengikuti Lok Ma, si Bungsu dan prajurit yang membawa ikan sebesar paha itu. Ikan itu diikat dengan tali moncongnya lewat insangnya. Kemudian sebuah kayu panjang sedepa diambil dari tepi sungai. Dengan kayu itu, ikan besar tersebut dipikul oleh Lok Ma dan si prajurit. Cara aneh yang dilakukan si Bungsu menangkap ikan di sungai tersebut segera diketahui seisi kampung. Mereka ramai-ramai ke depan rumah besar yang dijadikan markas komandan tentara di desa ini. Sebelas ikan sebesar betis yang dibawa oleh para wanita dibawa ke markas tersebut.
Si overste yang mendengar ramai-ramai segera keluar. Dia terheran-heran melihat semua penduduk berkumpul di depan markasnya. Dan semakin heran melihat ikan demikian banyak dan yang seekor alangkah besarnya. Lok Ma segera menceritakan bagaimana ikan-ikan itu didapat.
Kemudian seorang..

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s