Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 671)

Kemudian seorang lelaki tua, pimpinan desa itu maju. Dia bicara kepada si komandan. Si Komandan mendengar pembicaraan pimpinan desa itu dengan seksama. Kemudian dia me ngangguk. Lalu bicara pada masyarakat dan belasan tentara yang ada di depan rumah besar itu.
Semua mereka bertepuk tangan usai si komandan berbicara. Di dalam rumah, kepada si Bungsu si overste bercerita, besok kebetulan Hari Raya Tet. Salah satu hari raya besar di antara belasan hari raya orang Vietnam tiap tahunnya. Penduduk ingin merayakannya dengan mengadakan hiburan sambil makan-makan bersama. Selain seluruh ikan yang baru diperoleh itu, juga akan dipanggang dua ekor babi sumbangan penduduk.
“Tuan suka babi…?” tanya overste tersebut.
Si Bungsu menggeleng.
“Saya seorang muslim…” ujarnya menjelaskan.
“Oo, moslem. Islam… ya agama Islam melarang makan babi…” ujar overste itu mengingat pelajarannya di Akademi Militer.
“Siang tadi Tuan mengatakan saya menderita penyakit paru-paru yang sudah berat. Dari mana Tuan tahu?”
“Dari wajah dan warna ludah Anda, Overste…” jawab si Bungsu perlahan sambil menatap wajah letnan kolonel itu.
Overste itu menatap si Bungsu beberapa saat, tanpa berkata sepatah pun. Kemudian menunduk. Dan tiba-tiba matanya basah. Dia berusaha menghapusnya. Seperti tak ingin dilihat menangis di depan orang. Namun betapapun dia tak mampu menahan agar matanya tak basah.
“Saya telah membunuh anak-anak saya yang paling saya cintai dengan menularkan penyakit celaka ini. Usia mereka masih terlalu muda untuk mampu bertahan…” ujarnya perlahan de­ngan suara terdengar bergetar.
“Saya ikut berduka…” ujar si Bungsu perlahan.
“Saya sudah berobat kemana-mana. Tetapi, rokok, minuman keras, heroin dan perang celaka ini tidak hanya menghancurkan hidup saya, juga anak-anak saya yang tertular…” ujar si overste.
“Saya pernah belajar membuat ramuan obat, tatkala saya sendirian selama dua tahun dalam belantara di kampung saya. Semula ramuan obat itu saya buat asal-asalan, untuk mempertahankan hidup. Namun setelah mencoba berbagai jenis daun, kulit, akar, getah kayu rumput dan lumut yang ternyata berkhasiat untuk obat. Lalu ketika saya di Amerika, seorang Indian menambah banyak sekali pengetahuan saya tentang ramuan obat dari lumut, rumput, akar, daun dan getah beberapa jenis kayu lagi. Jika Anda mau mencoba Overste, di sungai tadi saya telah mengumpulkan lumut yang baik sekali untuk obat, berikut beberapa jenis rumput dan daun kayu….”
“Berapa lama ramuan itu bisa se…” pertanyaan overste itu terhenti oleh sedakan batuk yang mula-mula ringan.
Namun batuknya makin lama makin keras dan membuat dia sulit bernafas. Si Bungsu tahu, jika siang hari orang yang menderita penyakit seperti overste ini takkan begitu merasakan penyakit yang menggerogotinya. Sebab siang hari udara panas. Namun begitu malam mulai turun, seperti sekarang, penyakit itu kambuh. Makin dingin hari, makin dahsyat serangannya.
“Saya akan kembali ke pondok saya, akan saya buatkan ramuan itu segera…” ujar si Bungsu sambil berdiri
Overste itu hanya mampu mengangguk, sementara batuknya kemudian menyerang berkali-kali. Lok Ma yang ada dalam rumah itu segera membantu komandannya. Mengam bilkan sebaskom air panas dari periuk di tungku, kemudian sebuah handuk kecil yang bersih. Di luar rumah, si Bungsu melihat kesibukan penduduk dan tentara mempersiapkan segala sesuatu untuk merayakan Hari Raya Tet malam nanti. Mereka membuat dua perapian untuk membakar ikan dan babi. Kemudian sebuah lagi untuk menanak nasi. Melihat si Bungsu muncul, beberapa lelaki datang menyalaminya.
Beberapa wanita saling berbisik. Para tentara menatapnya dengan diam. Dia masuk ke pondoknya. Mengambil lumut dan beberapa jenis daun yang dia bungkus dengan daun pisang senja tadi. Di daun pisang itu bahan-bahan tersebut dia remas menjadi satu. Saat dia keluar kebetulan Lok Ma datang. Kepada Lok Ma dia minta dicarikan air kelapa muda. Kemudian anak pisang. Dalam waktu yang tak begitu lama bahan-bahan itu diantarkan Lok Ma kepadanya. Dia meminta sebuah baskom alumunium, atau periuk kecil. Ramuan itu dia masukkan ke periuk kecil.
Bersama anak..

2 Comments

  1. kok acok bana malumpek-lumpek carito no,da nop?

    • sumber wak dak lengkap doh sanak….


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s