Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 672)

Bersama anak pisang yang dicencang halus, ramuan itu dia rebus dengan air kelapa, sampai airnya tinggal sedikit sekali. Ramuan yang sudah direbus itu diletak kannya ke selimut rombeng yang diberikan Lok Ma untuk selimut tidurnya. Karena dia merebus ramuan itu di luar pondok, banyak penduduk dan tentara yang melihat apa yang dia lakukan.
“Sekarang carikan sebuah mangkuk…” ujar­nya pada Lok Ma, sembari menyisihkan umbut anak pisang ke sebuah piring.
Lok Ma bicara pada seorang gadis. Gadis itu segera berlari-lari kecil ke rumahnya. Kemudian datang lagi membawa sebuah mangkuk porselen yang sudah sumbing di beberapa tempat. Si Bungsu meremas ramuan itu, memasukkan pati remasannya ke dalam mangkuk porselen. Hasilnya didapat hampir semangkuk penuh.
“Mari kita ke komandanmu. Mudah-mudahan ramuan ini tepat campurannya…” ujar si Bungsu pada Lok Ma.
Ketika mereka masuk ke rumah besar berlantai tanah yang dijadikan sebagai markas tentara itu, si overste ternyata sudah terbaring lemah. Tubuhnya memanas, wajahnya pucat. Dia ditunggui oleh Kapten Bhun Dhuang, yang duduk di sebuah kursi di dekat pembaringannya.
“Dua bulan yang lalu, ketika saya di Da Nang, dokter mengatakan nyawa saya hanya bisa berta­han selama lima bulan. Menurut dia, paru-paru saya sudah tak berfungsi…” tutur overste itu ketika si Bungsu dan Lok Ma duduk di sisi pembaringannya.
“Dia mengatakan apa penyakit Tuan, Overste…?” tanya si Bungsu.
“Seperti yang Tuan katakan, paru-paru….”
“Maaf, paru-paru Tuan digerogoti kanker, Overste…” ujar si Bungsu perlahan.
Overste itu, si kapten dan Lok Ma, tertegun dan pada menatap si Bungsu.
“Maaf, saya hanya ingin Tuan mengetahui apa penyakit yang menggerogoti Tuan, Overste…” sambung si Bungsu.
“Apakah Anda seorang dokter?” tanya si overste.
Si Bungsu menggeleng.
“Lalu bagaimana Anda bisa menebak bahwa penyakit saya adalah kanker…?”
“Guratan hijau halus di mata Tuan, kuku Tuan yang juga menghijau, kendati amat samar-samar, adalah tanda yang amat jelas bahwa paru-paru Tuan diserang kanker. Saya belajar tentang itu dari Indian tua di Amerika, sebagaimana pernah saya ceritakan pada Tuan…” tutur si Bungsu, seraya meminta Lok Ma menyediakan segelas air putih.
“Kapten Bhun, kamu yang memimpin pera­yaan Tet di luar. Saya tak mungkin bisa berdiri…” ujar overste itu dengan suara mulai menggigil.
“Pertama Tuan harus memakan habis anak pisang ini. Kemudian Tuan minum cairan ini se­tengah gelas. Obat ini hanya untuk tiga hari. Namun untuk melihat apakah ramuannya tepat atau tidak. Tuan tidak perlu menunggu sampai tiga hari. Reaksi pertama setelah Tuan memakan habis rebusan anak pisang dan meminum cairan ini, panas tubuh Tuan akan turun. Lalu Tuan akan tertidur. Jika Tuan merasa lebih segar saat bangun berarti obat ini bisa diharap menyembuhkan penyakit Tuan. Sembuhnya bisa berbulan-bulan, namun asal Tuan bisa istirahat total, nyawa Tuan ada harapan bisa tertolong…” tutur si Bungsu perlahan.
Overste itu tersenyum lemah. Mungkin karena memang makan atau tak makan obat itu sama saja baginya, dia pasrah saja. Dikunyahnya rebus anak pisang itu. Mula-mula dia meringis, merasakan betapa tak sedap dan kelatnya rebus anak pisang itu. Karena susah menelannya, beberapa kali dia dorong untuk meneguk sedikit cairan di dalam gelas tersebut. Tiap meneguk cairan itu dia kembali meringis.
“Saya rasa yang Anda berikan ini bukan obat, tapi racun…” rutuk overste itu dengan muka masam, sembari terus mengunyah dan menelan sisa rebus anak pisang di mulutnya.
“Racun yang kadarnya di atas cianyda sedikit…” ujar si Bungsu, yang disambut dengan senyum si overste, juga Sersan Lok Ma dan Kapten Bunh Dhuang.
Setelah itu perwira tersebut kembali berbaring. Beberapa kali dia menguap. Lok Ma meraba ta­ngan Overste itu.
“Panasnya turun drastis…” ujar Lok Ma takjub.
Kapten Bhun Dhuang ikut-ikutan meraba tangan si Overste, dan dengan heran dia menatap pada si Bungsu.
“Obat Anda amat manjur. Cepat sekali…” ujarnya.
“Masih harus kita buktikan beberapa jam lagi, apakah dia bisa bangun atau langsung mati…” ujar si Bungsu, yang kembali disambut dengan senyum masam oleh overste yang sudah mulai mengantuk itu.
Mereka lalu meninggalkan perwira itu sendirian di kamarnya. Si Bungsu diantarkan Lok Ma ke pondoknya. Namun ketika akan keluar dari rumah besar itu, si Bungsu menoleh pada Kapten Bhun Dhuang. Dia lihat kedua tangan kapten itu, mulai dari pergelangan hingga seluruh jari-jari­nya dibalut dengan perban.
“Maaf saya sudah mencederai Anda, Kapten…” ujarnya.
Si Kapten menjawabnya dengan senyum.
“Saya tidak tahu, apakah..

2 Comments

  1. tarimo kasih, sanak ! di tunggu klanjutannyo .

  2. Good Luck,da nop…


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s