Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 674)

Kali ini wanita itu yang ternganga.
“Ja… uwa… ya, Ja uwa…” ujarnya mencoba mengeja.
Si Bungsu menoleh pada Lok Ma, kemudian dia berkata.
“Ibu ini nampaknya turunan dari Jawa, salah satu pulau di Indonesia. Tolong tanyakan pada­nya, tentang asal usulnya, juga tentang keluarganya di sini. Barangkali ayah atau ibunya berasal dari Indonesia…”ujar si Bungsu.
Namun sebelum Lok ma menanyai wanita itu, si Bungsu teringat, bahwa dia harus mengobati ta­ngan Kapten Bhun Dhuang. Dia minta maaf pada si kapten, dan menyuruh Lok Ma mengundurkan pertanyaannya. Namun Kapten itu menyuruh agar pembicaraan itu dilanjutkan, sementara dia membersihkan tangannya dengan air suam-suam kuku yang tadi dibawakan wanita tersebut. Lok Ma lalu menyampaikan pertanyaan si Bungsu kepada wa­nita itu. Dan bertuturlah wanita tersebut. Kakek­nya adalah seorang pelaut yang lahir dari perka­winan campuran, ibu Madura dan ayah Jawa.
Sekitar tujuh puluh tahun yang lalu, kakek buyutnya itu merantau ke Thailand. Kemudian berdagang ke Vietnam Selatan, yang juga beberapa pedagang asal Indonesia dan Malaya. Di Vietnam ini lelaki itu tertarik pada seorang gadis se­tempat dari keluarga muslim. Mereka menikah dan menetap di Vietnam. Pasangan ini melahirkan dua anak lelaki dan seorang anak perempuan. Dia ada­lah anak perempuan itu. Dia tak bisa berbahasa Indonesia karena ayahnya jarang sekali berbahasa Indonesia. Apalagi ayahnya sudah meninggal sekitar lima belas tahun yang silam.
Dia hanya hafal beberapa potong bahasa Jawa yang pernah diajarkan ayahnya ketika dia masih berusia belasan tahun. Namun karena tak pernah dipergunakan lagi, bahasa itu berangsur-angsur lenyap dari ingatannya. Si Bungsu menyalami wa­nita itu, setelah ceritanya dalam bahasa Vietnam itu diterjemahkan Lok ma ke dalam bahasa Inggris. Wanita berusia separoh baya itu menyambut uluran tangan si Bungsu dengan mata berkaca-kaca. Sambil meramu obat, mereka lalu terlibat pembicaraan yang diterjemahkan oleh Lok Ma. Lok Ma menjadi penerjemah untuk kedua orang itu.
Jika wanita itu yang bicara Lok Ma menerjemahkan bahasa Vietnam itu untuk si Bungsu ke dalam bahasa Inggeris. Sebaliknya si Bungsu yang bicara dalam bahasa Inggeris kemudian diterjemahkan untuk wanita itu oleh Lok Ma ke dalam bahasa Vietnam.
“Menurut kakek saya, Kota Jawa itu besar sekali, penduduknya juga amat ramai…” ujar wanita tersebut.
“Jawa itu nama pulau, Bu. Ada ratusan kota di sana. Jawa itu bahagian dari negeri yang bernama Indonesia. Ada ribuan pulau besar kecil di negeri itu….”
“Tuan juga berasal dari Jawa?”
“Tidak. Saya dari pulau Sumatera.…”
“Jauh dari Jawa?”
“Tidak juga….”
“Tuan pernah ke Jawa?”
“Pernah, ke Jakarta….”
“Jauh Kakarta itu dari Jawa?”
“Jakarta itu ibukota Indonesia, seperti Saigon ibukota Vietnam Selatan dulu. Jakarta itu terletak di Pulau Jawa…” ujar si Bungsu sambil mengoleskan ramuannya yang sudah selesai dibuat ke pergelangan tangan dan buku-buku jari Kapten Bhun Dhuang.
“Ada berapa keluarga muslim di kampung ini…?”
“Ada lima keluarga.…”
“Berapa keluarga di sini semuanya?”
“Kira-kira lima puluh keluarga….”
“Saya bahagia sekali bisa bertemu dengan orang seagama dan dengan orang yang sekampung dengan ayah saya. Saya ingin sekali datang ke Jawa. Mungkin suatu hari kelak, saya akan datang ke sana bersama anak-anak saya…” ujar wanita itu dengan mata berlinang.
Lalu dia membungkukkan badan, memberi hormat. Kemudian minta izin meninggalkan pondok itu. Si Bungsu berdiri, menyalami wanita tersebut. Dia mengantarkannya ke pintu.
“Saya doakan niat Ibu untuk datang ke Jawa disampaikan Tuhan. Saya senang di sini bisa bertemu dengan keturunan orang Indonesia…” ujar si Bungsu.
Si Bungsu lama berdiri di pintu. Menatap wa­nita itu berbaur dengan penduduk lainnya di halaman rumah besar di ujung sana. Dari kejauhan dia lihat wanita itu dikerubungi beberapa wanita dan anak-anak. Nampaknya dia bercerita tentang pertemuan mereka sebentar ini. Kemudian bersama Lok Ma yang tadi menjadi juru bahasanya dia kembali masuk ke pondok. Melihat tangan si kapten yang sudah dia olesi ramuan obat.
“Terimakasih, kawan, ramuan obatmu manjur sekali…” ujar Kapten Bhun Dhuang ketika melihat si Bungsu masuk bersama Lok Ma.
Si Bungsu memeriksa kedua kepalan tangan perwira tersebut. Bengkaknya sudah jauh menyu­sut. Warna merah kehitam-hitaman yang tadi terlihat dari pergelangan tangan sampai ke batas siku, kini sudah lenyap sama sekali. Kedua pergelangan tangan yang retak dan membengkak sebesar telur ayam, kini sudah hilang bengkaknya. Si Bungsu lalu meminta perban kepada Lok Ma. Lalu membalut kedua tangan si kapten mulai dari pergelangan tangannya ampai ke ujung lima jarinya.
“Maaf, untuk sementara bila lapar Anda terpaksa disuapkan. Tapi, jika obat ini manjur besok pagi Anda bisa memegang sendok. Hanya saya kurang yakin…” ujar si Bungsu.
“Bila Anda kurang yakin saya justru sangat yakin…” ujar si kapten sambil tersenyum.
Namun besok yang diucapkan si Bungsu merupakan hari yang tak pernah terbayangkan sedikitpun, baik oleh si Bungsu maupun oleh semua ten­tara Vietnam yang bermarkas di kampung tersebut. Subuh sekali, tatkala malam perayaan Hari Raya Tet baru saja usai, dan hampir semua penduduk serta tentara pada bergelimpangan tidur karena kenyang dan lelah menari, dua peleton pasukan khusus tentara Vietnam, ditambah tiga perwira dari korp polisi militer, yang dikirim langsung dari Kota Ben Hoa, menyelusup masuk.
Tanpa banyak bicara mereka mengambil alih tawanan. Termasuk si Bungsu, yang karena lelah sedang tidur lelap. Dia tersentak bangun ketika merasa ada yang menindih tubuhnya yang sedang menelungkup. Dia tak sempat bergerak banyak karena dua orang ternyata sudah menginjak tengkuk dan pinggangnya. Lalu dia merasa tangan­nya kembali diikat ke sebuah kayu pendek yang disandangkan ke bahunya. Nasib seperti siang kemarin ternyata kembali terulang. Sebuah kayu diletakkan di bahunya. Kedua tangannya diikat ke kayu sebesar lengan lelaki dewasa itu.
Subuh belum bersambut dengan pagi, pasukan khusus itu kemudian menggelandang tawanannya. Si Bungsu baru tahu, ternyata masih ada tiga orang tentara Amerika yang disekap di desa tersebut. Dia tak tahu di mana mereka disekap.
Namun melihat…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s