Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 676)

Ada berbagai lapisan kelompok masyarakat, umumnya intelektual, yang menganggap campur tangan Amerika di negara lain adalah tindakan yang sudah kelewat batas. Ambisi pemerintah Amerika untuk menjadi polisi dunia, menyebabkan mereka ditentang oleh segolongan rakyatnya sendiri. Mengirim pasukan ke negara lain, yang sudah tentu memerlukan biaya yang amat tinggi, tidak hanya menghamburkan uang untuk hal-hal yang tidak jelas, tetapi sekaligus juga mengorbankan nyawa anak-anak muda Amerika.
Sebagian dari mereka yang dikirim ke medan perang adalah anak-anak muda yang harus ikut dalam program wajib militer. Dengan dukungan Undang-Undang, program ini memang sudah dilakanakan sejak meletusnya Perang Dunia II. Dan sejak itu pula, sudah ratusan ribu pemuda Amerika gugur. Hancur bersama pesawatnya yang tertembak di udara, berkeping oleh ranjau, remuk ditembaki artileri, hilang di belantara, atau terkubur di lautan.
—o0o—
Si Bungsu dan ketiga tentara Amerika yang kini berada di bawah kekuasaan pasukan khusus dan Polisi Militer Vietnam itu benar-benar tak pernah membayangkan nasib buruk yang tengah menanti mereka. Dalam posisi kedua tangan terikat ke kayu yang disandangkan ke bahu, mata mereka ditutup dengan kain tebal ketika akan me ninggalkan kampung tersebut. Selain itu, kaki mereka dirantai dan dihubungkan antara yang satu dengan yang lain. Membawa tawanan dengan cara seperti itu sudah menunjukkan bahwa tawanan tersebut tidak saja dinilai penting, tetapi juga berbahaya.
Mereka digelandang naik sebuah truk tua buat­an Rusia. Di truk itu, rantai yang mengikat kaki mereka dikuncikan ke beberapa gelang yang se­ngaja dibuat dan ditempelkan pada dinding truk dengan mur dan baut yang menembus dinding truk itu. Gelang itu terbuat dari besi sebesar ibu jari. Mereka disuruh tiarap. Lalu truk itu berjalan. Suara mesinnya ribut bukan main. Jalan yang ditempuh luar biasa rusaknya. Selama dalam perjalanan yang alangkah lama dan jauhnya, melewati jalan tanah berlumpur, keempat tawanan yang tiarap di lantai truk dengan mata tertutup itu sengsara bukan main.
Truk tua buatan Rusia tersebut tidak hanya oleng dan terguncang-guncang, tetapi juga terlambung-lambung. Ada kesan bahwa truk ini dilarikan dengan kencang untuk mengejar waktu yang sudah ditetapkan. Beberapa kali kedua truk itu terpaksa berhenti karena terperosok ke dalam lumpur. Ke empat tawanan tetap dijaga di atas truk dalam keadaan tertelungkup. Sesekali seorang tentara memeriksa tutup mata mereka. Truk yang terpuruk itu kemudian ditarik mem pergunakan wing baja, yang memang tersedia pada hampir semua truk perang.
Kawat baja yang panjangnya sekitar dua puluh meter, yang digulungkan pada sebuah silinder besi di bahagian depan truk, direntang ulur dengan menghidupkan mesin. Ujungnya yang dipasang kait besi besar dililitkan ke pohon terdekat. Lalu mesin dihidupkan untuk menggulung kembali kawat baja tersebur. Kawat yang diikatkan ke pohon itu menjadi tegang, dan putaran mesin yang menggulung kawat itu menyebabkan truk tertarik keluar dari lumpur, yang terkadang dalamnya membenamkan seluruh roda-roda besar truk tersebut.
Dengan kedua tangan masih terikat ke kayu di bahu, dengan mata tertutup dan kaki terantai satu sama lain, yang dikuncikan lagi ke cincin besi di dinding truk, bagi si Bungsu maupun ketiga tawanan Amerika itu benar-benar tak ada kemung­kinan untuk melarikan diri. Ketiga tentara Amerika tersebut nampaknya benar-benar parah. Yang seorang, yang lintah masih lekat di pahanya, nampaknya dalam kondisi paling buruk. Dia di­serang demam malaria tropikana. Yang dua lagi, kendati tubuh mereka sudah seperti mayat hidup, kurus dan pucat, namun tidak separah yang dise­rang malaria itu.
Celana dan baju loreng yang mereka kenakan sudah benar-benar compang-camping. Ketiganya tidak mamakai sepatu. Kudis menggerogoti sebahagian besar tubuh mereka, terutama sebatas dada ke bawah. Pada batas dada ke atas kentara sekali bedanya. Bahagian dada ke bawah pucat dan keriput, bahagian dada ke atas agak mendingan. Batas dan keriput itu tercipta karena selama berbulan-bulan mereka direndam dalam kurungan yang dibuat di dalam sungai atau rawa yang air­nya bercampur lumpur. Tempat menyekap tawanan Amerika dengan kondisi seperti itu merupakan hal yang lazim bagi Vietnam.
Jumlahnya bisa puluhan, mungkin ratusan buah di seluruh Vietnam. Selain siksaan yang nyaris tak bisa dibayangkan, kurungan model itu jelas dimaksudkan untuk meruntuhkan moral tentara yang mereka tawan. Ketiga tentara Amerika itu nampaknya sudah menyerahkan nasib mereka bulat-bulat ke tangan takdir. Hampir sehari penuh tersiksa di atas truk, akhirnya konvoi yang hanya terdiri dari dua truk bermuatan penuh oleh pasukan khusus Vietnam itu berhenti di suatu desa kecil dan terpencil. Si Bungsu mendengar suara kokok ayam. Kemudian mendengar suara orang bicara.
Suara tentara melompat turun dari truk. Kemudian suara langkah mendekat. Lalu ada pembicaraan dalam bahasa Vietnam, yang tentu saja tak dimengerti baik oleh si Bungsu maupun oleh ketiga tawanan Amerika itu. Kemudian mereka mendengar perintah untuk turun dalam bahasa Inggris yang cukup baik, diiringi sentakan keras pada kaki mereka. Karena kaki-kaki mereka saling dihubungkan dengan rantai, hanya dengan amat susah payah mereka baru bisa turun dari truk tersebut. Kain yang diikatkan erat-erat penutup mata mereka sesampai di bawah kembali diperiksa.
Kemudian tentara Vietnam itu kembali menggiring ke empat tawanan tersebut dengan mendorong-dorong tubuh mereka. Ada sekitar sepuluh menit berjalan dengan saling terantuk-antuk, baru mereka disuruh berhenti. Si Bungsu mendengar ada suara riak air di bawah. Dari arah riak air itu dia mendengar ada suara nafas manusia. Rantai di kaki mereka dibuka. Tapi sebelum mereka sempat berfikir apapun, kepala mereka dihantam dengan popor bedil. Si Bungsu adalah yang pertama kali menerima hantaman itu. Persis di bahagian belakang kepalanya.
Dia tak sempat berbuat apapun. Usahkan berbuat sesuatu, merasakan sakit kena hantam popor senjata itu pun dia hampir tak sempat. Hanya amat sesaat, sekitar dua atau tiga detik. Rasa sakit yang amat sangat itu sudah lenyap bersamaan dengan lenyapnya semua rasa apapun, saat tubuhnya jatuh dan tercebur ke dalam air berlumpur. Saat itu semua menjadi gelap gulita baginya. Setelah dia, berturut-turut ketiga tawanan Amerika lainnya mendapat giliran. Setelah keempat mereka tercebur, dua orang tentara milisi menutup pintu kurungan yang terbuat dari batang-batang bambu.
Milisi adalah pasukan yang direkrut dari ka­der partai komunis di desa-desa dan tidak memiliki seragam militer kecuali bedil. Usai pintu kurungan itu ditutup, seperti menutup sebuah peti, tiga batang kayu berdiameter hampir satu meter digelindingkan ke atas pintu bambu itu. Jarak kayu yang satu dengan yang lain diatur sedemikian rupa. Sehingga tak mungkin ditolak dari bawah. Sebenarnya, tanpa kayu besar itu pun sudah hampir mustahil bagi yang terkurung di lobang itu untuk keluar. Keempat sisi dinding kurungan itu bukannya terbuat dari bambu melainkan tanah.
Kurungan ini nampaknya dibuat lain dari yang lain. Di sebidang tanah tanah keras dibuat lobang empat persegi, sedalam empat kali empat meter. Bahagian atasnya tiga per empat dilantai dengan bambu hampir sebesar betis lelaki dewasa. Yang seperempat lagi dibuat sebagai pintu yang bisa dibuka dan ditutup. Tawanan dilemparkan begitu saja ke dalam lobang 4 x 4 m itu. Dengan kedalaman 4 meter, dengan air bercampur lumpur sebatas dada, adalah mustahil bagi orang untuk ‘terbang’ agar bisa bebas. Namun bagi Vietnam berjaga-jaga itu tentu saja amat perlu.
Makanya di atas..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s