Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 677)

Makanya di atas bambu-bambu yang diikat dengan kukuh itu, yang berfungsi sebagai ‘atap’ kurungan, masih dipalang lagi dengan tiga batang kayu besar. Lobang yang berfungsi sebagai kurungan itu di dalamnya sudah berisi dua tawanan, tentu saja juga tentara Amerika. Kedua tentara itulah yang kemudian berusaha menolong agar empat tawanan yang baru saja dilemparkan masuk ke lobang itu tidak langsung mati terbenam. Mereka segera berusaha agar bahagian kepala para pendatang baru itu tetap mengapung agar bisa bernafas.
Mereka diupayakan bisa duduk dan disandarkan ke dinding. Namun salah seorang di antaranya, yaitu yang kena demam malaria tropikana, ternyata sudah tak tertolong lagi. Hantaman popor bedil di kepalanya mengakhiri derita panjang yang dia alami.
“Hei, orang ini sudah mati…” ujar tentara yang berusaha memberikan pertolongan.
Namun pasukan khusus Vietnam yang berada di atas hanya menatap dengan diam dengan tatapan dingin.
“Orang ini sudah mati, tolong angkat dan kuburkan dia…” ujar si tentara kurus yang tadi berusaha memberikan pertolongan.
Usahkan pertolongan, sepatah jawaban pun tak terdengar. Mereka justru meninggalkan tempat itu, dengan sikap tak peduli. Kini di sana hanya tinggal dua orang milisi yang tadi menutupkan pintu kurungan tersebut. Kedua mereka juga menatap dengan tatapan dingin. Kemudian beranjak, mengambil dedaunan yang sudah agak mengering. Dedaunan itu ditimbunkan ke atas pintu kurungan. Nampaknya hal itu dise­ngaja, agar orang menyangka bahwa di daerah itu hanya semak belukar. Usai menutup lobang besar itu dengan dedaunan, kedua milisi itu naik ke sebuah pondok kecil.
Pondok itu berada sekitar lima meter dari lobang penyekapan. Pondok sengaja dibuat agak tinggi, khusus untuk tempat mengawasi lobang di mana para tawanan disekap. Di pondok kecil tersebut ada sebuah bren, sejenis senapan mesin ringan de­ngan peluru berantai. Dengan kurungan hanya beberapa meter dari pondok penjagaan, ditambah dua penjaga yang siaga dengan bedil, ditambah sebuah senapan mesin ringan, kalaupun yang dikurung di dalam lobang besar itu adalah semut, maka semut itu pun takkan mungkin bisa meloloskan diri.
Kedua tawanan Amerika yang kedatangan empat ‘tamu’ baru itu saling menatap dalam diam. Yang memegang tentara yang mati tersebut akhirnya melepaskan mayat di tangannya. Kemudian mereka berdua dengan susah payah membuka ikatan tangan ke tiga orang yang masih hidup. Mereka berdua nampaknya tak begitu kaget. Hal-hal luar biasa sudah menjadi bahagian dari kehidupan mereka. Malah sebenarnya di dalam hati mereka merasa gembira dengan datangnya tawanan baru. Sudah beberapa bulan ini mereka hanya berdua di kurungan tersebut. Kini ada tambahan teman baru.
Paling tidak mereka kini memiliki tambahan teman bicara. Kedua orang itu, yang kondisi tubuhnya juga sudah demikian buruk, harus berusaha sekuat tenaga agar ketiga orang yang baru diterjunbebaskan ke tempat mereka itu tidak mati lemas, terbenam dalam air berlumpur tersebut. Begitulah, dengan menyandarkan ketiga orang tersebut ke dinding lobang, dengan menekan dadanya sehingga kepalanya tidak terbenam ke air dan lumpur, mereka bisa memperlambat datangnya elmaut. Si Bungsu siuman pertama. Itu karena dialah yang paling sehat tubuhnya.
Yang satu jelas sudah mati, sementara yang dua lagi sudah demikian lenyai. Dia membuka mata karena merasa sangat kedinginan. Yang pertama dia rasakan selain rasa dingin, adalah kepalanya yang berdenyut-denyut. Kemudian rasa lapar luar biasa. Kemudian rasa tekanan pada dadanya. Saat matanya terbuka kepalanya masih tunduk terkulai. Dia melihat sebuah tangan pucat dan berbulu menahan dadanya. Ketika dia membuka mata dan menolehkan kepala ke arah pangkal tangan yang menahan dadanya itu, dia segera menampak sebuah wajah berjambang lebat.
Rambutnya gondrong, wajahnya pucat dan kotor sekali. Dari pakaian lorengnya yang sudah menguning karena lumpur, dia tahu orang ini adalah tawanan Amerika. Dia terbatuk tiba-tiba. Masih ada sisa air di dadanya saat dia jatuh tercebur.
“Hei, selamat datang di neraka…” ujar orang yang dia tatap sambil melepaskan pegangan tangannya di dada si Bungsu.
Begitu tekanan tangannya dia lepas, tubuh si Bungsu tiba-tiba melorot masuk ke air. Tentara itu menjambak rambut si Bungsu, persis sebelum hidungnya masuk ke air.
“Hei orang asing, itu kali..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s