Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 678)

“Hei orang asing, itu kali terakhir aku menolongmu. Setelah itu kau harus menolong dirimu sendiri. Sudah dua hari kau kupegangi agar tak mampus lemas…” ujar tentara itu menyumpah.
Si Bungsu memperkuat tegaknya di dalam air. Kemu dian dia mengangguk, lalu jambakan pada rambutnya dilepaskan. Tubuhnya masih doyong dan jatuh berlutut, kepalanya segera tenggelam. Dia cepat menyesuaikan diri. Sesaat kepalanya muncul, dia kembali terbatuk. Kedua tentara Amerika yang sudah hampir dua hari memegangi ketiga orang itu hanya menatapnya dengan diam. Si Bungsu dengan susah payah melangkah di dalam air kuning kental yang hampir setinggi leher dan lumpurnya ternyata tebal sekali di dasar kurungan tersebut. Kemudian dia bersandar ke dinding tanah.
Cahaya matahari siang yang menerobos masuk dari celah dedaunan kering, yang selintas kelihatan hanya seperti timbunan sampah yang menutup bahagian atas kurungan itu, membantu si Bungsu mengenali ‘rumah baru-‘nya tersebut. Sambil bersandar dia mengurut beberapa urat di tengkuknya. Kemudian di perutnya. Dalam waktu tak begitu lama, semua rasa sakit akibat hantaman popor itu lenyap. Kemudian dia menoleh pada mayat yang mengapung tertelungkup hanya semeter dari tempatnya tegak. Dia segera tahu, mayat itu adalah mayat tentara yang kena malaria tropikana itu.
Kemudian matanya menatap kepada dua tentara yang masih terkulai yang dipegang oleh dua temannya. Dia tahu, kedua tentara itu adalah yang sama-sama diangkut dengannya dengan truk. Dia juga tahu, kedua mereka pingsan akibat pukulan popor senapan di belakang kepalanya, seperti yang dia terima sebelum jatuh ke lobang ini. Si Bungsu melangkah ke arah mereka. Di bawah tatapan ke­dua tentara itu dia mengurut perlahan urat di belakang tengkuk dan pada bahagian tertentu dekat pusar kedua tentara yang masih pingsan tersebut.
Tak lama kemudian kedua tentara yang pingsan itu terdengar mengerang. Kemudian nafas mereka mulai normal. Kemudian membuka mata. Kemudian menggeleng-gelengkan kepala. Kedua tentara yang tadi memegang mereka menyumpah dan menatap heran pada si Bungsu.
“Pantat kurap! He.. orang asing, apakah kamu punya ilmu sihir makanya bisa membuat orang sembuh secepat itu?” ujar yang rambutnya hampir botak.
“Terimakasih, kawan. Kalian sudah menyelamatkan nyawa saya dan orang-orang ini dengan memegang kami agar tak mati terbenam selama….. berapa lama tadi kau katakan?” ujar si Bungsu.
“Pantat kur….”
Sumpah serapahnya terhenti karena disikut temannya yang seorang lagi.
“Hei…. Hei..! Kenapa kau main sikut. Karena kau letnan dan aku sersan, he? Tak kau lihat keanehan yang dia lakukan? Hanya dengan menjilat tengkuk dan pusat si kerempeng yang berdua ini, dia bisa membuat mereka bangkit dari liang kubur. Tak kau lihat keanehan itu…?”
Si rambut hampir botak itu benar-benar mencerocos seenak udelnya. Mengatakan si Bungsu menjilat tengkuk dan pusar kedua orang itu. Padahal yang dilakukan si Bungsu adalah mengurut dengan jari-jarinya. Kemudian dia mengatakan kedua orang yang baru ditolong si Bungsu itu sebagai dua orang yang ‘kurus kerempeng’. Seolah-olah tubuhnya gemuk benar, padahal hanya tinggal tulang belulang. Si letnan, seorang Negro dengan bibir tebal dan rambut benar-benar kribo saking lamanya tak bertemu tukang pangkas, yang menyikut si sersan hampir botak itu, tersenyum mendengar cerocos kawannya.
“Hai, kawan Anda bisa bahasa Inggris?” tanya letnan Negro tersebut dengan sikap sopan.
Si Bungsu mengangguk. Kemudian menatap jerajak bambu yang di atasnya ditimbuni sampah, jauh di atas kepala mereka. Saat itu seekor cecak jatuh dari sela-sela timbunan dedaunan tersebut. Belum sampai sedetik tubuh cecak kecil itu terhempas ke air, si Bungsu dibuat terkejut oleh apa yang dilakukan kedua tentara tersebut. Mereka hampir serentak, melompat ke arah jatuhnya cecak tadi dengan tangan terulur dan jari-jari terkembang siap menangkap cecak, itu. Ternyata si hampir botak lebih cepat. Si Bungsu dapat melihat dengan jelas tangan kanan sersan itu menyambar cecak yang baru jatuh itu.
Namun si hampir botak tak segera berdiri. Dia justru langsung menyelam. Si letnan menarik nafas, kemudian melangkah lagi ke dinding. Lalu ma­tanya menatap ke atas, ke arah bambu yang menjadi atap lobang seperti meng harapkan sesuatu jatuh lagi dari atas sana. Saat itulah si hampir botak timbul lagi dari menyelam. Si Bungsu merasa mual tatkala melihat ujung ekor cecak itu masih tersembul sedikit di antara bibir si hampir botak. Ekor cecak itu masih bergerak-gerak. Namun dengan cepat lidah si hampir botak terjulur keluar, mulutnya ternganga sedikit, dan ekor cecak itu lenyap!
Kemudian kelihatan si hampir botak menelan dengan luar biasa nikmatnya. Si letnan, dan dua tentara yang tadi datang bersama si Bungsu hanya melihat dengan diam. Malah selera mereka seperti ikut terangsang melihat si hampir botak itu menikmati cecak sebesar telunjuk tersebut. Si Bungsu menahan rasa mualnya dengan menatap dinding kurungan yang seluruhnya terdiri dari tanah napal. Nampaknya lumpur yang ada di bawah kaki mereka sengaja dimasukkan, begitu juga airnya. Sebab air yang keda lamannya hampir mencapai leher mereka itu, kuning dan bau sekali.
Hal itu tentu berbeda kalau air ini berasal dari dalam tanah. Saat itu si sersan yang tadi bertanya apakah si Bungsu bisa berbahasa Inggris kembali bersuara.
“Saya tahu bangsa…

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s