Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 679)

“Saya tahu bangsa Amerika berasal dari berbagai suku bangsa. Anda dari tentara reguler atau wajib militer?” tanya letnan tersebut.
Si Bungsu menatap letnan itu beberapa saat. Kemudian menatap sersan yang hampir botak kepalanya itu. Lalu dua tentara lainnya, yang sama-sama diangkut bersama dia dengan truk. Keempat orang itu, semuanya berpakaian loreng yang sudah kehilangan bentuk, lusuh dan robek hampir di seluruh tempat, menatapnya dengan diam.
“Tidak, saya bukan dari ketentaraan Amerika…” jawab si Bungsu perlahan.
Si Letnan dan ketiga tentara lainnya terdiam sembari menatap si Bungsu beberapa saat.
“Well, kalau begitu Anda tentu bertugas sebagai mata-mata bayaran?” tanya si letnan, namun ucapannya segera disambar si kepala hampir botak.
“Sudah kukatakan tadi, dia tukang sihir.…”
Namun si letnan dan kedua tentara yang lainnya tak ambil peduli dengan ucapan si sersan. Begitu juga si Bungsu.
“Saya orang Indonesia. Saya tidak berkerja untuk dinas rahasia mana pun, termasuk yang tadi Anda sebutkan…” ujar si Bungsu perlahan.
“Pantat kudis! Kalau begitu dia ini mata-mata Vietnam, yang sengaja diselusupkan.…”
Ucapannya terhenti lagi oleh tepukan tangan si letnan di tengkuknya.
“Pantat! Kau tak percaya dia mata-mata Vietnam? Dia sudah mengatakan tidak bekerja untuk Amerika, lalu untuk siapa lagi dia bekerja, kalau bukan untuk Vietnam? Dia mengatakan orang In…. apa itu tadi? Mana ada negara yang dia sebutkan tadi…” ujar si sersan, yang seumur hidup memang tidak pernah mendengar ada negara bernama Indonesia.
Si Bungsu kembali memperhatikan lobang besar tempat mereka dikurung, kemudian menatap ke atas. Dari semua yang dia perhatikan, dia yakin siapapun yang disekap di lobang ini, termasuk dirinya, takkan bisa melarikan diri tanpa bantuan orang yang berada di atas sana. Dia yakin, kalaupun mereka bisa mencapai bambu yang menutup lobang ini, misalnya dengan cara yang satu berdiri di bahu yang lain, agaknya tiga atau empat orang sambung bersambung, pintu bambu itu takkan bisa mereka buka. Dari bawah kelihatan tiga kayu sebesar manusia gemuk, dibelintangkan di “atap” bambu.
“Di mana Indonesia itu? Salah satu negara di Afrika atau Asia Tengah?” ujar si letnan yang seumur hidup juga belum pernah mendengar nama Indonesia.
“Antara Singapura dengan Australia…” ujar si Bungsu.
“Oo… sebelah mana Bali…?” tanya si letnan.
Si Bungsu balas menatap si letnan.
“Anda pernah ke Bali…?”
“Tidak, tapi negara itu kabarnya indah sekali. Sebuah sorga di laut Pacific, kata orang…” ujar letnan tersebut.
Si Bungsu menarik nafas. Bagi dia, yang hampir setahun berada di Amerika, menjelajahi belasan kota di sana, antara lain New York, Dallas, Los Angeles, Washington DC dan San Fransisco, ucap­an si letnan bukanlah hal yang aneh. Sebagian besar orang yang dia kenal di Amerika memang tak pernah mengenal nama Indonesia. Sebagian kecil di antaranya hanya mengenal nama Bali. Bahkan beberapa di antara yang dia kenal justru pernah datang ke Bali. Tapi sebahagian dari mereka yang pernah ke Bali juga tak tahu bahwa Bali itu ha­nyalah sebuah pulau yang amat kecil di negara bernama Indonesia.
Dia tak tahu kenapa kejanggalan seperti itu, tak dikenalnya nama Indonesia oleh kebanyakan orang Amerika, bisa terjadi.
“Bali itu adalah bahagian dari Indonesia…” ujar si Bungsu perlahan sambil jari-jari kaki kanannya menggaruk betis kaki kirinya di dalam air, yang terasa gatal sekali.
Matanya kembali menatap loteng bambu di atas sana.
“Ingin mencoba lari…?” ujar si Letnan.
Si Bungsu menatapnya.
“Kami sudah lebih dari setahun di sini, kau lihat dinding itu?” ujar si letnan sambil menunjuk ke dinding yang berada di sebelah kanannya.
Si Bungsu menoleh ke arah yang ditunjuk letnan tersebut. Dinding itu, setinggi yang bisa dijangkau tangan, penuh goresan pendek-pendek. Nampaknya tiap sembilan goresan pendek ditutup dengan sebuah garis menyilang. Goresan menyilang di dinding itu menjadikan tiap satu ikat goresan tersebut genap sepuluh. Ada puluhan ikat goresan memenuhi dua dinding tanah napal tersebut.
“Satu goresan adalah satu hari. Kami berhenti pada goresan ke lima ratus. Semula pada setiap goresan kami memiliki harapan untuk bebas. Baik dibebaskan teman, dibebaskan karena perang usai dan kesepakatan penukaran tawanan perang diperoleh antara Amerika dan Vietkong, atau bebas karena melarikan diri. Namun, barangkali sudah beberapa bulan yang lalu kami berhenti menggores. Tak ada gunanya membuat goresan lagi. Kami berhenti berharap. Dahulu jumlah kami tujuh orang. Lihat dinding itu, ada tujuh nama di sana. Yang lima yang diberi tanda sudah mati di lobang ini. Yang terakhir mati adalah Sersan Matley, barangkali dua bulan yang lalu…” tutur si letnan perlahan.
Keadaan menjadi sunyi saat si Bungsu menatap ke arah tujuh nama di dinding tersebut. Menatap lima tanda di ujung lima nama. Dari dua nama yang tertoreh di sana, yang belum diberi tanda, si Bungsu menjadi tahu nama kedua orang yang masih hidup ini. Sebab di akhir tiap nama mereka dicantum kan pangkat yang bersangkutan. Si letnan ternyata bernama PL Cowie. Dia tak tahu apa kepanjangan PL tersebut. Kalau Cowie pasti nama klan atau nama ayah. Sementara si sersan yang rambutnya hampir habis, sehingga kepalanya hampir botak, yang kalau bicara suka menyumpah dan memaki, bernama Tim Smith.
“Well, kalian yang berdua, apa pangkat kalian dan dari kesatuan mana kalian?” ujar si letnan kepada dua tentara Amerika yang datang bersama si Bungsu.
“Yes, Sir. Sersan Mike Clark dari Divisi Enam Kompi Senjata Bantuan, pasukan infrantri…” ujar yang seorang.
“Kopral Jock Graham dari Divisi Enam Kompi Senjata Bantuan, bahagian radio…” ujar yang seorang lagi.
“Dan Anda, Tuan?” ujar Letnan Cowie pada si Bungsu.
“Saya orang sipil, nama saya Bungsu….”
Semua mata menatap ke arahnya.
“Maaf, saya sangat yakin Anda bukan mata-mata untuk siapa pun. Namun, sebohong apapun cerita yang akan Anda sampaikan, harap beritahu kami, kenapa Anda sampai ikut ditawan dan di­sekap bersama kami…” ujar Cowie.
“Anda dari pasukan SEAL?” tanya si Bungsu kepada letnan jangkung itu.
Letnan itu menatap ke arahnya. Begitu juga yang lain.
“Kenapa Anda menebak seperti itu?”
“Hanya firasat. Saya pernah…

1 Comment

  1. lanjuik, da !


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s