Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 682)

Namun karena kukuhnya dan karena kondisi mereka se­perti sekarang, tanpa alat apapun untuk bisa dipakai melarikan diri, atap bambu yang tingginya hanya empat meter itu terasa berada jauh di atas langit sana.
Kelima mereka hampir serentak memandang ke atas. Karena saat itu sayup-sayup mereka mendengar pekik wanita. Namun yang terlihat tetap saja bambu bersilang-silang empat segi, daun pe­pohonan yang ditimbunkan ke bambu itu, yang berfungsi sebagai kamuflase sekaligus atap lobang tempat mereka disekap. Tak ada satu pun yang terlihat. Yang sampai ke tempat mereka hanya suara pekik dan erangan perempuan. Suara pekik dan erangan itu memang berasal dari mulut seorang wanita, datang dari pondok penjagaan sekitar tiga depa dari mulut lobang tempat menyekap tawanan perang tersebut.
Karena dekatnya jarak antara mulut lobang dengan pondok itulah makanya mereka yang berada di dalam lobang tersebut tidak hanya mendengar pekik si wanita, tetapi juga erangannya. Bahkan sayup-sayup mereka menangkap suara nafas yang tersengal-sengal. Nafas memburu seperti berlari kencang yang keluar dari mulut lelaki, yang juga keluar dari mulut wanita. Mereka menatap nanap ke atas dengan mata hampir melotot. Seolah-olah ingin mengetahui apa sebenarnya yang tengah terjadi di atas sana. Di atas sana, di pondok penjagaan itu, memang sedang terjadi sesuatu.
Milisi Vietnam, yaitu orang-orang sipil yang menjalani wajib militer, tidak hanya dikenakan pada kaum pria. Juga dikenakan kepada wanita. Itu pun tidak hanya kepada mereka yang dewasa, yang masih kanak-kanak pun demikian. Soalnya, sebelum pecah menjadi Vietnam Utara dan Selatan, negeri ini sudah menjalani peperangan yang sangat panjang. Sudah sejak zaman negeri ini dijajah Perancis selama 100 tahun. Dalam perang yang amat panjang untuk merdeka, yang meremukkan hampir seluruh sendi kehidupan Vietnam itu, negeri tersebut sudah mengorbankan ratusan ribu, jika tidak jutaan orang.
Itulah sebabnya hampir semua penduduk, lelaki wanita, tua maupun muda, dihimbau untuk angkat senjata melawan penjajahan, atau siapa saja yang mencoba mengekspansi negeri mereka. Yang terakhir, dalam upaya menyatukan negeri itu di bawah kekuasaan komunis, mereka berusaha merebut kembali Vietnam Selatan yang dibeking habis-habisan oleh Amerika. Namun mereka, orang-orang utara, yang sebelum dan semasa penjajahan Perancis sebenarnya bersatu dengan selatan, kini tidak hanya berhasil menyatukan kembali selatan dengan utara, tetapi juga mengusir tentara Amerika.
Mengusir tentara dari negara paling super dan paling ditakuti, karena memiliki peralatan perang paling canggih di dunia. Jika akhir peperangan itu mendatangkan rasa bangga yang luar biasa bagi rakyat Vietnam Utara yang komunis, karena berhasil mengalahkan tentara dari negara terkuat di dunia, maka bagi Amerika akhir perang Vietnam adalah sebuah aib besar, yang takkan mungkin terhapus dengan apapun sepanjang zaman. Wanita Vietnam yang ikut memanggul senapan tugasnya sama saja dengan pria. Dalam perang selama puluhan tahun, mereka sudah tertempa dengan berbagai kondisi.
Hari itu, saat kelima tawanan di dalam lobang sekapan mendengar suara jerit dan erang, adalah saat aplusan untuk menjaga lobang penyekapan tersebut. Saat si Bungsu pertama tiba, yang menjaga adalah dua milisi pria, maka kini yang menggantikan adalah seorang milisi wanita dan seorang milisi pria. Para milisi ini berpakaian hitam-hitam, semuanya tanpa tanda pangkat. Perang, sebagaimana terjadi di belahan bumi manapun, ternyata tidak hanya mendatangkan bencana secara fisik kepada negeri tempat terjadinya perang, tetapi juga memporak-porandakan moral dan nilai-nilai.
Yang paling menderita adalah para wanita. Ya musuh, ya orang kampung sendiri, asal dia ikut berperang tiba-tiba saja fi’ilnya berubah menjadi beringas. Kaum wanitalah yang senantiasa paling banyak menjadi korban kebuasan perang. Kebuasan tentara penyerang, maupun tentara pihak bertahan.
Begitulah kebuasan sebuah perang. Kebuasan yang tak mengenal batas moral dan agama. Tak mengenal batas buruk dan baik. Bila keberingasan dan nafsu sudah memanjat ke ubun-ubun, semua batas pun runtuh.
Dua milisi yang tegak berjaga di bawah pondok itu pun bersiap turun, manakala melihat penggantinya sudah tiba. Saat keduanya akan turun, tiba-tiba yang seorang matanya terpandang pada dada wanita milisi yang akan meng gantikannya. Padahal baju seragam tentara berwarna hitam yang dikenakan wanita itu buahnya terkancing semua. Namun karena dada wanita itu memang demikian ranum dan sekal, ada celah terbuka di antara dua kancing bajunya. Dari celah baju yang tersingkap tak sampai seukuran kelingking itu, dia mengintip pangkal dada wanita tersebut. Putih dan memabukkan dan mengirimkan sentakan ke ubun-ubun.
Anggota milisi yang akan turun itu mendagut liurnya. Lalu dengan kaki separoh menggigil menuruni tiga buah anak tangga pondok tersebut.
Sambil melangkahi..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s