Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 683)

Sambil melangkahi tiap anak jenjang, matanya melotot ke dada wanita tersebut. Dia masih menahan diri. Tapi pikirannya merayap kemana-mana. Bukan, bukan kemana-mana. Pikirannya merayap hanya ke satu tempat, yaitu ke balik baju wanita itu. Ke sela dadanya yang ranum dan sekal. Nafasnya memburu ketika dia sampai di bawah. Perempuan itu lalu naik. Si milisi menoleh ke belakang.
Dan… ampun, ketika perempuan itu naik, pinggulnya yang besar membayang jelas. Terbungkus oleh celana hitamnya yang ketat. Tubuhnya agak kurus. Namun dada dan pinggulnya yang amat sintal membuat lutut lelaki yang melihat goyah gemertak. Senyum dan tatap matanya amat mengundang selera buruk lelaki. Itulah yang terjadi begitu dia menaiki anak tangga di pondok pe­ngawalan tersebut. Dia baru saja akan menghe­nyakkan pinggulnya di lantai beralas tikar, ketika anggota milisi yang baru turun itu tiba-tiba saja sudah berada di sisinya.
“Ada apa?” ujarnya kaget sambil menatap ke arah milisi tinggi kurus bermata juling yang tegak di depannya.
Perang panjang sering membuat manusia kehilangan akal sehat. Dan akal sehat itulah yang hilang dari tempurung kepala anggota milisi kurus tinggi di pondok penjagaan itu. Dia langsung saja menyergap wanita itu. Si wanita yang kaget bukan main, berusaha berontak dan berteriak. Namun teriaknya tersumbat di tenggorokan. Mulut milisi kurus itu sudah menyumpal mulut si wanita dengan rakus. Berontaknya hanya berupa gelinjang tanpa daya, karena si kurus sudah dikuasai nafsu. Satu-satunya harapan adalah dua milisi lelaki yang kini berada di bawah pondok.
Yang satu adalah yang sama-sama datang de­ngannya ke pondok ini untuk menggantikan tugas penjagaan. Yang satu lagi adalah teman si kurus, yang akan mereka gantikan. Namun reaksi kedua lelaki itu justru bertolak belakang de­ngan yang diinginkan si wanita. Kedua mereka justru mengawasi jalan setapak ke arah kampung. Melihat kalau-kalau ada yang datang. Tentu saja takkan ada yang datang. Tempat penyekapan itu terletak di tengah pepohonan dan hutan bambu. Ja­rak ke perkampungan ada sekitar 500 meter. Memekik kuat pun si wanita tetap takkan terdengar ke kampung. Apalagi pekiknya tertahan di tenggorokan.
Angin bertiup kencang. Atap penutup lobang penyekapan di depan pondok itu terkuak-kuak. Cahaya terang menerobos masuk ke lobang itu. Bau busuk segera menerobos ke atas. Para milisi tersebut segera pada menutup hidung mereka dengan kain. Salah seorang segera melemparkan tali yang tadi dia sandang di bahunya. Si wanita yang masih berpeluh hanya menatap dari tempat duduknya di atas pondok. Dia seperti kehabisan tenaga untuk bergerak.
“Ikat mayat itu dengan tali ini…” ujar pimpinan milisi Vietnam itu dalam bahasa Inggris.
Kendati bahasa Inggrisnya tak begitu baik, namun mereka yang berada dalam lobang sekapan itu faham apa yang disuruh. Letnan PL Cowie maju dan mengikatkan tali sebesar empu jari kaki itu ke pinggang mayat yang sudah tiga hari me­ngapung di dalam lobang itu. Tali itu segera ditarik. Masih untung mayat itu belum berulat. Udara dingin di dalam lobang tersebut membuat ma­yat itu tak cepat menjadi rusak. Lalu di bawah todongan bedil salah seorang milisi, dua milisi lain segera menarik mayat itu ke atas. Diperlukan kerja yang cukup menguras tenaga untuk menarik mayat gembung itu.
Si wanita yang masih duduk tersandar menutup hidungnya dan membuang pandangannya ke tempat lain. Betapapun sudah seringnya dia ikut dalam pertempuran dan menyak sikan mayat bergelimpangan, namun melihat mayat gembung yang baru saja diangkat itu tetap saja membuat perutnya mual. Setelah ma­yat diangkat, bambu-bambu kembali ditutupkan ke lobang tersebut. Kemudian semak-semak di­timbunkan kembali di atasnya. Setelah itu, ma­yat tersebut mereka bawa kearah hutan. Dan dikubur di sebuah lubang dang­kal. Lalu ketiga milisi itu kembali ke perkampungan.
Kini di pondok penjagaan wanita itu hanya tinggal bersama seorang milisi lelaki. Di dalam lobang penyekapan, kelima lelaki yang terkurung di sana bisa agak bernafas lega. Kendati bau bangkai masih saja memenuhi lobang tersebut. Mereka bersandar dengan diam. Air dalam lobang itu nampaknya agak menyusut. Jika semula sebatas dada, kini sudah turun sedikit. Namun masalah mereka untuk bertahan hidup tidak hanya harus berjuang melawan lapar, tapi harus mampu berdiri terus menerus. Tidak satu pun batang atau ranting yang bisa dijadikan tempat berpegang.
Satu-satunya yang bisa mereka lakukan ada­lah bersandar ke dinding. Penat bersandar mereka berjalan di dalam air berlumpur itu. Si Bungsu menjadi faham cerita Cowie, bahwa sebahagian dari tentara Amerika yang ditawan dalam lobang ini mati karena tak kuat berdiri. Mereka terbenam dan mati lemas. Ini adalah cara menyiksa yang luar biasa. Tentara Vietnam tak perlu rugi sebutir pelurupun untuk membunuh tawanannya. Satu per satu tawanan mati karena lapar, gila atau sakit, kemudian terbenam. Mereka harus berjuang untuk bisa tetap tegak, dengan kaki yang makin melemah.
Semakin lama mereka mampu bertahan untuk berdiri, makin lama pula mereka bisa bertahan hidup. Siapa pun yang berada dalam lobang penyekapan itu pasti takkan pernah memba­yangkan apa yang mereka hadapi kini. Yaitu kala mereka hidup di kota di Amerika sana, saat mereka masih belum mendaftar menjadi tentara. Saat sebahagian dari mereka masih mengisi hidupnya dengan masuk bar keluar bar. Masuk nightclub yang satu ke nightclub yang lain. Menenggak bir atau wisky, melahap lezatnya hamburger atau sandwich, berjoget dan kemudian main perempuan.
Kini, dalam lobang neraka segi empat berair kuning dan berbau bangkai ini, mereka kembali mendengar cekikikan perempuan. Mereka pada memasang telinga. Suara cekikikan itu suara siapa lagi, kalau bukan suara milisi wanita bertubuh agak kurus tapi berdada dan berpinggul bahenol, yang bisa membuat mata lelaki jadi juling dan lemas kelelep itu. Dia memang sedang terlibat pembicaraan dengan teman lelakinya yang sama-sama menjaga di pondok pengawalan tersebut. Penempatan pengawalan di pondok itu nampaknya ha­nya sebagai sikap berjaga-jaga.
Lobang itu memang tak perlu diawasi benar. Sebab, hampir bisa dipastikan orang yang disekap di dalamnya, takkan bisa melarikan diri. Tapi begitulah, namanya saja tawanan perang. Kan aneh kalau tak ada yang menjaga tempat mereka ditawan. Itulah sebabnya setiap 12 jam pengawalan ditukar.
Perempuan itu sedang berada dalam posisi berbaring menelungkup di lantai pondok. Di bahagian depan, agak ke samping kanan, duduk temannya yang lelaki. Sesekali memandang ke arah timbunan semak belukar yang menutupi lobang penyekapan. Namun matanya lebih sering menatap bongkol pinggul perempuan yang menelungkup itu.
Atau ke dadanya yang..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s