Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 686)

Namun dia tahu Smith masih tegak di sisinya, juga bersandar ke dinding. Suara nafas lelaki itu dia dengar teratur. Dia juga tahu Smith sedang tidur. Hampir dua tahun disekap seperti ini, membuat tentara Amerika itu benar-benar terlatih dan tahu bagaimana tidur dalam segala kondisi.
Pendengarannya yang tajam juga menangkap dengkur perlahan Letnan Cowie dan Kopral Jock Graham. Perlahan dia berbisik, memanggil Smith yang tegak di sisinya.
“Smith….”
“Ya….” jawab Smith, juga berbisik tanpa membuka mata.
“Orang ini sudah mati….”
Tak ada jawaban. Dari kegelapan di atas sana sayup-sayup terdengar suara burung malam.
“Apa…?”
“Clark sudah mati….”
Smith menarik nafas panjang.
“Kau yakin?”
“Ya…”
Tak ada jawaban dari Smith. Yang dia lakukan, justru melepaskan pegangan kedua tangannya di paha Mike Clark yang tubuhnya mengapung di permukaan air.
“Lepaskan saja…” ujar Smith perlahan sambil meng geliat.
Saat si Bungsu melepaskan pegangannya pada punggung bahagian atas tubuh Clark, juga pegangan di bahagian kepala. Smith masih menggeliat panjang. Dia meregangkan kedua tangannya yang hampir kesemutan tinggi-tinggi ke atas. Lalu dia melemaskan jari-jarinya. Menarik jari itu bergantian satu demi satu, sehingga buku-buku jarinya memperdengarkan bunyi gemeletuk. Kemudian dia menguap panjang dan menegakkan tubuhnya yang bersandar hampir sepanjang malam. Lalu memutar badan bahagian atasnya, melemaskah pinggang dan otot-ototnya yang semua terasa kaku.
Si Bungsu juga melakukan hal yang sama. Meluruskan tegak dari posisi bersandar. Menggeliat dengan mere gangkan kedua tangannya tinggi-tinggi ke atas. Lalu memutar tubuh bahagian atasnya ke kiri, ke kanan dan sedikit membungkuk. Mereka jelas tak bisa membungkuk benar, karena air di dalam lobang itu tingginya hampir mencapai leher mereka masing-masing. Dalam kegelapan yang kental tersebut, mayat Clark yang mengapung perlahan ke bahagian tengah lobang penyekapan itu, tak kelihatan sama sekali.
Bagi orang-orang di atas sana, bahkan bagi hampir separuh rakyat Amerika; perang Vietnam sudah berbulan-bulan usai. Namun bagi mereka yang berada dalam lobang penyekapan ini, dan bagi ratusan tawanan perang Amerika yang di­nyatakan sebagai MIA, yang disekap di puluhan tempat rahasia, perang Vietnam benar-benar belum selesai. Memang tak ada peluru berdesingan atau bom yang menggelegar. Karena mereka yang tertawan dan disekap memang tak memiliki senjata dalam bentuk yang paling purba sekalipun. Tetapi, dalam peperangan ada kata-kata yang dihafal hampir seluruh prajurit yang maju ke me­dan tempur. Kata-kata nasehat sekaligus peringatan itu bermula dari saat latihan.
“Lebih baik bermandi keringat dalam latihan, daripada bermandi darah dalam pertempuran”. Kemudian jika mereka benar-benar sudah berada di medan tempur, ada kata-kata. “Peperangan hanyalah latihan. Menjadi tawanan musuh adalah pertempuran sesungguhnya”. Hanya bagi mereka yang pernah ditawan Vietnam, yang sangat memahami kebenaran kata-kata peringatan itu. Seba gaimana halnya dialami oleh mereka yang kini berada dalam lobang penyekapan bersama si Bungsu, yang disekap di wilayah Vietnam yang mereka tak ketahui di mana lokasinya.
Mendengar ada suara perlahan, Cowie yang juga sedang tidur berdiri, segera terbangun. Membuka mata atau tidak, dalam sergapan gelap seperti sekarang, bagi mereka sama saja. Yang kelihatan hanya hitam kelam. Bahkan mereka juga takkan melihat jari-jari mereka sendiri, kendati mereka meletakkan jari jari tangannya persis di depan mata.
“Smith…” imbau Cowie perlahan.
“Yes, Sir….”
“Clark mati?”
“Yes, Sir! Si Bungsu memastikan hal itu….”
“Bungsu….”
“Ya, Letnan….”
“Sudah berapa lama dia mati?”
“Sekitar sepuluh menit yang lalu, Letnan….”
Letnan Cowie, dan juga Kopral Jock Graham yang ikut terbangun dalam kegelapan yang kental itu, termenung.
“Bungsu…” ujar Cowie perlahan, setelah mereka lama saling berdiam diri dalam kegelapan tersebut.
“Ya, Letnan….”
“Terimakasih, Anda telah ikut bersusah-susah meme gangi Sersan Clark.…”
Si Bungsu menarik nafas panjang. Dia merasa tak perlu mengomentari ucapan terimakasih Co­wie. Fikirannya melayang, sampai kapan mereka berada dalam sekapan ini? Sampai nyawa mereka tercabut satu demi satu, seperti Clark dan yang mati pertama karena malaria itu? Dia tidak ingat sudah berapa belas hari dia berada di dalam lobang sekapan maut ini. Dia tak pernah menghitung. Tetapi ada juga pelajaran yang dia peroleh dari Cowie dan Smith, bagaimana cara melepaskan lelah dalam air berlumpur tersebut. Jika penat berdiri atau bersandar di dalam air yang hampir mencapai dada itu, mereka lalu mengapungkan diri.
Menelentang atau menelungkup di air. Karena airnya kental, berat jenis air itu lebih besar dari berat jenis air sungai yang jernih. Dengan berat jenis air yang lebih besar itu tubuh mereka yang memang sudah kurus dengan mudah mengapung lebih lama dibanding jika mereka mengapungkan diri di sungai. Jika ada yang melihat ke dalam lobang itu pada saat mereka “istirahat” di atas air, ke empat lelaki tersebut akan nampak seperti mayat yang berapungan di air. Mayat Clark ternyata lebih baik nasibnya dari mayat-mayat sebelumnya yang mati dalam lobang tersebut.
Sekitar pukul sepuluh esoknya,…

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s