Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 688)

“Ayo kita cari lagi. Saya masih cukup banyak kantong seperti ini, yang sudah kita buang dan terbenam jauh di bawah lumpur…” bisik Cowie.
Ke tiga tentara Amerika itu kembali menyelam. Begitu juga si Bungsu. Yang pertama dia lakukan adalah menggulung kantong plastik itu sehingga menjadi gulungan kecil. Kemudian dia letakkan baik-baik di tepi dinding di dasar lobang. Ditimbunnya dengan dua kepal lumpur agar jangan mengapung ke permukaan. Lalu tangannya menggerayang lagi mengaduk-aduk lumpur. Beberapa kali mereka saling berbenturan kepala di dalam air kental tersebut, atau tangan mereka saling beradu saat mengaduk-aduk lumpur.
Ketika satu demi satu mereka muncul lagi dengan nafas tersengal-sengal, di tangan Cowie ada tiga kantong plastik. Smith mendapat enam, Graham dua buah dan si Bungsu lima. Mereka pada bersandar terlebih dahulu di dinding lobang. Mengatur pernafasan. Namun tak seorang pun yang mengangkat kantong plastik yang mereka dapat ke permukaan. Mereka memegang kantong-kantong plastik tersebut di dalam air.
Semua mereka merasa perlu waspada. Kendati mereka yakin takkan ada seorang pun tentara atau milisi Vietnam yang akan mencoba melihat dari atas. Namun harapan untuk bebas yang tiba-tiba demikian besar membersit, membuat mereka ber­hati-hati. Mereka tak ingin ada Vietnam yang melihat bahwa mereka tengah me-ngumpulkan kantong plastik tersebut.
Sore sudah turun saat mereka menyelesaikan peker-jaan menyambung-nyambung tali dari kantong plastik itu. Kini mereka memiliki tali sepanjang lebih kurang lima depa. Cowie memberi isyarat agar menyembunyikan saja tali itu di dalam air. Tak usah dicoba menarik-narik untuk menguji kekuatannya. Cowie, dan mereka semua sepakat, agar bersikap lebih hati-hati. Jangan sampai ada mata yang mengintai apa yang mereka lakukan di dalam lobang ini. Fikiran dan kecurigaan seperti itu tak pernah muncul selama ini. Fikiran itu baru muncul setelah mereka memiliki alat untuk melarikan diri.
Cahaya sore yang merah, membias ke dalam lobang di mana mereka berada. Ke tiga tentara Amerika itu, Letnan PL Cowie, Sersan Tim Smith dan Kopral Jock Graham, tiba-tiba saja seperti orang yang baru bangkit dari kubur. Wajah mereka membiaskan harapan untuk bebas amat besar. Berbeda dari saat sebelum tali plastik itu mereka buat.
Dimana wajah dan mata mereka kelihatan murung dan tak bercahaya. Kini, wajah mereka memang tetap pucat, namun ada rona dan harapan yang membersit di sana. Ketika gelap sudah meraup semua lobang tersebut, Cowie dan si Bungsu segera mengatur uji-coba kekuatan tali plastik yang mereka buat. Wajah mereka membiaskan harapan hidup yang amat besar. Berbeda dari saat sebelum tali plastik itu mereka buat. Dimana wajah dan mata mereka tetap kelihatan murung dan tak bercahaya. Kini, wajah mereka memang tetap pucat, namun ada rona dan harapan yang membersit di sana.
Ketiga gelap sudah meraup semua lobang tersebut, Cowie dan si Bungsu segera mengatur uji coba kekuatan tali plastik yang mereka buat. Si Bungsu menyelam di tempat yang sudah dia beri tanda di mana dia menyimpan tali plastik yang lima depa itu. Tangannya mengaiskan lumpur yang dia jadikan sebagai pemberat, agar tali itu tidak mengapung. Setelah muncul dan tegak di sisi Cowie, dia menyerahkan ujung yang satu kepada letnan tersebut. Sementara ujung yang satu lagi tetap dia pegang.
“Saya dengan Smith, Anda dengan Graham…” bisik Cowie.
“Oke….” ujar si Bungsu.
Kedua orang yang disebut Cowie, Smith dan Graham, yang juga tegak di dekat mereka, segera berbagi tegak. Smith mengikuti langkah Cowie ke dinding yang berse berangan dengan tempat tegak si Bungsu. Sementara Graham mendekatkan tegaknya ke dekat si Bungsu. Kini tali plastik itu mereka regang. Si Bungsu dan Graham di ujung yang satu, sementara Cowie dan Smith di ujung lainnya.
“Siap….?” bisik si Bungsu.
“Yap…!” jawab Cowie.
Keempat mereka memegang masing-masing ujung tali itu kuat-kuat ketika si Bungsu menghitung mundur dari tiga, dua, satu dan nol. Pada hitungan nol, mereka menarik tali itu sekuat mungkin. Namun yang terjadi bukannya tali yang putus, tapi Cowie dan Smith di ujung sana tertarik kuat ke depan. Mereka berdua sampai kehilangan keseimbangan dan kelelep di air.
“Pantat kurap….” sumpah Smith diiringi sederet panjang makin lain.
Rupanya dia tak bisa menahan tarikan kuat si Bungsu dan Graham, beberapa teguk air kental tertelan olehnya. Untuk beberapa saat dia kelam kabut menyemburkan air bekas mayat teman-temannya itu. Cowie tertawa, Graham tertawa. Smith akhirnya ikut tertawa. Cowie segera sadar, tenaga mereka amat tak berimbang dibanding tenaga orang Indonesia itu. Soalnya dia dan Smith memang sudah tak punya tenaga sedikit pun. Habis terhisap selama dalam lobang sekapan dengan makan amat minim selama lebih dari dua tahun. Sementara si Bungsu masih segar bugar.
Si Bungsu juga menyadari perbedaan antara tenaga yang dia miliki dibanding tenaga ketiga teman satu tahanannya tersebut. Dia faham, bertahun-tahun di dalam sekapan, dengan makanan dan minum yang amat kurang, menyebabkan tubuh para tawanan menjadi seperti mayat hidup. Benar-benar hanya tinggal tulang belulang dibalut kulit. Dia sendiri tak yakin bisa bertahan hidup jika ditahan selama itu.
Mereka lalu kembali mengulangi percobaan dalam gelap gulita itu. Kali ini, si Bungsu tegak sendirian, sementara Cowie, Smith dan Graham bergabung jadi satu di ujung yang lain.
“Siap?” bisik si Bungsu.
“Yap…” ujar Cowie.
Si Bungsu kembali mengulang menghitung mundur. Pada saat dia menyebut angka nol, mereka semua mengerahkan tenaga. Menarik sekuat daya ujung tali pada bahagian masing-masing. Hanya beberapa saat, tiba-tiba semua mereka merasakan tali itu putus dan mereka pada tersandar dengan agak keras ke dinding di belakangnya. Nafas ketiga tentara Amerika itu pada memburu.
“Cowie….?” bisik si Bungsu.
“Ya….”
“Putus?”
“Ya….”
“Periksa bahagian ujung yang putus itu…..”
Cowie menghela tali plastik tersebut. Menggulungnya perlahan sampai ujung yang putus itu tiba di tangannya. Demikian juga si Bungsu.
“Bungsu….” bisik Cowie.
“Ya…?”
“Tak ada serpihan bekas putus di ujung tali ini….”
“Ya, di ujung ini juga tidak…” jawab si Bungsu.
“Kalau demikian, tali ini tidak putus. Melainkan terlepas sambungannya…” ujar Cowie.
“Ya, menurut saya juga begitu…” jawab si Bungsu.
“Kita uji lagi?” tanya Cowie.
“Ya, kecuali kita ingin tetap berada di dalam lobang celaka ini selama-lamanya…” ujar si Bungsu sambil melangkah di dalam air, mendekati tempat Cowie dan kawan-kawannya.
“Kami sudah cukup..

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s