Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 689)

“Kami sudah cukup lama di sini. Kalau ada yang harus tinggal lebih lama, lebih baik kau saja. Sebab pengala manmu berada di dalam lobang seperti ini harus diperdalam. Makin lama engkau berada di sini makin banyak yang bisa kau pelajari…..” ujar Cowie, disambut tawa cekikikan Smith.
“Sebaiknya Smith atau Graham saja yang diperpanjang masa tugasnya di lobang ini, jangan saya. Saya orang asing, bukan orang Amerika. Jadi tak ada manfaatnya bagi Vietnam….” ujar si Bungsu membalas guyonan Cowie.
Smith bercarut marut diiringi tawa. Senang juga hatinya mendengar senda gurau orang Indonesia ini. Mereka lalu menyambung lagi ujung tali yang ikatannya terlepas itu. Kemudian pengujian kembali dilakukan dengan menarik sekuat mungkin. Beberapa kali mencoba, tali itu memang ke­nyal dan alot sekali. Tak bisa putus meski ditarik kuat-kuat oleh empat lelaki dewasa. Mereka kini benar-benar punya harapan untuk bisa membebaskan diri. Mereka tak tahu bagaimana caranya. Belum pula pernah meren canakan apapun. Jadi mereka sebenarnya tak tahu, apa yang akan mereka lakukan.
Bisa melarikan diri memang menjadi idaman setiap tawanan. Namun risikonya adalah nyawa. Kendati belum ada rencana apapun, belum tahu kapan saatnya melarikan diri, namun memiliki tali yang amat kukuh dengan panjang sekitar lima depa itu benar-benar memberi dorongan semangat pada mereka. Hidup bebas di luar merupakan bayangan yang amat indah.
“Besok kita uji dengan bergantung di tali ini…” bisik si Bungsu yang bersandar di sisi Cowie.
“Saya yakin, engkau bisa membawa kami keluar dari lobang ini, Bungsu…” ujar Cowie perlahan, didengar dengan diam oleh Smith dan Graham.
“Saya tidak melihat bagaimana caranya. Lobang ini terlalu tinggi untuk dilompati. Kita tak memiliki senjata apapun…” ujar si Bungsu.
Kendati dia berkata perlahan, namun karena mereka berempat tegak berdekatan, semua bisa mendengar percakapan perlahan itu dengan cu­kup jelas.
“Engkau sudah memulainya kawan. Gagasan membuat tali dari kantong plastik itu tak pernah terfikirkan oleh kami sebelumnya. Kini engkau ternyata melihat hal itu. Kita tunggu saat yang tepat serta merencanakannya sebaik mungkin…” ujar Cowie.
Kemudian mereka lebih banyak berdiam diri. Tak lama setelah itu, si Bungsu memisahkan diri dari kelompok tersebut. Dia pergi ke bahagian lain dari dinding itu. Kemudian orang-orang hanya mendengar suara air bersibak. Cukup lama.
“Hei, kau belajar berenang?” tanya Smith perlahan, diiringi suara tawanya separoh terkekeh.
Tak ada jawaban dari si Bungsu. Suara air berkecipak itu tetap saja mereka dengar berkepanjangan. Akhirnya ketiga tentara itu hanya mende­ngar dengan diam. Mereka memang tak dapat melihat apapun di dalam lobang itu jika gelap sudah turun. Mungkin ada sekitar tiga atau empat jam suara air berkecipak itu mereka dengar. Setelah itu mereka dengar tarikan nafas, lalu sepi. Mereka lalu tertidur dalam pulas. Paginya semua pada tersentak terbangun mendengar carut marut Smith. Co­wie yang membuka mata duluan menatap ke arah Smith, lalu Graham.
Smith ternyata sedang melototkan matanya ke arah si Bungsu. Cowie dan Graham ikut memandang ke arah yang dipandang Smith. Dan mereka juga ikut melotot seperti Smith. Betapa mereka takkan melotot, kalau di seberang sana, mereka melihat lelaki asal Indonesia itu tidur menyandarkan diri. Tapi yang membuat mereka melotot bukannya tidur si Bungsu, melainkan batas air yang terlihat di tubuh lelaki itu. Jika di tentang mereka ketinggian air tetap saja sebatas pangkal leher, di tentang si Bungsu air ternyata hanya sebatas perutnya!
Tidaklah mungkin air di ruangan yang sama, dengan kedalaman lobang yang sama, bisa dang­kal di suatu tempat dan dalam sangat di tempat yang lain. Mungkin atau tak mungkin, bukti yang kini mereka saksikan dengan mata kepala sendiri memang begitu. Ketiga mereka lalu perlahan ke arah tempat si Bungsu, yang masih saja tidur pulas. Smithlah yang pertama terhenti langkahnya. Langkahnya terhenti karena tiba-tiba saja tubuhnya kejeblos ketempat yang lebih dalam. Kepalanya tiba-tiba lenyap dari permukaan air. Dia kaget dan sempat kelelep sebelum akhirnya menggerapai mundur.
“Setan… pantat kurap! Apa-apaan ini?” rutuk Smith begitu kembali berdiri di tempat yang datar.
Si Bungsu terbangun. Dia membuka mata dan segera tertawa sambil menatap kepada tiga teman-temannya yang kurus kerempeng itu. Ketiga mereka kini berada di tengah lobang, sekitar dua meter dari tempatnya.
“Hai…” ujarnya sambil tersenyum.
Ketiga tentara Amerika itu masih melongo menatapnya, yang seolah-olah berada di atas air. Si Bungsu menggapaikan tangannya ke depan, ke bahagian bawah tempat duduk tersebut. Lalu memperagakannya pada ketiga tentara Amerika itu. Mereka masih terlongo, sebab yang diperagakan si Bungsu hanyalah sekepal lumpur. Cowie yang pertama menyadari kenapa orang Indonesia itu kini seolah-olah berada di ketinggian. Hal itu berkaitan erat dengan apa yang dilakukan orang Indonesia itu tadi malam. Dia memang berada di posisi lebih tinggi dibanding posisi mereka kini.
Tadi malam, kecipak air yang mereka dengar selama berjam-jam itu adalah akibat lelaki dari Indonesia ini bekerja keras. Menyelam mengumpulkan lumpur. Lalu menum puknya di salah satu dinding tahanan. Berjam-jam melakukan penumpukan, tentu saja lumpur itu makin lama makin tinggi. Dan kini, dia tak perlu berdiri lagi. Pekerjaannya malam tadi menghasilkan sebuah ‘kursi’ yang terdiri dari unggukan lumpur. Di kursi itulah dia kini duduk, sehingga air seolah-olah sebatas perutnya. Ke tiga tentara Amerika itu kemudian berdatangan ke ‘kursi’ si Bungsu.
Lalu mereka menjadi seperti anak-anak yang mendapat permainan baru. Bergantian naik ke ‘kursi’ lumpur tersebut. Sersan Tim Smith kemudian tak mau kalah. Dia segera melangkah ke sisi dinding yang lain. Kemudian menyelam. Lalu dari kedalaman air itu dia meraup lumpur dengan ta­ngannya. Mengungguk lumpur sedikit demi sedikit ke tepi dinding. Dia juga ingin membuat sebuah ‘kursi’ untuk tempatnya duduk. Malah kalau bisa, dia ingin membuat tempat tidur. Dengan demikian dia tak usah lagi harus berdiri. Dia berharap bisa berbaring-baring di tempat tidurnya yang baru itu. Cowie dan Kopral Jock Graham hanya menatap dengan diam.
Namun lewat tengah hari, mereka dikejutkan dengan dibukanya penutup lobang tersebut. Empat tentara Vietnam dan dua milisi berjejer di atas dengan bedil ditodongkan ke bawah.
“Hei, Negro…” ujar salah..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s