Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 690)

“Hei, Negro…” ujar salah seorang di antara tentara yang tidak menodongkan bedik, yang bersenjata pistol di pinggang, ke arah Cowie dalam bahasa Inggris.
Cowie menatap dengan diam ke atas.
“Sambut ini…” ujarnya sambil memperlihatkan sebuah gari.
Sebelum habis ucapannya dia sudah melemparkan belenggu terbuka itu, yang disambut oleh Cowie.
“Pasangkan pada kedua tangan orang itu…” ujar tentara tersebut sambil menunjuk pada si Bungsu.
Cowie segera berjalan dalam air kental itu ke arah si Bungsu. Dia faham benar tak ada gunanya memperlambat melaksanakan perintah tentara Vietnam tersebut, apalagi membantahnya. Cowie, dan siapapun tentara Amerika, yang pernah merasakan tertangkap oleh Vietnam tahu benar bahwa terhadap tawanan tentara Amerika tentara maupun milisi Vietnam tak memiliki kata iba, kasihan atau bentuk timbang rasa apapun. Mereka dengan segala senang hati akan menghamburkan peluru dengan sedikit alasan saja. Bahkan dengan alasan yang kadang-kadang tak masuk akal.
Itulah sebabnya ketika tentara Vietnam itu melempar kan gari ke arahnya, Cowie segera menyambutnya. Kemudian ketika diperintah untuk membelenggu si Bungsu, Cowie segera mendekati orang Indonesia itu, untuk melaksanakan perintah yang diberikan kepadanya. Si Bungsu juga faham bahwa tentara Vietnam tak suka dibantah. Maka ketika Cowie mendekatinya dengan belenggu di tangan, yang diperbuat si Bungsu adalah menjulurkan kedua tangannya ke arah Cowie. Dia bisa memahami dan bersyukur bahwa Cowie mema sangkan pula gari itu dengan baik.
Sebab, jika misalnya belenggu itu tidak terkunci dengan benar, maka kemungkinan yang terjadi setelah diperiksa di atas adalah si Bungsu langsung ditembak. Atau yang ditembak justru Cowie. Bukannya hal yang mustahil pula bahwa yang ditembak bukan salah seorang di antara mereka, melainkan kedua mereka sekaligus. Mereka berusaha untuk tidak saling memandang ketika memasang belenggu itu, agar tidak ditafsirkan sebagai memberi isyarat atau apapun yang bisa diartikan sebagai usaha persiapan melarikan diri.
Usai belenggu dipasangkan, tali nilon sebesar empu jari kaki dilemparkan ke bawah. Tali tersebut adalah tali nilon yang biasanya dipergunakan untuk menarik mayat dari lobang sekapan itu ke atas.
“Ikat kedua pergelangan tangannya yang dibelenggu itu…” ujar tentara Vietnam yang melemparkan belenggu ke pada Cowie.
Cowie kembali mengambil ujung tali nilon tersebut. Lalu membuat jeratan, sebagaimana beberapa hari yang lalu dia juga membuat jeratan di ujung tali yang sama, untuk di kalungkan ke leher Sersan Mike Clark yang sudah mati. Jerat itu kemudian dia kalungkan ke tangan si Bungsu yang dibelenggu. Setelah itu tali plastik tersebut dia lilitkan di tengahnya. Ikatan seperti itu mencegah tangan si Bungsu tidak terluka atau terlalu sakit ketika tubuh si Bungsu ditarik ke atas.
“Tarik…!” ujar tentara Vietnam yang berpistol, begitu melihat Cowie selesai mengikat kedua pergelangan tangan si Bungsu.
Tiga orang tentara Vietnam segera menarik dengan kasar tali tersebut. Tarikan kuat dan tiba-tiba itu membuat tubuh si Bungsu terputar dan wajahnya menghantam dinding lobang. Hal itu terjadi sebelum dia sempat mengantisipasi dengan menekankan kakinya ke dinding. Benturan diikuti tarikan yang menyebabkan wajahnya tergesek dengan keras ke dinding, mengakibatkan hidung dan kening si Bungsu berdarah. Sesampai tubuhnya di atas dia segera digelandang menuju ke perkampungan. Sementara dua tentara lainnya segera pula menutup lobang tempat menyekap para tawanan tersebut.
Si Bungsu tiba-tiba..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s