Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 691)

Si Bungsu tiba-tiba merasa tubuhnya dijalari rasa hangat yang alangkah nikmatnya. Hal itu disebabkan cahaya matahari yang selama ini tak pernah menyentuh tubuhnya, kini hal itu langsung dia rasakan. Dia terkejut tatkala sambil melangkah dia melihat ke arah kakinya. Kakinya pucat bukan main. Selain pucat juga berkerut karena lama didisekap dalam lobang tersebut. Barangkali sudah lebih dua bulan. Selama itu pula tubuhnya terendam. Dia menjadi semakin faham kenapa banyak tahanan yang mati perlahan dalam lobang sekapan itu.
Untunglah selama dalam penyekapan itu dia tetap menjaga kondisi dengan mengatur pernafasan, kemudian melakukan gerakan-gerakan seperti senam. Sehingga kendati kaki, pinggang dan tangannya mengkerut karena air, namun reaksi dan gerak bahagian-bahagian tubuhnya tersebut tetap normal. Apalagi kini tubuhnya mendapat cahaya panas matahari secara langsung. Keningnya berkerut tatkala terpandang pada kedua pergelangan tangannya yang digari. Lobang gari itu ternyata terlalu besar bagi tangannya yang sudah mengecil.
Bahkan jikapun tangannya dia kepalkan, dia yakin kepalan tangannya itu tetap saja bisa lolos dari lobang gari tersebut. Rasa hiba terhadap dirinya, terhadap tawanan yang masih disekap dalam lobang, berangsur-angsur berobah menjadi marah. Dengan sedikit menggoyang tangan, gari di tangannya itu meluncur turun. Gari yang di tangan kanannya saat meluncur ke bawah dia tahan dengan telapak tangan. Digenggamnya erat-erat. Gari yang di tangan kiri terhenti di punggung buku-buku jarinya yang dia kepalkan. Dia mempelajari situasi di mana dia kini berada.
Jalan yang mereka tempuh ternyata melintasi hutan bambu. Lalu dia mempelajari jumlah tentara Vietnam yang menggiringnya. Hanya ada empat orang. Dua milisi yang tadi menodongkan bedil ke lobang saat dia akan ditarik, ternyata petugas yang menjaga di pondok dekat lobang penyekapan tersebut. Kini mereka tetap tinggal di sana. Dua orang tentara, termasuk si komandan yang berpistol, berjalan di depannya. Dua orang lagi di belakang. Namun hatinya mulai bimbang. Masih tetap cepatkah reaksi tangan dan kakinya? Masih sekuat dulukah pukulan dan tendangannya?
Dia mencoba mengepalkan tengannya kuat-kuat. Kepalan tangannya tetap terasa kuat dan kukuh. Urat-urat darahnya mengencang dan darahnya terasa berjalan normal. Lang kahnya menjadi lambat saat dia terbatuk keras. Dia berjalan lagi, dan tiba-tiba batuk keras dan panjang kembali menyergapnya. Langkahnya terhenti. Dia sampai terbungkuk dengan tangan menahan dadanya dan terasa sakit akibat batuk tersebut. Dua tentara yang di belakang dengan bedil tetap ditodongkan, terhenti pada jarak sedepa. Saat itulah gari yang sudah lepas dari pergelangannya dia hantamkan ke tentara terdekat.
Bersamaan dengan itu tangan kirinya menepis sekaligus merenggutkan ujung bedil tentara Vietnam tersebut. Belenggu berwarna putih itu menghantam bahagian belakang telinga si tentara. Dia rubuh pingsan bersamaan dengan berpindah tangannya bedil yang dia todongkan ke tangan si Bungsu. Tentara yang seorang lagi belum sempat mengetahui apapun, ketika dadanya dihantam popor bedil yang dihentakkan oleh si Bungsu dari posisi berlutut. Tentara itu mengeluh, matanya mendelik. Lalu dia jatuh berlutut dan terlentang di jalan. Kejadian itu amat cepat, hanya dalam hitungan detik!
Saking cepatnya peristiwa itu terjadi menyebabkan dua tentara yang berjalan di depan, yang menoleh ke belakang karena mendengar ada keluhan, tak segera bisa menyadari apa sesungguhnya yang sedang dan telah terjadi. Sesaat mereka hanya tertegun. Mereka tiba-tiba aja melihat tawanan yang mereka giring itu, yang kini masih dalam posisi berlutut di kaki kirinya, sudah menodongkan ujung bedil kepada mereka.
Dalam gerakan yang amat cepat, orang itu sudah melakukan dua gebrakan yang langsung melumpuhkan dua teman mereka berada di belakang. Padahal kedua teman mereka itu mengawal dengan telunjuk siaga di pelatuk bedil. Sungguh-sungguh tak pernah mereka bayangkan tawanan yang mereka giring ini bisa bergerak secepat dan setangguh itu. Kini semuanya terlambat sudah.
“Taruh senjata kalian, di tanah. Letakkan perlahan. Saya sudah membunuh lebih dari seratus tentara, karenanya jangan bunuh diri dengan mencoba melakukan tindakan bodoh…” ujar si Bungsu perlahan dalam bahasa Inggris.
Kedua tentara itu tak memiliki pilihan lain. Tatapan mata dan kata-kata yang keluar dari bibir tawanan di depan mereka menggambarkan sikap yang amat profesional. Mereka menuruti perintah si Bungsu, meletakkan senjata di tanah. Dengan tangan kiri di pelatuk bedil, tangan kanan si Bungsu meraih belenggu yang tergeletak di tanah. Kemudian melemparkannya dengan kuat dan cepat ke arah si komandan. Gari itu menetak kening si komandan, matanya juling. Tanpa semat mengeluh, tentara itu rubuh, pingsan! Yang seo­rang lagi ternganga dan menggigil.
Si Bungsu melangkah ke arahnya, kemudian tangannya bergerak. “Pletak!’ Si Bungsu mendaratkan ruas-ruas jari tengahnya lewat sebuah pukulan melingkar ke belakang telinga tentara yang tegak seperti kehilangan semangat itu. Pukulan tersebut menotok urat darahnya dan membuat dia rubuh dalam keadaan pingsan. Si Bungsu menyambar tali nilon sebesar empu jari kaki, yang tadi dipergunakan untuk menarik dirinya dari dalam sekapan. Dia bergerak cepat, merampas bedil dan sebuah pistol milik ke empat tentara itu. Kemudian kembali ke lobang penyekapan.
Menjelang sampai ke tempat penyekapannya dia masuk ke hutan bambu. Dan mendekati pondok penjagaan dari sisi kanan. Kedua milisi Vietnam itu ternyata sedang berjudi dengan kartu ceki. Dinding pondok kecil itu hanya dibuat sekitar tujuh puluh lima sentimeter. Dengan demikian, jikapun pengawal duduk, dia masih bisa melihat langsung ke lobang penyekapan yang terletak sekitar empat meter dari pondok. Selain itu, dengan dinding yang hanya separoh tersebut, mereka yang dipondok juga bisa mengawasi seluruh penjuru sekitar pondok itu.
Namun, jika sial lagi..

1 Comment

  1. Makin seru petualangan sibungsu……..!!


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s