Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 692)

Namun, jika sial lagi datang ada-ada saja kesalahan yang dibuat. Saat berjudi itu, mereka menyandarkan bedilnya ke dinding pondok. Tengah asyik memperhatikan kartu ceki di tangan, tiba-tiba saja ada bayangan orang tegak di depan tangga pondok yang tingginya hanya semeter dari tanah. Mereka menoleh, dan tiba-tiba muka mereka menjadi pucat. Mereka melihat di sana tegak tawanan yang tadi baru ditarik ke atas dari lobang penye­kapan. Kini lelaki itu tegak menodongkan bedil kepada mereka. Bagaimana mungkin mereka bisa melakukan perlawanan, bedil mereka tersandar di dinding.
Bedil itu memang bisa diraih, tapi telunjuk lelaki yang menodong itu siaga di pelatuk. Buat sesaat mereka menatap si Bungsu dengan melongo.
“Turun dan buka penutup lobang itu…” perintah si Bungsu.
Untuk sesaat mereka masih berdiam diri. Namun si Bungsu segera menukar bedil dengan tali plastik besar itu. Sebelum kedua pengawal di pondok tersebut faham apa yang akan diperbuat si Bungsu, tangan si Bungsu bergerak. Di tangannya, tali plastik itu berubah menjadi senjata yang tangguh. Entah dengan cara bagaimana, kedua orang itu terpekik tatkala daun telinga mereka robek dan berdarah kena sabet cambuk tali nilon tersebut. Salah seorang yang bertubuh kurus, memanfaatkan waktu yang sesaat itu untuk menyambar bedil di kanannya.
Namun dia kalah cepat. Ujung cambut di tangan si Bungsu menghajar lengannya. Lengan baju kain mereka yang berwarna hitam itu robek, dan daging lengannya juga ikut robek. Dia terpekik.
“Turun dan buka tutup lobang itu cepat…!” perintah si Bungsu.
Kini kedua orang Vietnam tersebut benar-benar tak berani untuk tidak mematuhi. Karena di tangan kiri orang yang memerintah mereka teracung bedil dengan telunjuk di pelatuk. Mereka bergerak turun dari pondok. Kemudian memindahkan kayu-kayu besar yang berfungsi sebagai penghimpit ‘pintu’ yang menutup lobang. Usai itu mereka segera membuka salah satu bahagian yang berfungsi sebagai ‘jendela’ tempat memasukkan atau mengeluarkan tawanan. Ketika pintu lobang itu terbuka, dengan tangan kanan menodongkan bedil, si Bungsu melemparkan tali nilon ke dalam lobang tersebut.
Cowie, Smith dan Jock Graham yang semula merasa heran kenapa tutup lobang tahanan mereka dibuka, pada ternganga tatkala melihat ke atas. Di tepi lobang terlihat si Bungsu tengah menodongkan bedil.
“Tarik mereka satu demi satu ke atas…” perintah si Bungsu.
Kedua Vietnam itu kelihatan berusaha mencari celah untuk melakukan perlawanan. Namun melihat telunjuk kanan si Bungsu bergerak menarik pelatuk, mereka cepat-cepat memegang ujung tali. Lalu menanti. Si Bungsu memberi isya­rat pada Letnan PL Cowie. Letnan Negro itu segera menyambar ujung tali. Lalu tubuhnya ditarik ke atas. Dengan cepat dia menerima salah sebuah senjata yang diberikan si Bungsu. Senjata yang baru saja dirampas dari keempat tentara yang tadi menggiringnya. Kini Cowie mengawasi kedua tentara Vietnam itu menarik Tim Smith.
Smith juga menerima sepucuk senjata. Kemudian dia bergerak ke bahagian kanan, berlutut di dekat pohon kayu mengawasi jalan yang menuju ke arah kampung. Cowie memberi isyarat kepada Jock Graham, yang segera menyambar tali tersebut. Dia segera ditarik ke atas. Di atas Graham juga menerima sebuah bedil dari si Bungsu.
“Masukkan mereka ke lobang….” ujar si Bungsu kepada Cowie.
Cowie dan Jock Graham memerintahkan ke­dua Vietnam itu membuka sepatu dan celana mereka. Kemudian dengan hanya berkolor dan berbaju, hampir secara bersamaan keduanya kena hantaman pada tengkuk oleh popor bedil di tangan Co­wie dan Smith. Entah mati entah hidup, yang jelas keduanya tercebur dengan suara agak keras ke dalam air kuning berlumpur itu. Baik Cowie maupun Smith memang tidak menembak kedua milisi itu, karena suara tembakan akan mengundang tentara yang ada di perkampungan.
“Kita berangkat…” ujar si Bungsu.
“Kemana?” tanya Cowie sambil memakai sepatu dan pakaian salah seorang tentara Vietnam itu.
Si Bungsu menunjuk ke arah belantara lebat di bahagian utara lobang tempat mereka disekap. Bagi Cowie, Smith dan Graham memang ke sana pilihan terbaik untuk lari. Mereka tak mungkin masuk ke kampung. Hutan adalah tempat yang aman, meski untuk sementara. Bagi si Bungsu, hutan lebat itu menjadi pilihan karena hutan merupakan ‘rumah’nya. Cowie mengambil semua peluru dan dua bedil yang pemiliknya sudah terjun ke lobang penyekapan. Tanpa banyak membuang waktu, mereka segera menuju ke arah belantara yang terlihat tak begitu jauh.
Yang tak mendapat jatah pakaian adalah Tim Smith. Dia hanya mendapat sepatu. Karena sepatu itu kebesaran di kaki Jock Graham. Namun keempat mereka kini memiliki bedil dan peluru. Kendati jumlah peluru yang mereka miliki tak mencukupi untuk bertempur lama, namun bagi seorang pelarian memiliki bedil dan peluru merupakan sesuatu yang amat luar biasa harganya.
Mereka baru saja…

Advertisements

1 Comment

  1. lanjut, da !


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s