Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 693)

Mereka baru saja bergerak sekitar seratus langkah, ketika tiba-tiba mereka mendengar suara ledakan dari tempat yang baru saja mereka tinggalkan. Mereka terhenti, namun hanya sesaat. Kesadaran bahwa ledakan itu mengundang kedatangan tentara Vietnam menyebabkan mereka segera bergerak cepat.
“Ledakan apa itu?” tanya Graham sambil melompati sebuah kayu besar yang melintang.
“Granat…” ujar Cowie, sambil melompati pula kayu tersebut.
Si Bungsu menyumpah dalam hatinya. Dia menyesal tidak menyuruh tentara Vietnam itu membuka bajunya sebelum dimasukkan ke lobang penyekapan mengganti kan mereka. Dia teringat, kantong baju salah seorang milisi Vietnam yang mereka ceburkan itu kelihatan menggem bung. Dia yakin, granat yang ledakannya barusan mereka dengar berasal dari dari dalam kantong baju yang mengge lembung itu. Dia tak curiga karena granat biasanya dicantelkan diikat pinggang. Tapi kenapa granat itu baru diledakkan setelah keempat pelarian itu bergerak cukup jauh?
Milisi Vietnam yang kantongnya menggelembung yang dilihat si Bungsu, tak lama setelah diceburkan ke lobang segera mengeluarkan granat dari kantong bajunya begitu keempat pelarian tersebut lenyap dari pandangan mereka di atas lobang penyekapan itu. Dia sudah akan mencabut pin granat itu, namun temannya yang seorang lagi segera mencegah.
“Jangan sekarang…” ujarnya.
“Kau mau bunuh diri? Mereka belum jauh. Begitu granat ini meledak, mereka akan kembali dan menembak kita… ”ujarnya.
“Tapi, kita akan ditembak komandan kalau mereka sudah jauh dan berhasil meloloskan diri….”
“Belum tentu kita ditembak oleh bangsa sendiri. Sebab, empat tentara yang tadi menggiring mereka, adalah pihak yang paling bertanggungjawab atas lolosnya tawanan itu. Di bawah pe­ngawalan mereka, orang itu lolos…”
Yang memegang granat dapat memahami penjelasan temanya. Dia urungkan mencabut pin granat tersebut. Lalu mereka sama-sama menanti. Menanti dengan cemas, apa hukuman yang akan mereka terima, jika nanti mereka diadili. Setelah merasa keempat tawanan itu lari cukup jauh, granat tersebut lalu dilemparkan ke atas dan meledak. Suara ledakan tersebut lalu membuat tentara yang berada di kampung yang tak jauh dari penyekapan itu tersentak. Dalam waktu yang amat singkat lima belas tentara segera memburu ke tempat tersebut lewat tiga jalur yang berbeda.
Regu pertama menuju ke lobang penyekapan itu dengan memutar dari kiri. Regu ke dua melambung dari arah kanan. Regu ke tiga mendatangi tempat tersebut dari jalan setapak yang biasa dilewati. Regu ketigalah yang menemukan ke empat teman-teman mereka pada tergeletak di jalan, tak berapa jauh dari kampung. Ke empat mereka masih dalam keadaan pingsan. Malang melintang di jalan kecil di antara hutan bambu tersebut. Komandan regu segera mengirim salah seorang anggotanya kembali ke markas di kampung. Memberitahu apa yang mereka temukan.
Setelah itu, yang empat orang lagi segera melanjutkan perjalanan menuju ke lobang di mana selama ini mereka menyekap tawanan perang tersebut. Regu pertama yang melambung dari arah kanan, segera sampai ke bahagian belakang pondok pengawalan beberapa meter dari lobang penyekapan.
Dari tempat mereka…

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s