Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 695)

“Tetaplah bertahan, Jock. Saya akan buatkan obat untukmu…” ujar si Bungsu. Matanya coba meneliti beberapa dedaunan dan lumut yang bisa dibuat ramuan obat.
Namun baru dua dari empat jenis daun yang harus diperoleh, pendengarannya yang amat tajam mendengar bunyi langkah tak jauh di belakang mereka. Sementara Smith dan Cowie sudah terpisah dari mereka oleh palunan hutan lebat tersebut. Cowie yang berjalan di bahagian depan sekali berhenti dan menoleh ke belakang. Dia merasa ada sesuatu yang tak beres. Dia tidak melihat Jock Graham dan si Bungsu.
“Jock…!!” serunya.
Tak ada sahutan apapun. Sepi sekali. Hanya suara binatang hutan terdengar di mana-mana.
“Bungsu….!!” serunya.
Tetap tak ada sahutan apapun. Sepi dan amat mencekam. Smith yang nafasnya sudah sesak bersandar ke pohon besar. Matanya menatap jalan yang tadi mereka tempuh. Tak ada jalan sebenarnya, karena yang mereka tempuh saat ini adalah belantara lebat yang belum pernah dijejak manusia. Perang Vietnam-Amerika pun, yang berlangsung amat ganas dan bertahun-tahun, tak sampai menjamah daerah ini. Smith maupun Cowie hanya melihat hutan belantara yang maha lebat dan angker. Apa yang terjadi dengan Jock Graham dan si Bungsu?
Mengapa mereka tak menyahuti panggilan Cowie? Saat si Bungsu sedang memetik beberapa lembar daun untuk obat Jock Graham, kemudian mendengar suara langkah tak jauh di belakangnya, dia bergerak cepat ke tempat Jock Graham yang masih tegak bersandar seperti memeluk pohon besar itu. Dia menotok bahagian belakang leher tentara Amerika tersebut. Totokan yang amat terlatih itu membuat Jock Graham lumpuh. Si Bungsu memanggul tubuh yang sudah tak bertenaga itu. Kemudian dengan cepat membawanya pergi dari sana.
Dia membawa tubuh kurus kerempeng itu ke bawah sebuah pohon yang besarnya sekitar tiga pelukan lelaki dewasa. Letaknya sekitar dua puluh depa dari tempat Jock Graham tegak pertama. Urat kayu itu berbentuk pipih dan besar-besar. Urat-uratnya yang muncul di atas tanah menyebabkan bahagian bawah pohon besar itu memiliki sekat-sekat seperti kamar. Tiap urat pipih yang membentuk sekat itu bisa setinggi tegak lelaki dewasa. Dia dudukkan tentara yang tak sadar diri itu di antara sekat tersebut, persis saat salah satu regu Vietnam sampai ke tempat mereka tadi.
Belasan tentara Vietnam tersebut melihat bekas Jock Graham tegak. Namun setelah itu jejaknya hilang. Tapi saat itu pula mereka mendengar suara orang memanggil sampai dua kali. Suara yang didengar tentara Vietnam itu adalah suara Cowie yang memanggil Jock Graham dan si Bungsu. Pimpinan regu memberi isyarat kepada anak buahnya dengan meletakkan telunjuk ke bibir. Kemudia dia membagi formasi anak buahnya untuk menyergap orang yang hanya ke dengaran suaranya itu. Dia bagi anak buahnya dalam dua sayap, kiri dan kanan.
Mereka memang tak bisa melihat siapapun, karena belantara dimana kini mereka berada demikian lebat. Jarak pandang hanya bisa menembus antara tiga sampai empat meter. Selepas itu pandangan terhambat oleh pohon besar dan belukar yang rapat sekali. Pemburuan itu semakin dipersulit oleh sore yang sudah turun. Hutan yang sudah gelap itu dengan cepat menjadi semakin gelap. Mereka bergerak perlahan, namun cepat, ke arah sumber suara memanggil tadi. Sementara itu, usai mendudukkan Jock Graham si Bungsu menekan urat di belakang leher tentara tersebut. Jock Graham mengeluh saat pertama sadar. Namun mulutnya dibekap oleh si Bungsu. Dia berbisik di telinga tentara itu.
“Dengar Jock! Belasan tentara Vietnam berada hanya beberapa langkah dari tempat kita. Engkau akan cukup kuat untuk mengangkat bedil dan menembakkannya kalau keadaan terdesak. Saya akan membuatkan obat untukmu. Tapi sebelum itu kita harus bisa lolos diri dari buruan Vietnam itu….”
Usai memberikan penjelasan si Bungsu menyerahkan kembali bedil rampasan dari tentara Vietnam yang tadi nyaris lepas dari tangan Jock. Kemudia dia menotok dan mengurut dengan cepat beberapa urat di pusat, kening dan punggung tentara itu. Dengan perasaan takjub Jock Graham merasakan kondisi tubuhnya agak membaik.
“Terimakasih, kawan…” ujarnya perlahan.
“Jangan bergerak. Tetap duduk seperti ini, pasang telinga dan matamu. Saya akan melihat apa yang masih bisa dilakukan. Maaf, saya belum sempat meramu obat untukmu. Tapi kunyah saja daun ini, telan airnya. Agak pahit bercampur asin rasa­nya, tapi itu obat. Usahakan agar tak tertelan ampas daunnya…” ujar si Bungsu dalam kalimat cepat, sembari menyumpalkan tiga lembar daun selebar telapak tangan ke mulut Jock Graham, kemudian dia menyelinap dengan cepat meninggalkan tempat itu.
Jock Graham mengunyah daun yang disumbatkan lelaki dari Indonesia itu ke mulutnya. Daun itu kesat sekali. Seperti kertas ampelas. Rasanya memang agak asin. Kalau saja bukan lelaki dari Indonesia itu yang menyumbatkan daun sialan tersebut, sudah sejak tadi dia muntahkan. Tapi dia yakin, orang Indonesia itu bukan sembarangan lelaki. Dia tidak hanya sekedar pandai meramu obat, juga tangguh luar biasa. Buktinya adalah kemampuan lelaki itu melumpuhkan empat tentara Vietnam yang menggiringnya. Dengan fikiran demikian dia meneruskan mengunyah daun rasa kentut tersebut. Kemudian menelan airnya yang juga rasa kentut.
Air getah daun yang dia telan itu sebagaimana tadi dijelaskan si Bungsu, memang terasa agak asin dan agak pahit. Dia ingin meludah, namun tiba-tiba di depannya telah berdiri seorang tentara Vietnam! Tentara itu sebenarnya tak tahu bahwa di balik ceruk akar pohon yang besar-besar itu bersembunyi orang yang mereka buru.
Dia datang..

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s