Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 696)

Dia datang ke tempat itu untuk memeriksa belukar lebat tak jauh dari pohon besar tersebut. Namun ketika dia melewati sebuah sisi akar kayu besar itu, tiba-tiba saja dia melihat seorang tawanan yang mereka buru ada di sana. Duduk bersandar ke pohon di antara dua urat kayu pipih lebar dan tinggi, sehingga tak kelihatan jika tidak berada di alur yang sama dengan celah urat kayu tersebut.
Orang itu dia pergoki sedang mengunyah-ngunyah. Namun pertemuan yang mendadak dan saling menatap itu membuat dia kaget dan tertegun. Lupa pada bedil di tangannya. Begitu juga halnya dengan Jock Graham. Kendati kedua mereka sama-sama memegang bedil yang sama-sama teracung ke arah lawannya masing-masing, namun belum satu letusan pun yang terdengar. Telunjuk masing-masing tetap dipelatuk bedil.
Jock Graham masih terus mengunyah daun kayu di mulutnya. Mengunyah perlahan, namun tak lagi mampu menelan getah daun yang sudah terkumpul dalam mulutnya. Tapi kemudian, terjadi juga apa yang harus terjadi. Jock Graham ternyata lebih duluan menyadari situasi berbahaya itu. Telunjuknya bergerak.
“Klik….”
Senjatanya macet!
Jock Graham menarik lagi pelatuk tersebut. tak ada bunyi sama sekali. Bedil buatan Cina yang dikenal dengan nama Chung itu memang banyak mengundang celaka tentara yang memakainya. Suara ‘klik’ dari bedil pelarian tersebut membuat si Vietnam sadar. Telunjuknya segera bekerja. Namun tetap saja tak ada sebuah letusan pun yang terde­ngar. Yang terjadi adalah mendeliknya mata si Vietnam tersebut. Sesaat kemudian tubuhnya terjungkal ke depan. Jatuh tertelungkup sehasta di depan Jock Graham, yang sedetik lalu sudah pasrah menunggu maut.
Sebelum hilang rasa kejutnya, tiba-tiba si Bungsu muncul. Tangannya memberi isyarat agar Jock Graham jangan bersuara. Saat itu Jock Graham baru bisa kembali menelan getah daun kayu yang dia kunyah. Kemudian daun yang sudah menjadi ampas itu dia ludahkan. Dia melihat ampas daun kayu itu berwarna merah. Dia terkejut, apakah dia muntah darah? Dia meludah, ludahnya juga merah. Dia menatap ke arah si Bungsu.
Si Bungsu menggeleng perlahan, sebagai isya­rat agar dia tak khawatir. Kemudian mata si Bungsu kembali menatap tajam ke belantara gelap di depannya. Suasana benar-benar sepi. Sore sudah melakukan serah terima tugasnya menerangi bumi dengan senja. Gelap yang makin kental perlahan merayap menerkam rimba tersebut. si Bungsu memang berharap agar malam cepat turun. Semakin gelap hari semakin terlindung mereka dari pengejaran. Hal yang sama juga diinginkan Letnan PL Cowie yang bersembunyi dalam sebuah palunan belukar lebat.
Tadi ketika usai dia memanggil Jock Graham dan si Bungsu, tiba-tiba telinganya yang memang sudah terlatih dalam perang Vietnam yang bertahun-tahun, ternyata masih berfungsi dengan baik. Dia mendengar suara belukar disibakkan dan daun kayu diinjak kaki manusia. Dia segera memberi isyarat pada Smith untuk menghindar dengan cepat dari tempat itu. Dan latihan bagaimana ber­gerak di belantara dengan tak banyak meninggalkan jejak juga masih mereka kuasai dengan baik. Itu sebab pasukan Vietnam yang mahir melacak jejak dalam hutan sulit menemukan ke mana larinya buruan mereka.
Apalagi cahaya gelap yang sudah turun makin mem persulit mereka meneliti bekas injakan kaki di dedaunan. Senter bukannya tak bermanfaat dalam kondisi seperti itu. Namun mempergunakan senter sama halnya dengan memberi tahu kepada musuh di mana awak berada. Dan itu artinya adalah bunuh diri.
Maka kini, mereka…

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s