Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 697)

Maka kini, mereka benar-benar hanya menyerahkan nasib dan nyawa mereka pada ketajaman pendengaran masing-masing.
Hutan itu, dalam radius hanya sekitar lima ratus meter persegi, dipenuhi tak kurang dari 40 manusia. Mereka adalah tiga puluhan tentara Vietnam yang terbagi dalam dua regu, serta empat pe­larian yang kurus kerempeng dan kelaparan. Ha­nya karena malam dan belantara itu amat lebat saja mereka tak saling melihat antara satu dengan yang lain. Setelah cukup lama menanti, namun tak ada tanda-tanda gerakan apapun dari pelarian tersebut, kedua komandan regu tentara Vietnam itu se­pakat mengambil insiatif untuk menggeledah saja belantara itu. Mereka berani mengambil inisiatif karena mereka lebih banyak dan kondisi tubuh mereka tentu saja lebih baik di banding kondisi tubuh orang yang mereka buru.
Kedua regu tentara itu segera membentuk formasi ber-saf. Dengan formasi seperti itu mereka mulai begerak maju. Jarak seorang tentara de­ngan yang lain hanya sekitar lima depa. Maju selangkah demi selangkah, sambil tiap sebentar berhenti, mendengarkan kalau-kalau ada gerakan lain di sekitarnya. Tentu saja tak seorang pun yang mengetahui, bahwa di antara ke empat pelarian yang sedang mereka buru itu adalah ‘pangeran belantara’! Seorang yang benar-benar hafal bentuk dan struktur rimba raya. Seorang yang bisa berlari cepat di belantara lebat, kendati dalam suasana gelap gulita.
Seorang yang bisa membedakan apakah sebuah daun bergoyang karena angin atau karena sebab yang lain. Seorang yang bisa membedakan bau kayu atau daun yang sudah disentuh manusia dengan bau daun kayu yang belum disentuh apa pun. Tak seorang pun di antara tentara Vietnam itu yang tahu, bahwa ada orang dengan kualifikasi seperti itu di antara ke empat pelarian yang sedang mereka buru itu. Kalau saja mereka tahu, bahwa setiap saat, setiap detik, orang itu tiba-tiba bisa berada sejengkal di depan hidung mereka, tanpa diketahui dari mana datangnya, mereka takkan gegabah merancah hutan tersebut.
Namun bagi beberapa tentara Vietnam yang bernasib malang, waktu sudah terlambat. Seo­rang prajurit di bahagian kanan, ketika merunduk-runduk melewati sebuah dahan besar, tiba-tiba seutas tali menjerat lehernya. Dia ingin berteriak, tapi teriakannya tersangkut di tenggorokan yang dijerat semakin ketat oleh tali kasar itu. Dia berusaha menarik pelatuk bedilnya, namun jarinya tak bisa dia gerakkan. Tubuhnya telah dibuat lumpuh!
Ada yang mendengar…

2 Comments

  1. kok batambah pendek se,isi caritonyo da nop…??


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s