Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 698)

Ada yang mendengar suara bergedebut agak lemah, disusul suara bergedebuk lebih keras. Kemudian sepi. Tak seorang pun yang menyangka, suara gedebuk pertama adalah suara jatuhnya senapan dari tangan kawan mereka yang lehernya kena jerat itu. Gedebuk kedua adalah suara jatuhnya tubuh si tentara ke tanah beralaskan dedaunan kering. Si Bungsu lalu turun, mengambil bedil yang jatuh tersebut. Kemudian berlutut di tanah. Lalu menembak ke arah kiri. Usai beberapa tembakan dia melompat cepat beberapa meter ke belakang. Dan memutar ujung bedil dan menembak ke arah kanan.
Saat dia menembak kekiri terdengar pekikan-pekikan. Begitu juga saat dia menembak ke kanan. Hanya sesaat setelah itu, semburan api dan rentetan peluru terdengar dari kiri dan kanan ke tempat dia memuntahkan peluru.
Kemudian sepi!
Tembakan balasan dari belasan tentara Vietnam itu menerpa tempat kosong. Sebab begitu bedilnya usai memuntahkan peluru, disusul pekikan tentara yang diterkam timah panas itu, si Bungsu segera bergerak secepat yang bisa dia lakukan. Menghindar dari lokasi tersebut. Cowie dan Tim Smith mendengar rentetan tembakan itu dengan tegang.
Namun hanya beberapa saat setelah tembakan balasan terdengar, dalam suasana sepi yang mencekam, Cowie dan Tim Smith tiba-tiba dibuat sangat terkejut oleh suara yang hanya berjarak sedepa dari tempat mereka. Mereka sudah siap menarik pelatuk bedil bersamaan, tatkala tiba-tiba mereka mendengar suara si Bungsu berbisik.
“Jangan tembak, ini saya dan Jock….”
Mengetahui yang datang adalah si Bungsu, Cowie menarik nafas, Smith bercarut-carut. Dalam gelap yang kental itu mereka mendengar erangan Jock Graham.
“Kenapa dia?” tanya Cowie.
“Demam… tapi sudah agak baikan….”
“Anda yang menembak tadi?”
“Ya….”
“Saya kira ada tiga atau empat orang mereka yang terbunuh….”
“Mereka hanya saya lumpuhkan. Jumlah mereka sangat banyak. Kita harus memecah rombongan…” ujar si Bungsu.
“Maksudmu?”
“Anda bisa mencari jalan dalam gelap ini untuk meng hindar sejauh mungkin. Letnah Cowie?”
“Jika tidak dikepung, barangkali bisa….”
“Baik. Saya akan mengalihkan perhatian mereka ke arah lain. Kalian larilah sejauh yang kalian bisa hingga pagi tiba. Saya akan me­nyusul….”
“Sebaiknya saya tinggal berdua dengan Anda, sehingga yang meloloskan diri pertama adalah Smith dengan membawa Jock. Atau yang tinggal Smith, saya membawa Jock…” bisik Cowie.
“Akan sulit bila hanya seorang yang memapah Jock. Memapah sambil mencari jalan dalam gelap bukan pekerjaan yang mudah….”
“Tetapi, sendirian menghadapi puluhan Vietnam itu bukan juga pekerjaan yang mudah…” bisik Cowie.
“Cowie, hutan adalah rumahku. Aku hafal setiap lekuk likunya. Aku mustahil bisa bertempur frontal dengan mereka. Aku hanya akan memancing perhatian mereka ke tempat lain, sehingga kalian bisa melarikan diri sejauh mungkin…” bisik si Bungsu.
Akhirnya Cowie memahami penjelasan dan rencana si Bungsu.
“Untuk mengalihkan perhatian dan memancing mereka ke arah lain, saya memerlukan peluru lebih banyak…” ujar si Bungsu.
Cowie lalu membuka magazin senjata Jock Graham. Kemudia dia membuka magazin senjata yang ada padanya. Mengeluarkan separoh isinya. Begitu juga peluru di magazin senjatanya sendiri. Kemudian diisikannya peluru tersebut ke magazin senjata Jock Graham. Ketika magazin itu penuh, masih ada beberapa peluru lagi.
“Kemarikan magazin senjatamu. Masih ada beberapa peluru. Ini magazin yang sudah penuh…” ujar Cowie sambil menyerahkan magazin yang sudah berisi penuh itu kepada si Bungsu.
Si Bungsu membuka magazin senjata di tangannya. Kemudian menyerahkan pada Cowie, sembari menerima dan memasangkan magazin yang diserahkan Cowie ke senjata nya. Cowie memasukkan sisa peluru di tanganya ke magazin yang diserahkan si Bungsu. Kemudian memberikan magazin yang juga akhirnya menjadi penuh oleh peluru tersebut kepada orang Indonesia itu.
“Saya akan meninggalkan kalian. Saya mengetahui tempat mereka berada. Mereka membentuk formasi lurus dalam jarak emat sampai lima depa. Saya akan menembaki mereka. Bergeraklah saat kalian mendengar tembakan balasan dari mereka…” ujar si Bungsu.
Ketika dia akan bergerak meninggalkan tempat itu, terdengar Jock Graham berkata.
“Kawan, jika tidak engkau tolong, saya sudah terbunuh di luar sana, atau dilemparkan kembali ke lobang jahanam itu. Terimakasih juga pada obatmu….”
“Jaga dirimu, Jock…” ujar si Bungsu.
Ketika dia akan pergi, Letnan PL Cowie memegang tangannya.
“Kawan, kami tidak tahu siapa engkau sebenarnya. Namun kami berhutang nyawa padamu. Kendati pun pelarian ini gagal dan kami mati semua, namun keluarga kami, dan juga Amerika, berhutang padamu. Saya tak tahu apakah kita masih akan bertemu atau tidak. Karenanya saya perlu menyampaikan, terimakasih atas segala yang kau lakukan untuk kami, kawan….”
Si Bungsu menggenggam..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s