Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 700)

Lalu sepi.
Hanya sesaat, lalu terdengar tembakan balasan dari belasan bedil yang lain. Demikian ramainya, seolah-solah akan merobek belantara tersebut.
“Kita pergi, sekarang…!” ujar Cowie sambil bangkit memapah Jock Graham.
“Saya bisa berjalan. Kondisi saya sudah jauh lebih baik…” ujar Jock Graham yang memang merasakan kondisinya tubuhnya lebih memadai setelah menelan dedaunan yang diberikan si Bungsu.
“Kalau begitu kita pergi. Jangan terpisah terlalu jauh. Go! Go….!” bisik Cowie.
Dengan merunduk dia menyelusup diiringi Jock dan Smith di bahagian belakang sekali. Mereka keluar dari belukar lebat tempat mereka bersembunyi sejak senja tadi. Dari belakang mereka masih terus mendengar tembakan beruntun. Kemudian disusul tembakan balasan satu-satu. Tidaklah diperlukan pengalaman perang yang berlebihan untuk mengetahui bahwa tembakan dari belasan bedil itu berlawanan arah dengan tempat mereka. Artinya, si Bungsu telah mengatur posisi mengalihkan perhatian tentara Vietnam ke arah yang berlawanan dari ke tiga tentara Amerika yang melarikan diri itu.
Ketiga tentara Amerika tersebut tahu bahwa tembakan salvo, tembakan satu-satu dari dua bedil yang dibawa si Bungsu ganti berganti, adalah upaya orang Indonesia itu untuk mengecoh tentara Vietnam. Dengan tembakan salvo dari dua bedil tersebut, ada dua hal yang difahami Cowie. Pertama, orang-orang Vietnam tersebut tahu bahwa tembakan salvo itu dalam upaya para pelarian menghemat peluru. Kedua, dua bedil itu memberikan kesan, bahwa ke empat orang tersebut masih berkelompok. Dugaan Cowie itulah yang memang termakan oleh komandan pasukan Vietnam tersebut.
Dia memang menduga ke empat pelarian tersebut masih mengelompok. Cowie mendengar tembakan salvo si Bungsu mau pun tembakan balasan dari lima sampai enam bedil orang-orang Vietnam itu secara bergantian, semakin lama semakin jauh dari posisi mereka. Cowie tahu, hal itu disebabkan dua hal. Pertama, mereka memang sedang bergerak menjauhi tempat mereka terkepung tadi. Kedua, si Bungsu berhasil memancing tentara Vietnam tersebut memburu dirinya yang semakin ke arah timur. Ke arah yang berlawanan dengan arah larinya Cowie dan dua temannya.
Si Bungsu sebenarnya dengan mudah bisa berputar dan tiba-tiba berada di belakang salah seorang para pem burunya. Dia mengenal belantara seperti mengenal garis di telapak tangannya. Namun dia tak melakukan hal itu. Karena tujuannya hanya ingin memperjauh jarak antara tentara Vietnam ini dengan Cowie, Smith dan Jock Graham. Tujuannya bukan untuk membunuh. Kemudian beberapa tembakan balasan menghajar kayu besar tempatnya berlindung, si Bungsu memekik. Kemudian diam.
“Mereka kena…!” desis komandan regu Vietnam kepada sersan di sebelahnya.
“Sudah dua yang kena…” ujar sersan tersebut.
Sebab tadi dia juga mendengar pekik kesakitan dalam kecamuk tembakan.
“Tinggal dua lagi. Saya yakin dua orang yang kena tembak itu segera mati. Kondisi mereka sudah amat buruk saat di lobang penyekapan…” ujar si komandan.
Melalui perintah beranting, dari mulut ke mulut, dia menyuruh cek berapa pasukannya yang tertembak. Tak berapa lama, pesan beranting itu sampai kembali kepada si komandan. Ada dua anak buahnya yang tak diketahui nasibnya dan sembilan orang mereka yang tertembak. Namun sembilan yang tertembak itu nampaknya bernasib baik. Tak seorang pun yang mati.
“Siapa kedua orang yang tak bertemu itu?” tanya si komandan.
Sersan yang berada di sebelahnya menyebut dua nama. Tak seorang pun di antara mereka yang tahu, bahwa kedua teman mereka itu tergeletak lumpuh kena totok.Pengejaran dan pengepungan ini amat melelahkan. Ke empat tentara Amerika yang mereka buru seperti tahu saja di mana posisi mereka. Tembakan ke empat orang itu hampir bisa dipastikan selalu memakan korban.
Si komandan melihat jam tangannya. Jam tangan yang angka-angka dan jarumnya memakai radium, yang me nyebabkan angka dan jarum jam tersebut bersinar hijau dalam kegelapan. Semakin gelap hari, semakin jelas cahaya yang dipancarkan radium pada angka dan jarum jam tersebut.
“Sudah pukul empat lewat…” ujarnya.
Dia lalu kembali memberi perintah beranting untuk memperkecil jepitan pengepungan dengan sistem tapal kuda. Dia memerintahkan ada yang ditangkap hidup-hidup untuk diinterogasi. Kini tugas utama adalah memperkecil jepitan kepungan, kemudian tunggu matahari terbit. Baru disergap. Menjelang itu, bertahan sambil berjaga agar tak ada yang lolos. Bisik berisi perintah itu diteruskan si sersan secara berantai. Orang pertama yang mendengar pesan itu segera merayap atau berjalan membungkuk-bungkuk lima atau enam depan ke sampingnya, sampai bertemu dengan temannya yang lain.
Lalu menyampaikan pesan si komandan. Saat pesan kedua bergerak ke kanan atau ke kiri untuk menyampaikan pesan pada orang berikutnya, yang menyampaikan pesan pertama kembali ke posisi semula.
Demikian cara menyampaikan..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s