Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 702)

Mereka berfikir, daripada orang yang mereka buru lolos, atau malah balas menembak, sehingga nyawa mereka pula yang terancam, lebih baik membunuh saja keempat pelarian itu! Usai rentetan tembakan yang panjang itu tiba-tiba suasana menjadi sepi! Mereka menunggu. Tak ada reaksi atau balasan apapun dari keempat pelarian tersebut. Usahkan balasan tembakan, gerakan saja pun tak terlihat dari arah sekitar bedil tersebut. Kedua bedil itu sudah terpental ketika kena hajaran peluru. Mereka lalu menyergap dengan bedil terhunus ke tempat itu.
Dan…
Mereka semua, sekitar dua belas tentara Vietnam yang merangsek maju ke dekat pohon tumbang itu, pada tertegak kaku!
Si Komandan,yang memperhatikan dari jarak sekitar dua puluh depa, menatap dengan tegang ke arah anak buahnya tersebut. Dia menjadi agak heran juga, melihat belasan anak buahnya itu tiba-tiba tertegak diam di seberang pohon besar yang tumbang itu. Dia memberi isyarat kepada anak buahnya, menanyakan apakah keadaan aman. Anak buahnya yang tak berada dekat pohon tumbang itu memberi isyarat aman.
Si letnan segera melangkah ke lokasi yang sudah dikepung belasan prajuritnya. Dia faham sudah, ke empat pelarian itu sudah jadi mayat. Tak apalah. Yang penting perburuan yang melelahkan ini selesai sudah. Walau pun dia tak bisa mewujudkan niatnya, tak apalah. Yang jelas dia bisa kembali dengan membawa kepala ke empat pela­rian itu. Kepalanya saja! Bikin apa membawa-bawa tubuh mereka. Menambah-nambah beban saja. Bukankah komandan mereka sudah memerintahkan agar membawa kepala para pelarian itu ke markas?
Si letnan pun sampai ke tempat tersebut. Dia melompat naik ke kayu besar yang tumbang itu. Dari sana dia menatap ke bawah, ke arah tempat yang sudah dikerumuni belasan pasukannya. Dan, sebagaimana anak buahnya, dia juga ikut tertegun tatkala melihat tempat yang dikepung itu. Kecuali dua buah bedil yang sudah sompeng popornya dimakan peluru, tak ada siapa pun di sana! Jangankan empat pelarian yang mereka buru, kentut pelarian itu pun tak lagi terlihat! Dia hampir tak mempercayai penglihatannya. Di tempat itu memang ada belasan selongsong peluru, dan bekas orang tiarap.
Memang tak ada kentut, tapi yang membuat sakit hati si komandan adalah ketika melihat di antara bekas belasan selongsong peluru itu, orang yang mereka buru ternyata meninggalkan embahnya kentut. Sungguh mati, di sana mereka melihat seonggok tahi manusia! Benar-benar tahi manusia! Dan onggokan tahi itu ternyata sudah cerai berai oleh hajaran peluru anak buahnya. Ooo, sakitnya hati si letnan. Ooo remuk redam jantungnya terasa. Dulu dia dikhianati pacarnya. Sakiiiiit.. sekali. Tapi, apa yang dia lihat sekarang, sakitnya seribu eh.. sejuta kali lebih sakit dari dikhianati pacarnya dulu.
Sakiiiit sekali!
Dengan muka sebentar merah dan sebentar hijau, lalu sebentar kebiru-biruan, si letnan menatap hilir mudik. Ke arah pangkal kayu besar itu, kemudian ke arah ujungnya. Berharap di salah satu tempat yang dia lihat ada kepala atau telinga salah seorang pelarian tersebut. Agak seorang jadilah. Tapi, dia memang lagi sial.
Apa yang sudah..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s