Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 703)

Apa yang sudah dia bayangkan, pulang membawa empat kepala pelarian itu, habis terbenam dalam tahi yang sudah kocar-kacir oleh peluru anak buahnya. Tak ada seorang pun pelarian itu di sana.
Bahkan jejaknya, kecuali tahi dan selongsong peluru itu, lenyap seperti ditelan hantu rimba. Tubuh si letnan menggigil. Mungkin menahan marah, mungkin menahan malu. Matanya melirik ke kanan, ada air mengalir sedalam lebih kurang setengah meter dengan lebar aliran satu meter. Dia menyumpah dalam hatinya. Orang yang mereka buru itu nampaknya sengaja meninggalkan “induk kentut”nya. Sebab, lazimnya orang akan buang air besar di air yang mengalir. Sekalian bisa membersihkan dirinya usai buang hajat. Tapi orang ini nampaknya sengaja buang air di darat.
Agak jauh dari air yang mengalir, dengan maksud mempermalukan para pemburunya. Oo sakitnya hulu jantung si letnan.
“Buru mereka….!!” hardiknya dengan muka merah padam.
Salah seorang pasukannya, seorang berpangkat sersan yang ahli pencari jejak, menghampirinya. Bicara perlahan. Letnan itu mendelik. Bicara beberapa patah. Si sersan memberikan penjelasan, sambil menunjuk ke satu arah. Si letnan menoleh ke arah yang ditunjuk. Puluhan anak buahnya menanti.
“Apakah waang tidak salah?” hardiknya berang.
“Tidak, Let! Saya sudah periksa semua penjuru dengan sangat teliti. Jejak orang itu hilang di batang besar ini. Hanya ada dua kemungkinan kenapa hal itu bisa terjadi. Pertama punya sayap, sehingga bisa terbang….”
Ucapannya terhenti karena sebuah tempelengan dari letnan itu mendarat di pipinya. Bibir sersan pencari jejak tersebut pecah dan darah merembes perlahan. Dia dianggap berolok-olok dalam situasi gawat dan memalukan itu, dengan mengatakan ada manusia bersayap dan bisa terbang. Si sersan memahami kekeliruannya. Dia mengambil sikap sempurna. Kemudian meminta maaf, lalu melanjutkan penjelasan
“Saya bisa memastikan yang berada di sini malam tadi hanya seorang di antara empat pelarian itu, Letnan. Dia sengaja memancing kita memburu dirinya, sehingga tiga temannya yang lain punya kesempatan lolos dari pengejaran. Dan orang yang seorang ini adalah orang yang sangat mengenal belantara. Demikian mahirnya dia, sehingga kami tak bisa melihat sebuah tempat pun di sini, bekas yang diinjaknya, kecuali tempat dia bertahan, kemudian buang air besar itu….”
Si sersan mengakhiri penjelasannya. Letnan tersebut menoleh kepada seorang kopral, anggota pencari jejak yang satunya lagi. Di pasukannya itu memang ada dua pencari jejak. Namun yang amat mahir adalah si sersan yang barusan melapor. Si kopral mengangguk, membenarkan urai­an sersan tadi.
“Kalian tak menemukan jejaknya sedikit pun…?”
“Jejaknya tidak, Letnan. Tapi saya bisa menduga, dia kembali ke tempat awal di mana kita pertama membuat formasi berbanjar untuk mengejar mereka senja kemarin. Di sana dia berpisah dengan teman-temannya. Dia sengaja memancing kita dengan membawa dua bedil dan peluru yang memadai, sehingga kita menyangka mereka masih tetap empat orang. Pada saat kita mengejarnya ke arah ini, teman-temannya punya kesempatan melarikan diri ke arah yang berlawanan.
Saya rasa mereka sudah sangat jauh. Mengenai orang yang tadi malam bertahan di sini, melihat ke mahirannya memancing kita kemari, dan kemahirannya mengenal setiap lekuk liku belantara ini, saya rasa sudah hampir mencapai ketiga orang lainnya itu. Dengan kema hirannya dia pasti bisa berjalan dengan cepat sekali dalam belantara lebat ini…” ujar si sersan mengkhiri penjelasannya.
Bukan main sakitnya hati si letnan. Bukan mendengar uraian pencari jejak tersebut. Melainkan pada kebodohan dirinya, yang mudah saja dikecoh. Tadi pun, sebelum si sersan bertutur, dia sudah menduga-duga seperti itu. Namun dalam hal mencari jejak di belantara, dia memang mengandalkan si sersan. Kini dia benar-benar tak tahu apa yang harus dia lakukan. Bagaimana mungkin dia bisa kembali ke markas mereka? Kembali dengan membawa cerita bahwa di akhir pengepungan mereka hanya berhasil menemukan seungguk induk kentut?
Letnan itu memutuskan..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s