Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 705)

Smith tak berani bergerak dari dalam air. Kepalanya saja yang nongol di permukaan air. Ma­tanya liar menatap ke kiri dan kanan. Dia merasa tak ada gunanya lari ke darat, sudah terlambat. Jika dia bangkit, dia akan menjadi sasaran tembak. Cowie berlindung di balik sebatang kayu, tak jauh dari Jock Graham. Suasana tiba-tiba dicekam sepi yang mencekik. Cowie merasa heran, arah tem­bakan itu rasanya berasal dari goa di balik air terjun. Yaitu tempat di mana mereka meninggalkan dua buah bedil rampasan yang mereka bawa dalam pelarian selama dua hari ini. Tiba-tiba terdengar sebuah suara dari arah air terjun tersebut.
“Hallo…..”
Semua masih terdiam karena terguncang oleh ketakutan yang sangat tiba-tiba. Lalu… di balik tirai air itu, kelihatan seseorang muncul memegang bedil. Begitu melihat orang yang baru menembak mereka itu, yang tak lain dari si Bungsu, terdengar makian Tim Smith bertubi-tubi.
“Pukimak! Sundal! Sipilis! Monyet kurap! Pantat kurap….!”
Cowie dan Jock Graham juga menyumpah panjang pendek. Namun Cowie segera sadar, apa yang dilakukan orang itu adalah peringatan halus pada mereka. Bahwa adalah suatu pekerjaan sia-sia berada di hutan liar ini tanpa bedil. Apalagi meninggalkan bedil di tempat yang jauh dari mereka. Mereka berdiri dan berjalan menyongsong si Bungsu dengan senyum lebar karena lega. Tidak demikian halnya dengan Smith. Dia menyelam, kemudian muncul dengan sengenggam pasir. Pasir itu dia lemparkan ke arah si Bungsu. Berkali-kali dia lakukan hal itu, sambil mulutnya tetap saja bercarut panjang pendek.
Bahkan, dia tetap saja melempari si Bungsu dengan pasir, tatkala Cowie dan Jock Graham memeluk si Bungsu. Ketiga orang tersebut dibuatnya mandi pasir. Tapi akhirnya dia juga tak mau ke­tinggalan. Dia melompati ketiga orang yang te­ngah berpelukan itu. Kendati tubuhnya kurus kerempeng, namun akibat terpaan loncatan tersebut semua mereka jatuh saling tindih dan berguling-guling di pasir putih dan landai tersebut, diiringi gelak tawa berderai. Sungguh ini pertemuan yang luar biasa. Mereka tak menyangka akan bisa di­susul dan ditemukan si Bungsu secepat itu.
Namun, sebagaimana sudah dijanjikan si Bungsu, dia akan segera menyusul dan menemukan mereka, hal itu bisa dibuktikan kini. Baik Cowie, Smith maupun Jock Graham tak bisa lain dari pada mengakui bahwa orang Indonesia yang sepintas kelihatan “biasa-biasa saja” ini sesungguhnya adalah seorang yang amat luar biasa. Mereka bisa lolos tanpa hadangan sedikit pun dari puluhan tentara Vietnam malam itu benar-benar berkat keahlian orang Indonesia ini mengecoh para pemburu tersebut. Ketika baru berangkat, mereka mende­ngar tembakan sahut bersahut di belakang mereka.
Cowie mengajak kedua temannya untuk berdoa bagi keselamatan lelaki dari Indonesia itu. Sesaat mereka berhenti dalam kegelapan. Kemudian membaca doa untuk kesela matan orang yang menolong mereka itu, yang kini sedang dihujani tembakan, dan menutup doa dengan tangan mereka membuat tanda salib di kening dada masing-masing. Setelah itu tanpa menoleh lagi, mereka segera merunduk-runduk. Menghindar dari tempat itu secepat dan sejauh mungkin!
Kini keempat mereka..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s