Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 707)

Tentara Vietnam memang meneruskan pemburuan nya. Namun mereka terpaksa bergerak amat lambat, karena sulit menemukan jejak para pelarian. Kesulitan itu muncul karena sebahagian besar hutan itu adalah hutan dengan rawa yang dalam. Jejak yang ditinggalkan pelarian dapat dilihat dengan jelas.
Namun untuk memburu orang-orang itu di dalam rawa, yang kadang-kadang kedalamannya mencapai setinggi kepala itu, menyebabkan gerak maju mereka sangat lamban. Hardik dan berang si letnan, agar pasukan bergerak cepat tak ada gunanya.
Cowie Smith dan Jock Graham tertawa terkekeh-kekeh mendengar penuturan si Bungsu. Terutama saat si Bungsu menceritakan betapa dia terpaksa membalas tembakan tentara Vietnam sambil jongkok berlindung sekaligus terberak-berak di balik kayu besar, akibat perutnya memilin-milin karena kebanyakan memakan buah rukam tersebut.
—o0o—
Mereka memutuskan untuk beristirahat satu atau dua hari di goa di balik air terjun itu guna memulihkan tenaga yang benar-benar berada di bawah titik nol akibat dikurung sekian lama di lobang berair busuk tersebut. Mereka tak usah takut kelaparan. Tak lama setelah mereka bertemu, si Bungsu memungut beberapa kerikil. Kemudian tegak di tepi sungai yang air­nya amat jernih itu. Menatap ikan-ikan besar berlalu lalang seperti di dalam akuarium saja. Ketiga tentara Amerika itu tak faham apa yang akan diperbuat si Bungsu dengan batu-batu kerikil sebesar ibu jari tersebut.
Sampai suatu saat si Bungsu melemparkan batunya ke air. Tak lama kemudian, dua depa ke bahagian hilir, mereka melihat seekor ikan baung sebesar betis lelaki dewasa mengapung dengan kepala pecah. Sekali lagi si Bungsu melemparkan batu kerikil di tangannya. Namun lemparan itu nampaknya luput. Dia melempar sekali lagi, dan kali ini yang mengapung adalah seekor ikan lele yang besarnya yang sama dengan ikan baung pertama. Ketiga tentara Amerika itu ternganga melihat keahlian yang belum pernah mereka temukan seumur hidup itu.
Bagaimana mungkin orang memiliki keahlian dan tenaga yang demikian besar. Yang kekuatan lemparannya tetap tak berkurang setelah menembus air, dan mampu mengenai serta membunuh seekor ikan?
“Pukimak! Pantat orang ini pasti berkurap banyak. Kalau tak berkurap dia takkan punya kepandaian demikian tinggi…” ujar Smith menyumpah panjang pendek.
Sumpah-serapahnya yang tak berketentuan itu tidak hanya membuat Cowie dan Jock yang tertawa, tapi juga si Bungsu. Si Bungsu membuka celananya. Kemudian menung ging ke arah Smith. Lalu terjun ke air diiringi tawa Cowie dan Jock Gra­ham.
“Banyak kurap di pantatnya, Smith…?” ujar Cowie yang sampai berair matanya karena tertawa melihat Smith ditunggingi si Bungsu.
“Tidak hanya kurap, tapi juga sipilis. Orang ini rupanya kena induk sipilis…” ujar Smith yang merasa jengkel ditunggingi oleh si Bungsu.
Si Bungsu yang sudah berenang dan melempar bajunya ke pasir, tak dapat menahan tawanya. Dia mengacungkan jari tengahnya ke arah Smith. Sebuah tindakan yang bagi orang Amerika dianggap memaki dengan kasar. Smith tetap saja masih menggerutu dia memunguti dua ekor ikan yang terbunuh oleh lemparan si Bungsu. Kemudian melempar kannya kepada Jock Graham.
“Hei koki pantat kurap, masak ikan ini! Jenderalmu ini sudah lapar….” ujarnya kepada Jock Graham.
“Jenderal emaknya sipilis…” ujar Jock Graham sambil memunguti ikan tersebut.
“Bukan aku yang induk sipilis. Itu si Bungsu itu. Saya lihat pantatnya tadi penuh ulat. Kita jangan ikut-ikut mandi di sungai ini. Sungai ini sudah tertular virus sipilis…” ujar Tim Smith.
Usai berkata begitu, Smith melangkah ke arah dua buah durian yang tadi mereka ambil. Lalu membelahnya dengan bayonet. Lalu memakan isinya dengan lahap. Atas pertanyaan Cowie, si Bungsu memastikan tentara Vietnam yang memburu mereka takkan sampai kemari.
“Saya dua kali mengintai mereka. Terakhir mereka kehilangan jejak setelah melewati rawa besar dan dalam yang kalian lewati itu. Untung rawa itu airnya mengalir, sehingga jejak yang kalian tinggalkan lenyap bersama arus. Dua orang pencari jejak di pasukan itu kebingungan menentukan ke mana harus melanjutkan pengejaran. Jika mereka tak menemukan jejak kalian di seberang rawa, untuk memu tuskan kembali ke jejak awal di rawa dangkal sebelum kalian memasuki rawa dalam itu, mereka memerlukan paling tidak waktu empat atau lima hari…” tutur si Bungsu.
Persoalan muncul ketika membakar ikan tersebut. Aengan apa ikan itu dibakar. Mereka tak pu­nya korel api. Cowie mencoba menghidupkan api dengan menggesekkan dengan kuat buah buah batu.
Namun api tak..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s