Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 709)

Si Bungsu memperlihatkan kepada Smith dua buah batu yang besar hampir sebesar jempol jari kaki.
“Untuk apa itu?”
“Pengganti senapan….”
Smith sudah hampir mengatakan orang di depannya itu gila. Namun ketika tiba-tiba dia teringat selama dua hari ini si Bungsu ‘menangkap’ ikan hanya dengan lemparan batu, dia mengurungkan niatnya mengatakan si Bungsu gila.
“Anda juga bisa menangkap rusa dengan batu?”
“Saya tak yakin, tapi tak ada salahnya dicoba bukan?”
“Pantat kurap! Cobalah, saya ingin melihat…” rutuk Smith.
Si Bungsu mengangkat kepalanya perlahan. Smith ikut-ikutan mengangkat kepala. Di hadapan mereka kesepuluh ekor rusa itu kelihatan memamah rumput dengan lahap. Untung arah angin tidak datang dari arah mereka berada maupun dari arah air terjun. Kalau itu yang terjadi, rusa-rusa yang penciumannya amat tajam itu pasti sudah pada melarikan diri, karena mencium bau manusia, bau yang tak lazim bagi mereka.
Tiba-tiba si Bungsu bangkit. Rusa-rusa itu terkejut dan menoleh. Binatang itu tertegak. Mungkin merasa aneh melihat makhluk yang tak pernah mereka lihat seumur hidup. Namun hanya dua atau tiga detik mereka tertegun. Dengan lengking pendek rusa jantan yang paling besar sebagai pe­ringatan adanya bahaya, semua rusa itu tiba-tiba melompat cepat melarikan diri. Namun salah seekor, yang nampaknya masih berusia sekitar dua tahun, tiba-tiba terdongak. Lalu jatuh. Lenyap dalam palunan rumput tebal tersebut. Rusa yang lain dalam waktu singkat berhasil melintasi padang rumput luas itu. Kemudian lenyap ke dalam belantara lebat di belakang sana.
Si Bungsu, diikuti Smith memeriksa dan mendapati rusa itu sudah mati. Tengkoraknya, sedikit di bawah telinga, kelihatan remuk. Bahagian itulah yang dihantam oleh lemparan si Bungsu. Smith mendecak dan menggelengkan kepala. Sukar baginya memahami bagaimana si Bungsu yang selalu dia maki dengan kata-kata ‘pantat kurap’ atau ‘induk sipilis’ ini bisa memiliki kemahiran seperti itu. Menangkap ikan dan rusa hanya dengan lemparan batu. Rusa itu kemudian mereka seret ke dekat air terjun. Cowie dan Jock Graham ternganga mendengar cerita bagaimana si Bungsu “menem bak” rusa tersebut.
“Hati-hati dengan orang ini. Dia bukan manusia. Dia dukun. Mana ada manusia yang bisa menangkap ikan dan rusa hanya dengan lemparan batu. Pantat kurap dan induk sipilis ini dukun yang berbahaya…” rutuk Smith panjang pendek sambil menguliti rusa itu bersama Jock Graham dengan bayonet.
Si Bungsu hanya tersenyum mendengar dendang dan rutuk Tim Smith. Saat Jock dan Smith mengerjakan rusa itu, Cowie beranjak ke tepi hutan. Mengumpulkan kayu-kayu kering sebanyak mungkin untuk membuat api unggun guna memanggang rusa tersebut. Sore itu mereka pesta pora menikmati panggang daging rusa. Kepada ketiga tentara Amerika itu si Bungsu menunjukkan jenis daun kayu yang dia jadikan sebagai pengganti garam saat membakar ikan kemarin. Dia juga menunjukkan pada mereka jenis-jenis daun dan lumut, yang bisa diramu secara sederhana untuk obat malaria. Dengan takaran yang berbeda, bahagian tumbuhan itu bisa pula diramu menjadi obat luka yang manjur.
Ketika malam turun, dan kebetulan bulan sabit muncul di langit yang bersih, mereka membuat api unggun di tepi sungai itu sambil berbaring di pasir yang putih bersih. Tempat itu demikian tenang. Berada di tempat amat tenang dengan suara desah air terjun itu, orang sudah mengalami atau paling tidak melihat puing neraka perang Vietnam, takkan percaya bahwa ada tempat seperti itu di Vietnam. Negeri yang selama belasan tahun dicabik-cabik oleh perang yang kekejamannya tiada tara.
Kekejaman perang Vietnam tercatat dalam sejarah peperangan mana pun yang pernah dikenal umat manusia di permukaan bumi ini. Kekejaman balatentara Jepang saat perang Pacific jadi tidak berati dibanding kekejaman perang Vietnam. Tempat mereka berada sekarang seolah-olah berada di negeri lain, yang jauh sekali dari negeri yang bernama Vietnam.
“Kenapa engkau tak ikut dengan heli tempur yang menjemput Kolonel MacMahon?” tiba-tiba saja Cowie mengajukan pertanyaan pada si Bungsu, saat mereka berbaring di dekat api unggun di pasir putih di tepi sungai tersebut.
Pertanyaan yang sejak awal sudah mengusik perasaan Cowie. Si Bungsu tak segera menjawab. Sambil menelentang dia menatap bulan sabit di langit yang bersih. Jock Graham dan Smith merobah posisi tidurnya. Jika sebelumnya mereka menelentang kini pada memiringkan tubuh menghadap ke arah si Bungsu. Mereka memang ingin tahu, kenapa lelaki Indonesia itu bertemu dengan MacMahon di tempat kolonel itu disekap. Dan kenapa dia tak ikut pergi atau tak ikut dibawa bersama helikopter tersebut.
“Ada puluhan tentara Vietnam saat itu…” ujar si Bungsu perlahan.
“Mengepung heli tersebut?” ujar Cowie.
“Ya. Sekaligus menembakinya….”
“Engkau bersama MacMahon saat itu?”
“Persisnya tidak. Setelah MacMahon dan beberapa tentara Amerika lainnya saya bebaskan dari tempat penyekapan, kami membagi kelompok menjadi tiga bahagian.
Dua kelompok…

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s