Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 710)

Dua kelompok kemudian bergabung setelah kami membumi hanguskan kamp tentara Vietnam. Saya memilih tinggal di belakang, menahan dua regu Vietnam yang memburu kami. Ketika saya berhasil menahan para pengejar dan tiba di tempat penjemputan, saya lihat keadaan amat kritis. Kalau heli itu tidak berangkat segera, mereka semua akan terbunuh. Saya yang masih berada belasan meter dari heli itu, mencoba mengalihkan serangan tentara Vietnam dari heli dengan menembaki tentara Vietnam tersebut. Heli itu, berikut MacMahon dan beberapa tentara Amerika berhasil lolos. Dan saya tertangkap. Itulah sebabnya kita bertemu…” ujar si Bungsu menuturkan secara sederhana kenapa dia kini berada di antara ke tiga tawanan Amerika itu. “Engkau pernah belajar taktik perang, kawan…?” tanya Cowie. Si Bungsu tersenyum. “Saya hanya belajar membunuh dan menyelamatkan diri dari orang yang ingin membunuh saya, Cowie…” ujar si Bungsu. Sepi setelah itu. Tak ada yang berkata, bahkan tak seorang pun di antara ke empat orang itu yang bergerak. Masing-masing tenggelam dalam fikiran mereka sendiri. “Sudah berapa banyak orang yang kau bunuh, kawan?” tiba-tiba Smith yang induk carut itu bertanya perlahan. Si Bungsu menarik nafas. Cowie tersenyum mendengar si kepala hampir botak yang induk carut itu memanggil si Bungsu dengan sebutan ‘kawan’. Padahal biasanya dia memanggil dengan ‘pantat kurap’ atau induk sipilis. Dia merasa senang, sikap dan ketangguhan si Bungsu ternyata berhasil menundukkan perilaku anak buahnya yang isi kepalanya ibarat tong segala carut itu. “Berapa orang yang sudah kau bunuh dalam peperangan di Vietnam ini, Smith…?” si Bungsu balik bertanya, dengan suara yang juga perlahan. Smith menelentangkan tubuhnya. Menatap awan tipis yang bergerak perlahan melewati bulan sabit di atas sana. Terdengar dia menarik nafas panjang dan berat, seperti keluhan. “Barangkali delapan sampai dua belas orang…” jawab Tim Smith perlahan, sembari membayangkan beberapa perang di mana dia menembak mati tentara Vietnam. “Sudah berpa orang yang kau bunuh, Bungsu?” kembali Smith bertanya karena si Bungsu masih berdiam diri. “Saya rasa takkan kurang seratus orang, Smith…” jawab si Bungsu dengan suara seperti menggigil. Jawaban itu tak hanya membuat Smith dan Jock Graham yang terkejut. Melainkan juga Letnan PL Cowie. Ketiga orang itu duduk dan menatap ke arah si Bungsu yang tengah memandangi langit dan bulan sabit. Mereka tak merasa perlu bertanya apakah si Bungsu bergurau dengan jawabannya itu. Mereka yakin, jawaban itu adalah jawab¬an yang penuh kejujuran. Mereka juga tak menangkap sedikit pun nada bangga dalam ucap¬an lelaki itu. Cowie malah seperti mendengar suara lelaki itu seperti sebuah tangisan. “Oh my God…!” desis Cowie dan Smith hampir bersamaan. Si Bungsu ikut duduk. Kemudian memeluk ke¬dua lututnya. “Ya, jumlah orang yang kubunuh demikian banyak, kawan. Sehingga aku tak lagi bisa menghitung. Akhirnya aku sendiri tak tahu, apakah aku membunuh benar-benar dengan alasan membela diri, atau membunuh sudah merupakan candu bagiku. Itulah sebabnya keempat tentara Vietnam yang menggiringku dari lobang penyekapan dan ke dua orang yang menjaga di pondok dekat lobang kita disekap, dan beberapa lagi di hutan yang memburu kita, tak seorang pun yang mati. Mereka ha¬nya sekedar kubuat lumpuh…” tutur si Bungsu perlahan sambil matanya menatap kosong ke lidah api yang menjilat kayu unggun, sekitar dua meter dari tempat mereka duduk. “Engkau membunuh musuhmu dengan senjata api?” Yang bertanya ini adalah Jock Graham, yang tak tahan untuk tidak mengetahui lebih banyak tentang orang Indonesia yang berhasil mengeluarkan mereka dari lobang jahanam tahanan Vietnam itu. “Sebagian besar tidak….” “Dengan tangan?” “Dengan samurai….” “Samurai…?” tanya Jock Graham dengan perasaan heran. Cowie dan Smith juga kembali menatap pada si Bungsu dengan perasaan semakin heran. “Ya, Jock. Barangkali saya adalah satu dari sedikit sekali orang yang amat mahir menggunakan samurai. Bahkan dibanding dengan orang-orang Jepang yang paling mahir sekali pun. Baik samurai panjang, maupun samurai-samurai kecil yang dilemparkan dari jarak belasan meter…” ujar si Bungsu sambil melemparkan segenggam pasir ke air sungai yang mengalir perlahan. Ketiga tentara Amerika itu terdiam. Mereka percaya pada semua yang diucapkan orang Indonesia ini. Kendati mereka tak tahu bagaimana orang ini mempergunakan samurai itu. Mereka hanya membayangkan beberapa film samurai Jepang yang pernah mereka tonton. Misalnya film Zato Ichi, yang pernah cukup laris di Amerika sebelum mereka terjun ke perang Vietnam. “Engkau punya isteri dan anak…?” Pertanyaan ini Cowie yang mengajukan. Si Bungsu menggeleng. “Saya punya isteri dan dua anak. Wanita keduanya. Yang besar skearang sudah berumur tiga belas tahun. Yang kecil enam tahun. Mereka tinggal di Chicago…” ujar Cowie perlahan. “Saya juga punya isteri, dulu, ketika empat tahun yang lalu saya cuti dan pulang ke Illionis, isteri saya ternyata berselingkuh dengan teman sekantornya. Dia bekerja di sebuah biro perjalanan. Saya sudah tiga hari di rumah, ketika saya datang ke sebuah hotel untuk mengantar titipan salah seorang teman yang tak cuti karena mendapat hukuman. Saat itulah saya melihat isteri saya datang dengan seorang lelaki, kemudian masuk ke sebuah kamar yang sudah mereka pesan. Buat sesaat saya tertegun. Kemudian pintu kamar mereka saya tendang hingga jebol. Mereka, yang sama-sama sudah telanjang bulat dan sedang bergumul di karpet, menatap saya seperti melihat setan…” Yang bercerita ini adalah Tim Smith. Dia berhenti sejenak dengan nafas sesak. Cerita itu tentu saja baru bagi si Bungsu dan Jock Graham. Jock Graham memang baru mengenal Smith setelah dijebloskan bersama si Bungsu di lobang yang sudah dihuni duluan oleh Cowie dan Smith. Mereka berlainan pasukan. Namun bagi Cowie, cerita Smith itu memang sudah dia dengar langsung dari anak buahnya itu. Lalu terdengar Smith menyambung ceritanya. “Sialnya ada peraturan, bahwa tentara yang pulang cuti tidak dibolehkan membawa senjata. Kalau saja saya membawa senjata, keduanya pasti sudah tak ada lagi sekarang….” Sebenarnya, kalau pun..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s