Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 711)

Sebenarnya, kalau pun dia membawa senjata, belum tentu apa yang dia ucapkan akan terjadi. Bahwa dia akan menembak mati lelaki yang menyerongi isterinya itu. Sebab, saat dia menangkap basah kedua orang itu, Smith tak sempat menghajar lelaki yagn meniduri isterinya di kamar hotel tersebut. Dia hanya tertegak mematung. Dia tak yakin bahwa isterinya akan berselingkuh seperti itu. Dia masih tegak mematung di pintu kamar yang jebol dia tendang sampai polisi militer datang. Dia, isterinya dan lelaki teman sekantor isterinya itu dibawa ke kantor polisi militer. Dari pengakuan isteri dan teman kencannya itu kepada polisi militer, terungkap bahwa per¬buatan tak senonoh itu sudah mereka lakukan tiga kali seminggu selama dua tahun. Hampir selama Smith berada di kancah perang Vietnam. Mendengar pengakuan kedua orang itu, Smith merasa sangat terpukul. Ketika dia menyabung nyawa di medan perang, dalam belantara yang amat ganas di Vietnam, isterinya hampir setiap malam menyerahkan tubuh dan kehormatannya pada lelaki lain. Saat dia dihujani peluru, atau sedang diburu tentara Vietnam, isterinya ternyata tengah mengumbar nafsu. Ketika dia berada di antara mayat rekan-rekannya yang bertumbangan satu demi satu, di Amerika isterinya sedang bermandi keringat mendengus-dengus dalam dekapan lelaki lain. Padahal, kemana pun dia pergi, foto mereka bertiga, dia-isteri-anaknya, selalu setia dalam dompetnya. Hampir setiap hari dia melihat foto tersebut denan sepenuh rindu. Siapa menduga, pada saat-saat seperti itu, isterinya ternyata menikmati hari-harinya dengan gejolak birahi tak terkendali. Smith merasa dunianya benar-benar tenggelam. Dia tak mampu berkata sepatahpun. Bahkan ketika polisi militer bertanya apakah dia akan menuntut atau tidak, dia hanya menunduk lemah. Kemudian berdiri. Menatap sesaat pada lelaki yang telah ratusan kali menyebadani isterinya itu. Lelaki itu menunduk. Tak berani menatapnya. Kemudian ditatapnya isterinya yang sedang menangis terisak-isak. Hanya sesaat dia tatap. Kemudian dia melangkah keluar. Tawaran polisi militer untuk mengantar kannya pulang ditolaknya. Dia pulang naik taksi. Di rumah dikemasinya pakaiannya dan pakaian anak lelakinya yang berusia tiga tahun. Kemudian dia pergi. Dia pulang ke rumah orang tuanya. Dititipkannya anaknya itu di sana. Ketika ibu dan ayahnya bertanya apa yang terjadi, dia hanya menarik nafas. Menatap penuh perasaan hiba kepada anaknya. Kemudian menjawab pertanyaan si ibu sekadarnya, bahwa perkawinannya sudah berakhir. Dia tak menceritakan sepatah pun apa yang telah dilakukan isterinya. Kemudian dia menghabisi hari-harinya di bar. Minum sampai mabuk, tidur di jalanan. Suatu malam dia dirampok segerombolan pemuda. Ada tujuh orang jumlahnya. Ketika dia tak mau menyerahkan dompet, jam dan cincin kawin yang masih dia pakai, ketujuh pemuda itu meng hajarnya sampai babak belur. Aneh, kendati dia bisa melawan, namun dia tak melawan sedikit pun. Sebagai tentara aktif yang baru seminggu dari medan perang Vietnam, dia masih memiliki naluri seperti hewan liar dan kemampuan tarung individual yang tak bisa dikatakan rendah. Namun Smith seperti membiarkan dirinya dihajar. Hidung, mulut dan matanya berdarah. Semua uang, jam dan cincinya disikat. Dia sadar di rumah sakit. Sekeluar dari rumah sakit, dia ke markas minta cutinya diakhiri dan segera minta dikirim kembali ke Vietnam. Dia bertemu dengan PL Cowie, yang saat itu masih berpangkat sersan dan menjabat komandan regunya. Mereka bertemu di markas sehari sebelum diberangkatkan kembali ke Vietnam. Ketika Cowie bertanya apa yang terjadi, Smith hanya menatap kosong, seperti orang yang tak punya semangat untuk hidup. Kemudian dia meninggalkan Cowie. Cowie mendengar apa yang menimpa Smith dari perawat di rumah sakit. Esoknya Cowie menda tangi rumah Smith. Namun di rumah itu yang ada hanya isteri Smith yang sedang duduk menangis. Dan perempuan itu, yang kesadarannya datang sangat terlambat, mengatakan bahwa dia sudah berpisah dengan Smith. Hanya itu. Dia tak bercerita apa penyebabnya. Ketika Cowie datang ke markas, dia mendapat kabar bahwa paginya Smith sudah berangkat ke Vietnam, bersama pasukan yang mendapat giliran tugas di sana. Sersan Negro itu menemui dua anak buahnya yang sama-sama masih dalam cuti dengannya. Dia ceritakan apa yang dialami Smith. Kemudian mereka mulai mencari dimana peristiwa itu terjadi. Tak begitu sulit bagi mereka menemukan gerombolan tujuh anak-anak muda berusia antara dua puluh sampai tiga puluhan itu. Seorang anak muda yang menjadi saksi mata saat perampokan itu memberitahu mereka pada suatu malam, bahwa ketujuh anak muda itu berada di sebuah bar. Mereka masuk duluan ke bar yang penuh oleh pengunjung itu. Tak lama kemudian anak muda yang jadi saksi itu, memberi isyarat dengan sudut mata ke sebuah meja. Di sana ada..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s