Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 712)

Di sana ada tujuh anak muda berambut panjang dan pakaian semaunya, bersama empat cewek yang nyaris tanpa pakaian. Cowie dan ke dua anak buahnya men datangi meja itu. “Halo….” sapa Cowie. Ke tujuh anah muda itu melihat yang menyapa mereka seorang Negro berambut pendek. Kemudian ada dua lelaki kulit putih yang juga berambut pendek. “Niger, apa maumu…?” ujar salah seorang yang bertubuh kekar. Salah seorang anak buah Cowie berpangkat kopral hampir saja memulai menghajar lelaki itu. Namun Cowie memberi isyarat untuk jangan me¬mulai dulu. “Kami mencari seorang rekan. Kabarnya kalian pernah bertemu dengan dia seminggu yang lalu…” ujar Cowie. “He Niger! Enyah segera dari sini, aku tak tahan baumu yang busuk. Kau pergi atau kuhancurkan hidungmu…” ujar anak muda itu petentengan. Kemudian seusai bicara, dengan brutal dia mengecup dada montok cewek di pangkuannya. Demikian bernaf sunya dia, sehingga ketika mulutnya beranjak dari dada wanita itu, di pangkal dada yang putih dan membukit tersebut kelihatan warna merah ke hitam-hitaman. Cowie mengambil sesuatu dari kantong bajunya. Kemudian mengeluarkan foto Smith berpakaian dinas ukuran 4 x 6. “Kalian mengenal teman kami ini?” ujar Cowie menyo dorkan foto itu ke meja. Si lelaki kekar, tanpa menatap foto itu segera saja menancapkan sebuah pisau besar ke foto yang baru beberapa detik diletakkan Cowie di meja. Dan itu adalah awal keributan. Lelaki itu jelas lebih besar dari Cowie. Namun tangan kiri Cowie segera menjambak rambutnya. Lalu tangan kanannya menghajar mulut dan hidung lelaki itu dengan pukulan berkali-kali. Enam bajingan lainnya belum sempat berdiri, ketika mereka disikat habis-habisan oleh teman Cowie. Bar itu segera berubah menjadi kancah baku tinju antara sesama pengunjung. Akhirnya sepuluh polisi militer datang. Tentu saja mereka segera mengenal Cowie. Karena Cowie memang dikenal secara luas di an¬tara tentara di kota itu. Cowie menceritakan secara singkat kenapa keributan itu terjadi. Ke tujuh pemuda itu, yang semuanya sudah babak belur, digelandang ke kamp polisi militer. Pada si lelaki kekar yang hidungnya remuk dan giginya copot tiga buah dihajar Cowie, ditemukan dompet dan jam Smith. Mereka lalu dihajar habis-habisan oleh polisi militer. Kemudian semua bajingan tengik itu dijebloskan ke sel tentara. Setelah masa cutinya habis dan kembali bertugas ke Vietnam, Cowie tak bercerita apapun pada Smith. Kedua teman Smith yang ikut menghajar ketujuh orang itulah yang bercerita. Semula tak ada reaksi apapun dari Smith. Dia berubah jadi sangat pendiam. Namun ketika nyawanya diselamatkan Cowie dari ledakan granat dalam suatu pertempuran, Smith akhirnya tunduk. Dia mendatangi komandannya itu menyampaikan terimakasih. Kisah tentang isteri Smith itu dituturkan Cowie pada larut malam, tatkala Smith sedang tidur mendengkur. Si Bungsu menarik nafas panjang mendengar cerita tersebut. Jock Graham yang ikut mendengar cerita itu hanya termangu. Perang Vietnam memang tidak hanya merobek-robek negeri dan bangsa Vietnam. Perang dahsyat itu juga menimbulkan berbagai krisis di Amerika. Baik di peme rintahan, maupun di kalangan rakyatnya. Di kalangan pemerintahan bukannya rahasia lagi, kalau tak semua mereka yang di Gedung Puih setuju Amerika terlibat dalam perang di Vietnam. Di kalangan rakyatnya, terutama di kalangan para prajurit yang dikirim ke Vietnam, berbagai masalah juga timbul. Masalah hancurnya rumah tangga ratusan prajurit, sebagaimana dialami Smith, adalah persoalan yang tak mudah dicarikan jalan keluarnya. Belum lagi soal pengang guran. Sebahagian besar tentara yang dikirim ke Vietnam adalah anak-anak muda yang terkena wajib militer. Persoalan timbul setelah mereka kembali dari Vietnam, kemudian masa dinas wajib militernya berakhir. Amat sedikit sekali jumlah wajib militer yang bisa diterima menjadi tentara reguler setelah masa wajib dinasnya usai. Mereka yang selamat keluar dari perang Vietnam umumnya mengalami sindroma pasca perang. Kekerasan di medan perang dalam bentuk sikap “dibunuh atau membunuh” dalam menghadapi ancaman, menye babkan mereka tak segera bisa menerima perlakuan tak adil di tengah masyarakat. Para bekas wajib militer ini sebahagian menjadi penganggur, sebahagian menjadi buruh kasar, sebahagian mencoba berusaha apa saja. Sebahagian lagi justru ada yang menjadi bandit. Namun secara umum, para veteran Perang Vietnam menganggap mereka diperlakukan pemerintah dengan sikap ‘habis manis sepah dibuang’. Untuk memperlihatkan bahwa Amerika adalah negara superkuat, polisi dunia dan berbagai simbol kehebatan lainnya, pemerintah mewajibkan seluruh pemuda yang sudah dewasa untuk mengikuti wajib militer. Sebelum diterjunkan ke medan perang mereka diindoktrinasi. Kepada mereka ditanamkan keyakinan bahwa Vietnam Utara yang mereka perangi adalah komunis yang bukan hanya musuh Amerika, tetapi juga musuh dunia. Itu berarti tentara Amerika tidak hanya menyelamatkan Amerika, tetapi sekaligus menjadi pahlawan bagi bangsa-bangsa sedunia. Belasan ribu tentara Amerika terbunuh dalam perang panjang yang amat kejam dan keji itu. Sebahagian besar di antaranya adalah anak-anak muda berusia tujuh belasan sampai 20-an tahun. Sebahagian lagi pulang membawa cacat tubuh permanen, yang takkan bisa baik seumur hidup, betapapun canggih dan tingginya ilmu dan teknologi Amerika. Mereka, termasuk sebahagian lagi yang selamat fisik namun pulang dengan tekanan mental, mendapatkan diri mereka tak dihargai sama sekali. Baik oleh masyarakat maupun oleh pemerintah yang semula menyanjung-nyanjung mereka. Mereka benar-benar merasa diperlakukan sebagai tebu, yang habis manis sepah dibuang. Lama keadaan menjadi sunyi di dalam goa di balik air terjun itu, usai Cowie menuturkan apa yang dialami Smith. Si Bungsu menatap air terjun yang seperti selendang yang seolah-olah menjadi tirai menutupi pintu goa di mana kini mereka berbaring. Goa itu terasa panas, karena Cowie membawa bara api unggun yang sore tadi mereka buat di luar sana. Bara api itu kemudian mereka tambah dengan dahan-dahan kering. Lama-lama kayu itu ikut terbakar. Dengan cara…….

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s