Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 713)

Dengan cara seperti itu, goa itu tidak hanya menjadi terasa hangat tetapi juga tak bernyamuk. Di bara yang menyala itu Smith dan Jock Graham membakar daging rusa. Kendati sudah dua hari mereka makan daging rusa yang ditimpuk si Bungsu itu, ternyata masih saja banyak yang tersisa. Selain itu, Cowie menebang tiga batang pisang emas yang buahnya sudah masak. Kemudian me­ngumpulkan sekitar sepuluh buah durian besar-besar. Sebelum tidur mereka duduk atau berbaring di sekeliling api unggun. Bercerita sambil mengunyah daging rusa panggang.
Kemudian memakan cuci mulut berupa pisang atau durian. Jika memerlukan air minum, mereka melangkah ke air terjun. Lalu mengagakan mulut lebar-lebar. Dalam waktu beberapa detik air jernih dan bersih akan masuk satu atau dua drum ke dalam perut mereka. Waw, nikmatnya bukan main!
Bagi mereka tak ada lagi soal akan kena penya­kit disentri atau menceret karena minum air mentah. Tubuh mereka sudah kebal terhadap hal seperti itu. Ketika berada di lobang sekapan maut itu dulu, sekali dua mereka sempat meminum air bercampur lumpur, kotoran dan bekas mayat menga pung.Jika sekarang mereka meminum air terjun yang mengalir dari pengunungan, tentu saja air itu bersih bukan main, dibanding yang mereka minum di lobang penyekapan dulu. Begitulah mereka melewatkan hari-hari di “sorga” dekat air terjun itu.
Suatu hari, malam sudah agak larut. Smith masih terde­ngar dengkurnya. Jock Graham, Cowie dan si Bungsu masih terlibat dalam pembicaraan ber­bagai hal. Namun yang banyak bicara adalah Co­wie dan si Bungsu. Jock Graham lebih banyak berbaring mendengarkan.
“Engkau sudah punya isteri, Bungsu…?” tiba-tiba kesunyian dipecahkan oleh pertanyaan Cowie.
Si Bungsu yang tengah menatap tirai air terjun sekitar lima depa dari tempat mereka berba­ring agak terkejut mendengar pertanyaan itu. Padahal sudah dia jelaskan kemarin atau dua hari yang lalu.
“Belum…” jawab si Bungsu perlahan setelah berdiam diri beberapa saat.
“Dengan kemahiran beladiri yang amat tangguh seperti engkau, kawan, apa sebenarnya yang kau cari…?” tanya Cowie pelahan.
Lama si Bungsu tak bisa menjawab pertanyaan Cowie. Sebab pertanyaan seperti itu tak pernah dia fikirkan sebelumnya. Dan kini, tatkala ada yang bertanya dia sungguh-sungguh tak bisa menjawab. Ya, apa yang dia cari? Dengan atau tanpa ilmu beladiri, apa yang dia cari dengan meng habiskan waktu dan umur berkelana dari satu ke tempat yang lain, dari sebuah negara ke negara lain? Bayangan Reno Bulan, bekas tunangannya yang kini menjadi isteri Sutan Pilihan, yang sebelumnya hidup sebagai tukang salung, kini bertoko kain batik di Bukittinggi, datang membayang.
Mei-mei yang meninggal diperkosa Jepang di Bukittinggi, sesaat sebelum mereka menikah. Salma, orang yang dia kasihi yang kemudian menjadi isteri Overste Nurdin sahabatnya. Hanako, adik Kenji yang menjadi menantu Tokugawa, bekas kepala Yakuza Tokyo. Michiko yang dia cari sampai ke Dallas dan ternyata menikah dengan Thomas MacKenzie. Angela, polisi Dallas yang membantunya membalas dendam pada geng iblis Ku Klux Klan. Ami Florence, mata-mata Amerika di Kota Da Nang. Thi Binh, gadis desa yang cantik dan Roxy Rogers, anak milyarder Alfonso Rogers yang dia bebaskan dari goa di bukit cadas Vitenam. Semua melintas seperti berlarian dalam fikirannya.
“Awalnya saya hanya mencari orang yang pembunuh keluarga saya…”
“Untuk membalas dendam?”
“Ya….”
“Kau berhasil?”
“Ya dan tidak…”
“Kenapa ya, kenapa tidak?”
“Ya, karena dia saya kalahkan dalam pertarungan samurai. Tidak, karena meski dia saya kalahkan tapi dia tidak saya cederai sedikit pun. Namun hanya beberapa sat setelah saya tinggalkan, dia bunuh diri. Di Jepang disebut seppuku, harakiri….”
“Setelah itu..?”
“Setelah itu… di sinilah saya sekarang….”
“Pernah menikah sebelum atau sesudahnya…?”
“Tidak….”
“Kenapa…?”
“Karena mungkin ada kutukan atas diri saya….”
“Apa penyebab kutukan itu?”
“Sewaktu masih amat remaja, saya melemparkan cincin pertunangan di depan keluarga tu­nangan saya….”
“Jangan percaya soal tahayul, tak ada ku­tukan begitu….”
“Buktinya, perempuan-perempuan..

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s