Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 716)

Namun dalam rekaman selanjutnya, nampaknya hari telah siang, kelihatan sesosok berlari di antara belantara dan sekilas-sekilas menjadi jelas saat dia melewati rawa yang tidak ditutpi daun kayu.
“Itu si Bungsu…!” serua Ami.
“Ya, itu si Bungsu..! “ ujar Kolonel MacMahon.
Mereka yang di ruangan itu saling berpandangan.
“Peristiwa di padang lalang saat heli menjemput kami, dan kami dihujani tentara Vietkong dengan tembakan, kini terulang lagi. Dia kembali menjadikan dirinya umpan perluru, demi membebaskan tiga tawanan lainnya. Oh Tuhan…!” ujar Kolonel MacMahon dengan suara bergetar.
Ami Florence tak mampu menahan isak ta¬ngisnya.
“Selamatkan dia, tolong selamatkan dia, please….” ujarnya.
“Ya… kita semua hadir di sini karena ingin menye lamatkannya. Karena tidak hanya kita, Amerika berhutang amat besar padanya…” ujar multi-milyuner Alfonso Rogers.
“Tidak hanya kita, tiga atau empat tentara Vietkong itu sendiri, seorang di antaranya berpangkat kolonel, yang ditolong oleh si Bungsu, diam-diam menginginkan kebebasannya. Itu informasi yang disampaikan Dragon…” ujar Le Duan.
Laksamana Billi Yones Lee, Komandan USS Alamo kemudian bicara.
“Well, baiklah! Berbeda dengan operasi pencarian MIA atau operasi penyelamatan lainnya selama ini yang dilakukan Amerika, tetapi jika terjadi sesuatu Amerika akan mengatakan ‘tidak tahu!’ Kemarin pagi saya diinformaskan akan kedatangan Tuan-tuan di bawah koordinasi Tuan Rogers. Setelah itu dari Pentagon ada perintah langsung dari Kepala Staf Panglima Gabungan, jemput si Bungsu, Amerika akan menghadapi apapun risiko politiknya. Apapun! Saya yakin, perintah dan sikap Amerika seperti itu hanya di¬mung¬kinan karena tekanan Tuan-Tuan dan Anda, Lady. Terutama Tuan Alfonso Rogers dan Kolonel MacMahon dan Jhon McKinlay…”
“Anda terlalu merendah, Laksamana. Saya berada di Pentagon ketika Anda membentak-bentak seorang jenderal di sana. Menyuruh mereka memasang telinga saat Anda menceritakan apa yang dilakukan si Bungsu untuk mem bebaskan 17 tentara Amerika, dan menghancurkan beberapa boat perang Vietkong menyelamatkan Ami Florence dan Le Duan…” ujar Alfonso Rogers memotong.
Laksamana itu tersipu.
“Ya, apa yang dilakukan orang asing itu belum tentu mampu dilakukan satu kompi pasukan kita yang amat tangguh sekalipun. Di atas segalanya, kesediaannya menjadikan dirinya umpan peluru untuk menyelamatkan heli dan para tawanan Amerika, membuat saya tak tidur berhari-hari. Dia sendirian di padang lalang itu, ditembaki dan ditangkap…” ujarnya.
Semua tertunduk mengingat peristiwa tersebut. Lalu Laksamana itu menyambung.
“Kita sudah sediakan tiga heli tempur. Sebuah untuk mengambil mereka di dekat air terjun itu, dua buah untuk mengawal. Perintahnya amat jelas, bawa mereka pulang, terutama si Bungsu, apapun risikonya….!”
“Saya telah mendapatkan persetujuan Pentagon untuk memiloti heli penjemputan….” ujar Thomas MacKenzie, suami Michiko yang mantan pilot udara Perang Dunia II itu.
“Ya, saya sudah diberitahu. Terimakasih, kami memang amat membutuhkan pilot yang berpengalaman. Dua pilot lain siap mengawal Anda…” ujar Laksamana Lee.
“Saya ikut heli yang menjemput…?” tiba-tiba Ami Florence menyela.
“Maaf, Lady. Kali ini usulan Anda terpaksa saya tolak. Demi kesuksesan operasi yang harus amat cepat ini. Di tiap heli, selain pilot masing-masing hanya ada dua penembak yang menjaga di mitraliur. Satu di kiri, satu di kanan. Oke, masukkan koordinat wilayah air mancur itu ke komputer di tiap heli. Sekarang jam tiga, ada waktu sekitar empat jam mencapai tempat itu. Anda ha¬nya bisa memakai lampu sorot sertelah dekat air terjun itu, MacKenzie. Waktu untuk Tuan memper siapkan diri ada lima menit, McKenzie….”
“Yes, Sir!” ujar veteran Perang Dunia II itu, sambil bergegas keluar menuju heli yang menanti dalam keadaan mesin sudah dihidupkan.
Mereka menatap keberangkatan tiga helikopter itu dari anjungan komando. Menatapnya hingga jauh, hingga hanya kelihatan seperti seekor burung kecil, kemudian seperti titik. Saat ketiga heli itu le¬nyap di kaki langit, Ami dikejutkan oleh ucapan letnan di komputer tadi.
“Mam, ada yang ingin bicara padamu di telpon….”
“Saya?”
“Siapa?”
“Nona Roxy….”
Ami menoleh pada Alfonso Rogers, ayah gadis yang ingin bicara melalui telepon dengannya. Lelaki tua itu tersenyum.
“Hallo, Roxy..” sapanya setelah memegang telpon.
“Hai, Ami. Senang dapat lagi bicara dengan Anda. Saya diberitahu ayah, Anda akan bertemu dengannya di USS Alamo….”
“Ya, Ayahmu ada di sini sekarang. Anda dimana, Roxy?”
“New York. Sudah berangkat penjemputan untuk si Bungsu…?”
Ami tertegun. Dia menatap pada ayah Roxy yang sedang ngobrol perlahan dengan Laksamana Lee.
“Anda sudah tahu adanya operasi penjemputan itu…?”
“Saya mendesak Ayah untuk mempergunakan penga ruhnya. Kita semua berhutang nyawa padanya, kan? Sudah berangkat yang menjemput si Bungsu, Ami…?”
“Y..Ya! Sudah….”
“Kita doakan bersama mudah-mudahan tak ada halangan. Apalagi Thomas MacKenzie yang menjemput adalah pilot pesawat tempur yang amat bisa diandalkan….”
“Ya, kita bersama mendoakan.. Roxy….”

—o0o—

ADALAH Cowie pertama tersentak bangun dari tidurnya yang nyenyak karena mendengar suara aneh di antara suara air terjun. Dia membangunkan kawan-kawannya yang bergelimpang di dalam goa di balik air terjun itu.
“Suara heli…!” bisik si Bungsu.
Mereka bangkit dan bergegas ke tabir air terjun yang menutup goa persembunyian mereka. Tiba-tiba sorot lampu heli menerangi air terjun itu. Lalu lampu sorot itu dimatikan. Kemudian dihidupkan. Mati, hidup lagi terputus-putus.
“Morse! Itu heli Amerika menjemput kita…!” seru Kopral Jock Graham setelah mengartikan kerdipan lampu yang dipergunakan seperti morse bagi kapal-kapal di laut.
Mereka keluar dari balik air terjun itu, di bawah sorot lampu heli menuruni bukit batu tersebut dengan cepat. Heli itu mengapung rendah di hamparan pasir lebar di tepi sungai di bawah air terjun itu. Mereka berempat berlarian ke sana. Letnan Cowie yang Negro itu pertama sampai di dekat heli. Namun dia tak segera naik, dia menunggu yang lain. Yang pertama naik adalah Kopral Jock Graham, kemudian Sersan Tim Smith, kemudian si Bungsu. Baru dia menyusul.
“Lengkap! Go.. go.. go…!!” seru sersan penjaga mitraliur di bagian kanan setelah semuanya naik.
Seiring dengan melambungnya heli itu dengan cepat ke atas, terdengar suara.
“Hallo, Bungsu. Welcome home…!”
Si Bungsu kaget mendegar panggilan itu. Dia menoleh ke arah orang yang menyapanya, yang tak lain dari pilot heli itu. Meski dia memakai helm pilot, namun si Bungsu mengenalnya dengan baik.
“MacKenzie…” seru si Bungsu sambil mengulurkan tangan, disambut dengan salaman yang kukuh dan hangat oleh suami Michiko itu.
Kemudian mereka…

Advertisements

1 Comment

  1. Cerita tikam samurai sangat menakjub kan.saya mohon di lanjut kan sampai tamat.terima kasih.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s