Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 717)

Kemudian mereka menumpahkan perhatian pada pelarian itu. Sebab, sesaat setelah mereka bersalaman, mereka mendengar tembakan dan melihat perluru seperti kembang api menyembur-nyembur dari dua heli yang lain ke arah depan mereka. Saat itu keempat pelarian itu baru menyadari bahwa selain heli yang mereka naiki masih ada dua heli lain yang mengawal.
“Sir, ada empat pesawat tempur memburu kita…” ujar co-pilot yang mendampingi MacKenzie.
“Yap, kita layani!” ujar MacKenzie sambil membuat manuver tajam ke kanan menghindari terkaman peluru yang amat jelas kelihatan datangnya dalam kegelapan malam.
Tak jelas apa jenis pesawat yang memburu mereka. Tapi kini ketiga heli itu saling sama-sama menyerang, menghindar dan melindungi. Mereka tak lagi memper dulikan kemana arah mereka. Yang penting mereka menghindar, atau balas menembak sambil terbang berputar atau melambung ke kiri, ke kanan, berbalik ke belakang. Sampai suatu saat sebuah ledakan dan bola api besar terlihat di samping kanan mereka.
“Cobra kena, hancur…!” ujar co-pilot Mac­Kenzie.
Namun pada saat yang bersamaan, dua buah pesawat tempur yang sedang menyembur-nyemburkan peluru ke arah mereka, yang berada di bahagian depan kiri dan kanan mereka, terlihat menjadi bola api. Yang satu ditembak MacKenzie, yang satu lagi ditembak heli pengawal yang tersisa. MacKenzie menembak sambil meliuk-liukkan terbang helinya.
“Shit, kita kena…!” ujar MacKenzie setelah terasa sebuah gunacangann kecil.
“Ya, kita kena…!” seru co­pilot.
Sekilas keempat pelarian itu melihat asap putih me nyembur dari bahagian bawah hidung heli. Namun setelah itu tak ada serangan apapun. Kedua pesawat Vietkong yang tersisa lenyap dari udara.
“Mereka menghindar karena tadi kita bertempur di atas wilayah Kamboja…” ujar MacKenzie.
“Kita juga harus menghindar, Sir…” ujar co­pilot.
“Tenang, Panglima AU-nya junior saya waktu di West Point…” ujar MacKenzie.
Belum habis ucapannya di radio terdengar perintah untuk menjelaskan identitas mereka dari pesawat Angkatan Udara Kamboja. Hanya selang beberapa saat, dua pesawat pemburu Kamboja sudah berada di bahagian kiri kanan mereka. MacKenzie menjelaskan mereka AU Amerika, dan sebelum dialog berlanjut dia langsung saja menyapa Panglima AU Kamboja, sambil menjelaskan siapa dirinya dan posisi rumitnya saat ini karena pesawatnya kena tembak. Hal itu dia lakukan karena dia yakin Panglima itu sedang memonitor pembicaraan antar-pilot pesawat tempur yang sedang di udara itu.
Hal itu dipastikan, karena negara manapun yang dimasuki pesawat tempur asing tanpa konfirmasi pasti dilaporkan langsung kepada Panglima AU-nya. Panglima AU Kamboja yang empat tingkat di bawahnya saat di West Point, kalang kabut dan membuat rencana kilat untuk membantu. Dia memberi petunjuk agar MacKenzie mendaratkan pesawatnya di sebuah bekas lapangan Angkatan Udara negara yang bernama asli Kampuchea itu. Dia segera mengirim teknisi dan mobil tangki bahan bakar. Kerja kilat sepuluh teknisi dan mengisi bahan bakar itu selesai menjelang subuh.
Saat kedua heli itu kembali mengudara, tiga pesawat tempur Kamboja mengiringi seolah-olah “mengusir” heli Amerika itu dari wilayahnya. Dalam waktu singkat lima pesawat itu lenyap dalam kabut subuh. Heli itu terlebih dahulu digiring ke arah selatan, ke arah Teluk Siam. Setiba di atas Laut Cina Selatan lalu melambung ke kiri, ke arah Philipina. Di perairan internasional baru kedua heli itu “dilepas”, namun tetap diawasi kalau-kalau disergap pesawat tempur Vietkong. Setelah dirasa aman, barulah pesawat tempur kamboja balik ke pangkalannya. Usailah skenario yang “dirancang” Panglima AU Kamboja itu dengan Thomas MacKenzie, senior yang dia hormati saat di Akademi Militer Amerika dulu.
Ketika mereka turun di helipad, tempat pendaratan heli di USS Alamo, mereka benar-benar disambut dengan upacara yang istimewa. Si Bungsu heran, karena orang-orang yang dia kenal ada di kapal perang itu. Ada Alfonso Roger, multi­milyuner yang “membayarnya” untuk mencari anaknya Roxy Rogers. Ada Jhon McKinlay, pahlawan Hamburger Hill teman Alfonso. Ada Kolonel Eddie MacMahon, perwira SEAL yang dia bebaskan bersama Roxy. Ada Le Duan dan… Ami Florence!
“Hai, Ami. Senang bertemu kembali denganmu…” ujar si Bungsu saat mereka tegak bertatapan dalam jarak sedepa.
Tak ada jawaban…

Advertisements

11 Comments

  1. DITUNGGU KELANJUTANNYA YA MAS…..

  2. iyo sabana lamak caritonyo. Capek lah ditaruikan,….

    mokasih banyak

  3. Ma…sambungan carito no da,nop..??!

    • untuak samantaro alun bisa dilanjuik an carito si bungsu ko karano keterbatasan sumber, tapi untuak manutuiknyo akan dilanjuik an carito si bungsu nan lamo (episode partamo)… maaf ateh kakurangan ko sanak….

      • carito sibungsu nan partamo di ma bisa dicaliak da

  4. Uda Nop…tolong lanjutkan cerita si Bungsu-Tikam Samurai…
    Sekitar tahun 80 sampai 83 semasa SMP saya sempat mengikuti cerita ini di harian Haluan terbitan Padang…..benar-benar asyik utk dibaca …

  5. kalau kababukak … jan satangah2.. da .. penasaran awak mah .. ndk dima ado nan manjua novel tu…

    • Io sabana lamak caritonyo da…..capeklah dibuekkan kalanjutannya da……

  6. dima toko nan manjua novel tu da /?

  7. uph, tanggung da, tolong dilanjuti caritanyo da

  8. Yo sabana sero carito nyo,ambo mohon dengan sangaik untuak dapek mambaco nyo sampai tamaik.tarimo kasiah.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s