Tikam Samurai (Bagian 26)

Darah muncrat dari tubuh mereka. Kini si Bungsu tegak di atas unggukan uangnya dengan sikap seperti seekor Rajawali yang siap menyambar mangsanya. Samurainya terhunus melintang di depan dada. Samurai itu berlumuran darah. Matanya menatap tajam pada Babah gemuk itu.

”Siapa saja yang bergerak mencabut senjata atau berniat lari atau memekik, akan kucabut nyawanya. Tegak saja di tempat kalian baik-baik!” Ujar anak muda itu perlahan. Suaranya dingin dan penuh ancaman. Perwira Ichi yang semula berniat mencabut pistol, jadi tertegun. Tangannya terhenti di gagang pistolnya. Ancaman anak muda ini menggetarkan jantungnya. Namun jarak antara dia dengan anak muda itu cukup jauh. Lagipula tubuhnya terlindung oleh tubuh seorang wanita. Dia pasti aman kalau mencabut pistol itu diam-diam kemudian menembaknya pada tengkuk anak muda pongah ini. Dia sudah berniat untuk melaksanakan maksudnya.

Tapi entah kenapa tiba-tiba dia jadi ragu. Karenanya dia memberi isyarat dengan mata pada si Baribeh. Baribeh mengerti isyarat itu. Lelaki itu lalu bicara untuk mengalihkan perhatian si Bungsu.

”Bungsu, jangan berbuat kekacauan di sini. Engkau tak akan bisa lolos lihatlah, rumah ini telah dikepung ..”

Dan waktu itulah pistol Ichi keluar dari sarungnya. Pistol itu sudah akan dia angkat. Malang dia tak mengetahui bahwa anak muda ini tidak sama dengan kebanyakan anak muda Melayu lainnya. Anak muda yang satu ini telah melatih indranya di gunung selama dua tahun lebih. Dia telah lolos dari kehidupan liar yang

membutuhkan perjuangan keras untuk bisa tetap bertahan. Dia mampu bertahan hidup di tengah ganasnya belantara yang amat liar. Hidup di tengah hukum rimba. Dimana hanya yang kuat yang berhak untuk hidup. Yang lemah harus mau menjadi tumbal untuk kelangsungan hidupnya yang kuat.

Dalam kehidupan di rimba belantara itu, kekuatan saja tidak menjadi jaminan untuk bisa memperpanjang nyawa. Kuat tanpa kecerdikan bisa konyol. Kuat dan cerdik saja juga belum tentu bisa selamat. Kewaspadaan dan ketajaman firasat serta pendengaran sangat dibutuhkan. Bagaimana caranya mengetahui seekor ular yang bergerak tanpa suara itu akan menyerang kita?

Bagaimana caranya mengetahui seekor harimau yang akan menerkam mangsanya, yang bergerak seringan kapas tanpa dilihat dan tanpa terdengar oleh mangsa yang akan diterkam. Makhluk di rimba raya memerlukan ketajaman firasat dan pendengarannya untuk bisa bertahan hidup. Inilah yang terpenting, bukan hanya kekuatan semata.

Burung, tupai atau kancil, adalah makhluk yang lemah tanpa daya. Namun mereka bisa hidup berkembang dan tak punah dalam belantara yang dipenuhi kebuasan itu berkat pendengaran dan firasat mereka yang tajam. Itu pulalah yang dipelajari si Bungsu selama mengasingkan diri selama dua tahun di gunung Sago. Dia bertekad  untuk tetap hidup sekurang-kurangnya sampai dendam keluarganya terbalaskan. Kalau burung atau kancil saja bisa hidup, kenapa dia sebagai manusia yang berakal tidak? Kalau mereka mempunyai ketajaman pendengaran, kenapa dia tak bisa menirunya? Maka hiduplah dia di rimba itu sambil menimba banyak sekali kearifan hidup dari hewan yang purbani.

Ternyata dia keluar sebagai pemenang. Tetap hidup sampai saat ini. Itu pula yang terjadi di rumah babah gendut itu. Disaat Ichi menarik pistolnya, telinga si Bungsu yang mampu mendengar daun jatuh sekalipun saat di gunung sana, juga mendengar benda keras yang dicabut dari sarangnya. Firasatnya segera bekerja. Benda itu kalau tidak pisau pastilah pistol. Dalam waktu yang singkat sekali, dia menjatuhkan diri kebelakang. Punggungnya mencecah lantai. Kemudian kakinya bergulung keatas. Saat itu pistol meledak. Namun pelurunya menerpa tempat kosong. Dengan dua kali bergulingan amat cepat, si Bungsu melewati perempuan yang tegak di depan Ichi.

Perwira itu terkejut melihat anak muda itu tiba-tiba saja sudah berada di depannya. Pistol dia arahkan padanya. Namun samurai si Bungsu berkelebat. Tak ada pekikan. Perwira Jepang itu rubuh dengan bahu di dekat pangkal lehernya belah dua sampai ke dada. Bukan main. Benar-benar satu gerakan yang terlalu cepat untuk diikuti mata.

Seorang serdadu yang tegak di sisi Ichi justru ternganga menatap tubuh perwiranya yang jatuh tergolek dengan tubuh hampir terbelah dua. Tapi nasibnya juga sial. Tengkuknya disambar samurai si Bungsu. Kepalanya mengelinding ke bawah sebelum tubuhnya mencapai lantai. Mati.

Perempuan-perempuan pada terpekik. Si Bungsu tegak menghadap pada Babah gemuk itu. Si Babah terkejut melihat kecepatannya. Sementara si Baribeh dan

si Juling tegak merapat kedinding belakang si Babah.Muka mereka pucat ketakutan. Tak pernah mereka bayangkan sedikitpun, bahwa anak muda yang pernah mereka lanyau di Surau ketika mereka kalah judi dahulu akan menjadi begini hebatnya.

”Hmm, lu jangan banyak lagag di depan we. Lu we bikin ayam potong”. Ujar Si Babah sambil menyeringai buruk. Si bungsu memandangnya tak berkedip. Matanya yang biasa bersinar lembut kini membersitkan api amarah yang dahsyat. Samurainya membelintang di depan dada. Dia tegak dengan sikap gagah. Kemudian terdengar suarasuaranya bergema, dingin dan datar.

”Gendut, engkau telah hidup di negeriku ini sebelum aku dilahirkan. Bahkan mungkin kalian hidup sejak dari moyang kalian di sini. Di sini kalian hidup dan mencari nafkah. Pernah kalian diganggu anak negeri ini? Pernah kalian dihalangi untuk mencari nafkah? Tak pernah, kan? Bahkan kami menganggap kalian sebagian dari masyarakat kami. Kita sama-sama berhak hidup dan mencari kehidupan di negeri ini. Tapi apa kini yang kau perbuat untuk membalas kebaikan anak negeri ini? Yang telah berbaik hati menerima kalian hidup beberapa keturunan dengan damai di negeri ini?”

Dia berhenti sebentar, lalu:

”Ternyata kau khianati negeri ini pada Jepang. Engkau menjadi musuh dalam selimut bagi anak negeri yang telah puluhan tahun hidup bersamamu. Benar-benar sikap jahanam yang laknat. Demi uang engkau sudi berbuat apa saja. Tapi demi Tuhan, engkau harus mati malam ini. Harus, Gendut!”

Sumpah anak muda ini mau tak mau membuat bulu tengkuk Babah itu merinding. Si Baribeh dan si Juling tak berani berkutik. Tegak mematung dengan tubuh menggigil di tepi dinding. Kedua lelaki Minang ini sampai terkencing-kencing di celananya. Si Babah gendut itu nampaknya juga mengetahui bahwa anak muda di depannya ini tidak hanya menggertak sambal. Anak muda itu sanggup melaksanakannya. Karena itu dia mulai menyerang, tubuhnya seperti lenyap di bungkus sinar. Bukan main cepatnya dia bergerak. Si Bungsu buat sesaat jadi tertegun. Dia bukan pesilat, apa yang harus dia perbuat?

1 Comment

  1. ….siip uda…ceritanya semakin menarik….tolong lanjutannya.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s