Tikam Samurai (Bagian 30)

Laporan itu dimasukkan ke dalam penyimpanan dokumen paling rahasia oleh Kolonel Fujiyama. Kolonel Fujiyama terkenal sebagai seorang Perwira Senior yang kukuh pada tradisi Militer Jepang yang amat konvensional. Baginya, seorang tentara adalah seorang tentara. Seorang tentara berperang untuk negaranya. Bukan untuk diri pribadi.

Seorang tentara hanya bermusuhan dengan tentara dari negara yang melawan negara Jepang. Lawan tentara Jepang hanyalah tentara negara tersebut, atau mata-mata dari tentara yang berasal dari orang sipil. Seorang tentara Kerajaan Tenno Haika tak layak melakukan kekejaman pada rakyat sipil. Kolonel ini terkenal sekali dengan sikap yang demikian. Dia adalah pemeluk agama Budha yang taat.

Sebagai Dai Tai Cho, Komandan Divisi dan Komandan balatentara Jepang di Pulau Sumatera, dia berhak mengambil putusan-putusan yang amat prinsipil. Dan itulah yang dia lakukan. Yaitu dengan menyuruh Eraito, seorang mayor yang gagal untuk Harakiri. Kini dia mengambil langkah kedua dalam urusan peristiwa si Bungsu ini. Dia memerintahkan pada Saburo yang saat itu sudah berpangkat Syo Sha (Mayor) dan menjabat sebagai Bu Tei Cho (Komandan Batalyon) di Batu Sangkar, untuk datang menghadapnya di Markas Besar.

Saat Saburo Matsuyama datang dia dipaksa oleh Fujiyama untuk minta pensiun. Kemudian dipaksa untuk pulang ke Jepang. Putusan ini mengejutkan perwira-perwira Jepang. Sebab Saburo dikenal sebagai perwira yang cekatan. Namun itulah putusan Fujiyama.

”Saya punya keyakinan, kalau engkau masih di negeri ini, engkau akan bertemu dengan anak muda bersamurai yang bernama si Bungsu itu. Dan kalau kalian bertemu, perkelahian tak terhindarkan. Saya tak dapat menerka bagaimana cara anak itu berkelahi, tapi saya punya firasat, engkau akan mati di tangannya. Karena itu pulanglah kekampungmu Syo Sha. Di sana engkau akan aman. Aman dari perbuatan memperkosa anak bini orang. Namun saya merasa pasti anak muda ini akan tetap mengejarmu kemanapun engkau pergi ..” Begitu Kolonel Fujiyama berkata pada Saburo, Saburo termenung.

”Apakah engkau punya anak?”

”Ada Kolonel ..”

”Berapa orang?”

”Seorang, dan perempuan ..”

”Dimana dia kini?”

”Di Nagoya. Baru berumur enam belas ..”

”Dalam agama ada ajaran, bahwa setiap orang akan menerima balasan dari perbuatannya. Saya khawatir, suatu saat anakmu ketemu dengan anak muda ini. Dan kalau dia membalas dendam padanya, dapat kau bayangkan apa yang akan terjadi Saburo? Saya tak menakut-nakutimu. Tapi berdoalah, agar anak muda itu melupakan. Nah selamat jalan..!”

Kata-kata ini masih terngiang di telinga Saburo dalam perjalanannya ke Singapura untuk terus pulang ke Jepang. Anaknya seorang gadis yang amat cantik. Yang telah kematian ibu ketika anak itu masih berumur sepuluh tahun. Dia terbayang pada pembunuhan yang dia lakukan di Situjuh Ladang Laweh. Pada gadis yang dia perkosa di rumah adat itu. Pada ayah dan ibunya yang dia bunuh. Pada pembunuhan gadis itu sendiri setelah dia perkosa. Dan pada anak lelakinya yang pengecut. Kini ternyata anak lelakinya itu memburunya dengan samurai di tangan. Dengan Samurai. Ya Tuhan, tiba-tiba Saburo Matsuyama tertegak. Seluruh bulu tubuhnya pada merinding. Anak muda itu mencarinya dengan samurai.

Dan menurut cerita Fujiyama, anak muda itu amatlihai dan tangguh mempergunakan samurainya. Dia segera teringat pada sumpah Datuk Berbangsa sesaat sebelum mati dulu. Saat itu sebuah samurai menancap di dada Datuk itu.

”Saya akan menuntut balas atas perbuatanmu ini Saburo. Engkau takkan selamat. Saya bersumpah untuk membunuhmu dengan samurai dari negerimu sendiri. Kau ingat itu baik–baik..” Suara itu seperti bergema. Lelaki Minangkabau itu ternyata memang memburunya melalui anak kandungnya. Dulu dia menganggap hal-hal mistis ini sebagai nonsens.

Tapi kini anak muda itu mencarinya dengan samurai. Bukankah itu merupakan suatu perwujudan dari sumpah Datuk itu? Saburo mulai seperti dikejar bayang-bayang. Dia banyak mendengar tentang kesaktian orang-orang Minangkabau. Namun selama dia di negeri itu, tak satupun di antara kesaktian itu yang terbukti. Kabarnya orang Minang bisa membuat orang lain jadi gila, senewen memanjat-manjat dinding, namanya sijundai. Tapi dia dan pasukannya yang telah terlalu banyak berbuat maksiat di negeri itu, kenapa tak satupun di antara kesaktian itu yang mempan pada mereka?

Kabarnya ada pula semacam senjata rahasia yang berbahaya. Yang bisa membunuh orang dari jarak jauh. Konon bernama Gayung, Tinggam atau Permayo. Tapi kenapa tak satupun di antara pasukan Jepang yang terkena senjata rahasia itu? Ataukah hanya mempan untuk sesama orang Minang saja? Saburo termasuk orang praktis yang tak mempercayai segala macam bentuk mistik. Tapi kali ini, terhadap sumpah Datuk Berbangsa yang telah mati lebih dari dua tahun yang lalu, kenapa dia harus takut? Dia ingin segera pulang ke kampungnya di Jepang sana. Dia ingin bersenang-senang barang sebulan dua di Singapura. Demikian putusan yang dia ambil dalam kapal ketika berlayar dari Dumai ke Singapura.

Demikian putusan yang dia ambil dalam kapal ketika berlayar dari Dumai ke Singapura. Kemana si Bungsu? Kenapa dia bisa lenyap dari ruangan di mana dia membantai tentara Jepang dan Babah gemuk mata mata itu? Padahal rumah itu telah dikepung dengan ketat oleh Kempetai. Tambahan lagi dia mengalami luka di berbagai bahagian tubuhnya dalam perkelahian melawan si Babah itu. Kemana saja dia melarikan diri hingga tak bersua? Malam itu, sebenarnya si Bungsu tak pernah meninggalkan rumah si Babah. Bahkan hari hari berikutnya dia masih tetap di rumah itu. Tapi kenapa sampai tak diket ahui Kempetai? Kenapa sampai tak diketahui perempuan perempuan lacur yang tinggal di rumah itu?

Malam itu, tatkala dia selesai membunuh dua perwira Jepang yang merupakan orang terakhir di dalam ruangan itu, pintu besar yang dia kunci dengan palang besar itu sudah hampir dijebol oleh Kempetai dengan truk reo. Suara reo telah terdengar olehnya memasuki rumah. Bahkan reo itu sudah berada di ruang depan- Dia harus menyelamatkan diri. Namun dia tahu, ruangan ini telah dikepung dengan ketat. Tapi bagaimana juga dia harus selamat. Harus tetap hidup sampai dendamnya pada Saburo terbalaskan. Dengan kaki pincang dia segera mencarijalan untuk menyelamatkan diri. Dia tidak menuju ke belakang. Melainkan ke samping.

Baru tiga langkah dia berjalan, dia tertegak. Di depannya berdiri seorang perempuan. Tepatnya adalah seorang gadis cina. Sekali pandang dia dapat menebak, gadis ini paling paling baru berusia enam belas atau tujuh belas tahun. Gadis cantik bertubuh menggiurkan. Gadis berkulit kuning berambut lebat itu hanya mengenakan handuk di tubuhnya. Nampaknya dia sudah sejak tadi berdiri di sana. Dan si Bungsu dapat memastikan bahwa gadis ini melihat semua perkelahian yang berlangsung di ruangan itu. Dia pasti melihat pembantaian itu. Mereka bertatapan. Pintu mulai didobrak.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s