Tikam Samurai (Bagian 32)

Kemudian dia memeriksa isi bungkusan yang lain. Sebuah senter kecil. Dengan senter itu dia dapat memeriksa dengan isi bungkusan itu. Ada perban dan plaster. Ada obat merah. Dia sangat berterima kasih pada gadis c ina yang belum dia kenal itu. Apakah dia salah seorang dari pelacur yang disimpan dalam rumah ini? obat itu sebenarnya tak dia perlukan. Sebab untuk mengobati lukanya, dia masih mempunyai bubuk ramuan yang dia bawa dari gunung Sago. obat itu amat manjur. Obat itulah dulu yang menyembuhkan dari luka akibat samurai Kapten Saburo. Dan obat tradisional itu pula yang menyembuhkan luka bekas dicakar harimau jadi-jadian ketika bulan terakhir dia akan turun gunung.

Dia ambil ramuan yang terdiri dari kulit dan daun kayu, lumut batu, lumut pohon dan daun tanaman melata yang sudah dikeringkan yang selalu dia simpan dalam kantongnya, dalam sumpik rokok daun enau, yang dulu memang berisi rokok daun enau. Ramuan itu dia tabur pada luka disekujur tubuhnya. Dengan menimbulkan rasa dingin lukanya dengan cepat mengering, merapat dengan cepat mengering. Dengan senter kecil yang dijatuhkan gadis itu, si Bungsu mulai memeriksa ruangan di mana dia berada. Ruangan ini ternyata ruangan di bawah tanah. Memang dibuat untuk menghadapi keadaan darurat, seperti umumnya rumah-rumah turunan cina. Bedanya kalau ruangan bawah tanah di rumah-rumah cina yang lain digunakan untuk menyimpan bahan makanan atau tempat air, maka ruangan bawah tanah ini dipergunakan sebagai ruangan tempat tinggal.

Tak jauh dari tempat dia tidur di lantai ada sebuah pembaringan. Kalau saja dia bergerak dalam gelap itu agak empat langkah ke kanan, maka dia akan menemui tempat tidur empuk itu. Tapi mana pula dia akan menyangka hal itu. Di dekat tempat tidur itu, di bahagian kepalanya ada sebuah lemari kaca. Di dalamnya si Bungsu mendapatkan tiga buah pistol dan dua buah bedil panjang. Lengkap dengan mesiunya. Ruangan bawah tanah ini nampak dijadikan semacam benteng oleh Babah gemuk itu Dia tak menyentuh senjata tersebut. Di samping tak mengerti cara memakainya, juga menganggap tak ada gunanya untuk dibawa.

Pistol atau bedil menimbulkan suara bila membunuh orang. Dia lebih suka memakai samurai. Dengan samurai dia bisa bertindak diam diam. Karena lelah dia berbaring di tempat tidur. Dia tak tahu sudah berapa lama dia tertidur ketika tiba tiba terbangun lagi. Ada seseorang dirasakan hadir di kamar berdinding beton di bawah tanah itu. Dia membuka mata dan berusaha untuk bangkit.

Namun sebuah tangan halus menahannya. Dalam cahaya lampu dinding yang telah dipasang, dia lihat gadis cina yang telah menyelamatkannya itu. Gadis itu duduk di tepi pembaringan. Menatap padanya dengan pandangan lembut.

“Berbaringlah .. lukamu belum sembuh ..” suaranya terdengar lembut.

Bahasa Melayunya terdengar bersih. Si Bungsu tetap duduk. Gadis itu menatap pada matanya.

“Terima kasih nona, nona telah menyelamatkan nyawaku. Apakah Jepang itu sudah pergi ?”

“Sudah. Tapi rumah ini tetap mereka awasi. Rumah ini sudah ditutup untuk tempat pelacuran. He,.. engkau tentu lapar. Sudah dua hari kau berada dalam lubang ini”

“.. Dua hari …?”

“Ya. Engkau masuk kemari tengah malam yang lalu. Kini hari kedua hampir sore, saya membawa makanan dengan gulai ikan, sambal la do dan petai. Suka sambal lado dan petai?”

Si Bungsu tak banyak bicara. Dia makan dengan lahap. Gadis itu ternyata juga belum makan. Mereka makan bersama.

“Engkau yang memasak makanan ini?” dia bertanya setelah selesai makan dengan bertambah sampai tiga kali.

“Bagaimana, enak ?”

“Hampir menyamai masakan ibuku …”

“Yang memasak etek Munah, pembantu kami …”

Si Bungsu kemudian teringat, bahwa dia harus segera pergi dari rumah ini. Tubuhnya meski belum segar, tapi dia rasa sudah kuat untuk melanjutkan perjalanan.

“Siapa namamu ..?”

“Mei-mei…”

“Mei mei ?”

“Ya, dan namamu ?”

“Bungsu …”

“Bungsu ? Engkau anak terkecil dalam keluargamu ?”

“Ya. Mei-mei.. Terima kasih atas bantuanmu. Saya tak bisa membalasnya. Saya harus pergi sekarang.”

“Kemana engkau akan pergi?” Si Bungsu termenung.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s