Tikam Samurai (Bagian 33)

Ya, kemana dia akan pergi ? Tak pernah ada tempat yang pasti dia tuju dalam set iap perjalananya. Tapi, bukankah dia mencari Saburo ? ingatan ini membuatnya ingin menanyakan pada Mei-mei. Bukankah tempat ini tempat perjudian dan tempat bersenang senang para perwira ?

“Saya mencari seorang perwira Jepang bernama Saburo. Apakah engkau mengenalinya Mei-mei ?”

“Saburo….., Saburo Matsuyama ?”

“Ya. Saburo Matsuyama Apakah engkau mengenalnya?”

“Saya mengenal hampir semua perwira yang bertugas di Payakumbuh ini”

“Di mana dia sekarang ?”

“Seingat saya sudah cukup lama dia tak kemari. Kabarnya dia pindah ke Batusangkar…”

“Batusangkar…?”

“Ya …engkau akan ke sana, membalas dendammu padanya ?”

“Ya. Darimana kau tahu Mei-mei ?”

“Saya melihat seluruh perkelahianmu dengan Jepang dan dengan Bapak dua hari yang lalu juga mendengar semua pembicaraan saat itu…”

“Bapak ?” Si Bungsu heran mendengar kata Bapak yang diucapkan Mei-mei.

“Ya. Babah gemuk itu adalah ayah tiriku …”

Si Bungsu sampai tertegak mendengar pengakuan Mei-mei. Hampir hampir tak dapat dia percayai, bahwa si Babah yang telah dia cencang itu adalah ayah tiri gadis ini. Bukankah dia melihat bahwa dia telah mencencang si Babah itu ? Lantas kenapa gadis ini menolongnya dari cengkeraman Jepang? Mei-mei menatapnya.

“Ayahmu ..?”

Si Bungsu bertanya perlahan “Duduklah Bungsu. Dia ayah tiriku. Aku melihat engkau mencencang tubuhnya seperti di rumah bantai. Tapi engkau tak perlu menyesal. Dia memang harus mendapat perlakuan yang demikian. Atas apa yang dia perbuat pada bangsamu dan pada diriku ..”

si Bungsu tak mengerti apa maksud ucapan Mei-mei.

“Dia menjadi mata mata Belanda. Menjadi mata mata Jepang. Dan lebih daripada itu dia adalah seorang Komunis ..”

“Komunis ..?” si Bungsu tak mengerti.

Sebagai anak desa yang memang lugu dia tak pernah mendengar nama komunis. Nama itu teramat asing bagi telinga anak desa Situjuh Ladang Laweh di pinggang Gunung Sago ini.

“Ya, komunis. Engkau tak tahu ..?” Gadis itu lalu bangkit. “Ikutlah saya ..”

Si Bungsu mengikuti gadis itu, yang membawa lampu dinding dan berjalan ke sebuah gang. Lobang di bawah tanah ini nampaknya cukup besar. Mereka sampai ke

sebuah kamar lain yang lebih besar dari kamar pertama. Di dalam kamar itu dindingnya dilapis kain merah. Di tengah, di depan sebuah meja, ada sebuah gambar cina dalam ukuran besar. Di bawahnya ada bendera merah dengan sebuah gambar kuning di tengahnya.

“Itu gambar pimpinan komunis cina. Mao TseTung. Dan bendera dengan gambar palu arit itu adalah lambang komunis …” Mei-mei menjelaskan.

Si Bungsu hanya menatap dengan melongo. Menatap bendera besar dengan gambar palu arit itu. Dia benar benar tak mengerti. Mei-mei tersenyum melihat kebingungannya. Dia duduk disebuah kursi, si Bungsu duduk di depannya. Si Bungsu masih dikuasai perasaan herannya. Kenapa gadis ini menolongnya, padahal bapaknya dia yang membunuh. Didepan matanya pula.

“Tentang Babah yang engkau bunuh, dia memang pantas mendapat hukuman seperti itu. Dia telah meracuni ayahku. Kemudian mengawini ibu. ibuku waktu itu hamil. Enam bu lan setelah mereka kawin, akupun lahir. Dia memerlukan uang untuk membiayai Partai Komunis di negeri ini. Dan dia juga memerlukan pengaruh serta pangkat untuk berkuasa. Untuk kedua maksud itu dia mempergunakan tubuhku. Aku tak berdaya melawan. Dia seorang ayah tiri yang berhati bengis. Yang suka memukul dan menyiksa orang. Ibuku meninggal dunia karena dia dikurung selama enam hari tanpa diberi makan. Peristiwa itu terjadi ketika aku berumur delapan tahun. ibu dikurung dan mati dalam kamar ini …”

Gadis cina itu kemudian menanggis isak mengingat jalan hidupnya yang teramat pahit. Si Bungsu hanya bisa mengucap perlahan. Lama gadis itu menangis, sampai akhirnya si Bungsu memegang bahunya.

“Tenanglah Mei-mei. Kurasa arwah ibumu sudah tenang di akhirat. Dendamnya telah kubalaskan”

“Ya, dendam ibu dan dendamku telah Koko balaskan. Terima kasih. Itulah sebabnya kenapa saya harus menyelamatkan Koko dari tangan Kempetai dua hari yang lalu…”

Si Bungsu terharu. Gadis itu memanggilnya dengan sebutan Koko. sebutan itu berarti abang dalam bahasa Indonesia. Sebagai sebutan terhadap adik perempuan adalah Moy-moy. Dia mengetahui itu dari beberapa temannya orang Tlonghoa yang jadi temannya dalam beberapa bulan terakhir. Meskipun gadis ini telah ternoda hidupnya, namun itu bukan atas kehendaknya sendiri. Dia pegang bahu Mei-mei, dan berkata lembut :

“Tenanglah Moy-moy. Aku akan melindungimu dari orang orang yang berniat mengganggumu”

Mei-mei memang terdiam. Gadis cina yang cant ik ini, berwajah bundar berhidung mancung dengan mata yang hitam berkilat, hampir hampir tak percaya bahwa anak muda yang dipanggilnya dengan Koko itu balas memanggilnya dengan sebutan Moy-moy. Dan ketika dia yakin bahwa memang anak muda itu berkata demikian, dia lalu tegak dan tiba tiba mereka telah berpelukan.

“Terima kasih Koko, terima kasih …” isaknya.

Si Bungsu memang seperti mendapatkan seorang adik. Dia pernah merasakan kasih sayang seorang kakak yang kemudian mati diperkosa Saburo. Kini dia seperti mendapatkan kembali tempat menumpahkan sayang yang telah hilang itu. Akan halnya Mei-mei, gadis Tionghoa malang yang berusia tujuh belas tahun itu adalah anak tunggal yang hidupnya selalu teraniaya. Lelaki yang diharapkannya menjadi pelindungnya adalah ayah tirinya. Tetapi lelaki itu, si Babah gemuk komunis itu, ternyata telah menjualnya dari satu lelaki ke lelaki yang lain. Gadis yang tak pernah mendapatkan perlindungan dan kasih sayang itu kini ada dalam pelukan seorang pemuda Melayu yang telah membalaskan dendamnya, dan pemuda itu memanggilnya dengan sebutan adik, alangkah terlindungnya dia terasa.

“Apakah Koko akan pergi ke Batusangkar mencari Saburo ?” Mei-mei bertanya ketika mereka kembali ke ruangan pertama.

Si Bungsu menatapnya. “Kalau aku pergi, dengan siapa engkau tinggal di sini, Moy-moy?”

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s