Tikam Samurai (Bagian 34)

Gadis itu menunduk. Lama dia menatapjari jari tangannya. Kemudian ketika dia mengangkat kepala, si Bungsu melihat matanya basah. Gadis itu berkata perlahan :

“Di sini tak ada lagi orang tempatku berlindung. Kalau aku tidak akan mendatangkan kesusahan bagi koko, aku ikut dengan koko. Kemanapun koko pergi …” Air mata lambat lambat membasahi pipinya. Nyata sekali suaranya adalah suara gadis yang dirundung sepi. Suara gadis yang amat butuh perlindungan dan kasih sayang. Suara seorang gadis yang mulai menginjak usia remaja, yang selalu ingin dekat dengan orang yang disayangi. Si Bungsu menarik nafas panjang. Dia benar benar menyayangi Mei-mei. Bukan karena gadis itu amat cant ik bukan pula karena gadis itu telah menolong nyawanya. Tapi gadis itu dia sayangi karena si gadis memang harus disayangi. Harus dilindungi. Dalam kasih sayang, perbedaan kulit dan asal usul tak pernah menjadi hambatan. Sebab rasa sayang muncul dari dalam tidak dipermukaan.

“Apakah ada familimu di Batusangkar ?” Mei-mei menggeleng.

“Di Bukittinggi?”

“Kalau di Bukittinggi ada. Adik jauh ibu. Tinggal di Kampung cina …”

Si Bungsu berfikir. Di akan mengantarkan gadis ini terlebih dahulu ke Bukittinggi. Di sana dia bisa tinggal di rumah saudara ibunya itu. Untuk dibawa kemana pergi memang akan menyusahkan. Bukan karena dia tak mau. Tapi yang akan dia hadapi adalah bahaya melulu. Dan dia tak mau membawa bawa Mei Mei kedalam bahaya. Nanti kalau urusannya dengan Saburo di Batusangkar selesai, dia akan menjeputnya ke Bukittinggi.

“Baiklah. Kita akan pergi ke Bukittinggi bersama, kalau keadaan telah memungkinkan …”

“Terima kasih koko, terima kasih”

Mei-mei melompat memeluk si Bungsu. Dia sangat bahagia bisa pergi bersama anak muda itu. Belasan tahun dia hidup di rumah ini. Disekap tak boleh keluar. Dia hanya bisa keluar dikala Hari Raya Imlek. Itupun tidak bisa jauh jauh. Tugas berat selalu menantinya di rumah. Memuaskan nafsu perwira perwira Jepang. Kini dia bersumpah untuk meninggalkan semua pekerjaan laknat yang dipaksakan padanya itu. Dia akan tobat dan minta ampun pada Tuhan. Tapi mereka baru bisa meninggalkan rumah itu setelah masa dua minggu.

Sebab selama jangka waktu itu, Kempetai tetap mengawasi rumah tersebut dengan ketat. Mei-mei terpaksa minta bantuan pembantunya, seorang wanita Minang, untuk membelikan keperluan mereka kepasar. Dan suatu malam, yaitu di saat mereka sudah merasa pasti untuk bisa melarikan diri, mereka lalu keluar dalam hujan lebat. Dengan membayar cukup tinggi, mereka bisa menompang sebuah bus yang akan berangkat ke Padang. Bagi mereka soal uang tak jadi halangan. Uang judi yang dimenangkan oleh si Bungsu ternyata diselamatkan Mei-mei ketika dia membersihkan jejak si Bungsu sesat sebelum Kempetai mendobrak pintu. Selain itu, mereka juga berhasil menemukan simpanan uang dan perhiasan emas milik ayah tiri Mei-mei. Jumlahnya bisa membuat mereka jadi orang kaya. Uang itu didapat si Babah dari hasil judi, hasil menjadi mata mata untuk Belanda dan Jepang, dan hasil menjadi germo bagi beberapa perempuan di rumahnya itu. Termasuk diri Mei-mei.

Di dalam bus itu hanya ada beberapa lelaki dan tiga orang perempuan. Perempuan yang dua separo baya, yang satu lagi adalah Mei-mei. Selain ketiga perempuan itu, penompang yang lainnya adalah enam orang le laki. Dalam hujan lebat, bus itu melaju membelah jalan raya yang nampaknya seperti ular raksasa berwarna hitam. Memanjang dan meliuk liuk di tiap tikungan. Lima lelaki penompang bus itu tak pernah menoleh ke belakang ketempat si Bungsu dan Mei-mei. Mereka hanya memandang sekali, yaitu ketika naik tadi. Setelah itu, kelima lelaki itu tetap memandang kedepan dalam kebisuan. Namun si Bungsu yang telah hidup di rimba raya, yang kini memiliki indera yang amat tajam, dapat merasakan bahaya yang datang dari kelima lelaki itu. Meski lelaki lelaki itu berdiam diri saja, bahkan saling berbisikpun tidak. namun firasatnya yang tajam membisikkan akan adanya bahaya. Dia tetap diam. Sementara bus itu berlari sambil terguncang guncang karena jalan yang berlobang lobang. Dalam diamnya dia mulai membuat perhitungan. Kenapa kelima lelaki ini sampai berniat tak baik pada mereka. Apakah itu hanya hayalannya saja? Tidak. dia tak pernah dibohongi oleh firasatnya.

Nah, mungkin ada tiga sebab kenapa mereka ingin berbuat tak baik. Pertama mungkin melihat Mei-mei yang cantik. Dizaman Jepang berkuasa, hampir tak pernah orang melihat perempuan cantik berada di luar rumah. Nah, mungkinkah lelaki lelaki ini menginginkan tubuh Mei-mei? Atau barangkali mereka telah mencium bahwa di dalam bungkusan yang dia bawa tersimpan uang dan perhiasan emas yang nilainya amat tinggi? Atau barangkali juga mereka mengetahui, bahwa Mei-mei berasal dari rumah bordil dimana si Babah menjadi mata-mata. Karena itu mereka menduga bahwa Mei-mei adalah mata mata Jepang pula. Kalau dugaan terakhir ini benar, maka si Bungsu tak begitu khawatir. Sebab tentulah kelima lelaki itu dari pihak pejuang pejuang Indonesia. Atau para lelaki itu merasa curiga atas kehadiran mereka berdua, sepasang anak muda, yang satu cina dan yang satu Melayu?

Pikirannya masih belum rampung, ketika bus tiba tiba berhenti. Dari cahaya lampu bus, si Bungsu segera mengetahui, bahwa mereka tidak lagi berada pada jalan utama menuju Bukittinggi. Nampaknya sebentar ini ketika dia melamun, bus telah dibelokkan kesuatu jalan kecil dimana dia kini berhenti. Si Bungsu mulai merasa bahwa firasatnya tadi akan terbukti. Kelima lelaki itu turun satu demi satu. Akhirnya tinggal kedua perempuan separoh baya tadi, si Bungsu, sopir dan seorang lelaki yang bertubuh kurus dan Mei-mei.

“Turunlah sanak berdua sebentar” Seorang lelaki yang bertubuh kurus, saat akan turun berkata pada si Bungsu. si Bungsu menatap saat dia turun.

“Dimana kita sekarang ..?” si Bungsu bertanya pada sopir.

“Disinilah”, sopir itu menjawab seadanya.

Dari jawaban itu si Bungsu tahu, bahwa sopir bus berada dipihak kelima lelaki itu.

“Mengapa kami harus turun ?” si Bungsu bertanya pada si Kurus yang sudah menjejakkan kakinya di tanah.

“Turun sajalah kalau sanak mau selamat …”

Si Kurus itu berkata dengan suara kering serak. Mei-mei merapatkan duduknya pada si Bungsu. Tangannya memeluk tangan si Bungsu erat erat.

“Jangan turun koko ..jangan turun ..” gadis itu berbisik ketakutan.

“Diamlah Moy-moy …”

“Hei, waang yang ada di atas, turunlah bersama anak cina itu”

Tiba tiba terdengar bentakan dari bawah. Mei-mei makin mengeratkan pegangan tangannya pada si Bungsu.

“Kenapa kita tak terus saja ?” si Bungsu masih mencoba bertanya pada sopir.

“Lebih baik kau turun saja daripada tubuhmu dilanyau mereka ..” Sopir itu menjawab dingin.

5 Comments

  1. Waah Kang… Ditunggu bundel lengkapnya nih. 12 tahun nih browsing nyari bundel lengkapnya. Terakhir baca kalo nggak salah si Bungsu udah di Australia…

  2. baa kok lamo bana sambungannyo da….?

  3. waduh…pusing saya hunting ebook ini,agak simpang-siur berita yang saya dapat…katanya ni buku ada duabelas episode?atau enam?
    Kalau ada link ebooknya komplit dong 😀

  4. wah….ma sambuangannyo bos…………….!

  5. baa kok lamo bana sambungannyo da…?


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s