Tikam Samurai (Bagian 38)

Terjangannya mendarat di pusat si Bungsu. Anak muda itu terjajar menghantam dinding di belakangnya. Kemudian tubuhnya melosoh turun. Matanya berkunang kunang. Dia ingin bangkit. Tapi Datuk itu datang lagi menerjang. Dan kali ini rusuknya kena. Rusuk kiri. Terdengar suara berderak. Tanpa dapat ditahan si Bungsu terpekik. Dua tulang rusuknya kupak. Datuk itu menerjang lagi dengan seringai buruk di bibirnya. Tubuh si Bungsu tercampak dari kaki penyamun yang satu ke kaki penyamun yang lain. Itulah malangnya karena tadi dia masih tenggang menenggang. Tak segera bersikap tegas kepada lelaki lelaki ini. Padahal dia sudah diberitahu oleh kedua perempuan yang satu bus dengannya dari Payakumbuh itu.

Bahwa lelaki lelaki itu adalah penyamun-penyamun yang sering merampok pedagang yang dalam perjalanan ke Bukittinggi dari Payakumbuh atau dari Padang Panjang. Dia terlalu menenggang. Dia hanya ingin membunuh Jepang yang membunuh keluarganya. Yang menjajah negerinya. Dia tak ingin membunuh bangsanya sendiri. Ternyata belas kasihannya memakan dirinya sendiri. Mei-mei memekik mekik melihat tubuh si Bungsu tercampak dari satu kaki ke kaki yang lain.

“Jangan siksa dia Jangan siksa diaaa. Kuserahkan apa yang kalian minta.Jangan siksa dia … Koko …Koko”

Mei Mei menatap memohon. Lambat lambat di antara rasa sakit dan terguling guling dilanyau cuek itu, si Bungsu mendengar suara Mei-mei. Hatinya luluh ketika mendengar betapa gadis itu bersedia memberikan apa saja, termasuk dirinya, asal lelaki lelaki itu berhenti menganiaya dirinya. Dia coba menyusun ingatannya kembali. coba mengingat dimana samurainya terjatuh.

Lalu, tiba tiba sekali, dengan sisa sisa tenaga tubuhnya bergulingan amat cepat. Dengan mengandalkan pendengarannya yang amat tajam, telinganya menangkap suara samurainya yang tersentuh kaki salah seorang lelaki itu. Seperti magnit, ke sanalah tubuhnya bergulingan amat cepat. Para lelaki itu masih berusaha mengejarnya. Masih belum mengetahui dengan sepenuhnya bahwa tubuh anak muda itu bergulingan bukan lagi karena tendangan mereka. Ketika mereka memburu lagi, saat itulah tangan si Bungsu berhasil meraih samurainya. Dia tak bisa tegak sempurna. Rusuknya yang patah di sebelah kiri menghalangi gerakannya.

Namun dengan berlutut tiba tiba samurainya bekerja. Dalam tiga kali gerakan

pertama, tiga lelaki dimakan samurainya. Perut mereka robek Ada yang dadanya belah Menggelepar dan mati. Datuk itu kaget. Tapi dia memang seorang pesilat tangguh. Dia menendang cepat sekali. Wajah si Bungsu berubah keras seperti baja. Ketika kaki Datuk itu menendang ke wajahnya, samurainya bekerja. Dan amat cepat sekali, kaki datuk itu buntung sebatas lutut. Yang seorang lagi, yang menyerang dengan keris dia pancung tentang pinggangnya. Pinggang lelaki itu hampir putus.

Datuk itu terpekik, namun si Bungsu menggeser tubuh. Dan samurainya kembali bekerja. Kaki kiri Datuk itu putus sebatas betis. Datuk itu terguling. Samurai si Bungsu bekerja lagi. Kedua tangan Datuk jahanam itu putus hingga siku. Anak buahnya yang satu lagi, yang masih selamat, menggigil. celananya segera basah.

Dan tiba t iba dia balik kanan. Lari kedalam kegelapan. Dialah satu satunya yang selamat. Datuk itu menggelepar gelepar. Memekik mekik. Minta ampun. Kaki dan tangannya putus semua

“Bunuhlah saya. Tolong lah. Jangan biarkan saya menderita … oh tolonglah ..” dia meratap. Bungsu menatapnya dengan wajah datar. Kemudian dia berkata dengan suara tanpa emosi.

“Engkau takkan mati Datuk. Darahmu akan kuhentikan alirannya agar kau tak mati kehabisan darah. Kematian terlalu mulia bagimu. Engkau akan tetap hidup dengan tubuh seperti sekarang. cukup banyak orang sengsara olehmu. Mulai hari ini, kau akan merasakan kesengsaraan yang lebih hebat dari itu. Ini adalah balasan dari kejahatan selama ini. Engkau seorang datuku seorang penghulu, seorang kepala suku. Yang seharusnya membimbing anak kemenakanmu. Yangseharusnya meluruskan yang bengkok, menyambung yang singkat menyayangi yang muda, melindungi yang lemah. Tapi ternyata gelar yang engkau sandang engkau laknati sendiri …”

“Ampun saya anak muda … tolonglah saya. Jangan biarkan diri saya hina begini. Bunuhlah saya .. bunuhlah saya ..” ratap datuk yang sudah lenyap seluruh kepongahannya Si Bungsu hanya menatapnya dengan dingin sambil menekan beberapa bahagian di tempat tubuhnya yang putus, darah tiba-tiba berhenti mengalir. Kemudian menatap ketujuh mayat yang bergelimpangan dalam kamar tunggu penginapan itu. Lalu lambat lambat dia berbalik. Menghadap pada Mei-mei. Gadis itu berlari memeluknya.

“Koko ..”

“Mari kita pergi Moy-moy ..”

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s