Tikam Samurai (Bagian 39)

Dan malam itu, mereka meninggalkan penginapan tersebut. Si Bungsu tahu dalam waktu singkat, Kempetai akan memenuhi penginapan itu. Dan dia tak mau ditangkap. Dengan sebuah bendi yang berada di depan penginapan itu, mereka pergi membelah malam yang dingin. Malam yang hampir bersahut dengan subuh.

“Ke mana kita koko ..?”

“Saya tak tahu Moy-moy. Saya tak punya kenalan di sini Jangan ke rumah famili ibumu di Kampung cina, berbahaya bagi keluarganya.”

“Kita kepenginapan lain koko ?”

“Tidak. Semua penginapan akan digeledah Kempetai…”

Kusir bendi, seorang lelaki tua, yang tadi mengintip perkelahian dalam penginapan itu mendengarkan saja percakapan kedua anak muda tersebut. Dari pembicaraan mereka, dia mengetahui, bahwa kedua anak muda ini bukan suami istri. Dia mengetahui sedikit banyaknya bahasa cina. Sebab dia bersahabat dengan sebuah keluarga Tionghoa yang tinggal di daerah Tembok. yang berdekatan dengan Kampung cina. Kedua anak muda ini, kalau tidak sepasang kekasih, pastilah dua orang bersahabat. Kusir tua itu juga mengetahui, bahwa Datuk basunguik buruk dan teman temannya yang dibantai anak muda ini adalah penyamun yang ditakuti. Markas Datuk itu dan anak buahnya terletak di dalam rimba buluh di Tambuc. Suatu tempat angker di dekat kampung Tigobaleh di tepi Kota Bukittinggi.

Banyak orang yang mengetahui bahwa rimba buluh Tambuc itu adalah markas dan sekaligus tempat persembunyian para perampok. Namun tak ada yang berani mengadukan pada Jepang. Apalagi bertindak sendiri menangkap mereka. Datuk ini terkenal bengis. Hal itu hampir saja terbukti kalau anak muda ini tak cepat dengan samurainya tadi. Kini kusir bendi itu dapat menangkap dari pembicaraan kedua penompangnya ini, bahwa mereka kesulitan tempat menginap. Hatinya jadi hiba.

“Seluruh kota akan segera diperiksa oleh Kempetai ..” kusir itu berkata perlahan. Si Bungsu menoleh padanya.

“Apakah orang orang itu dilindungi oleh Jepang ? “ tanyanya ingin tahu.

“Tidak. Tapi Jepang akan mencari set iap pembunuh. Apalagi yang kau bunuh malam ini tujuh orang. Suatu jumlah yang tak sedikit Jepang membiarkan gerombolan Datuk itu merajalela untuk kepentingan mereka secara tak langsung. Dalam setiap kekacauan, mereka memetik untungnya …”

Si Bungsu menarik nafas panjang. Mereka sama sama terdiam. Yang terdengar memecah sunyi adalah suara ladam kuda yang beradu dengan aspal. Membelah malam yang telah jauh menikam larut. Si Bungsu tak menyadari kemana bendi itu tengah menuju. Rusuknya yang patah membuat dirinya letih tak terkira. Makan kaki lelaki lelaki di penginapan tadi benar benar meluluhkan tubuhnya. Mei-meilah yang pertama menyadari, bahwa bendi itu makin jauh dan makin masuk kepalunan gelap. Dia menggoyang tubuh si Bungsu yang bersandar ke dirinya. Si Bungsu tak bergerak.

“Koko .. Koko …” panggilnya perlahan dekat telinga si Bungsu.

Si Bungsu mengeluh pendek. Tak bisa menjawab, tapi keluhan itu sebagai tanda bahwa dia mendengarkan panggilan M ei-mei.

“Kemana kita Koko ?” ada nada cemas dalam suara gadis itu.

“Kemana …?” si Bungsu balas bertanya perlahan.

“Lihatlah, kita dibawa kepalunan rimba …” bisik Memei.

Masih dalam keadaan menyandarkan kepalanya yang terasa amat berat, tanpa membuka mata, si Bungsu bertanya perlahan. “Akan bapak bawa kemana kami ?”

“Kalian tak punya tempat untuk menginap di kota anak muda ..”

“Ya. Tapi kini kami akan bapak bawa kemana ?”

“Ke rumah saya …”

“Ke rumah bapak …?”

“Ya. Di rumah saya kalian akan aman. Hais ck ck ..” kusir itu mendecah kudanya.

Terasa goncangan agak keras ketika bendi itu mulai meninggalkan jalan beraspal dan memasuki jalan kecil yang tak datar. Mei-mei memeluk bahu si Bungsu agar jangan sampai melosoh turun.

“Kerumah bapak …?” si Bungsu mengulangi tanyanya perlahan.

Dan setelah itu dia tak sadar diri. Mei-mei tak bisa berbuat apa apa. Kalaupun dia berniat melawan, dan bisa melarikan diri, namun dia tak akan melakukannya. Dia tak mau meninggalkan anak muda yang telah menolongnya ini. Kalaupun bencana akan menimpa dirinya, dia ingin tetap berada di dekat si Bungsu.

“Haissy ck … ck Haissy …” kusir bendi tersebut mendecah kudanya lagi.

Kuda itu seperti berjalan dalam cahaya terang. Berlari seenaknya. Melangkahi lobang dan batu sebesar-besar tinju. Dia hafal jalan itu. Meski malam yang hampir disambut subuh itu amat kental gelapnya. Mei-mei coba memperhatikan jalan dan belantara yang mereka lalui. Jalan itu di kiri kanannya penuh oleh pohon pohon. Seperti hutan saja layaknya. Tapi yang paling banyak di antara pohon pohon itu adalah pohon bambu.

Besar dan tinggi seperti akan menjangkau langit. Dahulu waktu kecil, dia pernah tinggal di kota ini. Tapi saat itu dia masih kecil, kemudian si Babah, ayah tirinya itu, membawa mereka pindah ke Payakumbuh. Waktu kecil itu, dia tak pernah sampai kemari. Paling paling hanya ke rumah tetangga di kampung cina. Tiba tiba bendi itu berhenti. Kusir berseru, kemudian dia berjalan ke belakang. Ke tempat si Bungsu dan Mei-mei duduk.

“Mari kutolong menurunkannya …” kata kusir tua itu lagi sambil memegang tangan si Bungsu.

Lalu tiba tiba, dalam gerakannya yang amat cepat tubuh si Bungsu telah berada di bahunya. Pintu pondok terbuka. Seorang perempuan separoh baya muncul

dengan lampu togok di tangannya. Mei-mei turun dari bendi dan mengikuti kusir itu. Saat akan masuk kepondok perempuan paroh baya itu tertegun menatap Mei-mei. Tapi hanya sebentar. Kemudian menghindar dari pintu memberi jalan pada Mei-mei.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s