Tikam Samurai (Bagian 47)

Tadi dia mendengar ada tiga Jepang lagi menjaga di luar rumah. Dia ingin menyudahi ketiga Jepang jahanan itu. Perlahan lahan dia menuju ke depan. Tiba tiba langkahnya terhenti. Dari depan seorang Kempetai rupanya menaruh curiga akan situasi rumah yang sepi itu. Dengan bedil terhunus dia mengitari rumah tersebut. Dan dia melihat sesosok bayangan tegak mematung dekat dinding.

“Siapa itu..!” Jepang itu membentak sambil mengacungkan bedil yang siap memuntahkan peluru.

“Malaikat maut..” Jawab Mei-mei dengan suara mendesis tajam. Dan seiring dengan itu tubuhnya bergulingan di tanah. Dalam tiga kali bergulingan yang amat cepat, dari posisi berbaring menyamping di tanah, kaki kanannya menghantam keatas. Terdengar seruan terkejut dan kesakitan dari mulut Jepang itu ketika sisi kaki Mei-mei yang terlatih mendarat di perutnya. Namun Jepang itu tak rubuh. Dia hanya terjajar kebelakang.

Bedil masih terpegang ditangannya. Dan justru saat itu, dalam keadaan terjajar kebelakang itu, telunjuknya menarik pelatuk bedil. Suara dentaman bedil mengoyak malam yang kelam. Membuat terkejut kedua temannya yang berada di depan. Mereka segera berlari kesamping.

Mei-mei merasa bahunya pedih. “Aku kena,” bisik hatinya. Namun dia tak menyerah. Masih dia ingat betapa jahanam ini ketika di Payakumbuh dulu melanyau dirinya. Mungkin memang tidak mereka. Tapi komandan komandan mereka. Namun apa bedanya. Tubuhnya segera bangkit. Sebelum kedua Kempetai yang ada di depan sampai ketempat itu, sebuah tendangan lagi menghantam kerampang Jepang itu. Kali ini bedilnya jatuh. Kedua tangannya menggigil memegang tempat yang baru saja kena tendangan. Terdengar keluhan yang menegakkan bulu tengkuk.

Dia segera saja jatuh di kedua lututnya. Tendangan itu benar benar tendangan malaikat maut. Ketika dia terjatuh di atas kedua lututnya itulah sebuah tendangan sisi kaki mendarat di tengkuknya. Riwayat Kempetai itu the end di sana. Saat itu pula kedua serdadu yang tadi ada di depan sampai di situ. Mereka melihat temannya terduduk. Yang paling depan mengangkat bedil. Namun jaraknya dengan Mei-mei terialu dekat. Bedilnya direngutkan oleh gadis itu. Tubuh Jepang itu terhuyung kedepan.

Sebuah tinju menyongsong mulutnya. Tangan Mei-mei terasa ngilu. Buku jarinya mendarat dengan telak di bibir Jepang itu. Tapi kalau buku buku jarinya ngilu, maka Jepang itu merasa mulutnya bengkak. Dan hampir saja dia menelan giginya yang copot tiga buah. Kempetai ini tak melihat dengan jelas siapa lawannya. Namun dia tahu, orang ini pastilah pesilat. Dan mereka sudah mengetahui, bahwa silat di Minangkabau tak dapat dianggap enteng. Bedilnya sudah sejak tadi lepas. Yaitu sejak mulutnya kena bogem mentah. Tapi kini dengan cepat kakinya melayang kedepan. Mengirimkan sebuah tendangan karate bernama maei-geri yang telak.

Mei-mei melihat gerakan yang cepat itu. Dia menyilangkan kedua lengannya kebawah, menanti tendangan itu. Sebuah tangkisan Silang Bawah yang ampuh dari Silek Tuo dalam menangkis tendangan yang datang dari bawah. Tapi gadis ini memang belum berpengalaman. Dia memang mahir bersilat, tapi baru kali ini berkelahi langsung. Dan justru mempertaruhkan nyawa. Tangkisan silang bawah itu sebenarnya memang ampuh untuk menangkis tendangan pesilat Minang yang umumnya tak bersepatu. Tapi Kempetai ini memakai sepatu. Lagipula tangkisannya agak teriambat. Tak ampun lagi, tulang tangannyalah yang kena tendang. Mei-mei terpekik. Tangannya segera saja jadi bengkak. Dan Jepang itu segera menyadari dari suaranya, bahwa lawannya ini adalah seorang perempuan.

“Onaaa …” serunya.

“Onaa ?” (perempuan) tanya kawan di belakangnya.

“Haik…” jawabnya.

Dengan jawaban begitu, Kempetai itu maju ingin memeluk Mei Mei. Ingin menangkap dan meringkusnya hidup hidup, Namun disinilah kesalahan tentara Jepang itu. Disini pula kebanyakan kesalahan setiap lelaki dalam menghadapi perempuan. Selalu mendahului nafsu. Begitu dia mendekat, Mei-mei yang sudah bertekad untuk membunuh atau dibunuh itu segera menghunus samurai pendek yang tadi dia ambil dari pinggang Kempetai yang mati dalam bilik.

1 Comment

  1. Lo kok habis sambungan nyo mano? tanggung ni


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s