Tikam Samurai (Bagian 49)

Istri Datuk itu memang tak melihat jalan lain yang lebih baik selain mengikuti petunjuk Mei-mei. Dengan mengerahkan semua tenaganya, dengan bantuan si Upik,

dia menyeret kelima mayat Kempetai itu ke lobang pembakaran sampah di belakang rumah. Mei-mei hanya mampu melihat dari tempatnya bersandar. cukup lama pekerjaan itu mereka lakukan. Setelah selesai istri Datuk itu berniat membawa Mei-mei masuk. Namun Mei-mei menggeleng.

“Tidak etek. Berbahaya kalau saya masuk kerumah.

Kalau Kempetai datang dan ternyata teman temannya tak ada, mereka akan memaksa kita. Barangkali mereka juga berniat memperkosa saya. Dan mereka akan melihat dan mengetahui luka saya ini adalah luka bekas tembakan. Mereka akan curiga. Kematian kelima teman mereka akan segera mereka ketahui. Sembunyikan saja saya ke tempat lain. Bawa saya kepondok kecil di tengah rumpun bambu di samping sana. Biarlah saya di sana menjelang koko pulang …”

“Saya akan ikut dengan uni …” si Upik berkata sambil menangis.

“Tidak Upik. Upik harus tetap bersama etek di rumah. Tolong ambilkan obat di kamar uni. obat ramuan yang dulu diberikan koko kepada kita. Ingat ?”

Upik mengangguk. Kemudian cepat masuk. Mengambil obat, kain dan beberapa potong kue yang mereka beli siang tadi. Kemudian sebuah bantal dan tikar. Dengan suluh mereka segera menuju kepondok kecil di tengah hutan bambu itu. Pondok itu dibuat oleh si Bungsu untuk istirahat jika selesai latihan. Sesampai d i pondok Mei-mei minta tolong menaburkan obat ramuan itu di lukanya.

Peluru bedil Kempetai itu ternyata menembus bahunya dari depan tembus ke belakang. Luka di belakang tiga kali selebar luka yang di depan. Gadis itu sudah sangat pucat karena darah banyak keluar. Setelah ramuan obat yang dibawa si Bungsu dari gunung Sago itu ditebarkan dilukanya, dia kelihatan sedikit tenang.

“Pulanglah etek, Upik. Kalau koko datang, katakan aku di sini …”

“Tidak. Upik tidak pulang. Upik di sini mengawani uni …”

Si Upik tak tahan untuk tak menangis melihat penderitaan Mei-mei. Mei-mei jadi terharu. Dia belai kepala adiknya itu.

“Tidak Upik. Upik harus menemani amak di rumah.

Bagaimana kalau Jepang datang, dan dia menganggu amak …?”

“Amak juga di sini. Amak jangan pulang. Kita di sini saja bersama uni ya mak?” si Upik membujuk ibunya diantara tangisnya.

“Tidak Upik. Kalau Upik dan amak di sini, Jepang pasti curiga. Mereka akan membakar rumah dan mencari kita sampai dapat. upik dan amak harus di rumah. Menjawab pertanyaan Jepang yang datang.

Mei-mei berusaha meyakinkan gadis kecil itu. Akhirnya Upik pulang juga bersama ibunya. Mei-mei tinggal sendiri. Dia tak berani menghidupkan lampu togok yang ada di pondok itu. Tidak juga menghidupkan api unggun untuk menghalau nyamuk. Dia khawatir kalau api yang dia pasang akan kelihatan oleh Jepang. Gadis ini memang mempunyai firasat yang tajam. Sebab tak lama setelah Upik dan ibunya sampai di rumah, sepasukan tentara Jepang sampai pula di sana.

Sementara itu, di sebuah kedai kopi di pasar atas, si Bungsu telah menantikan kedatangan seorang lelaki. Bendinya tegak tak jauh dari kedai kopi. Kegiatan Jepang nampaknya makin sibuk menjelang awal Agustus itu. Perang melawan Sekutu di Samudra Pasifik mengirimkan berita tak menyenangkan Jepang ke seluruh tanah jajahannya. Tiba tiba si Bungsu melihat lelaki yang dia nanti itu muncul dari arah Jam Gadang.

Lelaki itu adalah kurir dari Datuk Penghulu Basa. Dari dia d iharapkan berita tentang dimana kini Kapten Saburo Matsuyama berada. Sampai saat ini, si Bungsu belum mengetahui kalau Kapten yang telah naik pangkat jadi Mayor itu telah dipaksa pensiun dan dipaksa pulang ke Jepang oleh Kolonel Fujiyama. Lelaki itu nampak tergesa. Si Bungsu hanya menoleh sebentar. Kemudian membelakangi le laki itu, menghadap kopi dan pisang gorengnya. Lelaki itu mengambil tempat duduk disampingnya.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s