Kapan Makan Bajamba di Mulai?

Makan Bajamba merupakan tradisi makan bersama dalam satu piring besar, yang berasal dari Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Lalu diikuti oleh daerah-daerah lainnya di Sumatera Barat. Kegiatan ini dilaksanakan dalam acara-acara khusus, seperti baralek (kenduri) atau pesta adat lainnya. Para “peserta” makan tersebut biasanya terdiri dari lima orang, duduk melingkar dengan cara bersimpuh bagi perempuan dan baselo (bersila) bagi para pria. Lauknya diletakkan di tengah-tengah tumpukan nasi.

Makan bajamba ini juga mempunyai aturan, diantaranya adalah kita hanya boleh mengambil apa yang ada di hadapan kita. Posisi duduk harus tegap, tidak boleh membungkuk. Tangan kanan menyuap dan tangan kiri menampung di bawah mulut untuk menjaga kalau-kalau ada yang tercecer dari suapan kita. Yang tercecer tadi, dipindahkan ke tangan kanan dan “dilempar” ke mulut. Kita harus bisa menghabiskan apa yang ada di “wilayah” suapan kita. Sehingga, tidak ada yang tersisa di piring.

Selanjutnya yang menjadi pertanyaan adalah sejak kapan tradisi makan bajamba ini dimulai? Dan darimana datangnya tradisi tersebut. Dalam literatur sejarah Minangkabau, penulis belum menemukan sejak kapan tradisi makan bajamba tersebut dimulai. Namun penulis mencoba mencari sumber yang bisa mendekati untuk menjawab pertanyaan di atas. Ada beberapa temuan yang berhasil penulis temukan, diantaranya tradisi makan bajamba atau makan bersama tersebut ternyata tidak hanya milik orang Minangkabau. Di beberapa daerah lainnya ternyata ada juga tradisi makan bersama ini. Di Lombok Barat tradisi ini ternyata juga dapat kita temui. Mereka menyebut dengan istilah Begibung. Warga kampung Arab di Ampel juga mengenal tradisi ini dengan sebutan Nasi Kebuli. Di negara tetangga seperti India dan Malaysia juga ada tradisi ini dan mungkin lebih banyak lagi.

Penulis mencoba menelusuri lebih jauh tentang keberadaan makan bersama ini dan penulis menemukan hubungan tradisi tersebut dengan adab makan yang di ajarkan oleh nabi Muhammad SAW. Beberapa adab makan yang diajarkan beliau adalah:

1. Makan bersama

Berkumpul menghadapi hidangan dan makanan secara berjama’ah adalah suatu yang dianjurkan bagi kaum muslimin di samping akan mendapatkan keutamaan berdasarkan hadits berikut:

’Berjama’ahlah dalam menyantap hidanganmu dan sebut nama Allah padanya, niscaya akan mengandung berkah bagimu. (Silsilah Hadits-hadits Shahih no. 664).

Berkenaan dengan seseorang yang datang kepadanya dan ia berkata: Hadits ini dikabarkan oleh Rasulullah SAW, Wahai Rasulullah, kami ini setiap kali makan tidak pernah kenyang. Maka Rasulullah berkata: “Pasti masing-masing kamu makan sendiri-sendiri. Dia menjawab: benar ya Rasulullah. Rasulullah berkata: “Berjama’ahlah dalam menyantap makananmu.”

Hadits di atas memerintahkan kepada kita agar setiap kali makan supaya berkumpul melingkar pada satu nampan makanan dan tidak makan sendiri-sendiri, sebab makan sendiri-sendiri itu disamping akan membuat masing-masing orang yang makan itu tidak akan kenyang (seperti kata shahabat di atas) juga tidak mendapatkan berkah/kecukupan. Karena kecukupan itu akan diperoleh dengan makan bersama, meskipun jumlah peserta hidangan bertambah, sebagaimana kata Nabi “Makanlah berjama’ah dan jangan bercerai-berai, sesungguhnya makanan satu orang itu cukup untuk dua orang”.

“Sesungguhnya makanan satu orang itu cukup untuk dua orang makanan dua orang cukup untuk tiga atau empat orang dan makanan empat orang cukup untuk lima atau enam orang. (Silsilah hadits-hadits shahih no. 895).

2. Makan dengan menggunakan Shahfah/Qash’ah (nampan) dan di atas hamparan

Makan berjama’ah di atas hamparan dengan menggunakan Shahfah. Salah satu sunnah Nabi yang harus diikuti adalah : ” tidaklah makan diatas meja makan dan tidak pula menggunakan Sukurrajah (Diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Syamail, shahih Bukhari no. 5386 dalam kitab Fathul Bari 9/532).

Ibnu Hajar berkata: “Guru kami berkata dalam (Syarah at-Tirmidzi): “Sukurrajah itu tidak digunakan karena mereka (Rasulullah dan para shahabat) tidak pernah menggunakannya, sebab kebiasaan mereka makan bersama-sama (dengan Shahfa-pent) atau karena makan dengan menggunakan sukurrajah itu menjadikan mereka tidak merasa kenyang. (al-Fath 9/532).

3. Mengambil suapan yang jatuh

Nabi berkata: “Apabila salah seorang dari kamu makan, kemudian suapannya jatuh dari tangannya, hendaklah ia membersihkan apa yang kotor darinya lalu memakannya, dan janganlah ia membiarkannya untuk (dimakan) setan. (Silsilah hadits-hadits Shahih) no. 1404).

Hadits ini mengajarkan kepada kita agar tidak menyia-nyiakan makanan yakni dengan tidak membiarkan makanan yang jatuh untuk dimakan setan.

Dari ketiga adab makan yang dianjurkan Rasulullah SAW tersebut, ada semacam kemiripan dengan tradisi makan bajamba. Makan secara bersama-sama dengan menggunakan nampan yang besar dan tidak membiarkan makanan yang jatuh terbuang sia-sia.

Dari keterkaitan tersebut, untuk sementara panulis dapat menyimpulkan bahwa tradisi makan bajamba diadopsi dari anjuran nabi Muhammad SAW. Tapi kapan tradisi tersebut masuk ke Minangkabau, penulis belum bisa menyimpulkan. Kalau memang benar tradisi makan bajamba merupakan akulturasi budaya dari ajaran Rasulullah SAW, maka tentulah tradisi tersebut muncul setelah islam masuk ke Minangkabau. Menurut  hasil “Seminar Sejarah Masuknya Islam di Minangkabau” yang berlangsung di Kota Padang 23-27 Juli 1969, maka agama Islam telah masuk di Minangkabau pada abad pertama Hijriyah atau abad ke 7-8 M.

Tulisan pendek ini mungkin belum bisa menjawab secara utuh pertanyaan pada judul di atas. Namun setidaknya ini  merupakan langkah awal kita untuk tetap menghargai budaya yang telah mengakar dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu tindakan kita sebagai orang Minang dalam melestarikan adat dan budaya adalah dengan mengkaji dan menuliskan tentang sejarah tersebut secata utuh dan benar.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s