BAB I MATAVA-SE, RAJA BATU KARANG

Seminggu setelah kedatangan Sternau, Dryden

mengajaknya bepergian menunggang kuda. Mereka pergi

ke luar kota dan membiarkan kudanya lari seenaknya di

atas tanah yang bergunung. Pada perjalanan pulang

mereka melihat tembok panjang di tepi jalan dan orang

Inggris itu berkata, “Akhirnya hari ini dapat saya

memenuhi janji.”

“Maksud Anda mengenai makam itu?”

“Benar,” kata Dryden sambil menunjuk ke atas tembok.

“Anda melihat bangunan makam itu?”

“Yang bertiang corak corinthe itu?”

“Benar. Dalam ruang makam di situ Fernando

disemayamkan.”

“Bolehkah kita masuk ke dalam?”

“Boleh. Pintu gerbang pekuburan pada siang hari selalu

terbuka.”

Mereka turun dari kudanya, menambatkan kuda lalu

masuk ke dalam. Sudah ada banyak pengunjung. Mereka

berbuat pura-pura mempunyai tujuan lain pergi ke situ.

Kemudian mereka seolah-olah kebetulan berjalan di

samping ruang makam. Jalan masuk ke situ ditutup

dengan sebuah pagar, namun pagar itu rendah sehingga

dapat dilangkahi orang dengan mudah.

“Anda yakin, inilah makamnya, my Lord?” tanya

Sternau.

“Benar. Ini sesuai dengan gambaran yang diberikan

pada saya. Lagi pula, lihat, nama Rodriganda tertera juga

di situ.”

“Agak mudah juga menemukannya. Mari kita pergi lagi.”

“Bilamana.Anda hendak melakukan penyelidikan?”

“Malam ini juga. Anda turut hadir juga?”

“Sebaiknya jangan. Saya mewakili sesuatu bangsa,

maka harus bertindak hati-hati.”

Menjelang tengah malam tiga orang berjalan menuju ke

pekuburan. Malam itu malam kedua setelah bulan baru,

maka agak gelap. Mereka memanjat tembok. Ketiga orang

itu Sternau, Mariano, dan Unger. Mariano dalam delapan

hari yang lalu itu kesehatannya demikian membaik,

sehingga ia dapat turut dalam petualangan ini.

“Diam di sini dahulu!” bisik Sternau. “Saya akan

melihatlihat dahulu, apakah sudah aman benar.”

Ia menyelidiki pekuburan dengan seksama. Ia baru

kembali setelah ia yakin, bahwa tidak ada bahaya

mengancam mereka.

“Mari, ikut saya, tetapi hati-hati!”

Mereka menyelinap ke ruang makam. Sternau lebih

dahulu melangkahi pagar, kemudian menyusul kedua

kawannya. Kini mereka berdiri di hadapan sebuah tingkap

besi yang kukuh kuat, gunanya sebagai penutup ruang

makam itu.

“Tingkap ini harus dilepas sekrupnya!” kata Sternau.

Sebelumnya ia telah menyelidiki tingkap dan membawa

sebuah obeng. Ketiga orang itu bekerja tanpa bersuara.

Akhirnya tingkap itu dapat dibuka. Ada sebuah tangga

kecil yang menuju ke bawah. Beriring mereka menuruni

tangga. Sternau di muka, meraba-raba sekelilingnya

hingga ia menemukan sebuah peti.

“Di sini ada sebuah peti,” katanya.

“Unger, nyalakanlah lentera, tetapi jangan sampai

cahayanya kelihatan dari atas.” Unger menyalakan lentera.

Cahayanya yang agak suram menerangi sebuah peti mati.

Ada sebuah lagi dekatnya, yang ada tulisannya dengan

huruf emas, berbunyi: “Don Fernando, Conde de

Rodriganda y Sevilla.”

Tanpa berkata Sternau menunjuk kepada narna itu,

kemudian mencari sekrup-sekrup yang terdapat pada peti

itu.

“Apa yang akan kita temukan di dalamnya?” bisik

Mariano.

“Atau kosong belaka, atau tulang belulang bekas paman

Anda Fernando,” jawab Sternau.

“Mengerikan juga!” kata Mariano, berdiri bulu

tengkuknya.

“Bayangkan saja, keponakan bekas orang yang diculik

berdiri di hadapan peti mati pamannya.”

“Bersiaplah! Kita bukanlah pembongkar ataupun

pencuri mayat. Kita bertindak demi keadilan dan karena

itu kita dapat mempertanggungjawabkan segala perbuatan

kita terhadap Tuhan maupun terhadap hati nurani. Mari,

kita membukanya!”

Sekali lagi obeng bekerja keras. Sekrup-sekrup itu dapat

di lepas dengan mudahnya. Setelah lepas sekrup-sekrup

itu, ketiga orang itu saling berpandangan dengan wajah

sungguh-sungguh.

“Sekarang, demi Allah, kita buka tutupnya,” kata

Sternau.

Ia membungkuk lalu mengangkat tutupnya. Tutup itu

melejit dari tangannya dan jatuh kembali. Terdengar bunyi

debuk keras yang berkumandang ke segenap penjuru.

Ketiga orang itu saling berpandangan.

“Seakan orang yang meninggal itu memprotes

perbuatan pengganggunya dalam istirahatnya,” bisik

Mariano.

“Ia tidak akan mengutuk kita. Kita berbuat demi

kebaikannya, untuk mengetahui apakah tidak terjadi

sesuatu dengannya,” jawab Sternau.

Kembali ia mengangkat tutup itu dengan lebih hati-hati

lalu meletakkannya ke atas lantai. Unger menerangi peti

yang sudahterbuka itu … ketiga orang itu tercengangcengang

melihatnya.

“Peti itu kosong!” kata Mariano. “Tepat seperti

dugaanku,” kata Sternau. “Tidak pernah ada mayat di

dalamnya,” tambah Unger.

“Itu tidak benar,” kata Sternau. la mengambil alih

lentera dari tangan Unger lalu menerangi kain lapis

suteranya yang berwarna putih itu.

“Lihatlah! Masih jelas nampak bekas-bekas mayat itu

pada kain lapis itu.”

“Kalau begitu pamanku benar sudah meninggal!”

demikian kesimpulan Mariano. “Namun mengapa

mayatnya dikeluarkan?”

“Bukanlah mayat yang dikeluarkan, melainkan orang

yang masih hidup,” kata Sternau. “Tidak ada gunanya

untuk mengeluarkan mayat itu. Bila ada racun yang dapat

membuat orang jadi gila, maka harus juga ada racun yang

dapat membuat orang mati semu.”

“Kalau begitu, orang yang dinaikkan ke atas kapal di

Vera Cruz lalu dijual di Harrar itu, benar-benar don

Fernando de Rodriganda.”

“Itu sudah pasti. Mari kita menutup peti itu kembali

dengan sangat hati-hati. Perbuatan kita tidak boleh

ketahuan oleh siapa pun.”

Setelah selesai pekerjaan itu, lentera dipadamkan.

Ketiga orang itu memanjat tangga;lagi ke atas lalu

menyekrup tingkap kembali. Mereka melangkahi pagar,

keluar dari pekuburan tanpa kedengaran orang.

Di rumah Lord Dryden sedang menantikan hasil

penyelidikan ini dengan tidak sabar. Ia telah berpesan

pada Sternau dan Mariano untuk langsung menghadap

dia. Dryden tercengang-cengang mendengar laporan itu.

“Astaga! Terlalu benar jahanam itu. Kita tidak boleh

berdiam diri. Harus segera dilaporkan kepada polisi.”

“Percuma saja. Anda hanya dapat membuktikan bahwa

mayat sudah lenyap. Tentang ke mana dibawanya atau

tentang orang yang dimakamkan itu masih hidup atau

sudah mati, tentang siapa pelaku kejahatannya akan

selalu merupakan teka-teki. Laporan kita kepada polisi

akan membuat musuh-musuh kita lebih waspada terhadap

bahaya yang dapat mengancam mereka.”

“Tetapi apakah kejahatan seperti itu harus dibiarkan

saja?”

“Tidak. Mereka harus dihukum, tetapi baru setelah kita

menemukan Pangeran Fernando. Kemudian kita akan

membawa pelaku kejahatan itu ke pekuburan untuk minta

dikembalikan mayat itu, sebelum itu tidak dapat kita

berbuat apa-apa.”

“ Jadi Anda hendak pergi ke Harrar?”

“Betul! Setelah kami mengunjungi hacienda del Erina.

Kami harus membicarakannya lebih dahulu dengan Pedro

Arbellez dan dengan Maria Hermoyes.”

“Anda tidak dapat menemui wanita itu di sini. Ia pun

tinggal di hacienda del Erina.”

“Sebaiknya kami pergi selekasnya ke situ, namun

kawan kami Mariano masih terlalu lemah tubuhnya. Ia

harus beristirahat seminggu lagi sebelum dapat turut

dalam perjalanan yang meletihkan itu.”

“Tuan Unger pun memerlukan waktu seminggu untuk

membiasakan diri menunggang kuda,” tambah Lord

Dryden dengan tertawa. Seorang anggota kavaleri yang

kurang tangkas tidak akan mudah sampai ke daerah orang

Indian. Mariano tidak perlu mengeluh, karena Amy

mengenal tugasnya dengan baik sebagai seorang

jururawat. Kehadiran gadis itu semata sudah merupakan

obat mujarab baginya. Dua sejoli itu tidak terpisahkan

satu sama lain dan Lord Dryden berbuat pura-pura tidak

melihat itu. Dua hari setelah penyelidikan makam itu Lord

Dryden dan Sternau mendapat undangan untuk hadir

dalam suatu pesta. Seorang pelayan memberi tahu bahwa

Cortejo dan Senorita Josefa akan hadir juga. Maka Sternau

waspada mendengar itu.

Pesta itu diselenggarakan oleh salah satu keluarga

kalangan tinggi. Para tamu dapat mencari hiburan di

berbagai ruangan. Setelah mereka disambut oleh nyonya

rumah, maka Sternau berpisah dengan Lord Dryden. la

mengatakan akan menanti dalam ruangan berwarna

jingga. Beberapa saat kemudian tiba Dryden dan

memberitahukan bahwa Cortejo sudah datang.

“Tolong perkenalkan saya kepadanya, my Lord.”

“Tentu, bila Anda menghendaki.”

Kini mereka pergi ke sebuah ruangan, tempat Cortejo

dan putrinya berkumpul dengan tamu lain-lainnya.

“Orang yang tinggi kurus itu Pablo Cortejo, kata Dryden.

“Ia mirip benar dengan saudaranya yang bernarna

Gasparino,” kata Sternau.

“Gadis di sisinya ialah putrinya.”

“Yang seperti burung hantu itu?”

“Benar.”

“Putrinya nampak lebih berbahaya daripada ayahnya.”

Mereka pergi menghampiri rombongan itu, Dryden di

muka; Sternau mengikutinya perlahan. Cortejo

membelakangi mereka.

“Sangat gembira dapat bertemu dengan Anda, my Lord,”

kata Cortejo demi dilihatnya Dryden. “Sudah Anda

pertimbangkan penawaran saya itu?”

“Maksud Anda…?”

“Mengenai hacienda del Erina.”

Dryden mengerutkan dahinya. “Saya tidak suka

membicarakan soal perdagangan di muka umum. Lagi pula

saya ingin tahu lebih dahulu apakah hacienda itu benar

milik Pangeran Rodriganda.”

“Itu sudah pasti.”

“Lalu Anda dikuasakan untuk menjual hacienda itu?”

“Benar.”

“Tapi saya pernah mendengar bahwa Pedro Arbellez

adalah pemiliknya. Setelah Pangeran Fernando meninggal,

hacienda itu menjadi miliknya yang sah.”

“Itu bohong, my Lord! Jangan suka mendengarkan

desasdesus semacam itu.”

“Baik; baik! Kebenaran itu akhirnya akan sampai juga

kepadaku.”

“Dengan perantaraan siapa?”

“Dengan perantaraan seorang kawan yang hendak pergi

mengunjungi hacienda itu. Bolehkah saya

memperkenalkan orang itu kepada Anda?”

Lord Dryden menunjuk ke arah Sternau, yang sedang

berdiri di belakangnya. Cortejo dan putrinya serentak

memutar tubuhnya untuk melihat orang itu.

“Tuan ini kawanku: Dokter Sternau.”

“Dokter Sternau?” tanya Cortejo sambil dengan matanya

meneliti wajah serta tubuh Sternau. la memaksakan

dirinya memperlihatkan senyum keramahan. “Sungguh

suatu kehormatan yang besar dapat berkenalan dengan

Anda, Senor Sternau. Bolehkah saya memperkenalkan

putriku kepada Anda?”

Sternau membungkuk kecil secara hormat kepada gadis

itu. Serta merta ia dipersilahkan oleh gadis dan ayahnya

itu duduk di atas sebuah bangku panjang dekat dinding.

Perbuatan itu begitu menyolok, sehingga Sternau langsung

dapat menduga bahwa ia langsung akan diwawancarai

mereka. Benar juga, baru saja mereka duduk di atas

bangku itu, Cortejo mulai mengajukan pertanyaan, “Saya

dengar bahwa` Anda hendak mengadakan perjalanan ke

hacienda del Erina, Senor Stemau?”

“Mungkin,” jawab Sternau pendek. Ia menyesal bahwa

Lord Dryden telah berbicara tentang perjalanannya itu.

“Boleh saya tanya dengan tujuan apa?”

“Saya mau mengenali Mexico dengan penduduknya.

Maka saya mau pergi ke utara. Ketika Lord Dryden

mendengar itu, ia minta saya singgah di hacienda, karena

ia berniat membelinya.”

“0, begitu,” jawab Cortejo serta merasa puas. “Di del

Erina itu penyewa tanahnya orang yang sombong. Ia

mengakui hacienda itu sebagai miliknya pribadi. Gila,

bukan? Saya kira Anda sering menempuh perjalanan jauh,

bukan?”

“Benar.”

“Tentu banyak orang yang mengiri Anda,” kata Josefa

pura-pura ramah. “Orang yang bebas dapat menggunakan

seluruh waktunya untuk kepentingan pribadinya saya

anggap orang yang berbahagia. Anda mengenal Eropa?”

“Itu tempat lahirku,” kata Sternau sambil tertawa.

“Dan Perancis?”

“Kenal juga.”

“Spanyol juga?”

“Benar, saya pernah ke situ.”

Josefa dan ayahnya saling melempar pandangan yang

penuh mengandung arti lalu melanjutkan, “Spanyol adalah

tanah air kami. Maka kami suka sekali mendengar tentang

tanah air itu. Maukah Anda menyebutkan, provinsi dan

kota-kota mana yang Anda kenal?”

Acuh tak acuh Sternau menjawab, “Kunjungan saya ke

negeri yang indah itu tiada berapa lamanya. Sebagai

seorang dokter saya telah diundang oleh Pangeran

Rodriganda untuk menyembuhkan penyakitnya.”

“Rodriganda? Tahukah Anda bahwa Pangeran itu pun

memiliki harta benda di sini?”

“Saya tahu.”

“Dan bahwa ayahku menjabat bendahara dari harta

miliknya di Mexico?”

Sternau berbuat pura-pura terkejut dan berseru, “Di

Spanyol pun saya mengenal seorang bernama Cortejo.

Apakah ia masih saudara Anda?”

“Ia abang saya.”

“Wah, inilah kabar baik. Saya kerap kali bertemu

dengan abang Anda.”

“Ia suka hidup menyendiri saja.”

“O, ya, saya tidak melihat sifat demikian padanya.

Abang Anda dan saya bergembira, telah mengenal baik

satu sama lain.”

Josefa dapat merasakan sindiran itu dan menggigit

bibirnya menahan amarahnya. Namun ia mengatakan

dengan suara yang lemah lembut, “Amat disayangkan

bahwa Tuhan tidak memberi kesempatan kepada Anda

untuk menyembuhkan Pangeran Manuel yang berbudi itu.”

“Memang penyembuhan itu sesuatu yang selalu saya

usahakan.”

“Kalau tidak salah, Pangeran telah terjatuh sehingga

meninggal.”

“Ya, memang ada orang-orang yang berpendapat

demikian.”

Sindiran dalam kalimat itu terasa juga oleh Cortejo

beserta putrinya.

“Tentunya Anda mengenal juga Putri Roseta,” demikian

dilanjutkan oleh Josefa penyelidikannya.

“Tentu, ia istri saya.”

Sternau yakin bahwa kedua orang itu sudah

mengetahui tentang itu, meskipun mereka nampaknya

sangat terkejut.

“Apa kata Anda, senor!” seru Cortejo dan Josefa

bertanya, “Itu ‘kan tidak mungkin?”

“Cinta memungkinkan segalanya, Senorita,” kata

Sternau sambil tertawa.

“Di Spanyol perbedaan kasta itu dipegang teguh sekali.

Lebih lunak peraturannya di tanah air saya. Maka kami

telah menikah di Jerman.”

“Jadi Condesa Roseta itu telah meninggalkan tanah

airnya?”

“Benar.”

“Apakah itu disetujui oleh Pangeran Alfonso?”

“la tidak menghalanginya,” jawab Sternau. “Jadi Anda

mengenal Pangeran Alfonso juga?”

“Benar. Semasa kecil ia tinggal di sini di Mexico.”

“Ya. Hampir saya lupa akan hal itu.”

“Kami mendengar bahwa Condesa Roseta menderita

penyakit yang sangat berbahaya,” kata Josefa.

“Putri sudah sembuh kembali, Senorita. Namun maaf…

Lord Dryden memanggil saya. Mungkin ia hendak

memperkenalkan saya kepada seseorang.”

Sternau bangkit dari tempat duduknya dan kedua

orangyang bersama dia itu turut berdiri.

“Saya sungguh merasa senang bertemu dengan

seseorang yang mengenal Rodriganda,” kata Cortejo sambil

berpisah.

“Bila sempat datanglah Anda sesekali ke rumah kami.”

“Dengan segala senang hati.”

“Atau dapat juga kami mengunjungi Anda di rumah

Lord Dryden,” tambah Josefa. “Saya sahabat karib Lady

Amy.”

“Saya akan menerima kedatangan Anda dengan senang

hati.” Sternau berpisah dengan memberi salam. Ayah dan

putri menunggu hingga Sternau lenyap dari pandangan

mereka. Kemudian Josefa berdesis, “Corajo, dialah

orangnya.”

“Benar, dialah orangnya,” gumam Cortejo.

“Bagaimana pendapat ayah tentang dia?”

“Seorang lawan yang tidak boleh dipandang enteng.”

Josefa memandang kepada ayahnya secara mengejek

lalu berkata, “Saya tidak mengerti, mengapa ayah

mempunyai pendapat demikian. Begitu mudah kehilangan

semangat. Mungkin kaum laki-laki, banyak yang tidak

sanggup melawan orang seperti Sternau … namun apakah

ia dapat menandingi seorang wanita, itu masih sangat

disangsikan. Alangkah tenangnya sikapnya! Padahal ia

mengenali kita, ia tahu segalanya, ia datang dengan niat

jahat ke Mexico. Namun ia akan binasa, tak dapat tidak …

hanya sebenarnya saya merasa sayang juga, karena ia

adalah seorang musuh yang dapat membuat seorang

wanita tergila-gila padanya.”

“Mungkin kau sendiri yang tergila-gila! Bukankah usul

untuk datang bertamu ke rumah Dryden itu suatu usul

yang gila?”

“Ayah kira, ia mau datang bertamu ke rumah kita? Bila

kita ingin mewawancarainya, kita yang harus pergi

menemuinya!”

“Saya yakin Sternau akan datang menemui kita. Ia

sebangsa orang yang berani mendatangi singa di dalam

sarangnya. Ingin benar aku tahu apa yang dicarinya di

Mexico ini.”

“Itu akan segera kita ketahui, karena esok hari kita

akan berkunjung ke rumahnya.”

“Yang bukan-bukan saja. Apakah kau sudah lupa,

bagaimana kau diusir oleh Lady Amy dari rumahnya itu?”

“Hal itu tidak perlu dipikirkan, bila ada hal-hal lain

yang lebih penting.”

“Aku tidak mau ikut kau.”

“Baik, aku akan pergi sendiri,” kata gadis itu.

“Jangan-jangan kau berani juga melaksanakan rencana

gila itu.”

“Ya, aku pergi. Itu sudah pasti. Dan aku pun tahu, ayah

akan turut. Kita harus menanyai orang itu, kita harus

mengetahui segalanya … segalanya, supaya dapat

menemukan cara yang tepat untuk melawannya.”

Sedang kedua orang itu sibuk membicarakan Sternau,

di tempat yang lain Dryden bertanya kepada orang yang

menjadi pokok pembicaraan itu, “Dan bagaimana pendapat

Anda tentang pasangan tadi?”

“Burung elang dengan burung hantu. Burung hantu di

sini lebih besar keberaniannya dan lebih keras

kemauannya daripada burung elang.”

“Jadi Anda berpendapat bahwa mereka sanggup

melakukan perbuatan-perbuatan keji yang dituduhkan

pada mereka itu?”

“Saya yakin. Kakak beradik Cortejo itu setali tiga uang.

Tetapi my Lord, baik kita tidak merusak suasana malam

kita ini dengan berpikir tentang orang-orang semacam itu!

Melihatnya saja sudah membuat kita muak!”

“Mereka telah mengundang Anda?”

“Ya.”

“Anda menerima undangan itu?”

“Ya, kecuali jika mereka lebih dahulu datang kepada

saya.”

“Masya Allah. Usul Andakah itu?”

“Bukan, itu usul gadis itu. Katanya, ia bersahabat baik

dengan Lady Amy.”

Dryden mengangkat bahunya serta berpaling. Malam itu

seterusnya Sternau sengaja menjauhi Pablo Cortejo dan

Josefa.

Keesokan harinya seorang pelayan melaporkan

kedatangan Senor dan Senorita Cortejo. Sesaat kemudian

mereka sudah berada dalam kamar.

“Maafkan kami, Senor Sternau,” demikian Cortejo

memulai pembicaraannya, “bahwa kami begitu cepat

datang berkunjung pada Anda. Josefa ingin sekali

mendengar sesuatu tentang tanah airnya. Kami sudah

lama tidak menerima khabar tentang tanah air, maka

dapat Anda pahami, dengan suka hati kami memenuhi

undangan Anda.”

Sternau menerima mereka dengan ramah tamah.

Setelah kedua tamu itu duduk, menyusul wawancara yang

sudah diduga oleh Sternau itu terlebih dahulu,

“Anda naik ke darat di Vera Cruz?” tanya Cortejo.

“Betul, Senor.”

“Bagaimana Anda kenal Lord Dryden?”

“Saya berkenalan dengan Lady Amy di Rodriganda.”

“Benarkah?” tanya Josefa agak terkejut. “Lady itu

kawan Condesa Roseta?” “Benar.”

“Tentunya kerap kali diselenggarakan pesta di

Rodriganda?”

“Tidak, sekali-kali tidak!”

“Aneh. Kata Anda, Lady Amy ada di situ dan dalam

sepucuk surat. yang pernah saya terima, disebut-sebut

tentang seorang perwira Perancis. Maka saya kira, ada

banyak orang di situ.”

Sternau merasa bahwa kini wawancara akan beralih

pada pokok tentang Mariano. “Namun puri itu tidak

ramai,” tambahnya secara dingin.

“Anda tentunya mengenal juga perwira itu.”

“Ya.”

“Anda masih ingat siapa namanya?”

“la memperkenalkan diri derigan nama Alfred de

Lautreville.”

“Lamakah dia berada di Rodriganda?”

“Beberapa hari.”

“Apakah ia kemudian kembali lagi ke Perancis?”

“Ia pergi tanpa pamit, Senorita.”

Josefa merasa bahwa dengan cara demikian Sternau

sukar diselidiki. Meskipun ia tidak berdusta, namun gadis

itu tidak mendapat penerangan tentang hal-hal yang ingin

diketahuinya.Ketika gadis itu hendak mengajukan

pertanyaan lagi, kebetulan masuklah Unger. Itu sesuai

benar dengan kehendak Sternau. Kini ia dapat pergi

selekasnya; Unger dapat melayani tamunya meskipun ia

hanya bisa sedikit berbahasa Spanyol. Sternau

memerkenalkan nakhoda itu lalu pergi dengan

menggunakan suatu alasan. Ia bergegas-gegas ke Dryden

yang ada bersama Amy dan Mariano.

“Ada apa?” tanya Dryden. “Anda masuk dengan

tergopoh-gopoh.”

“Dugaan saya kemarin itu kini sudah menjadi

kenyataan: Cortejo ada di sini!”

“Masa! Di rumah ini?”

“Benar, bersama putrinya.”

Lord Dryden tertawa sambil menggeleng kepala lalu

berkata, “Dan Anda telah meninggalkan mereka?”

“Tidak. Unger melayani mereka. Saya ada suatu

permintaan.”

“Silakan.”

“Maukah Anda mengundang mereka makan siang?”

Dryden melihat dengan tercengang. “Keluarga Cortejo

itu?” tanyanya. “Tentu Anda sedang bergurau.”

“Tidak. Saya sungguh-sungguh. Saya lihat, Lady Amy

pun menganggap permohonanku itu ganjil, namun saya

tetap pada permohonan itu.”

“Masya Allah, tetapi apakah maksud Anda?” tanya

Dryden. “Makhluk-makhluk seperti itu memuakkan, maka

saya tidak suka melihatnya kembali!”

“Ingin saya lihat bagaimana tanggapan mereka bila

melihat Mariano.”

“0, kalau begitu, lain soalnya. Tetapi mengapa Anda

tidak membawa mereka ke kamar Anda?”

“Tidak, my Lord! Anda berdua harus turut menyaksikan

pertemuan itu.”

Dryden mengangguk, wajah putrinya menandakan jugs

bahwa is setuju, maka ia menjawab,

“Baik, mungkin itu sejalan juga dengan kepentingan

kami. Suruh mereka datang.”

“Tetapi saya tidak dapat mengundang mereka, my Lord,”

kata Sternau.

“Jadi saya sendiri harus turun tangan. Yah, apa boleh

buat.”

Sternau kembali lagi ke kamarnya. Kini ia tidak

diganggu oleh pertanyaan-pertanyaan lagi, karena

kehadiran nakhoda itu mengubah percakapan ke arah

umum. Tidak lama kemudian masuklah Dryden. Ia

berbuat pura-pura hendak datang berkunjung pada

Sternau akan tetapi tidak mengetahui bahwa Cortejo dan

putrinya sedang hadir di situ. Ia menyalami mereka

dengan ramahnya lalu mengundang merekaa makan siang.

Kedua Cortejo itu menerima undangan dengan senang

hati.

Sesaat kemudian rombongan itu masuk ke dalam ruang

makan. Setiap orang Nadir kecuali Mariano. Meskipun

belum lengkap, mereka sudah mulai menyantap hidangan.

Percakapan di antara mereka makin bertambah asyik

apalagi setelah dibumbui oleh pinggan-pinggan penuh

dengan santapan yang serba lezat.

Selang beberapa saat lamanya acara makan-makan itu

berlangsung, datanglah Mariano. Untuk Cortejo dan

putrinya disediakan tempat duduk demikian sehingga

mereka tidak dapat langsung melihat Mariano masuk.

Baru setelah ia melangkah ke arah kursinya, tampak oleh

Cortejo bahwa ada seorang tamu yang baru datang. Ia

memandang kepada tamu itu. Namun demi dilihatnya

tamu itu, ia terlompat dari kursinya dan berseru dengan

terkejut, “Pangeran Manuel.”

Mukanya pucat pasi, matanya terbelalak. Putrinya pun

bangkit berdiri dan tercengang-cengang memandangi

Mariano. Di puri Rodriganda tergantung sebuah lukisan

Pangeran Manuel semasa muda dan lukisan itu mirip

benar dengan Mariano, sehingga membuat mata burung

hantu Josefa terbeliak.

“Maaf,” kata Sternau, “Tuan itu bukanlah Pangeran

Manuel de Rodriganda, melainkan Letnan de Lautreville.

Bukankah kemarin Anda menanyakan tentangnya?”

Kedua Cortejo itu akhirnya dapat menguasai dirinya

kembali. “Maafkan saya,” kata Cortejo. “Saya agak tertipu

oleh persamaan kecil itu.”

“Saya pun dibuatnya terkejut,” kata Josefa kemalumaluan.

“Jadi menurut pendapat Anda ada persamaan

antara Letnan dengan Pangeran Manuel?”

“Sungguh ada, my Lord.”

“Aneh benar! Persamaan antara dua orang yang berasal

dari negeri berlainan. Itu benar-benar kebetulan!”

Kemudian percakapan beralih lagi kepada pokok seharihari.

Sesampai Josefa dengan ayahnya di rumah, ayahnya

bertanya, “Tahukah kamu bahaya-bahaya macam apa kini

mengancammu?”

“Mengancam ayah?” putrinya bertanya balik. “Letnan

itu Pangeran Alfonso yang asli.”

Gadis itu mengangguk tanpa berkata.

“Sternau telah membebaskannya,” sambung Cortejo.

“Tetapi bagaimana terjadinya dan di mana? Apa yang telah

terjadi dengan kapal Landola?”

“Ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Kita harus

mengambil tindakan.”

“Itu pun pendapatku. Namun bagaimana caranya

menyingkirkan mereka?”

“Kini aku masih belum ada rencana. Lagi pula tak usah

kau turut campur. Ini bukan urusan wanita.”

Malam itu Cortejo tidak mau tertidur. Sepanjang malam

ia memutar otaknya. Akhirnya nampaknya ia mengambil

keputusan, karena ia bergegas-gegas pergi ke kandang

kuda dan menyuruh-siapkan seekor kuda. Menjelang pagi

ia meninggalkan kota menuju ke arah utara. Ketika Josefa

pagi-pagi menanyakan tentang ayahnya, ia mendapat

jawaban bahwa ayahnya itu sedang bepergian selama

beberapa hari.

Dua hari kemudian disiapkan tiga ekor kuda di muka

istana Lord Dryden; di dalam mereka sedang berpamit.

“Berapa lama Anda pergi Dokter?” tanya Dryden

“Siapa yang dapat memastikan itu mengingat keadaan

sekarang ini?” jawab Sternau. “Kami berusaha pulang lagi

selekasnya.”

“Mudah-mudahan demikian. Anda tidak usah terlalu

hemat dengan kuda Anda. Beribu-ribu ekor ada di sini.

Masih adakah sesuatu yang Anda perlukan?”

“Masih, my Lord. Kita tidak dapat meramalkan

bagaimana nasib kita di negeri ini. Maka andaikata setelah

lama saya masih belum juga pulang, bolehkah saya

mempercayakan anak buah kapal pesiar saya kepada

Anda?”

“Tentu, namun harapan saya semoga hal itu tidak perlu

terjadi. Selamat berjalan!”

Sternau dan Unger sudah duduk di atas kuda, namun

Mariano masih bercakap-cakap dengan Amy. Akhirnya ia

bergabung dengan yang lain dan meninggalkan kota …

menempuh jalan yang sama dengan yang ditempuh oleh

Cortejo dua hari yang lalu. Sternau pergi tanpa penunjuk

jalan dan tanpa membawa pelayan. Ia membawa peta

Mexico yang menjadi penunjuk jalan baginya. Meskipun

belum ada di antara mereka yang pernah menempuh jalan

ini, namun mereka tidak pernah tersesat.

Mereka sudah berada kira-kira satu hari perjalanan dari

hacienda, di atas sebuah dataran tinggi di sana sini

ditumbuhi oleh semak belukar. Sternaulah yang paling

banyak pengalamannya di antara ketiga orang itu. Tak ada

yang lepas dari pengamatannya: sehelai rumput patah,

sebuah batu yang terguling dari tempatnya, sebatang

ranting yang patah. Mereka sudah berjalan beberapa

lamanya tanpa berkata. Tiba-tiba kata Sternau kepada

kedua kawannya, “Janganlah menoleh ke kiri atau kanan,

tetapi perhatikanlah pohon yang tumbuh dekat batang

air.”

“Ada apa?” tanya Mariano.

“Seorang laki-laki sedang mengintai sesuatu. Kudanya

berdiri di belakangnya.”

“Saya tidak melihat apa-apa.”

Unger pun memberi jawaban sama.

“Itu dapat dimengerti. Karena dibutuhkan pengalaman

dan latihan banyak untuk dapat melihat dari jarak jauh di

semak-semak ada orang tersembunyi dengan kudanya.

Bila saya mengangkat senapan saya, maka orang itu pun

akan mengangkatnya. Namun ia tidak akan menembak

sebelum saya mulai menembak.”

Mereka berjalan terus hingga mereka mencapai tempat

yang sama tingginya dengan semak-semak itu. Tiba-tiba

Sternau menghentikan kudanya, mencabut senapannya

yang ada di punggungnya lalu membidikkannya ke arah

semak-semak. Kedua kawannya mengikuti perbuatan itu.

“Hai Senor,” serunya, “apa yang anda cari di dalam

tanah?”

Terdengar tawa orang pendek dan kasar. “Itu bukan

urusanmu,”

“Itu urusanku juga,” jawab Sternau. “Saya harap Anda

mau keluar dari persembunyian Anda.”

“Boleh.”

Semak-semak mulai menguak. Seseorang keluar dari

dalamnya, berpakaian kulit banteng. Wajahnya adalah

wajah orang Indian, namun potongan bajunya seperti pada

seorang pemburu banteng. Senjatanya terdiri atas sepucuk

senapan dan sebilah pisau. Orang itu menimbulkan kesan

seolah-olah ia belum pernah merasa takut kepada siapa

pun. Ketika ia berjalan, kudanya pun mengikutinya tanpa

disuruh. Matanya yang tajam itu mengamati ketiga orang

itu dengan cermat. Katanya, “Kesiagaan Anda itu

mengagumkan. Saya mendapat kesan, seolah-olah Anda

sudah pernah berada di daerah prairi ini.”

Sternau langsung mengerti apa yang dimaksud orang

itu tetapi Mariano bertanya, “Mengapa?”

“Karena Anda berbuat seolah-olah tidak melihat. saya

tetapi tiba-tiba membidikkan senapan kepada saya.”

“Kami agak curiga melihat seseorang bersembunyi,”

kata Sternau. “Apa yang Anda cari dalam semak-semak

itu?”

“Saya sedang menunggu.”

“Menunggu siapa?”

“Menunggu seseorang. Mungkin juga Anda sendiri orang

itu.”

Sternau mengerutkan keningnya lalu memperingatkan,

“Jangan main-main! Jelaskan pendapat Anda.”

“Boleh. Tetapi katakan dahulu ke mana tujuan

perjalanan Anda.”

“Ke hacienda del Erina.”

“Bagus. Kalau begitu, Andalah yang saya tunggu.”

“Kalau begitu orang sudah mengetahui tentang,

kepergian kami dan Anda disuruh menyongsong kami.”

“Ya, kira-kira begitulah. Kemarin saya pergi berburu

banteng. Di perjalanan pulang saya menemukan jejak-jejak

yang mencurigakan. Saya mengikuti jejak itu. Kemudian

saya mendengarkan percakapan yang dilakukan oleh

serombongan orang kulit putih. Mereka bercakap keraskeras.

Saya mendengar bahwa mereka sedang menghadang

beberapa penunggang kuda yang datang dari Mexico

menuju ke hacienda. Langsung saya pergi untuk

memberitahu orang-orang itu. Bila Andalah orang yang

dimaksud, maka bersikaplah waspada … tetapi bila bukan,

maka saya masih akan tetap menunggu orangnya.”

Langsung Sternau mengulurkan tangannya dan

berkata, “Anda orang yang baik, terima kasih! Nampaknya

kamilah yang menjadi sasaran mereka. Rombongan itu

terdiri atas berapa orang?”

“Duabelas orang.”

“Sebetulnya saya ingin sekali bertemu muka dengan

orang-orang itu. Namun lebih baik kita tidak menantang

bahaya.”

“Ya, itu yang sebaiknya,” ejek orang tak dikenal itu.

“Anda hendak ke mana?” tanya Sternau.

“Ke hacienda. Mau Anda saya antar?”

“Bila Anda tidak berkeberatan.”

“Mari.”

Orang tak dikenal itu melompat ke atas kudanya serta

memimpin rombongan kecil itu. Seperti kebiasaan orang

Indian ia tergantung depan kudanya untuk dapat

mengawasi jejak-jejak di atas tanah. Sternau merasa yakin

bahwa orang itu dapat dipercayai.

Menjelang malam ketika harus dicari tempat layak

untuk bermalam, penunjuk jalan itu ternyata mempunyai

banyak pengalaman, sehingga Sternau yakin bahwa orang

itu pengenal baik akan hutan dan rimba. Ia makan

bersama dan mengisap rokok. Ketika ditawari minuman

keras, ia menolak.

Demi keamanan tidak dinyalakan api, maka percakapan

menjelang waktu tidur itu terpaksa diadakan dalam gelap

gulita.

“Anda kenal orang-orang di hacienda itu?” tanya

Sternau kepada penunjuk jalannya.

“Ya, saya kenal,” jawabnya.

“Siapa yang akan kita jumpai?”

“Pertama-tama Senor Arbellez, pemilik hacienda,

kemudian Senorita Emma,”putrinya, Senora Hermoyez,

dan seorang pemburu yang sedang sakit ingatan.

Kemudian ada para pelayan dan kira-kira empat puluh

orang vaquero dan cibolero” (pekerja dan pemburu).

“Tentunya Anda salah seorang cibolero demikian.”

“Bukan Senor, saya seorang bangsa Mixteca yang

bebas.”

Sternau bertanya agak terkejut, “Anda seorang Mixteca.

Kalau begitu Anda harus mengenal Mokasyi-tayis, kepala

sukunya yang disebut juga si Kepala Banteng.”

“Memang saya kenal dia”, jawab orang itu tenang.

“Di manakah ia berada sekarang?”

“Di mana saja, di tempat yang ditunjuk oleh Roh Besar.

Di mana Anda telah mendengar tentang dia?”

“Namanya sudah terkenal di mana-mana. Bahkan jauh

di seberang lautan luas saya pernah mendengar namanya

disebut orang.”

“Bila ia mendengar itu ia akan merasa bahagia.

Bolehkah saya mengetahui nama Anda, senores?”

“Namaku Sternau, Tuan ini Mariano, dan yang itu

Unger. Dan bolehkah saya tahu nama anda?”

“Saya orang Mixteca. Panggil saya dengan nama itu

saja.” Malam itu tidak diadakan percakapan lagi. Orangorang

pergi tidur. Mereka berjaga bergantian. Pagi-pagi

mereka berangkat lagi dan sebelum tengah hari mereka

melihat hacienda di hadapannya. “Itulah hacienda del

Erina, Senores,” katanya. “Anda tidak mungkin salah.”

“Anda ikut kami?” tanya Sternau.

“Tidak. Hutan adalah tempat tinggalku. Selamat

tinggal!” Orang Mixteca itu memacu kudanya lalu pergi.

Tiga orang lainnya pergi ke arah pagar dan berhenti di

hadapan pintu gerbang.

Sternau mengetuk pintu. Seorang vaquero menanyakan,

apa keperluan mereka.

“Senor Pedro Arbellez ada di rumah?”

“Ada.”

“Sampaikan kepadanya, ada tamu dari Mexico datang

mengunjunginya.”

“Anda hanya bertiga atau masih akan bertambah

jumlahnya?”

“Hanya bertiga.”

“Saya percaya kepada Anda. Pintu akan saya buka.”

Vaquero itu membuka pintu dan membiarkan ketiga

penunggang kuda masuk ke dalam taman. Mereka turun

melompat dari kudanya. Para vaquero membawa kudanya

dan memberinya minum. Ketika mereka menghampiri

pintu masuk ke rumah, datang pemilik hacienda

menyongsong mereka. Ia berjabatan tangan dengan

Sternau, kemudian ia mengulurkan tangannya kepada

Mariano yang sedang menghadap ke arah lain, mengawasi

kudanya.. Kini ia menoleh. Pemilik hacienda melihat

wajahnya. Terkejut ia menarik kembali tangannya dan

berseru tercengang-cengang,

“Caramba, siapakah Anda? Pangeran Manuel! Tidak

mungkin….Pangeran Manuel lebih tua, Ia memukul

dahinya dengan tangannya. Persamaan itu sangat

membingungkannya. Namun ketika pandangannya beralih

kepada Unger bertambah lagi kebingungannya.

“Volgame dios! Ya ampun! Apakah saya kena sihir?”

serunya. “Ada apa Ayah?” tanya seorang gadis di

belakangnya.

“Kemarilah, anakku,” jawabnya. “Suatu keajaiban telah

terjadi. Tiga senores telah datang, salah seorang mirip

benar dengan Pangeran Manuel, bagaikan pinang dibelah

dua dan yang seorang lagi, ya ampun, mirip benar dengan

tunanganmu yang sedang sakit.”

Emma datang sambil tertawa riang, namun demi

dilihatnya Unger ia berkata, “Ayah benar. Tuan ini sama

benar dengan Antonioku yang malang itu.”

“Tidak apa, tentu segalanya itu akan menjadi jelas

kemudian,” kata Arbellez.

“Selamat datang, Senores, silakan masuk.”

Sekali lagi ia berjabatan tangan dengan Mariano dan

Unger. Kemudian ia mengantarkan tamunya ke dalam

ruang makan. Di situ mereka mendapat hidangan

minuman yang sejuk. Baru saja Unger mengangkat gelas

minumannya untuk meminum isinya, maka ia

meletakkannya kembali ke atas meja. Matanya menatap

sebuah pintu yang dibuka dan… sesosok tubuh yang pucat

masuk ke dalam. Orang itu melihat dengan pandangan

kosong kepada para tamu. Unger bergegas

menghampirinya untuk mengamatinya.

“Mustahil!” serunya, “namun benar juga, kau adalah

Anton, Anton. Masya Allah!”

Orang sakit ingatan itu memandangnya serta

menggeleng kepalanya. “Aku sudah mati. Aku sudah

dikalahkan,” erangnya.

Unger merasa dirinya lemas dan bertanya, “Don Pedro,

siapakah orang itu?”

“Tunangan putri saya,” jawab pemilik hacienda..

“Namanya Antonio Unger; oleh kaum pemburu ia

dinamakan “Panah Halilintar”.

“Jadi benar juga! Saudaraku, kau saudaraku.”

Dengan pekik demikian Unger menyerbu kepada orang

sakit itu, memeluknya erat-erat. Si sakit membiarkan

dirinya dibuai-buaikan, namun ia memandang dengan

acuh tak acuh kepada saudaranya. “Aku sudah

dikalahkan, aku sudah mati,” ulangnya.

“Mengapa ia berkelakuan seperti itu?” tanya Unger

kepada pemilik hacienda.

“Ia sakit ingatan,” jawab Arbellez.

“Sakit ingatan? Betapa menyedihkan pertemuan ini!”

Pelaut itu menutupi matanya dengan tangannya lalu

menjatuhkan diri ke atas kursi sambil menangis. Orang

lainnya yang berdiri di sekitarnya terdiam semuanya,

terharu. Akhirnya Arbellez meletakkan tangannya ke atas

bahu Unger lalu bertanya perlahan-lahan, “Benarkah Anda

itu saudara Senor Antonio?”

Unger memandang kepada saudaranya lalu menjawab,

“Benarlah, saya saudaranya.”

“Anda seorang pelaut. Saudara Anda banyak berceritera

tentang Anda.”

“Aku sudah mati, aku sudah musnah,” sela si sakit.

Sternau yang tetap mengamatinya, tiba-tiba bertanya,

“Apa sebabnya, maka ia sampai begini?”

“Ia kena pukul di kepalanya,” kata Pedro Arbellez.

“Anda sudah minta pertolongan dokter?”

“Sudah lama.”

“Menurut dokter itu, ia sudah tidak tertolong lagi?

Dokter demikian tidak becus. Jangan khawatir, Unger!

Saudara Anda bukan gila, melainkan hanya mendapat

gangguan rohaniah. Ia dapat disembuhkan.”

Pekik gembira terdengar dari mulut Emma. Gadis itu

berlari mendapatkan Sternau, memegang kedua belah

tangannya lalu bertanya, “Anda yakin tentang hal itu?

Apakah Anda seorang dokter?”

“Saya seorang dokter dan saya pun menyatakan, ada

harapan. Bila saya mengetahui jalannya peristiwa ketika ia

mendapat musibah itu, maka baru saya dapat

memastikan, ia dapat ditolong atau tidak.”

“Beginilah kejadiannya…”

“Jangan sekarang, Senorita,” sela Sternau. “Baik kita

cari waktu lain untuk itu. Ada hal lain yang lebih perlu kita

bicarakan sekarang.

Gadis itu menurut, sungguhpun dengan rasa enggan. Ia

membawa si sakit ke luar kamar.

“Urusan yang membawa Anda ke mari itu tentunya

penting juga.”

“Memang luar biasa pentingnya,” jawab Sternau.

“Tujuan Anda satu-satunya hacienda saya ini?”

“Benar.”

“Dan Anda dapat menemukannya tanpa penunjuk

jalan?” “Ya, sebenarnya ada juga seorang penunjuk jalan

yang baik hati. Kemarin kami bertemu dengan orang itu. Ia

mengantarkankami ke mari. Ia seorang Indian bangsa

Mixteca.”

“Seorang Mixteca? Pasti dia si Kepala Banteng.”

“Kepala Banteng?” tanya Sternau terheran-heran.

“Tetapi a tidak memakai tanda-tanda kebesaran sebagai

kepala suku.”

“Ia tidak pernah memakainya. Ia hanya memakai baju

kulit beruang dan senjatanya terdiri atas sepucuk senapan

dan sebilah pisau.”

“Cocok benar. Jadi kami telah ditemani Kepala Banteng

dalam perjalanan kami tanpa sepengetahuan kami. Ia telah

merahasiakannya kepada kami, tandanya bahwa ia

seorang pahlawan sejati yang tidak suka menyombongkan

diri. Masih dapatkah kami bertemu lagi dengannya?”

“Ia hampir setiap hari ada di sekitar sini. Anda tentunya

hendak tinggal di sini beberapa lamanya?”

“Itu tergantung kepada keadaan. Bilamana Anda sempat

mendengarkan penjelasan kami mengapa kami ke mari?”

“Sekarang boleh, lain kali pun boleh, sekehendak hati

Anda. Apakah persoalan itu mudah diselesaikan?”

“Tidak. Akan memakan waktu agak lama. Lagi pula kita

harus hati-hati menanganinya. Persoalan kami ini

mengenai suatu rahasia kekeluargaan. Kami memerlukan

bantuan Anda dan Maria Hermoyes untuk mendapatkan

penerangan.”

“Saya akan membantu Anda. Bolehkah saya sekarang

menunjukkan kamar-kamar. Anda?”

Karja, seorang gadis Indian, masuk ke dalam. Ia telah

menyiapkan kamar-kamar tamu dan datang menjemput

para tamu. Sternau mendapat kamar yang biasanya

didiami oleh Pangeran Alfonso. Selesai mandi ia pergi ke

taman. Putri pemilik hacienda ada di situ sedang

menemani si sakit. Gadis itu bangkit dan menyilakan

tamunya duduk.

Sternau duduk menghadap si sakit supaya dapat

mengamatinya. Kemudian ia bercakap dengan Emma.

Gadis itu menceriterakan kejadian-kejadian yang lampau,

tentang petualangan tunangannya dalam sebuah gua

penuh berisi harta karun raja-raja dan tentang sebabsebabnya

maka tunangannya itu menderita sakit. (lihat

buku Puri Rodriganda). Sternau menaruh perhatian besar

(terhadap ceritera itu, karena isinya itu bukan sematamata

penting dilihat dari sudut kedokteran.

“Jadi si Hati Beruang pun memegang peranan juga,”

katanya akhirnya. “Apakah kepala suku Apache itu

kemudian masih terlihat juga?”

“Tidak.”

“Dan segala musibah itu hanya disebabkan oleh seorang

pelaku saja, yang bernama Alfonso de Rodriganda itu? Baik

kita memberi pelajaran kepadanya. Ia harus mendapat

hukuman setimpal.”

“Apakah Antonioku yang malang itu masih dapat

ditolong dan dapat menuntut bela pula? Ketika Anda

berada di dalam kamar Anda, saudara tunangan saya telah

mengatakan bahwa Anda itu seorang dokter kenamaan

dan bahwa Anda telah menyembuhkan istri Anda dari

penyakit gila.”

“Tuhanlah yang merupakan dokter yang sempurna.

Dalam hal ini pun saya harap semoga Ia mau

membantuku. Apakah si sakit orang yang sabar? Maukah

ia ikut saya?”

“Segera akan saya bawa dia ke mari.”

“Saya bermaksud hendak memeriksanya. Saya

membawa alat-alat kedokteran saya. Saya harap, semua

alat yang saya perlukan ada pada saya.”

Sternau memegang tangan si sakit lalu

membimbingnya.

Emma pergi ke kamarnya. Di situ ia berlutut, berdoa.

Ketika ia kembali lagi di ruang duduk, semua orang sudah

hadir. Mereka ingin mendengar hasil pemeriksaan dokter.

Ketika Sternau datang, serta merta ia dihujani oleh

pertanyaan.

“Saya membawa khabar baik,” katanya sambil

tersenyum. “Saya dapat menyembuhkan Senor Unger.”

Orang-orang bersorak. Sternau menambahkan,

“Pukulan itu keras sekali tiba di atas kepalanya, namun

rongga otak untung tidak mengalami cedera. Hanya

sebuah pembuluh darah pecah dan darah telah memasuki

pusat ingatan. Karena itu si sakit lupa akan semuanya,

hanya pengalamannya yang terakhir masih melekat, yaitu

ketika kepalanya terkena oleh pukulan. Ia tahu bahwa ia

sedang dibunuh; pukulan itu dirasakannya dan kiranya ia

sudah mati. Sebaiknya kita membuka rongga otaknya

untuk membersihkannya dari darah yang telah mengalir ke

dalamnya. Dengan demikian tekanan pada otak akan

hilang, sehingga otak dapat melakukan pekerjaannya

seperti sediakala. Pada saat itu juga ingatannya akan pulih

kembali.”

“Apakah pembedahan seperti itu dapat menyebabkan

kemati?” tanya Emma cemas.

“Terasa sakit, tetapi tidak sampai menyebabkan

kematian,” hibur Sternau. “Bila keluarga pasien tiada

keberatan, esok hari akan saya lakukan pembedahan.”

Setiap orang memberi izin dan Arbellez menambahkan

secara kelakar, “Dan Anda tidak usah khawatir tentang

honorarium anda, Senor. Pasien Anda seorang jutawan,

hartanya berlimpah-limpah. Harta itu berasal dari harta

karun tersimpan dalam gua-gua dan telah diberikan

sebagai hadiah kepadanya. Maka ia pasti dapat memberi

imbalan sepantasnya kepada Anda.”

“Mudah-mudahan pembedahan ini dapat

menyembuhkan si sakit secara sempurna,” jawab Sternau.

Ia pergi untuk memeriksa alat-alatnya.

Seusai makan malam mereka berkumpul untuk

mendengarkan keterangan Sternau tentang maksud

kedatangannya. Arbellez dan Maria Hermoyes

menceriterakan pengalamannya. Kini Sternau yakin bahwa

dugaannya itu sesuai benar dengan kenyataan.

Arbellez yang berhati mulia itu langsung menawarkan

kepada Mariano untuk tinggal di hacienda, karena tidak

ada di antara mereka yang menyangsikan Mariano sebagai

Pangeran Alfonso yang asli

Keesokan harinya pembedahan dilangsungkan. Sternau

minta Unger, Mariano dan Arbellez membantunya dan ia

melarang orang mengganggunya. Menjelang tengah hari

keempat orang itu pergi ke kamar si sakit. Tingkat yang

ada kamar si sakit itu tertutup bagi setiap orang. Setiap

penghuni menjaga ketenangan. Setiap kata yang

diucapkan merupakan doa yang dinaikkan untuk

memohon berkat dari Yang Maha Kuasa bagi keberhasilan

pekerjaan yang sedang dilakukan oleh dokter.

Kadang-kadang seperti terdengar rintihan orang yang

menanggung sakit atau pekik yang menyayat hati, untuk

sesaat kemudian tenggelam lagi dalam kesunyian. Lama

kemudian Arbellez menuruni tangga, pucat dan letih lesu.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Emma langsung.

“Senor Sternau masih tetap menaruh harapan. Si sakit

berada dalam keadaan tak sadar. Kau diminta datang ke

atas dan tinggal bersamanya.

“Saya … seorang diri?”

“Tidak, ayah hadir juga. Bila Antonio siuman, maka ia

hanya boleh melihat muka orang yang dikenalnya.”

Gadis itu mengikuti ayahnya naik ke atas. Di lorong ia

menjumpai kakak Antonio. Wajahnya pun tampak pucat

serta lesu.

Ketika mereka memasuki kamar, tampak Sternau

membungkukkan tubuhnya di hadapan si sakit untuk

mengamati denyut nadi serta nafasnya.

“Senorita, silakan duduk! Usahakan supaya si sakit

langsung dapat melihat Anda, bila ia siuman. Saya akan

bersembunyi di balik kain tirai,” bisik Sternau.

“Akan meniakan waktu lamakah, sebelum ia siuman?”

tanya gadis itu.

“Selama-lamanya sepuluh menit. Pada saat itu kita

akan tahu, ingatannya sudah pulih kembali atau belum.

Kita hanya dapat berdoa serta menanti.”

Sternau bersembunyi di balik tirai dan Emma duduk di

sisi tempat tidur. Arbellez duduk dekatnya. Sangatlah

lambat waktu berlalu, akhirnya si sakit menggerakkan

tangannya.

“Awas, jangan terkejut,” Sternau memperingatkan

dengan berbisik. “Ada kemungkinan si sakit akan memekik

keras-keras, karena ia menyangka akan dipukul”.

Peringatan dokter itu ternyata perlu juga diberikan. Si

sakit menggeliat, kemudian ia terdiam selama beberapa

detik. Pada saatitu otaknya mulai dapat bekerja. Tiba-tiba

ia menjerit kuat-kuat, menyayat-nyayat hati orang yang

mendengarnya. Arbellez pun dibuat olehnya gemetar

sekujur tubuhnya dan Emma mencari-cari tempat

pegangan supaya jangan jatuh. Jeritan itu diikuti oleh

tarikan nafas panjang, kemudian … kemudian si sakit

membuka matanya.

Beberapa bulan lamanya dalam matanya tidak terlihat

cahaya kesadaran. Kini nampaknya seolah-olah Anton

Unger baru terbangun dari tidur yang nyenyak. Mula-mula

ia melihat lurus ke depan, kemudian ke kiri dan kanan.

Ketika pandangannya bertambah jelas lalu bertemu

dengan Emma, bibirnya mulai bergerak-gerak. Perlahan

terdengar suara, “Astaga, Emma! Aku telah bermimpi

buruk sekali. Alfonso hendak membunuhku … di dalam

gua yang berisi harta karun raja-raja. Benarkah kau ada di

sisiku?”

“Benarlah, aku ada di sisimu, Antonioku!” jawab gadis

itu sambil memegang tangan kekasihnya dengan rasa

terharu.

Tiba-tiba Anton memegang kepalanya yang sedang

dibalut.

“Namun kepalaku terasa sakit. Tentunya aku sudah

terkena oleh pukulan itu,” katanya. “Mengapa kepalaku

harus dibalut, Emma?”

“Kepalamu sedikit luka,” jawab gadis itu.

“Aku tahu,” kata Anton. “Kau harus menceriterakan

segalanya. Tetapi sekarang saya merasa lelah, saya ingin

tidur sebentar.”

Ia menutup matanya. Tidak lama kemudian dari

nafasnya yang tenang dapat diketahui bahwa ia sudah

tidur nyenyak. Kini Sternau berkata dengan muka berseriseri,

“Kita telah menang! Pekerjaanku berhasil! Bila ia tidak

mendapat demam, maka ia akan sembuh secara

sempurna. Senor Arbellez boleh turun ke bawah untuk

menyampaikan khabar gembira itu pada segenap

penghuni. Saya akan tetap menjaga bersama Senorita.”

Pemilik hacienda bergegas turun ke bawah. Khabar baik

yang dibawanya mendatangkan suasana gembira di antara

seisi rumah.

Hari itu dan keesokan harinya berlalu dengan baik,

namun hari berikutnya berlalu dengan penuh kecemasan

yang bukanlah diakibatkan oleh keadaan si sakit. Kepala

Banteng, kepala suku Mixteca tiba-tiba datang dengan

membawa berita buruk. Ada tanda-tanda bahwa, orang

hendak menyerbu hacienda. Arbellez terkejut mendengar

berita itu.

“Senor Sternau harus segera diberitahu,” katanya.

“Senor Sternau, orang asing bertubuh tinggi yang saya

antarkan ke mari itu? Apa kaitannya dengan perkara ini?”

“Ia dapat memberi nasihat baik.”

Orang Indian itu menyangsikan hal itu. “Apa pekerjaan

orang itu?”

“Ia dokter.”

“Dokter kulit putih? Mana mungkin ia dapat memberi

nasihat baik kepada seorang kepala suku Mixteca?”

“Nasihat baik itu bukan untuk Anda, melainkan untuk

saya. Kami harus menentukan siasat kami dalam

menghadapi musuh.”

“Apakah ia seorang panglima perang?”

“Ia orang yang arif. Kemarin ia telah membedah kepala

si Panah Halilintar. Kini si sakit dapat sembuh kembali.”

Orang Indian itu bertanya terheran-heran, “Dapatkah

kawanku si Panah Halilintar bicara lagi seperti orang

biasa?”

“Dapat. Beberapa hari lagi ia akan sembuh secara

sempurna.”

“Kalau begitu, Senor Sternau itu hanyalah seorang

dukun yang pandai, bukan seorang prajurit. Sudahkah

Anda melihat senjata yang dibawanya?”

“Sudah.”

“Sudahkah Anda menyaksikannya menunggang kuda?”

“Sudah. Saya melihatnya waktu ia tiba di sini.”

“Maka akan tampaklah kepada Anda bahwa

kepandaiannya menunggang kuda tidaklah melebihi

kepandaian seorang kulit putih umumnya saja. Lagi pula

senjata-senjata yang dibawanya itu berkilat-kilat seperti

perak. Itu bukanlah merupakan kebiasaan seorang prajurit

besar.”

“Jadi Anda tidak mau berunding dengannya?”

“Saya adalah seorang teman hacienda, maka saya mau

juga berunding, meskipun sudah tahu bahwa tidak akan

membawa hasil apa pun juga. Suruh datang sajalah Tuan

itu.”

Arbellez pergi lalu kembali lagi dengan Sternau. la telah

memberi tahu dokter itu tentang ucapan-ucapan kepala

suku itu. Maka Sternau menyambutnya dengan senyum

lalu berkata, “Saya dengar bahwa Anda itu Kepala

Banteng, kepala suku Mixteca yang termasyhur itu.

Benarkah demikian?”

“Benar,” jawab orang Indian itu.

“Khabar apa yang Anda bawa bagi kami?”

“Sebelum saya antarkan Anda ke hacienda, saya

melihat dua belas orang kulit putih yang bermaksud

menyerang Anda. Namun kali ini saya melihat orang kulit

putih tiga kali sebanyak itu. Mereka merencankan hendak

menyerbu hacienda.”

“Anda dengan bersembunyi telah mendengar

percakapan mereka?”

“Benar.”

“Bilamana mereka akan datang?”

“Esok malam. Mereka sekarang berada di “Ngarai

Harimau Kumbang”.

“Jauhkah letaknya dari sini?”

“Menurut ukuran orang kulit putih jarak itu sejauh satu

jam naik kuda atau dua jam jalan kaki.”

“Apa yang mereka kerjakan sekarang ini?”

“Makan, minum, dan tidur.”

“Apakah ngarai itu ditumbuhi tumbuh-tumbuhan?”

“Di situ terdapat hutan yang lebat. Di dalamnya ada

sebuah sumber air. Dekat air itu mereka bermalam.”

“Adakah orang-orang yang bertugas menjaga?”

“Saya telah melihat dua orang penjaga, seorang di jalan

masuk dan yang seorang lagi di jalan ke luar ngarai itu.”

“Senjata apa yang dibawa orang kulit putih itu?”

“Mereka membawa bedil, pisau, dan pistol.”

“Maukah Anda mengantarkan saya ke situ?”

Kepala suku itu tercengang-cengang mendengar

permintaan itu. “Mau apa Anda di situ?” tanyanya.

“Mau mengamati orang kulit putih itu.”

“Untuk apa? Sudah saya lakukan pekerjaan itu. Siapa

yang berkehendak mengamati mereka, harus menempuh

hutan dan rawa dengan merangkak. Baju Mexico Anda

yang bagus itu akan menjadi kotor kena lumpur,” kata

Kepala Banteng sambil tersenyum agak mengejek. “Lagi

pula mereka tidak mengenal ampun. Orang yang hendak

memata-matai mereka akan ditembak mati,” tambahnya.

“Apakah Anda takut mengantarku ke situ?” tanya

Sternau.

Sedikit tersinggung, orang Indian itu menatap mata

dokter itu. “Kepala Banteng tidak mengenal rasa takut. Ia

akan mengantarkan Anda, namun ia tidak dapat berjanji

akan memberi bantuan bila tiga kali duabelas orang kulit

putih menyerang Anda.”

“Itu perkara kemudian!” Setelah mengucapkan

perkataan itu Sternau pergi untuk mengadakan persiapan

perjalanan.

“Dokter itu suka bermain dengan maut,” kata orang

Indian itu agak kesal.

“Bukankah ada Anda untuk melindunginya?” jawab

Arbellez tenang.

“Ia bermulut besar dan bertangan kecil. Tong kosong

nyaring bunyinya.” Ia menghadap ke jendela, melihat ke

luar dan berbuat pura-pura meremehkan persoalan itu.

Tak lama kemudian Sternau kembali lagi.

“Kita boleh pergi,” katanya.

Orang Mixteca itu berpaling. Tercengang-cengang ia

memandang kepada Sternau. Penampilan dokter itu kini

mengalami perubahan total.

Sternau memakai celana kulit rusa, baju pemburu yang

kuat, sebuah topi bertepi lebar dan sepatu bot tinggi.

Pakaian pemburu itu telah dibelinya di Mexico.

Selanjutnya ia menyandang bedil berlaras dua. Pada ikat

pinggangnya tersisipkan dua buah pistol, sebilah pisau

berburu dan sebuah tomahawk yang berkilat-kilat. Semua

senjata itu, kecuali tomahawk, pernah dilihat oleh orang

Indian itu lebih dahulu. Wajah Sternau tampak begitu

gagah perkasa dari berwibawa sehingga orang Mixteca

itupun sedikit terpengaruh olehnya.

Orang Indian itu menghampirinya dan hanya berkata,

“Mari.” Sepatu botnya diperlengkapi dengan pacu, maka

Sternau bertanya, “Anda datang berkuda?”

“Benar,” jawab Kepala Banteng sambil memperlambat

jalannya.

“Jadi Anda bermaksud naik kuda ke “Ngarai Harimau

Kumbang?”

“Benar.”

“Sebaiknya Anda pergi tanpa kuda, kita akan berjalan

kaki saja. Tanpa kuda kita lebih mudah dapat

bersembunyi. Seekor kuda membuat jejak jejak di atas

tanah yang akan membahayakan penunggangnya.”

Mata orang Mixteca itu berseri-seri. Ia mengerti bahwa

pendapat Sternau itu benar. Ia membawa kudanya ke

padang rumput. Kemudian mereka berangkat, orang

Indian itu berjalan hati-hati di muka tanpa menoleh ke

belakang. Hanya sekali, ketika mereka berjalan di atas

daerah yang berpasir, ia berhenti untuk mengamati jejak

jejak mereka. Ia melihat hanya jejak dari satu orang,

karena Sternau berjalan tepat di atas jejak orang Indian

itu.

“Uf,” kata orang Indian itu sambil mengangguk

menandakan persetujuannya.

Perjalanan mereka mula-mula menempuh padang

rumput yang diselangi oleh tanah berpasir, kemudian

melalui dataran tinggi ditumbuhi oleh semak belukar dan

akhirnya melalui hutan lebat dengan pohon besar-besar,

sehingga orang dengan mudah dapat bersembunyi di

baliknya. Setelah berjalan hampir dua jam lamanya orang

Indian itu mulai menunjukkan sikap hati-hati. Ngarai

Harimau Kumbang tentu sudah tidak jauh lagi. Tiba-tiba

orang Mixteca itu berhenti lalu berbisik, “Kita sudah dekat

dengan mereka, janganlah mengeluarkan suara!”

Sternau menerima peringatan itu tanpa berkata-kata

lalu berhati-hati mengikuti penunjuk jalannya. Akhirnya

orang Indian itu merebahkan dirinya ke atas tanah lalu

menyuruh kawannya meniru perbuatannya. Perlahanlahan

mereka merangkak hingga terdengar olehnya suara

orang-orang berbicara. Sesaat kemudian mereka tiba di

tebing ngarai yang sangat curam sehingga nampaknya

sukar didaki orang. Ngarai itu kira-kira delapan ratus

langkah panjangnya serta tiga ratus langkah lebarnya. Di

dasarnya meliuk-liuk sebuah batang air. Di sampingnya

ada sepuluh orang laki-laki bersenjata lengkap sedang

berbaring-baring di atas rumput. Di jalan keluar dan

masuk ngarai itu ditempatkan seorang jaga.

Sternau yang dalam sedetik sudah memahami keadaan

itu bertanya berbisik, “Bukankah Anda telah melihat tiga

kali duabelas orang ketika itu?”

“Memang benar.”

“Kini hanya tinggal dua belas orang. Yang lain sudah

pergi.” “Mungkin sedang memata-matai.”

“Atau sedang merampok.”

Sternau menangkap percakapan mereka karena mereka

bercakap keras-keras. Setiap kata terdengar dengan

jelasnya. Orang-orang itu tentunya merasa aman sekali.

“Dan berapa upah yang akan kita terima bila dapat

menangkap mereka?” tanya salah seorang. “Sepuluh peso

untuk setiap orang? Itu sudah cukup. Dua orang Jerman

dan seorang Spanyol itu tidak semahal itu harganya.”

Sternau mengerti bahwa mereka sedang membicarakan

dirinya bersama kedua teman perjalanannya.

“Mereka telah menempuh jalan lain. Persetan dengan

mereka,” kata yang lain.

“Apa gunanya menyumpahi mereka?” tanya orang yang

berbaring di sisinya. “Malah lebih baik mereka lolos. Kini

seluruh hacienda merupakan hadiah bagi kita … asal kita

dapat menembak mati setiap orang, terutama orang

Jerman dan orang Spanyol itu.”

“Masih ingatkah kau siapa nama-nama mereka?”

“Orang Jerman itu bernama Sternau dan orang Spanyol

itu Lautreville.”

“Sudah cukupkah jumlah orang-orang kita untuk

menyerang hacienda itu? Arbellez mempunyai kira-kira

lima puluh orang vaqueros.”

“Jangan khawatir, kita akan menyerbu sebelum mereka

dapat mengadakan persiapan.”

Itu sudah cukup bagi Sternau. Sebetulnya ia tidak

menyukai pertumpahan darah. Namun dalam hal ini ia

perlu mencegah kawanan perampok yang ganas itu

merajalela. Dengan hati-hati ia mengangkat bedilnya.

“Apa yang hendak Anda lakukan?” tanya orang Indian

itu cemas.

“Menyingkirkan mereka.”

Mungkin orang Indian itu menganggap kawannya sudah

menjadi gila. Ia ingin merangkak mundur, namun Sternau

memerintah, “Diam! Takutkah Anda? Saya ini Matava-se,

Ratu Batu Karang! Kaum pembunuh itu sudah berada di

tangan kami,” katanya sungguh-sungguh.

Demi orang Indian itu mendengar nama itu, maka ia

sangat terkejut lalu menunjukkan rasa hormat yang

sangat.

“Arahkan senapanmu ke jalan keluar. Tiada seorang

pun yang boleh lolos.” Kemudian Sternau mengokang

bedilnya dan membidik ke arah bawah. Tetapi ia belum

menembak.

“Perhatikan cara Ratu Batu Karang menaklukkan

lawannya! Tembaklah tangan ataupun kaki musuh!”

Setelah berkata demikian ia bangkit berdiri dengan

tegak supaya lawannya dapat melihatnya lalu ia menjerit

keras-keras. Serta merta semua orang melihat ke arahnya.

“Inilah Sternau, orang yang kamu cari-cari!” serunya ke

bawah

Suaranya dipantulkan kembali oleh gema dan pada saat

itu ia menembakkan pelurunya yang pertama. Kaum

perampok berlompatan meraih senjatanya yang terserak di

sekitar mereka. Cepat-cepat Sternau merebahkan diri lagi

dan melepaskan tembakan-tembakan berikutnya bersama

Kepala Banteng. Sebelum kawan perampok menyadari apa

yang terjadi, lima orang di antara mereka terluka.

Selebihnya melepaskan tembakan secara membabi buta ke

atas. Mereka segera menyadari bahwa perbuatan demikian

sia-sia saja, lalu berusaha melarikan diri. Namun bila

seorang mencapai jalan keluar, ia langsung tertembak oleh

sebutir peluru. Sesaat kemudian hanya tinggal dua orang

yang masih dapat mengadakan perlawanan. Salah seorang

tertembak oleh Kepala Banteng di pahanya, namun yang

terakhir ingin Sternau menawannya tanpa cedera.

“Berbaringlah dan jangan bergerak!” perintahnya. Orang

itu serta merta mematuhi perintah.

“Hampiri orang itu, saya akan menjaga dari atas dengan

senapan saya,” katanya kepada kepala suku Mixteca.

Orang Indian itu bergegas menuruni ngarai. Di jalan ke

luar terbaring seorang perampok tanpa bergerak.

Sternau dengan melompat-lompat mengikuti orang

Indian itu. Ia memerintahkan kepada orang yang terbaring

itu supaya bangkit berdiri. Dengan gemetar sekujur

badannya orang itu mematuhi perintah.

“Berapa orang jumlah kawanmu?” tanya Sternau.

“Tiga puluh enam orang.”

“Di mana yang lainnya?”

Orang itu ragu-ragu memberi jawaban.

“Buka mulutmu kalau kamu sayang akan nyawamu!”

“Mereka pergi ke hacienda Vandaqua.”

“Mengapa mereka ke situ?”

“Mengunjungi Senor di situ.”

“Siapakah Senor itu?”

“Orang yang memberi perintah kepada kami untuk

menyerang hacienda del Erina.”

“Apakah ia menyebut namanya?”

“Tidak.”

“Berapa jauhnya hacienda Vandaqua itu dari sini?”

“Tiga jam.”

“Bilamana kawan-kawanmu itu berangkat?”

“Sejam yang lalu.”

“Bilamana mereka akan kembali?”

“Menjelang malam.”

“Baik. Antarkan kami ke padang rumput tempat kudakuda

kalian ditaruh.”

Sebelum Sternau pergi ke padang rumput ia mengisi

kembali bedilnya. Tiga ekor kuda yang terbaik dipilih

mereka dan dibawa ke ngarai. Senjata kaum perampok itu

semuanya digulung dalam selimut dan ditaruh di atas

salah seekor kuda. Kemudian tawanan itu diikat, namun

tidak begitu kencang, sehingga ia dapat membebaskan diri

dan bergabung dengan yang lainnya. Kedua orang

penakluk itu menaiki kuda lalu berangkat; berjalan kaki

menempuh hutan, menunggang kuda melalui gununggunung

dan melarikan kudanya di atas dataran tinggi.

Penduduk hacienda terheran-heran melihat kedua

penunggang kuda itu tiba. Sternau yang terpaksa telah

meninggalkan pasiennya itu kini langsung pergi

melihatnya. Dalam pada itu orang Mixteca itu berceritera

tentang pengalamannya kepada orang-orang yang

mendengarnya dengan tercengang-cengang.

“Dokter itu di padang prairi seorang pahlawan besar,

terkenal dengan nama Matava-se, yang berarti “Ratu Batu

Karang”.

Sekembali Sternau, Kepala Banteng selesai dengan

ceriteranya. Ia menjumpai Panah Halilintar sedang tidur

nyenyak lalu memberi petunjuk kepada Emma apa-apa

yang harus dikerjakannya. Penghuni Hacienda lainnya

berkumpul di taman. Pedro Arbellez menghampirinya lalu

berjabat tangan dengannya.

“Senor, Anda cepat dalam mengambil keputusan,”

katanya.

“Namun itu bagus. Anda telah menyelamatkan saya dari

suatu bencana.”

Sternau hanya mengangguk saja, lalu bertanya, “Saya

dengar, hacienda Vandaqua itu jauhnya tiga jam

perjalanan dari sini. Benarkah demikian?”

“Benar.”

“Bagaimana perhubungan Anda dengan pemiliknya?”

“Kami bermusuhan.”

“Itu sudah saya sangka. Pablo, Cortejo berkunjung ke

situ, ia telah mengerahkan kawanan pembunuh itu untuk

menyerang Anda. Kita harus menangkapnya. Anda,

Mariano dan saya akan pergi membawa dua puluh orang

ke situ. Kepala Banteng akan kembali lagi ke “Ngarai

Harimau Kumbang” bersama sepuluh orang untuk

mengambil, kuda, dan perampok yang terluka. Yang

lainnya akan tetap tinggal di sini di bawah pimpinan Unger

untuk melindungi hacienda. Anda setuju dengan usul itu?”

Setiap orang suka menjalankan tugas mereka, maka tak

lama kemudian berangkatlah kedua rombongan dari

hacienda, masing-masing ke arah tujuannya.

Rombongan Kepala Banteng agak mudah pekerjaannya.

Rombongan itu segera sampai di ngarai. Mereka membawa

orang-orang yang terluka ke hacienda.

Lain sekali pengalaman rombongan yang pergi ke

hacienda Vandaqua. Mereka harus hati-hati mencari

jalannya. Ketika mereka melewati perbatasan daerah,

maka seorang cibolero dari haci;nda datang menyongsong

mereka. Sternau menghampirinya lalu bertanya, “Kau dari

hacienda Vandaqua?”

“Benar, Senor.”

“Apakah Tuan rumah ada?”

“la sedang bermain kartu memakai petaruh uang perak

peso.”

“Ia bermain dengan siapa?”

“Dengan seorang asing dari ibukota. Namanya saya

lupa.”

“Pablo Cortejo?”

“Benar.”

“Ada orang asing lainnya di sini?”

“Benar. Ada kurang lebih dua puluh orang yang baru

telah tiba. Mereka bergabung dengan kaum vaquero ikut

bermain kartu.”

Kini harus dipikirkan siasat yang tepat untuk

menangkap Cortejo. Masuk ke dalam rumah merupakan

suatu pelanggaran. Namun sebaiknya mereka menemui

Tuan rumah juga. Kemudian terserah bagaimana

perkembangannya. Masih seperempat jam lamanya mereka

berjalan sebelum mereka melihat hacienda. Dari kejauhan

nampak beberapa bintik hitam yang bergerak di atas

dataran tinggi. Setiba mereka di hacienda, Tuan rumah

menyongong mereka.

“Aha, don Pedro,” katanya sambil tersenyum mengejek.

“Ada apa sehingga saya tiba-tiba mendapat kehormatan

besar ini?”

Sternau maju ke depan lalu menjawab sebagai ganti

Arbellez, “Maaf, Senor! Saya asing di sini. Saya mencari

Senor Cortejo di hacienda del Erina. Namun saya dengar

bahwa ia berada di tempat Anda. Bolehkah saya bicara

dengannya?”

Penampilan Sternau begitu berkesan terhadap Tuan

rumah sehingga ia tidak ada selera lagi untuk mengejek. Ia

menjawab, “Maaf, Senor. Don Pablo Cortejo baru saja

berangkat.”

“Ke mana?”

“Entahlah.”

Sternau tertawa dalam hati. Tentu saja Tuan rumah

tidak mau mengkhianati Cortejo. Kini soalnya mencari

kepastian, orang itu berbohong atau tidak, ketika ia

mengatakan bahwa Cortejo sudah pergi. Maka ia bertanya,

“Bolehkah kami beristirahat sebentar di sini?”

“Tentu saja,” jawab orang itu.

“Silakan saja masuk, Senores!” Ajakan itu merupakan

bukti bahwa Cortejo benar sudah pergi.

“Siapakah orang-orang yang naik kuda berjalan ke arah

barat itu?”

“Wallahu’alam – siapa tahu!” jawab Tuan rumah.

Sesungguhnya ia dapat menjawab pertanyaan itu bila ia

menghendakinya. Sternau cepat mengakhiri pertemuan itu

dengan berkata, “Selamat tinggal!” sambil membelokkan

kudanya, “Segera akan kami ketahui siapakah mereka itu.”

Mereka mengikuti jejak rombongan penunggang kuda

itu. Jejak itu menuju ke arah “Ngarai Harimau Kumbang.”

Setibanya di hutan mereka maju sangat perlahan. Kuda

mereka merupakan rintangan untuk berjalan cepat. Lagi

pula mereka harus sangat berhati-hati. Musuh mereka

mungkin sedang bersembunyi dan dapat menembak mati

mereka dari tempat persembunyiannya.

Namun mereka sampai di jalan masuk ngarai tanpa

cedera. Sternau menyuruh rombongannya berhenti untuk

memeriksa jejak. Ia dapat memastikan bahwa kaum

vaquero telah ada di situ, tetapi ada juga jejak yang

menuju ke arah barat dan menghilang dalam hutan. Itu

tentunya jejak Cortejo dengan kawan-kawannya. Kini

harus dicari kepastian ke mana ia pergi. Sternau dan

rombongannya mengikuti jejak itu sampai jauh ke dalam

hutan, membelok ke arah utara dan akhirnya sampai di

dataran tinggi yang tidak ditumbuhi pohon-pohon.

Untuk memperoleh kepastian, mereka mengikuti jejak

sampai menjelang malam. Akhirnya kepastian didapat

bahwa kaum perampok pergi ke sebuah kota kecil

bernama Santa Rosa. Kini mereka dapat menghentikan

pencarian. Kata Sternau, “Kita dapat kembali lagi. Untuk

sementara mereka tidak lagi berbahaya bagi kita. Mereka

baru saja mendapat pelajaran yang tidak akan lekas

mereka lupakan.”

“Saya akan mengadukan hal itu,” kata Arbellez.

“Apa gunanya?”

“Ya, memang tidak ada gunanya. Negeri yang dikaruniai

kekayaan alam yang berlimpah-limpah ini merupakan

negeri yang paling malang di dunia. Ia dikoyak-koyak oleh

penduduknya, yang seorang bermusuhan dengan yang

lain. Keadilan tidak ada di negeri ini. Hanya hukum rimba

berlaku; yang kuat, yang lalim akan menang dan berkuasa.

Siapa menginginkan keadilan harus berusaha sendiri

untuk mencapainya. Mari, baik kita pulang saja! Serangan

yang sedianya akan dilakukan terhadap kita, sudah

digagalkan … untuk sementara kita tidak akan mendapat

gangguan.”

Mereka kembali lagi ke hacienda del Erina setelah hari

sudah jauh malam.

sumber: DISALIN OLEH
Pandu & Tiur Ridawaty
UNTUK
PAGUYUBAN KARL MAY INDONESIA

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s