BAB II BENITO JUAREZ

Pablo Cortejo benar-benar telah berada di hacienda yang
terdekat. Untuk mencapai tujuannya ia telah menyewa
segerombolan petualang yang kebetulan dijumpainya.
Mula-mula gerombolan itu disuruh menyerang serta
membunuh Sternau bersama kawan-kawannya. Usaha itu
gagal, karena ketiga orang itu diperingatkan oleh Kepala
Banteng lalu diantarkan ke tujuannya. Kemudian
dirancangkan penyerbuan ke hacienda del Erina. Mereka
tinggal dekat “Ngarai Harimau Kumbang”. Namun di situ
pun mereka ketahuan oleh Kepala Banteng. Sebagian
besar gerombolan itu dibuat cedera oleh Sternau dan orang
Mixteca itu.
Cortejo menganggap dirinya terlalu tinggi untuk
bergabung dengan gerombolan petualang. Maka ia
berkunjung ke hacienda yang paling dekat. Ia mengetahui
juga bahwa Tuan tanahnya bermusuhan dengan Pedro
Arbellez. Di situ ia mendengar berita bahwa sekitar “Ngarai
Harimau Kumbang” itu telah terjadi tembak-menembak.
Maka langsung ia pergi ke situ untuk mengetahui apa yang
sebenarnya terjadi.
Ketika ia tiba di ngarai, kaum vaquero di bawah
pimpinan Kepala Banteng sudah berangkat.
“Orang-orang dari hacienda del Erina telah berada
disini,” kata Cortejo kepada salah seorang pengikutnya.
“Mereka sudah mengetahui rencana kita lalu mereka
menyerang orang-orang kita. Lekas periksa kuda-kuda kita
masih ada di tempatnya atau tidak.”
Namun ketika mereka tiba di tempat itu, kuda-kudanya
sudah tidak ada lagi.
“Lenyap, semuanya lenyap!” seru Cortejo. “Orang-orang
itu tahu segala rencana kita, segala gerak-gerik kita.
Mungkin mereka akan kembali lagi. Atau mungkin juga
mereka sedang menghadang kita. Ayo, kita melarikan diri.”
“Tanpa mengadakan pembalasan?” Tanya salah seorang
dengan hati panas.
“Kita baru akan mengadakan pembalasan, bila ada
harapan akan berhasil.”
“Dan kemana kita harus pergi?”
“Ke suatu tempat yang aman terhadap segala
pengejaran ataupun penyerangan, berarti pergi ke kota
yang terdekat.”
“Ke Santa Rosa?”
“Benar, tetapi dengan jalan memutar.”
“Baik, akan kami patuhi kemauan Anda, namun kami
menghendaki pembalasan juga.”
“Saya berjanji, pasti akan ada pembalasan.”
Cortejo berjanji, meskipun tidak tahu bagaimana
caranya melaksanakan pekerjaan itu. Ia menyadari bahwa
rencananya telah menemui kegagalan dan bahwa orangorang
di hacienda del Erina sudah berjaga-jaga. Untuk
sementara ia tidak dapat berbuat apa-apa, itu sudah pasti.
Mula-mula mereka menempuh arah ke barat untuk
menyesatkan. Baru setelah mereka keluar dari hutan
mereka pergi ke arah utara. Perjalanan itu memakan
waktu. Baru jauh malam mereka sampai. Masih ada
beberapa titik cahaya nampak di kejauhan. Ketika mereka
melihat rumah yang pertama, mereka disambut dengan
suara garang, “Siapa Anda?”
“Apa yang kaukehendaki?”
“Yang kukehendaki? Jawaban pada pertanyaanku,”
“Siapakah kamu?”
“Caramba! Masakan Anda tidak tahu. Aku seorang jaga!
Aku ingin tahu apa kerja Anda dan siapakah Anda!”
“Seorang jaga? Lucu benar!” kata Cortejo. “Aneh benar,
apa perlunya seorang jaga?”
“Dalam wakti singkat akan Anda ketahui apakah saya
sebagai lelucon berdiri di sini atau tidak,” jawabnya dengan
nada mengancam. “Jadi katakan, siapakah Anda.”
“Baik, sahabat!” kata Cortejo sambil tertawa. “ Biarkan
kami lalu.”
Orang itu mengeluarkan sebuah peluit dari dalam
sakunya lalu meniupnya; bunyinya nyaring.
“Untuk apa itu?” tanya Cortejo.
“Saya membunyikan tanda bahaya.”
“Ah, omong kosong!”
Dengan mengatakan ini Cortejo hendak mendorong
orang Mexico itu ke samping. Namun orang itu
membidikkan bedilnya ke arahnya sambil berseru, “Diam!
Atau saya tembak Anda. Anda harus menunggu sampai
mereka datang. Santa Rosa sedang dalam keadaan
perang!”
“Astaga! Sejak kapan?”
“Sejak dua jam yang lalu.”
“Dan siapa yang mengeluarkan peraturan itu?”
“Senor Juarez.”1
(1 Ucapannya “huwares”. Seorang gubernur propinsi Oaxaca, kemudian
menjadi Presiden Mexico (1858-1872), seorang Indian asli.)
Nama itu menimbulkan rasa hormat. Orang-orang
Cortejo yang mula-mula hendak menerjang jaga itu, kini
menahan diri, Cortejo pun terkejut.
“Juarez!” serunya. “Jadi Senor Juarez ada di Santa
Rosa?”
“Itu sudah kukatakan.”
“Kalau begitu, lain soalnya. Aku akan mengalah. Itu,
kawan-kawanmu sudah datang!”
Bunyi peluit jaga itu disambut dengan bunyi peluit
kedua. Kini datang beberapa orang bersenjata lengkap.
Pemimpinnya bertanya, “Ada apa Hermillo?”
“Orang-orang ini ingin memasuki kota.”
“Siapakah mereka?”
“Mereka masih belum menyebut namanya.”
“Maka kepada saya tentu Anda mau menyebut nama
Anda?”
“Nama saya Pablo Cortejo,” bunyi jawab itu cepat, “saya
datang dari ibukota. Saya dalam perjalanan pulang,
hendak singgah di Santa Rosa.”
“Orang-orang lainnya itu rombongan Anda?”
“Benar.”
“Apa pekerjaan Anda?”
“Saya pengurus harta milik Pangeran Rodriganda.”
“Jadi seorang hartawan lintah darat! Ikut saya!”
Perkataan itu kurang ramah kedengarannya.
“Tidak jadi saya singgah di kota ini. Saya akan
meneruskan perjalanan saja!” jawab Cortejo cepat.
“Tidak boleh,” kata orang itu. “Anda sudah berada di
ambang kota ini, jadi tidak boleh kembali lagi. Ayo, jalan!”
Cortejo menurut. Sebetulnya tidak seberapa susahnya
bila ia, berkendaraan kuda, melarikan diri ke tempattempat
yang gelap, namun Cortejo bukanlah seorang yang
gagah berani. Ia menganggap lebih aman untuk mematuhi
perintah. Pemimpin pasukan itu membawanya masuk ke
kota. Kota itu hanya terdiri atas beberapa rumah, namun
kini ramai benar kesannya. Dimana-mana tampak kuda
tertambat. Para penunggangnya mendapat pelayanan
istimewa dari penghuni rumah-rumah itu. Juarez
menempati rumah yang terindah di kota itu. Cortejo dan
rombongannya digiring ke situ. Di muka pintu mengawal
empat orang serdadu berkuda berbendera sambil
memegang pedang terhunus. Cortejo, dan rombongannya
turun dari atas kuda, masuk bersama pemimpin pasukan
ke dalam rumah. Langsung ia dibawa ke sebuah ruangan
yang luas. Orang-orang duduk mengelilingi meja.
Pemimpinnya adalah Juarez, seorang bangsa Indian.
Rambutnya digunting secara pendek, sehingga bentuk
persegi dari kepalanya yang agung itu makin menonjol. Ia
berpakaiaan secara sederhana, lebih sederhana dari pada
yang lain-lainnya. Namun setiap orang asing pasti akan
mengetahui bahwa ia adalah pemimpinnya.
“Ada apa?” tanyanya pendek, demi melihat rombongan
itu masuk.
“Orang-orang ini ditahan oleh prajurit pengawal,” bunyi
laporan perwira bawahan.
Orang Indian itu menatap Cortejo. “Siapakah Anda?”
“Nama saya Pablo Cortejo, saya pengurus harta benda
Pangeran Rodriganda dan tinggal di Mexico,” bunyi
keterangan Cortejo.
Juarez berpikir sejenak lalu bertanya, “Hartawan
Rodriganda yang memiliki hacienda del Erina itu?”
“Benar.”
“Anda hendak pergi ke mana?”
“Kembali ke Mexico.”
“Dan dari mana Anda datang?”
“Dari hacienda Vandaqua.”
“Apa kerja Anda di situ?”
“Mengadakan kunjungan pada hacienda.”
“Untuk apa?”
“Itu suatu kunjungan muhibah.”
Juarez mengerutkan keningnya menandakan
kemurkaannya. “Oh, begitu, jadi Anda itu kawannya?”
“Benar,” jawab Cortejo tanpa berpikir panjang.
“Kalau begitu, Anda bukanlah kawanku. Orang itu
pengikut Presiden.”
Cortejo menjadi pucat. Presiden Mexico pada masa itu,
telah mengadakan perjalanan keliling untuk
mengumpulkan simpatisan. Orang-orang yang tidak setuju
dengan politiknya dibasmi olehnya tanpa mengenal
kasihan.
“Saya belum pernah menanyakan tentang keyakinan
politiknya,” demikian Cortejo membela diri. Namun hal itu
tidak banyak mengubah keadaannya, karena mata Juarez
yang hitam itu memercikkan api dan bibirnya membuka,
sehingga menampakkan sebaris gigi putih metah
berkilauan seperti pada seekor anjing yang bersiap-siap
hendak menerkam.
“Aku tidak begitu mudah Anda bohongi!” geram Juarez.
“Bila dua orang pun bertemu, mereka akan membicarakan
politik, demikian keadaannya masa kini. Lagi pula saya
tahu bahwa Anda adalah salah seorang pengikut Herrera,”
tambahnya dengan nada mengancam. Cortejo cepat-cepat
hendak membela diri, “Anda tentu salah paham, Senor.
Saya selalu menjauhi partai politik,”
“Maka Anda tergolong daging tidak, ikan pun tidak.
Malah itu lebih berbahaya. Saya harus mengamati Anda,
dan harus memperlakukan Anda sebagai mata-mata,
sebelum terbukti kebalikannya.”
“Namun saya bukan mata-mata, Senor,” raung Cortejo
sesak nafas.
“Itu perlu dibuktikan lebih dahulu. Saya pantas merasa
curiga terhadap Anda. Agak kurang masuk di akal, Anda
menempuh jarak dari Mexico ke hacienda Vandaqua hanya
untuk mengadakan kunjungan muhibah. Dan mengapa
Anda mengadakan perjalanan ke arah kebalikan dari
tujuan Anda?”
Cortejo tidak dapat menyembunyikan rasa malunya.
“Anda tidak menjawab,” sambung orang Indian itu.
“Tidak apa. Maka saya akan menahan Anda saja. Esok
pasti kita akan mendengar kebenarannya.”
“Saya tak bersalah,” rengek Cortejo beriba-iba.
“Semoga benar demikian! Kini enyahlah kalian!”
Salah seorang di antara yang hadir tiba-tiba
memperdengarkan suaranya, “Senor Juarez, bolehkah saya
mengemukakan sesuatu? Apakah saya mendapat
kepercayaan Anda?”
Si pembicara itu seorang Mexico bertubuh tinggi besar
serta luar biasa tegap. Penampilannya sangat menyolok di
antara orang Mexico lainnya yang biasanya bertubuh kecil.
“Anda mempunyai permintaan apa, Senor Verdoja?”
jawab Juarez. “Saya telah mengangkat Anda sebagai
kapten pada pasukan pengawal saya. Bukankah hal itu
berarti bahwa saya menaruh kepercayaan penuh kepada
Anda? Maka apa maksud Anda dengan permintaan itu?”
“Saya memohon kepada Anda untuk menaruh
kepercayaan pada perkataan Cortejo,” jawab yang lain.
Cortejo, disebabkan oleh ketakutannya, tidak melihat
orang-orang lainnya yang hadir, maka orang ini pun tidak
dilihatnya. Namun ketika ia mendengar suaranya yang
besar, ia pun tersenyum dengan gembiranya. Ia sudah
diselamatkan, orang yang membelanya itu dikenalnya.
Verdoja itu meskipun bukan seorang jutawan, namun
boleh dinamakan seorang tuan tanah hartawan. Di sebelah
barat negeri ia memiliki tanah yang sangat luas. Ialah
tetangga Pangeran Rodriganda, tuan tanah di daerah itu
juga. Di situ terdapat juga tambang-tambang air raksa
yang sudah tua. Verdoja ingin sekali membeli tanah itu,
tetapi don Fernando tidak mempunyai keinginan
menjualnya.
“Apa? Jadi Anda mengenalnya?” tanya Juarez.
“Benarlah,” jawab Cortejo.
“Jadi Anda tidak menganggap dia berbahaya?”
“Tidak, sebaliknya, ia adalah kawan Anda. Saya berani
menjamin.”
Juarez sekali lagi mengamati Cortejo. “Bila Anda
menjamin, ia boleh pergi. Tetapi Anda bertanggung jawab
atas segalanya.”
“Baik, Senor.”
Juarez menghadap pada Cortejo lalu bertanya,
“Siapakah orang-orang yang bersama Anda itu?”
“Mereka boleh pergi dan mencari tempat bermalam.
Anda boleh makan bersama kami. Saya percayakan Anda
kepada Senor Verdoja. Anda telah mendengar bahwa ia
menjamin Anda. Maka janganlah membawanya dalam
kesukaran.”
Dengan demikian perkara yang tadinya nampak
berbahaya itu, ternyata berbalik menjadi baik. Bagi Cortejo
disiapkan tempat meja makan. Ia duduk di sebelah Verdoja
dan menyantap makanan bersama Juarez, makanan yang
meskipun tidak dapat dikatakan mewah, namun cukup
bergizi. Mereka makan dan minum sekenyangnya dan
seusai makan-makan itu tidak ada seorang pun yang tidak
sedikit banyaknya menjadi mabuk. Hanya Juarez
mengingat batas-batasnya. Demikian sudah menjadi sifat
bagi bangsa Indian. Ia bangkit lalu mengundurkan diri. Itu
merupakan tanda bagi orang-orang untuk meninggalkan
ruangan. Verdoja dan Cortejo meninggalkan rumah itu.
Kini mereka dapat berbincang-bincang tanpa mendapat
gangguan orang.
“Anda boleh tidur di rumah saya,” kata Kapten. “Saya
harap Anda tidak berkeberatan.”
“Sekali-kali tidak, saya merasa mendapat kehormatan,”
jawab Cortejo. “Terima kasih banyak atas usaha Anda
untuk membela saya, Senor Verdoja! Tanpa pertolongan
Anda tentu malam ini saya tidak akan dapat tidur.”
“Tentu tidak. Namun saya merasa heran, mengapa Anda
mengadakan kunjungan ke hacienda Vandaqua. Terus
terang saja, pemilik hacienda itu…sangat diragukan nama
baiknya.”
“Benarkah demikian?”
Cortejo sangat terkejut, bagaikan kena tampar ia pada
mukanya. Sebenarnya ia sudah mengetahui nama pemilik
hacienda itu yang sudah rusak di mata orang. Ia
menyadari bahwa nyawanya telah bergantung pada sehelai
rambut.
“Benarlah demikian,” jawab Kapten. “Sebenarnya saya
tidak boleh bicara tentang hal itu, sebab masih merupakan
rahasia. Namun apa keperluan Anda di hacienda
Vandaqua itu? Sepanjang pengetahuan saya, tetangga
Anda itu bukan kawan Anda.”
“Itu sudah berubah, Senor Verdoja. Ia bukanlah
tetangga saya lagi.”
“Apa? Bukan tetangga? Saya tidak mengerti.”
“Hacienda del Erina itu bukanlah lagi milik kami. Pedro
Arbellez telah mewarisinya.”
“Carajo! Dari Pangeran Fernando? Hampir tak dapat
dipercaya! Saya tidak boleh membeli tanah sempit itu,
sedangkan dia mendapat tanah seluas dua puluh mil
persegi dengan cuma-cuma saja! Saya ingin mendengar
lebih banyak tentang hal itu. Silahkan masuk, saya tinggal
di rumah ini.”
Mereka telah tiba di muka rumah. Pintu langsung
dibuka orang. Pemilik rumah tidak menampakkan diri.
Verdoja menghuni kamar yang terbaik, tempat tidurnya
sudah disiapkan dan di atas meja sudah dihidangkan
makanan.
“Saya rasa tidak perlu lagi kita makan,” katanya. “Saya
tidur di atas tempat tidur, Anda boleh tidur di atas tikar
gantung.”
“Itu sudah cukup bagiku. Saya tidak mau terlalu
menyusahkan Anda,” kata Cortejo.
Tikar gantung itu disiapkan lalu Cortejo tidur di
atasnya. Kapten duduk di atas tempat tidurnya. Ia
menawarkan sebatang rokok kepada tamunya lalu
bertanya, “Benarkah bahwa Alfonso, ahli waris Pangeran
Fernando itu ada di Spanyol?”
“Sudah satu setengah tahun lamanya.”
“Jadi Anda seorang diri saja mendapat tugas mengurus
tanah-tanahnya yang begitu luas itu? Senang sekali
mendapat tugas empuk seperti itu.” Sindir Kapten sambil
melempar pandangan penuh arti kepadanya. “Apakah saya
akan kebagian rezeki juga, kawanku Pablo Cortejo?”
“Maksud Anda tanah yang ada tambang air raksa itu?
Eh… ya… itu nanti dapat diatur. Namun katakanlah lebih
dahulu, Juarez mempunyai rencana apa dengan hacienda
Vandaqua itu?”
“Menindak pemiliknya. Dia seorang pengkhianat!”
“Tindakan apa kiranya?”
“Itu sebenarnya merupakan rahasia, hanya yang pasti
ialah: esok hari waktu seperti sekarang ini, pemilik
hacienda tidak akan hidup lagi. Juarez ialah orang yang
berpendirian keras. Ia tidak akan mengenal ampun.
Hacienda del Erina akan saya lihat juga.”
“Apa? Apa maksud Anda?”
“Sebagian di antara kami akan berkemah di situ.”
“Oh, begitu,” geram Cortejo. “Anda juga?”
“Ya.”
Cortejo termenung sejenak. Itu dilihat oleh Kapten. Ia
bertanya, “Apa yang Anda pikirkan, Senor?”
“Tanah yang ada tambang air raksa itu,” kata Cortejo
sambil tersenyum.
“Apa? Anda mau menjualnya?” Tanya Kapten dengan
penuh selera.
“Berani berapa Anda?”
“Ah… berapa ya? Tanah itu bukan berupa padang
rumput. Kalau padang rumput, boleh juga harganya.”
“Perlukah Anda memakai siasat saudagar cerdik,
barang yang dikehendakinya dicelanya habis-habisan.
Lebih baik kita bermain kartu terbuka saja. Jadi
tinggalkan segala ulah: sebut harga yang Anda anggap
pantas.”
“Sudah saya katakan: itu bukanlah padang rumput.
Daerah itu terdiri dari dataran tinggi tandus yang sukar
dicapai orang serta jurang-jurang yang dalam dan tandus.
Namun karena letaknya dekat tanah saya, saya mau
membayar sepuluh ribu peso.”
Cortejo tertawa terbahak-bahak serta menyindir,
“Sungguh lucu tawaran Anda itu.”
“Mengapa, Senor?”
“Karena tanah itu telah dibeli oleh Pangeran seharga
seratus ribu peso dan kini harganya mungkin sudah empat
kali lipat.”
“Itu hanya dugaan Anda.”
“Bila dugaan saya benar, maka disamping air raksa,
tanah itu mengandung juga logam mulia. Dengan demikian
harga akan membubung tinggi, melampaui satu juta,
karena tanah itu akan memberi bunga yang tidak
tanggung-tanggung besarnya, beratus-ratus ribu peso.”
“Itu pikiran yang gila.”
“Bukan. Itu keyakinan saya yang berdasarkan faktafakta
yang nyata… namun saya mengingat hari depan.
Daerah itu akan penuh dengan penduduk dari kalangan
buruh.”
“Kita tidak mau membayar berdasarkan dugaan.”
“Namun saya mengejar keuntungan bagi saya sendiri.
Saya mempunyai itikad baik terhadap Anda.”
“Ascuas, sejak kapan Anda begitu suka menolong orang
lain?”
“Sejak sekarang, Anda tahu saya mengetahui tentang
harga-harga. Anda telah menolong saya. Tanpa Anda,
mungkin saya sudah ditembak mati. Maka karena itu saya
rela mengurangi permintaan saya akan harga tanah yang
mengandung air raksa itu.”
Kapten tetap acuh tak acuh. “Mungkin Anda bermaksud
memberikan tanah itu dengan cuma-cuma kepada saya?”
ejeknya.
“Memang itu kehendak saya.”
Verdoja melompat dari tempat tidurnya. “Apa kata
Anda?” serunya.
“Anda tidak salah mendengar: saya menghibahkan
tanah yang mengandung air raksa itu kepada Anda.”
Verdoja menjatuhkan dirinya kembali ke atas tempat
tidur dan menjawab dengan kasar, “Mustahil! Itu terlalu
bagus kedengarannya!”
“Namun benar juga.”
“Cortejo, Anda tidak akan mungkir pada janji Anda?”
“Tidak.”
“Kini saya benar-benar menjadi bingung. Saya khawatir,
Anda masih belum menyadari benar-benar isi janji Anda.”
“Saya sadar sesadar-sadarnya.”
Kini Verdoja kehilangan sabarnya, “Saya peringatkan
Anda, jangan main-main dengan saya. Mana ada orang
yang mau menghibahkan tanah seluas itu… kalau dia
masih waras pikirannya.”
“Maksud saya mengatakan: ada syarat-syaratnya untuk
memperoleh hadiah itu.”
“Wah! Baru saya mengerti. Kini baru harimau kelihatan
belangnya. Jadi ada syarat-syarat tertentu yang harus
dipenuhi. Nah, sebut saja syarat-syarat itu!”
“Anda harus membantu saya.”
“Nah, katakan saja. Saya ingin mendengar apa
syaratnya untuk dapat memperoleh hadiah semahal itu.”
“Ya… kita harus berhati-hati dalam perkara seperti ini.
Kita kan sudah saling percaya-mempercayai. Saya tahu
bahwa Anda adalah orang yang mempunyai tenaga fisik
yang sangat kuat…”
“Memang demikian! Tetapi apa kaitannya dengan
perkara ini?”
“Lagi pula Anda itu seorang ahli penembak dan pemain
anggar…”
“Memang demikian. Berkelahi menggunakan pisau
belati pun mahir.”
“Anda tepat orang yang saya perlukan. Saya percaya
bahwa fisik Anda masih dalam keadaan baik.”
“Tentu saja,” kata Kapten sambil tertawa. “Lawan saya
dalam berkelahi pada akhirnya selalu mengalami knock
out.”
“Bagus. Anda akan menghadapi beberapa orang yang
merintangi jalan saya.”
“Jadi itu maksud Anda! Sekarang saya mengerti. Anda
hendak menaikkan pangkat saya menjadi pembunuh
gelap,” sindirnya.
“Bukan begitu. Saya akan menunjukkan kepada Anda
beberapa orang. Mudah Anda mencari alasan untuk
berkelahi dengan mereka. Dalam bidang ini, saya kira,
Anda tidak perlu mendapat nasihat apa-apa.”
“Itu perkara gampang. Jadi saya usahakan, mereka
bertengkar dengan saya, kemudian tembak atau tusuk saja
mereka lalu…”
“Lalu akan saya hibahkan tanah itu kepada Anda.”
“Caramba! Sungguh benar?” Tanya Verdoja dengan
semangat berkobar-kobar. “Namun tanah itu bukan milik
Anda, melainkan milik Pangeran Alfonso de Rodriganda?”
“Pangeran akan menyatakan setuju.”
“Maksud Anda: Pangeran akan menandatangani surat
perjanjian penghibahan tanah itu?”
“Memang, itulah tepatnya yang hendak saya katakan,
tak kurang dan tak lebih.”
“Kalau begitu, saya ingin bertemu selekasnya dengan
orang-orang yang Anda maksudkan itu.”
“Itu pekerjaan yang gampang sekali. Mungkin esok hari
Anda sudah dapat berjumpa dengan mereka.”
“Di mana?”
“Di hacienda del Erina.”
“Carajo! Jangan-jangan orang yang Anda maksudkan
itu Pedro Arbellez yang sudah tua itu.”
“Bukanlah dia, melainkan tamu-tamunya. Ia
mempunyai beberapa orang tamu, yang sebaiknya dikirim
ke surga, atau lebih baik lagi ke neraka saja.”
“Siapakah mereka?”
“Pertama-tama seorang dokter bangsa Jerman,
namanya Sternau.”
“Bagus. Saya akan mengingat nama itu.”
“Kemudian seorang pelaut bangsa Jerman. Namanya
saya kira Unger. Yang ketiga adalah orang Spanyol
bernama Mariano atau Letnan Alfred de Lautreville.”
“Jadi tiga orang: Sternau, Unger, dan Mariano atau
Lautreville. Nama-nama itu tak akan saya lupakan. Jadi
beginilah perjanjiannya: saya akan mencari gara-gara,
timbul perkelahian, saya membela diri lalu… daerah
bertambang air raksa itu menjadi milik saya.”
“Tepat demikian.”
“Apa jaminannya?”
“Sumpah saya demi segala yang suci.”
“Itu saja jaminannya? Memang, itu sudah merupakan
jaminan, meskipun agak kurang kuat. Saya merasa heran,
apa sebenarnya sebabnya, maka Anda begitu benci kepada
mereka. Mereka telah menghina Anda?”
“Benar.”
“Namun saya kurang percaya, Senor Cortejo! Masakan
Anda mau menghibahkan seluruh tanah itu hanya untuk
membalas suatu penghinaan. Mesti ada apa-apanya.”
“Andaikata ada, itu bukanlah urusan Anda.”
“Memang Anda benar. Namun mengapa Anda tidak
membunuhnya sendiri saja?”
“Mana mungkin? Pedro Arbellez itu musuhku. Saya
tidak dapat menampakkan diri di hacienda del Erina.”
“Anda dapat menghadangnya di tempat yang tersebunyi
sampai mereka keluar dari hacienda.”
“Berhubung dengan pekerjaan saya, saya tidak ada
waktu berbuat demikian. Terus terang saja, justru karena
itu saya ada di sini. Perlu juga saya katakana bahwa saya
telah menyewa beberapa orang jago berkelahi…”
“Ketiga orang itu?” ejek Kapten.
“Ee, jangan pandang enteng mereka. Berbahaya
menghadapi mereka jika mereka dibuat marah.”
“Caramba! Saya ingin berkenalan dengan ketiga
pahlawan itu. Jadi mereka telah Anda sewa. Orang-orang
demikian tentunya tidak segan-segan melakukan
perbuatan apa pun.”
“Memang demikian.”
“Orang-orang semacam itu saya perlukan. Bolehkah
mereka membantu saya, Senor?”
Itu justru yang dikehendaki Cortejo, maka ia menjawab,
“Kebetulan mereka cocok sekali untuk pekerjaan itu. Hati
mereka sedang panas-panasnya. Sudah lama mereka
mengandung niat untuk membalas dendam pada ketiga
orang itu. Bawalah saja mereka, saya tidak dapat memberi
kesempatan untuk membalas dendam.”
“Bagus, saya gembira dapat memberi kesempatan itu
kepada mereka. Esok hari pada waktu sarapan pagi saya
akan berembuk dengan mereka. Anda akan kembali ke
Mexico?”
“Ya.”
“Anda akan segera mendengar berita dari saya bila
pekerjaan saya ini sudah selesai.”
“Akta pembelian atau yang sesungguhnya akta
penghibahan itu akan dikirim langsung ke Spanyol untuk
ditandatangani oleh Pangeran Alfonso. Bagaimana rencana
Anda untuk membunuh ketiga orang itu?”
“Itu baru dapat saya katakan, setelah saya bercakap
dengan mereka. Namun sekarang saya harus minta diri.
Anda boleh tidur saja. Saya masih harus memeriksa
beberapa pos penjagaan. Juarez dalam hal demikian
sangat keras pendiriannya. Bila ia mencium suatu
kelalaian, maka kepala seorang perwira pun tidak akan
dapat dijamin tetap melekat pada tubuhnya.”
Dengan senyum gembira, Cortejo merebahkan dirinya
ke atas tikar gantung. Kini ia dapat pulang lagi ke Mexico
tanpa merasa cemas atau khawatir sedikit pun, karena
kesulitan-kesulitannya sudah diambil alih oleh orang yang
sanggup menandingi lawan-lawannya. Verdoja adalah
orang yang kasar serta kejam, tidak segan-segan
melakukan kejahatan. Untuk memperoleh tanah yang
mengandung air raksa itu ia mau melakukan pembunuhan
terhadap tiga orang itu, bahkan bila perlu terhadap
sepuluh atau dua puluh orang pun. Apakah ia mau
memenuhi janjinya, itu masih merupakan tanda tanya.
Setelah ketiga orang itu terbunuh, maka ia masih dapat
pura-pura tidak tahu-menahu tentang perkara itu. Verdoja
tidak akan dapat berbuat apa-apa. Ia tidak akan berani
mengadukannya ke pengadilan, karena ia sendiri akan
mengalami kehancuran.
Sedang Cortejo mempertimbangkan segala hal ini, maka
Kapten pengawal pribadi sedang bertugas dari pos yang
satu ke pos yang lain. Pikiran Kapten lebih dipenuhi oleh
perdagangan gelap itu daripada oleh tugas ketentaraannya.
“Jadi sebabnya mengapa mereka harus dibunuh itu
bukanlah penghinaan,” pikirnya. “Maka apakah sebab
yang sesungguhnya?”
Sambil berjalan kaki di malam yang gelap itu ia
mempertimbangkan berbagai hal.
“Orang Spanyol itu berani membayar mahal…tanah
seluas dan semahal itu rela dikurbankannya. Untuk apa?
Hanya untuk membalas dendam karena penghinaan?
Tidak masuk di akal. Pangeran sampai rela menghibahkan
tanah yang mengandung air raksa itu. Jadi hal itu berarti
bahwa seluruh milik Pangeran itu ada dalam bahaya. Itu
sudah pasti. Dan siapakah ketiga orang itu? Seorang
dokter dan seorang pelaut, keduanya orang Jerman. Yang
ketiga ialah seorang Spanyol bernama Mariano atau Alfred
de Lautreville. Alangkah misterius kedengarannya.
Agaknya orang Spanyol ini merupakan biang keladinya.”
Verdoja melanjutkan perjalanan kelilingnya, namun
pikirannya dihantui oleh kemungkinan akan melesetnya
perdagangan gelapnya itu disebabkan oleh kecurangan
dari pihak rekan niaganya itu.
“Apakah Cortejo akan menepati janji?” pikirnya. “Aku
kenal dia sebagai seorang penipu besar. Bagaimana kalau
ia berbuat pura-pura tidak tahu-menahu tentang
perjanjian itu, setelah kubunuh ketiga orang itu. Maka
tanah yang mengandung air raksa itu akan lenyap di
hadapan mataku… lalu aku tidak dapat berbuat apa-apa.
Namun dalam hal itu Cortejo akan turut hancur juga. Itu
sudah pasti. Perkara itu masih perlu aku pikirkan masakmasak
dahulu.”
Ia pulang lagi dan pergi tidur. Keesokan harinya ia
memanggil rombongan pengikut Cortejo. Ia mengadakan
tanya jawab dengan mereka, disaksikan oleh Cortejo.
“Siapakah kalian sebenarnya?” demikian ia memulai.
Petualang yang kemarin mengangkat bicara, menjawab
dengan menyeringai akrab, “Senor Cortejo belum
menerangkan kepada Anda? Kami orang miskin yang mau
mencari nafkah dengan cara apa pun.”
“Jadi tidak perduli yang halal ataupun yang haram?
Saya dapat memberi kalian nafkah, setujukah?”
“Sayang itu tidak dapat, karena kami masih bekerja
pada Senor Cortejo.”
“Dia sudah mengalihkan kalian kepadaku.”
“Wah!” seru orang itu. “Benarkah itu, Senor Cortejo?”
“Benar,” jawab orang Spanyol itu.
“Kami tidak mau, Senor! Kami orang yang bebas. Anda
telah berjanji bahwa kami boleh membalas dendam.”
“Saya tidak dapat lebih lama lagi bersama kalian,
namun Kapten ini akan meneruskan pekerjaan saya.”
“Benar,” kata Verdoja. “Orang-orang yang bekerja pada
saya, akan saya bawa ke hacienda del Erina.”
“Bersama pasukan berkuda?”
“Tidak, bersama saya. Apakah hacienda itu diberi
berpagar?”
“Ya. Pagarnya kuat sekali.”
“Tidak apa…Hingga tengah malam kalian bersembunyi,
kemudian salah seorang di antara kalian bertiga itu, harus
pergi ke tempat yang paling ujung sebelah selatan pagar.
Saya akan ada di situ untuk memberi petunjuk
kepadanya.”
“Bagaimana tentang upah kami?”
“Sama dengan pada Senor Cortejo.”
“Kalau begitu, boleh juga. Dapatkah kita berangkat
sekarang?”
“Belum. Juarez masih belum memberi perintah.”
Para petualang pergi. Mereka belum semuanya setuju
dengan pindah tangan majikan ini. Beberapa orang
menganggap lebih baik mereka kembali saja bergabung
dengan gerombolan mereka. Verdoja pergi ke tempat
Juarez. Juarez minta supaya Cortejo dihadapkan
kepadanya. Ketika Cortejo masuk, ia disambut dengan
pertanyaan, “Tahukah Anda, siapa yang menyelamatkan
Anda?”
“Ya, saya tahu… namun saya pun tidak bersalah.”
“Diam! Senor Verdoja masih tetap menjamin Anda. Kini
Anda mau ke Mexico?”
“Benar.”
“Mereka di sana tidak boleh tahu bahwa saya ada di
Santa Rosa, namun Anda akan membocorkan rahasia itu.
Maka Anda tidak diizinkan berangkat.”
“Saya dapat menyimpan rahasia seperti dalam kuburan,
Senor.”
“Seorang kulit putih tidak dapat, hanya seorang Indian
dapat. Seorang kulit putih mungkin baru dapat dipercayai
suatu rahasia bila ia menyatakannya dengan sumpah.”
“Ya, saya berani bersumpah, Senor.”
“Baik, bersumpahlah!”
Cortejo harus mengangkat tangannya dan berjanji tidak
akan bicara tentang pertemuannya dengan Juarez.
“Kini Anda boleh berangkat,” kata Juarez. “Bawalah
orang-orang Anda dan janganlah lupa bahwa Anda
bertanggung jawab terhadap mereka.”
Sesaat kemudian Cortejo sudah duduk di atas pelana
untuk meninggalkan Santa Rosa. Para petualang pergi
bersamanya, karena orang tidak boleh tahu bahwa Verdoja
ada hubungan dengan mereka. Mereka hanya tinggal
delapan orang, yang lainnya telah bergabung dengan
Juarez. Tidak lama kemudian mereka berpisah dengan
Cortejo lalu dengan jalan memutar pergi ke arah hacienda
del Erina. Setelah Cortejo berangkat dibunyikan trompet
yang menandakan keberangkatan pasukan Juarez.
Pasukan bertombak itu menaiki kudanya. Juarez dan
perwira-perwiranya memegang pimpinan. Kuda-kuda
separuh liar itu dilarikan kencang-kencang menempuh
dataran tinggi.
Masa itu masa yang buruk bagi Mexico. Sudah lama
mereka melepaskan diri dari induk negerinya Spanyol.
Suatu negara baru telah didirikan, namun untuk menjadi
negara merdeka yang berdaulat, masih banyak terasa
kekurangan. Presiden yang satu terdesak oleh yang lain,
keadaan keuangannya morat-marit, badan-badan
pemerintah tidak bekerja dengan baik, kesadaran
bernegara, kesetiaan terhadap negara belum nampak. Di
kalangan tentara, tidak ada yang mau mematuhi perintah,
setiap perwira ingin memerintah sendiri, setiap jendral
berkeinginan menjadi presiden. Siapa yang memegang
tampuk pemerintahan, berkeinginan secepat mungkin
menjadi kaya raya, karena ia tahu bahwa kedudukannya
itu tidak akan bertahan lama. Penggantinya berbuat yang
sama, demikian juga para walikota dalam berbagai
propinsi. Keadaan yang terbaik dialami oleh para pemilik
hacienda. Mereka tinggal di daerah-daerah terpencil.
Di tengah-tengah kekacauan ini timbullah Juarez, yang
segera mendapat pengaruh demikian banyaknya sehingga
mengadakan pakta-pakta perjanjian dengan Amerika
Serikat, meskipun ia masih belum menjadi presiden.
Terkadang ia muncul di sini, terkadang di situ untuk
memikat hati orang, memberi anugerah, atau untuk
menghukumnya. Dengan tujuan ini ia pun pergi ke
hacienda Vandaqua. Tibanya pasukan bertombak di situ
mendatangkan rasa ketakutan di antara penduduk. Juarez
turun dari kudanya lalu memasuki rumah, didampingi
oleh beberapa orang perwiranya. Pemilik hacienda sedang
duduk bersama keluarganya, sedang minum kopi ketika
orang yang sangat ditakuti itu masuk ke dalam.
“Kenal saya?” tanya orang Indian itu secara
menakutkan.
“Tidak,” jawab pemilik hacienda.
“Saya Juarez.”
Pemilik hacienda menjadi pucat dan berseru, “O,
Madona Suci!”
“Tak guna meminta pertolongan dari madona, ia tidak
akan dapat menolongmu,” kata Juarez secara
menakutkan. “Engkau pengikut Presiden Herrera?”
“Bukan,” kata orang itu dengan suara gemetar.
“Jangan bohong!” hardik orang Indian itu. “Kau
tentunya ada hubungan surat-menyurat dengan para
pengikutnya?”
“Tidak.”
“Itu akan kuselidiki. Geledah rumah ini!” Perintah itu
ditujukan kepada beberapa perwira. Perwira-perwira itu
memerintahkan orang-orangnya, masuk ke dalam rumah.
Rumah itu digeledah dengan seksama. Tidak lama
kemudian kembalilah salah seorang perwira dengan
membawa seberkas surat, yang diserahkannya kepada
orang Indian itu tanpa berkata-kata. Demi pemilik
hacienda melihat surat-surat itu, ia menjadi pucat pasi.
Matanya memandang kepada orang Indian itu dengan
penuh ketakutan. Keluarganya berdiri tanpa bergerak
maupun bersuara di sudut kamar menanti dengan hati
berdebar-debar apa yang akan terjadi selanjutnya.
Akhirnya Juarez selesai membaca. Ia bangkit berdiri lalu
bertanya kapada pemilik hacienda, “Kau telah menerima
surat itu?”
“Benar.”
“Dan membacanya? Lalu menjawabnya juga?”
“Benar.”
“Maka tadi kau telah berdusta; kau adalah Pengikut
Presiden. Kau adalah anggota komplotan yang menentang
kemerdekaan rakyat. Inilah ganjaranmu!”
Ia mengeluarkan pistolnya lalu membidik.
Tembakannya meletus. Pemilik hacienda yang kepalanya
terkena oleh peluru itu, rebah ke atas lantai. Orang-orang
menjerit keras-keras ketakutan. Namun Juarez, seakan
tidak terjadi apa-apa, kini berkata kepada keluarga orang
itu dengan tenang, “Diam! Kalian pun sebenarnya turut
bersalah, namun tidak akan diapa-apakan. Keluarlah dari
rumah ini! Aku menyita hacienda ini untuk negara. Dalam
waktu satu jam kalian harus pergi. Kalian boleh membawa
beberapa ekor kuda untuk mengangkut harta benda
kalian. Harta kalian boleh kalian bawa juga. Dan
kini…enyahlah dari sini!”
“Bolehkah kami membawa mayat orang yang meninggal
itu?” sedu istrinya.
“Boleh, tetapi cepat sedikit.”
Penghuni rumah mengangkat mayat itu dan
membawanya pergi. Setelah satu jam lewat, mereka
meninggalkan hacienda dengan menangis. Kemudian
Juarez memberi aba-aba kepada prajurit-prajuritnya:
Mereka dibolehkan menjarah. Beberapa ekor lembu
dibantai. Orang-orang mengadakan makan bersama di
udara terbuka.
Verdoja pergi mengawasi penjarahan. Juarez tetap
tinggal di dalam kamar. Sekembalinya Verdoja, Juarez
berkata, “Demikianlah nasib setiap orang yang
berkelakuan bertentangan dengan keselamatan tanah air,
mereka akan menemui ajal seperti itu. Verdoja, apakah
kamu setia?” Matanya menatap wajah perwira itu dengan
tajamnya, namun Verdoja menjawab dengan tenang, “Ya,
Senor, Anda tahu bahwa saya ini setia.”
“Bagus, maka kau akan mendapat tugas. Kenalkah kau
akan propinsi Chihuahua?”
“Saya telah lahir di situ dan daerah itu bersebelahan
letaknya dengan tanah saya.”
“Baik. Pergilah ke ibukotanya yang sama namanya
dengan propinsi itu, lalu bertindaklah di situ sebagai wakil
saya. Hari ini kita akan berpisah. Tetapi sebelumnya kau
akan pergi bersamaku ke hacienda del Erina.”
“Apakah saya akan mendapat bala bantuan?”
“Kau akan mendapat satu eskadron tentara, yang lain
akan kembali bersamaku. Mari!”
Sesaat kemudian mereka pergi, didampingi oleh
beberapa orang pasukan bertombak. Salah seorang
vaquero menjadi penunjuk jalan.
Kedatangan mereka di hacienda del Erina sudah
diketahui lebih dahulu. Pintu gerbang sudah dikunci oleh
penduduk sebagai tindak keamanan. Juarezlah yang
mengetuk pintu.
“Siapa?” Tanya Arbellez dari balik pintu.
“Tentara! Bukalah!”
“Anda mau apa?”
“Caramba, Anda mau membuka atau tidak?”
Di sisi pemilik hacienda berdiri Sternau, Unger, dan
Mariano.
“Perlukah saya buka?” bisik Arbellez.
“Ya,” jawab Sternau. “Hanya ada beberapa orang
penunggang kuda.
Setelah pintu dibuka dan Juarez dan Verdoja masuk ke
dalam, orang Indian itu menatap mereka dengan mata
berapi-api. “Mengapa Anda tidak langsung membuka?”
hardiknya.
“Kami tidak kenal Anda,” jawab Arbellez. “Apakah Anda
seseorang yang harus dipatuhi, Senor?”
“Saya Juarez. Kenalkah Anda akan nama itu?”
Tanpa terkejut, Arbellez berkata sambil membungkuk
kecil, “Tentu saya kenal akan nama itu. Maafkan kami
karena kami tidak langsung membuka pintu. Anda kami
terima dengan senang hati.”
Ia mengantarkan para tamu ke kamar tamu. Di situ
mereka duduk di kursi tanpa dipersilahkan lagi. Meskipun
disambut dengan ramah tamah, wajah Juarez nampak
keruh sekali. Ia bertanya, “Anda melihat kami datang?”
“Benar, Senor.”
“Anda tahu kami tentara?”
“Tahu.”
“Meskipun demikian Anda tidak langsung membuka
pintu? Itu harus dihukum.”
“Ya, tetapi presiden pun mempunyai tentara. Mereka
kurang berkenan di hati kami. Saya tidak mengetahui
bahwa Andalah yang datang.”
Wajah Juarez berubah menjadi jernih.
“Jadi saya di sini disukai?”
“Dengan segenap hati. Anda bersikap tegas, Senor,
negeri kita ini memerlukan orang seperti Anda.”
“Ya, dengan sifat tegas itu beberapa orang sudah mulai
berkenalan. Yang terakhir baru-baru ini. Anda kenal
hacienda Vandaqua?”
“Sangat baik, itu tetangga kami.”
“Bila disewakan, sepantasnya berapa uang sewanya,
Senor Arbellez?”
Hacienda itu hak milik seseorang, bukanlah untuk
disewakan.”
“Jawab pertanyaan saya,” perintah Juarez tidak sabar.
“Bila ia dikelola dengan baik, bukan seperti sekarang,
maka orang akan berani membayar sepuluh ribu peso.”
“Baik, Anda boleh menyewanya seharga tujuh ribu
peso.”
Arbellez tercengang-cengang memandang kepada orang
Indian itu. “Senor, maaf saya kurang mengerti.”
“Bukankah sudah cukup jelas? Daerah itu bersebelahan
dengan daerah Anda. Saya telah menyita hacienda
Vandaqua untuk negara dan kini saya memberikannya
kepada Anda.”
“Bagaimana dengan pemiliknya?” tanya Arbellez
terkejut.
“Ia meninggal disebabkan oleh peluruku, ia seorang
pengkhianat. Keluarganya diharuskan meninggalkan
rumah. Cepat ambil keputusan, Senor!”
“Bila demikian keadaannya, saya mau. Tetapi…”
“Tidak ada tetapi! Ambil alat tulis-menulis! Kita akan
membuat suatu perjanjian.”
Perkara ini pun, seperti semua perkara yang ditangani
oleh Juarez, diselesaikan secepat kilat namun dengan teliti
dan rapih. Akhirnya ia berkata, “Inilah Kapten Verdoja. Ia
tinggal bersama eskadronnya selama beberapa hari ini.
Dapatkah Anda menyediakan tempat?”
Arbellez setuju, meskipun sesungguhnya ia ingin
menolaknya.
“Pasukannya akan datang menjelang malam. Layanilah
mereka lalu tentukan biayanya bersama Kapten. Selamat
tinggal!”
Ia bangkit berdiri lalu keluar dari pintu. Verdoja
mengikutinya. Bersama kawan-kawannya mereka menaiki
kuda dan pergi meninggalkan para penghuni hacienda
yang merasa heran akan segala kejadian itu.
Mengapa tetangga mereka itu harus mati? Mengapa
justru Pedro Arbellezlah yang harus menjadi penyewa? Jadi
itulah Juarez, orang Indian termashyur, ditakuti di seluruh
Mexico dan sekaligus disayangi maupun dibenci. Orangorang
yang mengenangkan segalanya ini belum dapat
membayangkan akibat-akibat apa yang dapat ditimbulkan
oleh instruksi-instruksi yang dikeluarkan oleh pemimpin
partai ini.
Ketika Juarez tiba di hacienda Vandaqua, dilihatnya di
muka rumah sudah ditumpuk barang jarahan yang
dianggap oleh para prajurit cukup berharga untuk dibawa.
Barang-barang itu dibagi-bagikan di antara mereka dan
meskipun setiap orang hanya kebagian sedikit saja, namun
orang-orang yang hidupnya sederhana itu gembira sekali.
Seusai pembagian itu, Kapten Verdoja menerima instruksiinstruksi.
Penempatannya di rumah Arbellez sekedar
dimaksudkan untuk memberi istirahat kepada kudakudanya
agar dapat pulih kembali tenaganya, karena
perjalanan ke Propinsi Chihuahua yang terpencil letaknya
itu merupakan perjalanan yang berat. Verdoja tidak boleh
tinggal lama-lama di hacienda del Erina. Ia harus lekas
pergi ke tempat tujuannya untuk menjalankan tugas yang
diinstruksikan kepadanya oleh tuannya itu. Kedua orang
itu telah berunding lama; pembicaraan itu nampaknya
penting juga.
Akhirnya Juarez berpisah dengan Kapten dengan
berjabatan tangan.
Juarez menaiki kudanya lalu melarikannya kencangkencang,
diikuti oleh pasukannya, kembali ke arah dari
mana ia datang… bagaikan malaku’lmaut, cepat datang,
cepat menghilang pula setelah menunaikan tugas, sambil
meninggalkan jejak yang berdarah.
sumber: DISALIN OLEH
Pandu & Tiur Ridawaty
UNTUK
PAGUYUBAN KARL MAY INDONESIA
Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s